Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DELAPAN BELAS: LAYANG-LAYANG PRIMUS


__ADS_3

Follow dulu dong Instagram: Hendra.putra13


Di paviliun belakang rumahnya, Lula merenung.  Obrolan Beby yang ingin sekali mendekati Primus sewaktu di toilet sekolah, terus saja mengusik pikirannya. Bahkan membayangkan Beby benar-benar akan dekat dengan sahabatnya itu, membuat hati Lula berkecamuk. Hatinya terlalu rapuh untuk kehilangan Primus.


Beberapa selang kemudian, fokusnya dialihkan oleh kedatangan Primus yang tiba-tiba. Cowok berkaos putih dengan celana pendek itu datang membawa segulung benang gelasan di tangan kiri, sementara tangannya yang lain menenteng sebuah layang-layang. Lula turun dari paviliun, maju beberapa langkah ke depan menghampiri Primus.


Untuk pertama kalinya entah mengapa Lula ingin bermain layang-layang bersama sahabatnya itu. Seolah-olah ini adalah hari terakhirnya bisa berdekatan dengan Primus. "Prim.... sini gue pegangin benangnya." sambar Lula tersenyum, ingin menyingkirkan rasa sedihnya untuk sesaat.


Primus mengernyit memandangi Lula yang sudah berhasil menyerobot benang gelasan yang tajam miliknya itu. "Lo mau main layangan, La?" tanyanya heran.


Lula mengangguk seraya menyengir lebar. "Iya, Prim!"


Dua jari Primus terulur ke depan untuk menjepit hidung Lula yang lancip. Sambil terkekeh, cowok itu menyindir. "Sejak kapan lo mau main layangan?"


"Biasanya juga cuma nontonin gue main, kan?" sambungnya lagi terhadap Lula.


Satu tangan Lula mengibaskan jemari Primus yang mencubit hidungnya. Lula mengeluh pada Primus. "Gue mau nyoba aja, Prim. Memangnya gak boleh?"


Primus kontan makin terheran-heran. "Bukannya gak boleh.... tapi lo kan takut pegang benang layangan, La."


"Dulu waktu kecil, lo kan pernah bilang kalau benang layangan bisa bikin tangan lo luka. Dan lo selalu teriak-teriak ketakutan gitu kalau gue narik benangnya." tukas Primus mengingatkan. Barangkali Lula sudah hilang ingatan.


Lula berdecak, wajahnya cemberut. Angin-angin sore yang lewat menggerak-gerakkan helaian rambutnya yang panjang. "Tapi itu kan dulu. Sekarang gue sudah berani kok."


Primus menyipitkan matanya. Kebingungan sendiri dengan aksi Lula yang tiba-tiba berubah. "Sejak kapan lo jadi pemberani? Lo kan penakut."


"Sama kucing aja lo masih takut." Primus detik itu juga langsung mengusir Lula seperti cara sahabatnya itu sewaktu mengusir kucing. Primus terkekeh sendiri dengan tindakannya itu.


Primus mengambil alih kembali benang gelasan dari tangan Lula. "Sudah lo duduk aja di sana. Lihatin gue main aja."


Lula mengentakkan kaki dua kali ke tanah. "Tapi gue mau main juga, Prim!" Lula makin merengek. "Kenapa sih lo gak bolehin gue ikut main layangan?"

__ADS_1


Cowok tinggi itu mulai sibuk mengikatkan benang ke layangannya sambil menyahuti Lula yang berdiri mengamatinya. "Anak cewek itu main boneka aja. Gak cocok main layangan."


Lula pun mengalah sesaat dan memilih duduk di paviliun sesuai perintah Primus. Tetapi ketika Primus sudah berhasil menerbangkan layangannya ke udara, perempuan itu kembali mendekati Primus. Tanpa persetujuan dari Primus, Lula mengambil kaleng benang di dekat Primus.


Tingkah usil Lula itu mengejutkan Primus. Sambil bermain layangan, cowok itu membagi setengah fokusnya untuk Lula. "Eh.... lo mau ngapain? Jangan ganggu gue main, La."


Teguran Primus tidak memadamkan tekad Lula begitu saja. "Gue mau pegangin kaleng benang lo."


Primus menengok ke atas, memeriksa layangannya yang sudah terbang tinggi, lalu menoleh ke Lula. "Lula," decaknya.


Lula melototkan mata ke Primus. "Sudah lo diam aja, Prim. Lo mending lihat ke atas aja." Satu tangan Lula terangkat ke atas menunjuk sesuatu. "Tuh, ada layangan lain yang deketin layangan kita."


