Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
TIGA PULUH: DANIEL SUKA LULA


__ADS_3

Awan kelabu membungkus langit. Hujan deras membuat hati Lula semakin terasa sepi. Primus sudah pulang lebih dulu bersama Beby, sementara itu dia masih duduk di halte sekolah sambil memeluk tubuhnya sendiri karena udara yang begitu dingin.


Lula ingin sekali tersenyum karena Primus akhirnya bisa menemukan seseorang yang akan membantu cowok itu untuk menjadi sosok yang lebih baik. Tetapi entah kenapa, di balik semua itu, kepedihanlah yang didapatkan oleh Lula. Perempuan itu ingin sekali selalu berada di dekat Primus, namun di sisi lain dia juga pelan-pelan sadar kalau Primus berhak dekat pada perempuan lain selain dirinya.


Di sudut halte yang ditempatinya, Lula tiba-tiba saja memusatkan pandangan ke sebuah mobil hitam yang melambat di sisi jalan. Lula serta-merta merasa heran menemukan sosok yang keluar dari mobil tersebut, melangkah ke arahnya dengan menumpangkan jaket di atas kepala.


"Lula..." sapa cowok itu ketika berdiri persis di sampingnya.


"Daniel?" Lula mengangkat wajah dengan pandangan menyipit. "Ngapain lo ke sini? Lo kan diskors."


Daniel menurukan jaket lalu menyampirkannya di lengan. Senyumnya tersungging ketika berkata pada Lula. "Diskors itu cuma gak boleh masuk ke sekolah. Jadi gue masih boleh kan jalan lewat sekolah?"


Lula masih mengerutkan kening. "Terus lo ngapain nyamperin gue?"


Daniel masih setia tersenyum pada Lula. "Gue mau kasih lo jaket. Lo pasti kedinginan, kan?"


Lula cepat menolak jaket yang kini disodorkan teruntuknya. "Enggak usah, Niel."


Daniel berseloroh santai. "Sudah pakai aja. Hujannya deras. Entar lo masuk angin."


Lula pun terperangkap dalam beberapa detik memandangi wajah Daniel. Perempuan itu masih sedikit bingung dengan perlakuan Daniel detik ini. Sudah menjadi fakta terbuka kalau cowok di hadapannya itu sangat tidak pernah akur dengan Primus. Tetapi kenapa Daniel sekarang bersikap manis dengannya yang notabene sahabat Primus?


Seakan-akan mengerti pandangan Lula yang sangsi kepadanya, Daniel pun tersenyum maklum. "La... gue memang musuh bebuyutan Primus, tapi itu bukan berarti kita juga musuh, kan?"


"Sudah pakai aja." lontarnya.


Lula mengangguk terpatah-patah sembari meraih jaket Daniel. Dengan sedikit terpaksa perempuan itu mengambil alih jaket tersebut karena tidak ada alasan kuat untuk menolaknya. Terlebih Daniel terus bersikukuh. "Makasih..." ujar Lula.


Daniel merasa senang Lula mau menerima jaketnya. Cowok itu lantas duduk di sisi Lula. "Oh ya... kenapa lo belum pulang?"


"Mana Primus?" tanya cowok itu sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

__ADS_1


Lula menjawab pelan. "Primus sudah pulang."


"Tumben... biasanya kan lo selalu pulang bareng dia." Menilik Lula yang tiba-tiba senyap, Daniel menceletuk. "La... kok lo jadi diam gitu?"


"Gue tahu..." Daniel mencoba menebak. "Lo pasti berantem kan sama Primus?"


Lula kontan menyanggah tuduhan Daniel barusan. "Gue sama Primus gak pernah berantem."


Daniel menggidikkan bahu. "Jadi kenapa Primus balik duluan?"


Hati Lula terasa sakit mengingat hari ini Primus dan Beby pulang bersama lagi. Tapi itu tidak mungkin diucapkannya pada Daniel sehingga Lula mengeluarkan kalimat lain. "Gue lagi pengen aja pulang sendiri."


Dengan perasaan hati yang benar-benar tulus, Daniel bertanya pada Lula. "La, gue boleh anterin lo pulang?"


Lula tersenyum tipis. "Enggak usah... udah, lo pulang aja."


Tatapan Daniel semakin dalam membelai mata Lula. "La... gue bukan orang jahat kali. Lo gak usah takut sama gue."


Lula cukup bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari mata Daniel, tapi perempuan itu tetap pada keinginannya. "Gue bisa pulang sendiri, Niel."


Daniel menanggapi Lula dengan suara yang semakin lembut. "Hujan-hujan begini angkot jarang kali lewat halte sekolah, La."


"Daniel..." lirih Lula.


"Iya, La?"


"Lo gak usah sok perhatian sama gue. Gue juga bukan teman lo, kan?" cetus Lula.


Jawaban itu justru membuat senyum Daniel semakin manis. "Kalau gitu kita sekarang temenan aja, La."


"Jadi sekarang gue boleh dong anterin lo pulang?" Daniel bermain alis.

__ADS_1


Lula yang disaksikannya masih terlihat berpikir-pikir, cowok itu mencoba terus untuk menyakinkannya. "La... gue sebagai cowok gak mungkin mampu ninggalin cewek sendirian dengan kondisi hujan-hujan begini."


"Nunggu angkot hujan-hujan sama kayak nunggu doi peka. Lama, La."


"Memangnya lo mau pulangnya kesorean?"


Daniel pun mendengus lalu menumpangkan satu kakinya di lutut. Duduk santai sambil memandang langit yang dipenuhi warna kelabu. "Ya sudah kalau lo gak mau. Gue tungguin lo sampai dapat angkot."


Lula langsung bergidik mendengar itu. "Lo apa-apaan sih?"


Daniel menoleh. "Lo yang apa-apaan, La. Gue serius mau anterin lo pulang tapi lo gak mau. Gue gak minta bayaran kok."


Lula menarik napas, lelah. "Tapi gue gak mau, Niel. Mau lo sebenarnya apa sih?"


"Gue mau anterin lo pulang. Sudah itu aja." Daniel menyunggingkan lengkung bibirnya.


"Kenapa lo mau anterin gue pulang?"


Daniel memajukan sedikit wajahnya ke depan, mata jernihnya menatap Lula sungguh-sungguh. Penuh perasaan. "La... gue care sama lo."


"Gue suka sama lo." ucap Daniel dengan tulus.


****


PS: 850 like dan 200 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.


Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE


Instagram Penulis: Hendra.putra13 difollow ya hehe


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2