Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
TUJUH: PRIMUS DIHUKUM


__ADS_3

Mampir ke instagram aku: HENDRA.PUTRA13


Sebantar lagi ada giveaway novel. Buruan follow ya


Bel masuk membuat setiap pintu kelas tertutup rapat. Semua murid sibuk dengan buku pelajaran dan bulpoin di tangan. Lula yang asik membolak-balik halaman buku sambil memainkan alat tulis di jarinya, tak sengaja menoleh ke jendela.


Lula berbicara dalam hati. "Kenapa lagi sih, Primus."


Perempuan itu lekas mengambil botol air minum dari dalam tasnya. Menyembunyikan botol itu di belakang tubuhnya ketika dia berdiri dan menyeletuk pada guru yang sedang menerangkan materi pelajaran di depan.


"Bu saya izin ke toilet ya," Lula tersenyum sopan.


Siska menoleh dan ikut berdiri. "Gue temenin, La."


Guru itu malah menyuruh Siska kembali ke tempat. "Siska, kamu tetap duduk."


"Tapi saya mau temenin Lula, Bu."


Ibu Sukma berdeham tegas. "Siska duduk, Lula bisa sendiri ke toilet. Kerjakan aja soal yang di papan tulis." Kalimat beliau diakhiri dengan ketukan penggaris kayu di whiteboard.


Alhasil Siska hanya mendesah. Tetapi Lula tersenyum kepada teman sebangkunya itu. "Udah, gue sendiri aja. Gak pa-pa kok."


Di ambang pintu, langkah Lula tertahan sesaat. Ibu Sukma baru saja menegur dirinya. "Lima menit aja ke toiletnya."


Lula mengangguk. "Iya, Bu."


Setelah melewati kelasnya, Lula berlari di koridor yang sepi. Kepala perempuan itu menyelinguk mencari posisi Primus yang sedang berlari. Sepuluh meter lagi Primus akan melewati titiknya, Lula pun bersabar menunggu cowok itu di balik pagar tanaman agar tidak ketahuan guru.


"Primus..."

__ADS_1


"Primus..." seru Lula sewaktu Primus melewati tempatnya bersembunyi.


Cowok itu berhenti dan mengernyit saat menoleh ke samping. "Lula," Bergegas Primus menepi untuk menghampiri sahabatnya.


"Lo ngapain ngumpet di balik pohon gitu," Primus bertanya sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya.


Lula menjetikkan jari. "Sini. Jangan banyak tanya deh."


"Lo pasti capek, kan?"


Lula pun menyodorkan botol airnya pada Primus. "Ini gue bawain lo minum."


Primus membuat bunyi dengan dua jarinya. Sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi, cowok itu meraih botol dari tangan Lula. "Lo memang yang paling perhatian sama gue, La."


"Lo kenapa lagi sih dihukum?" Sebal Lula pada Primus yang sedang meneguk air putih.


Lula menggeleng. "Hampir setiap hari!"


"Yang lo ingat apa sih, Prim? Masa setiap hari lupa ngerjain PR!" Lula mengulurkan tangan dan mencoba mengaitkan dua kancing atas seragam Primus yang sengaja dibuka cowok itu. "Ini lagi, kancing dibuka segala. Lupa juga lo kancing?"


Primus menyengir. "Gue ingatnya cuma satu, La."


Kernyitan di dahi Lula seolah bertanya, apa?


Seakan mengerti arti ekspresi Lula, Primus melanjutkan ucapannya dengan senyuman. "Ulang tahun lo."


Pipi Lula mengembang. Sekuat apa pun perempuan itu berupaya menyembunyikan senyumnya, tapi tetap tak terelakkan. Primus pun menggoda. "Kenapa lo jadi senyum-senyum gitu?"


Karena Lula hanya terus diam, Primus pun juga sudah kehabisan dialog. Jadi cowok itu berseru saja. "Gue mau lanjut lari dulu ya. Masih lima kali putaran lagi."

__ADS_1


Kepala Lula terangguk kaku sementara senyum masih menyisa di bibirnya. "Oke, gue mau ke kelas juga, Prim."


Hendak saja Lula beranjak dari balik pohon, Primus menegur perempuan itu kembali. "Lula,"


"Apa, Prim?" balas Lula sewaktu dia menoleh.


Primus bertanya iseng secara naluriah. "Lo merasa ninggalin sesuatu gak?"


Lula lagi-lagi mengerutkan kening. Perempuan itu merasa bingung. Dia merasa tidak meninggalkan apa pun, botol minumannya pun ada di tangan. "Enggak kok." jawab Lula sekenanya.


Primus mengedipkan matanya. "Masa sih?"


"Tapi gue ngerasa kalau lo sudah ninggalin hati lo gitu di dalam diri gue." Cowok itu lantas melipat tangan di dada.


Lula tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Apakah dia harus bernapas dulu atau pingsan lebih dulu. Primus tepat membuatnya salah tingkah level tertinggi. "Masih sempat aja lo bercanda, Prim. Sudah sana lari."


Saat itu Primus kembali berlari. Andai saja Lula tahu, kalau dirinya tidak sedang bercanda. Kalau memang sebenarnya Lula ada di dalam hatinya. Apakah dia salah memiliki rasa lebih dari sekadar ingin melindungi? Primus ingin memiliki Lula.


*****


Gimana nih, lanjut gak hehe?


Apa kabar kalian?


Menurut kalian ceritanya gimana nih?


Kasih satu kata dong hehe


Jangan lupa buat sg ya kalau udah selesai baca dan tag aku: hendra.putra13

__ADS_1


Selamat membaca ya makasih


__ADS_2