Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
LIMA: RAHASIA HATI LULA


__ADS_3

Yuk mampir dan follow instagram aku ya: hendra.putra13


PS: Sayang banget sama kalian yang selesai baca langsung like dan komentar yang banyak hehe


Lula dari kamarnya mendengar suara keributan yang terjadi di luar rumah. Perempuan itu bangun meninggalkan ranjang dan bergerak menuju sisi kamar untuk menyingkap sedikit tirai jendela. Lula tersentak kaget, perempuan itu melihat sahabatnya lagi-lagi adu mulut dengan om Bram.


Adegan pertengkaran malam itu berakhir dengan beranjaknya Primus meninggalkan teras lalu menendang tong sampah yang berada di sisi jalan. Sementara itu om Bram masuk ke dalam rumah dengan bantingan pintu yang keras.


Jantung Lula berpacu, dengan buru-buru perempuan itu melangkah ke luar menghampiri Primus yang bersandar di tembok pagar rumah. Di sana Lula menemukan wajah Primus yang memerah padam, penuh kekesalan.


Lula menegur pelan, "Primus,"


Merasa pertengkarannya diperhatikan oleh Lula, Primus lantas malu. Sangat malu pada sahabatnya itu karena selalu saja membuat keributan dan mengganggu ketenangan rumah sebelah. Primus melangkah memperdekat jaraknya dengan Lula.


"Sori bikin keributan." erangnya tipis.


Lula pun bertanya hati-hati demi menjaga emosi dalam diri Primus. "Ada apa lagi?"


Primus meremas rambutnya sebelum berdecak. "Biasalah, La."


"Datang-datang lihat muka gue luka, bukannya khawatir, bokap malah ngajak berantem."


Kepala Primus menunduk. Rasa marah sekaligus malu berkelebat dalam dirinya. Kakinya tak henti menendang-nedang pagar rumah. "Gak ada kasihan-kasihannya bokap sama gue. Sekarang pake acara nyuruh gue tidur di luar." cetusnya, mengembuskan napas berat.


"Ya sudah. Gue coba ke dalam. Gue pengen jelasin ke om Bram." kata Lula yang ikut resah mendengar itu.

__ADS_1


Primus mengertakkan gigi, mengulurkan tangannya, menghalangi jalan Lula untuk melewati dirinya. "Gak usah. Gue gak mau lo nanti ikut kena marah juga sama bokap."


Lula hanya bisa mendengus pasrah. Dia mengulurkan tangan ke bahu Primus, mengelusnya dengan lembut. "Terus malam ini lo tidur di mana, Prim?"


Primus mengangkat satu alisnya, berusaha tersenyum geli di tengah rasa frustasi dan amarah yang diarasakannya. "Tidur di hati lo boleh gak?"


Spontan Lula mencubit pipi Primus dengan amat gemas. Alhasil Primus meringis. Merasa sakit karena Lula tanpa sengaja tepat mencubit bekas luka di wajahnya. Cowok itu memprotes pada Lula. "Sakit tahu, La."


Lula memilin bibirnya, berupaya meredamkan rona merah di pipi mendengar gombalan Primus. "Habisnya ditanya serius lo malah becanda."


"Iya. Iya. Gue tidurnya sembarang aja. Di mana ajalah." jawab Primus dengan pikirannya yang sebenarnya masih bingung.


Lula beberapa saat menekuri cowok yang berdiri resah di hadapannya. Lula merasakan kesedihan Primus. Dulu Primus selalu mendapatkan perhatian penuh. Dulu Primus tidak berandal seperti ini. Dulu Primus mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Namun semenjak ibunya tiada, Primus yang dulu menghilang.


Bersembunyi di balik perangai yang serampangan. Lula tahu dan paham benar, itu hanya cara untuk Primus menghibur diri.


Primus menggeleng tegas. "Gak usahlah. Gak enak."