Primus menarik napas sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya dia sendiri tidak ingin mencegah Lula untuk ikut bermain bersamanya, tetapi Primus hanya khawatir kalau sahabatnya itu akan terluka mengingat tajamnya benang gelasan.


Primus kembali menengok pada layangannya. Siap untuk memutuskan layangan yang menjadi musuhnya di langit yang berangin. "La.... ulur benangnya yang bener." cetus Primus tiba-tiba, karena benang layangan mulai saling melilit satu sama lain.


"Bisa kalah nih kita kalau cara lo ngulur benangnya begitu." protes Primus.


"Lula! Lo kenapa?" Primus menoleh dan dahinya mengerut sangat dalam. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah cemas mendapati Lula yang terlihat kesakitan.


"Gue gak pa-pa, Prim." Perempuan itu menggeleng, sesegera mungkin menyembunyikan sebelah tangannya ke belakang punggung. Untuk mengalihkan keadaan, Lula cepat-cepat kembali memberikan semangat pada Primus. "Lo lihat aja layangan lo, entar benangnya putus. Entar lo kalah lagi."


Secara naluriah dengan sigap Primus melepaskan benang yang ditahannya di jemari dan selekas mungkin mendekati Lula. "Lo ngomong apa sih, La? Jangan peduliin layangannya." Kedua alis cowok itu kini bertaut. "Lo nyembunyiin apa?"


Sebisa mungkin Lula ingin menyembunyikannya, tetapi tekad Primus terlalu tangguh untuk dilawannya. Alhasil cowok itu berhasil meraih tangannya sekaligus sontak terkejut. "La. Tangan lo berdarah."


Lula meringis tetapi juga masih ingin terlihat kuat. "Gue gak pa-pa, Prim."


Primus lantas menuntun Lula untuk duduk kembali di paviliun. Menyuruh perempuan itu untuk menunggu sebentar sementara dia mengambil kotak obat di rumahnya. "Ayo sini gue obatin luka lo." ucap Primus ketika dia kembali di sisi Lula.


"Ini nih akibatnya lo gak nurutin kata gue tadi. Gue bilang lo tadi nonton aja, ya nonton aja. Gak usahlah ikut main." Lula hanya bisa menjulurkan tangannya sambil mendengar ocehan Primus.

__ADS_1


Dengan penuh perasaan Primus memberikan obat merah di telapak tangan Lula yang tergores. "Kenapa pake acara ngeyel sih?" ucap Primus sebal, tapi tidak bisa dipungkiri dia juga merasa sedih sewaktu Lula meringis kesakitan.


"Gue tadi cuma mau buktiin ke elo kalau gue sekarang berani. Itu aja." sergah Lula dengan suara gemetar.


Primus berhenti sejenak, dia menatap dalam-dalam mata Lula. "Lo gak perlu buktiin ke gue kalau lo sekarang berani main layang-layang, La."


Mendengar penegasan Primus itu, Lula pun menitikkan air mata dan menarik cepat tangannya yang sudah selesai dibalut oleh Primus dengan perban.


Menyaksikan air mata Lula yang menetes, membuat dada Primus seketika menyesak. Air mata Lula selamanya akan menjadi kelemahannya. "Lula, maafin gue."


"Gue gak bermaksud marahin lo. Gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-napa."


Primus menjulurkan tangan sesegera mungkin untuk menghapus air mata Lula. Sambil melakukan itu, Primus tanpa sadar mengutarakan isi hatinya. "La... gue sayang sama lo."


Lula refleks menatap bening mata Primus. Debaran jantungnya berpacu cepat mendengar ungkapan Primus barusan. Ada kelegaan yang mengalir di hatinya menangkap nada tulus dari perkataan Primus.


Melihat raut lain di wajah Lula yang seakan bertanya apa maksud dari ucapan itu, secepat kilat Primus langsung berdalih. "Gue sayang lo karena lo sahabat gue satu-satunya, La."


Primus lantas tersenyum samar karena lagi-lagi harus membohongi perasaannya sendiri. Rasa sayangnya sudah sangat jelas melebihi dari batas-batas persahabatan yang tidak boleh dilewati. Perasan Primus kepada Lula ibarat layang-layang, semakin  Lula melayang terbang tinggi di hatinya, semakin dia takut untuk kehilangan.


****


Gimana nih, lanjut gak hehe?


Penasaran bab selanjutnya?


Halooo, yang baca komentar hai di sini hehe :)


Kalau udah baca buat sg dan tag aku ya: hendra.putra13


Sebentar lagi ada kuis, yang aktif vote dan komentar disetiap pragraf bakal dapat hadiah, aku pantau ya hehehe

__ADS_1


Selamat membaca :)


__ADS_2