
Sesekali cahaya petir yang berkilat menerangi kanvas langit yang gelap. Hujan deras tadi siang masih menyisakan udara dingin di sekitar bumi. Sepasang sahabat yang tumbuh semenjak kecil pun terlihat sedang menongkrong di sebuah paviliun yang tertutup pagar kayu di tiga sisi. Di sisi depan yang terbuka, Lula mengayunkan kaki sambil menikmati semangkuk mie kuah.
Di samping perempuan itu sendiri, Primus tidak bisa menyantap makanan miliknya meskipun cowok itu belum makan apa pun di sepanjang malam ini. Berbagai pikiran berkelebat dalam otaknya dan itu mengarah kepada sebuah perasaan waswas.
Pada akhirnya cowok itu tidak bisa lagi menahan sesuatu yang mengusik benaknya. Primus menurunkan mangkuknya dan bertanya pada Lula. "Kok lo bisa pulang sama Daniel, La?"
Kalimat itu meluncur dengan aura keposesifan yang tajam. Secara naluriah yang dimiliki seorang sahabat untuk melindungi sahabatnya.
Lula berhenti mengunyah, meminum air putihnya, lalu menjawab dengan nada yang bagi Primus itu adalah kelewat santai. "Tadi dia lewat sekolahan, terus dia mau ngantar gue pulang."
Primus berdecak sambil menelengkan sedikit bahunya menghadap ke Lula. "La... kenapa lo bisa-biasanya mau diantar pulang sama dia?"
"Daniel baik kok orangnya, Prim." balas Lula datar.
Entah kenapa Primus benar-benar tidak bisa menerima asumsi Lula malam ini. "Baik? baik dari Hong Kong, La?"
Cowok itu mencoba mengingatkan kembali sebuah fakta yang mungkin saja dilupakan Lula untuk sejenak, Primus terkekeh tak habis pikir. "Lo tahu sendiri kan dia itu gak pernah akur sama gue."
"Dia musuh bebuyutan gue, La."
Lula mengangguk. "Iya gue tahu, Prim. Terus masalahnya di mana?"
__ADS_1
"Daniel baik kok sama gue. Buktinya dia minjemin gue jaket. Dia mau antar gue pulang."
Lula menilik tubuhnya sekilias, lalu mengangkat alis. "Dan gue sekarang baik-baik aja, kan?"
Lekukan dalam membingkai mulut Primus. "La.. gue khawatir lo dimanfaatkan sama Daniel."
"Daniel itu playboy, La." gumam Primus kesal.
Senyum tipis terbit menghiasi raut wajah Lula. "Prim... gue bukan anak kecil. Lo gak perlu khawatirin gue."
"Gue tahu kok bedain orang baik dengan orang yang gak baik. Lagi pula gak ada salahnya kan gue temenan sama Daniel." Lula melanjutkan ucapannya.
"Lo bakal jadi korban Daniel. Sama kayak cewek-cewek lain di sekolah kita." Primus mengguncang pelan bahu Lula. "Gue yakin, La."
Lula mengeluarkan kekehan singkat. "Mulai deh keluar negative thinkingnya."
Cowok berbadan tegap di sampingnya itu menggeleng-geleng dan meninggikan suaranya. "Gue cuma realistis, La."
"Bukan kayak lo yang dengan mudahnya nerima Daniel jadi teman lo tanpa berpikir panjang."
Lula mendesah dan dahinya mengerut sangat dalam. "Prim... lo kenapa sih sebenarnya?"
__ADS_1
Perempuan itu langsung bangkit berdiri dari paviliun. "Kenapa lo harus ngomong teriak-teriak sama gue?" lirih Lula kecewa pada Primus.
Primus menyusul berdiri. Cowok itu tersadar kalau sudah berbicara keras pada Lula sehingga dia kini melembutkan suaranya. "La, gue gak maksud marahin lo. Gue cuma takut lo kenapa-napa. Itu aja."
Lula mengibaskan tangan. "Sudahlah, Prim." Cepat-cepat perempuan itu memutar tubuh dan bertolak ingin meninggalkan halaman belakang.
"Lula... lo mau ke mana?" lontar Primus, mengejar Lula, dan menangkap pergelangan tangan Lula. "Gue belum selesai bicara."
Lula menggerutu dengan suara gemetar. "Mau bicara apa lagi sih, Prim?"
Primus melangkah ke depan, ke sisi Lula, dan menujukan tatapannya pada mata Lula. Walaupun jantungnya amat berdebar, akhirnya cowok itu mengeluarkan juga isi dalam hatinya. "Gue mau bilang kalau gue cemburu, La."
*****
PS: 850 like dan 200 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
Instagram Penulis: Hendra.putra13
Terima kasih.
__ADS_1