Penolakan itu membuat Lula bergidik di tempat. "Gak enak apaan sih, Prim. Biasanya juga lo nongkrong di rumah. Nonton bola sama bokap gue." balas Lula, masih berharap Primus menerima tawarannya. Dia tidak akan pernah tega membiarkan Primus tidur di luar rumah.


"Ah, gak usahlah, lo tidur aja duluan gih. Gak usah pikirin gue. Jagoan tidur di mana aja oke." Primus berusaha tersenyum seringan mungkin. Tetapi beban itu masih tampak di wajahnya.


Karena Primus bersikeras, Lula terpikir untuk menyerang kelemahan cowok itu. Dia menangkap pergelangan Primus. "Prim, kalau lo tidur di luar, gue nangis nih....."


Alis Primus bertaut sesaat, lalu menyeringai, tanda kalah. Dia merasa ada rasa sakit tiap kali melihat air mata Lula menitik karena dirinya. "Ah.... yaudah iya."

__ADS_1


Di saat Lula tersenyum, Primus mendekati Lula kemudian melangkah berdampingan. "Pengen banget ya gue akrab sama calon mertua?"


Lula tertawa. "Ya kalau orangtua gue juga mau punya menantu kayak lo, Prim!"


"Ya mau dong. Siapa yang bisa nolak cowok keren yang selalu jagian anaknya ke mana-mana ini?" seru Primus, yang dibalas Lula dengan gelengan kepala sementara jantungnya berdetak cepat.


Lula pun masuk ke dalam rumah lebih dulu lalu diikuti oleh Primus di belakangnya. Sewaktu di dalam, Primus mengangguk sopan pada ayah Lula. "Maaf ya om, tadi ada band konser di rumah sebelah," katanya, menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal.


Ayah Lula menyambut ramah. Sudah sangat mengerti dengan keadaan yang terjadi. Lula sendiri sering bercerita tentang Primus yang tak akur dengan ayahnya. "Ah gak apa. Duduk sini, Prim."


Primus menurut dan takzim pada om Irfan. Sangat merasa berutang banyak dengan keluarga mereka. Sedengkan Lula saat ini mencoba berbicara pada ayahnya. "Pah, Primus malam ini nginap di sini. Gak apa ya?"


Melihat ekspresi Lula yang sedih, beliau mengangguk, melepaskan sebuah buku biografi di tangan, dan beralih menepuk punggung Primus. "Boleh, boleh."


Lula sekarang dapat lega. Sebelum kembali ke kamar untuk tidur, dia membuatkan minuman hangat untuk ayahnya dan Primus. Perempuan itu datang ke ruang tengah sambil membawa kopi berkrimer serta cookies yang ditata di atas piring kecil.


Malam ini Primus dan ayahnya tampak serius sedang menonton siaran pertandingan sepak bola. Setelah menguap begitu saja, Lula pamit. Lula sendiri sempat mendapat senyuman dan ucapan mimpi indah dari Primus. "Mimpiin gue," bisik cowok itu tanpa terdengar oleh om Irfan.


Lula menggeleng saja melihat tingkah sahabatnya. Kemudian lekas berbalik karena tak ingin Primus melihat dirinya yang salah tingkah.


Sebelum masuk ke dalam kamar, Lula mengintip dari balik tembok. Dia merasa gembira sekaligus tersentuh melihat dua orang yang disayangnya saling membaur. Layaknya ayah dan anak sendiri. Lula kembali menghela napas lega. Setidaknya Primus tak terlalu sedih malam ini. Ada ayahnya yang akan menemani cowok itu.


Semoga Primus mengerti, semua yang Lula lakukan karena dia mencintai cowok itu. Apakah Lula harus mengucapkannya secara langsung? Apakah Primus tak pandai membaca hatinya? Sedangkan Primus adalah orang yang paling mengenal dirinya.


Tetapi kenapa Lula sendiri juga tak bisa membaca hati Primus? Atau mungkin selama ini Lula hanya takut untuk membaca hati Primus? Takut tak menemukan dirinya melekat di sana.

__ADS_1


*****


__ADS_2