Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
TIGA PULUH LIMA: PRIMUS NGELEPAS LULA


__ADS_3

Primus tidak langsung mengejar Lula. Cowok itu bergeming walaupun rasa sakit harus menyinggahi ruang hatinya menyaksikan punggung Lula berlalu bersama Daniel. Cowok itu menelan ludah lalu menyisirkan tangannya ke rambut sambil mendesah dalam. Langkahnya kini menariknya ke sisi tembok dan bersandar di sana. Primus termenung memikirkan apa yang salah di antara dirinya dan Lula.


Dan sepertinya kesalahan itu sebagian besar berasal dari sikapnya. Primus merasa kalau selama ini dia terlalu menahan Lula. Dia tidak membiarkan cowok-cowok lain mencoba mendekati Lula. Mungkin saja Lula sekarang sudah mulai jatuh cinta, Lula mulai memendam perasaan terhadap cowok lain dan itu tentu saja bukan kepada dirinya. Primus pernah dengar sendiri kalau Lula tidak pernah mengharapkan dirinya untuk menjadi seseorang yang lebih bagi perempuan itu.


Primus menunduk dan tersenyum miris. Cowok itu mengumpat pada dirinya sendiri di dalam hati. "Primus... Primus... kenapa lo gak pernah peka kalau Lula mulai suka sama cowok lain? Kenapa lo gak sadar kalau Lula mungkin udah bosan terus-terusan dekat sama lo? Kenapa lo selalu ngalangin cowok-cowok lain buat dekat sama Lula sementara lo bukan pacar dia?"


"Lo cuma sahabat, Prim. Lo gak berhak ikut campur masalah hati sahabat lo."


Bel berbunyi nyaring dan menyentakkan kembali pikiran Primus. Kini napas yang ditarik Primus terasa sesak. Dia pernah bermimpi ingin menjadi satu-satunya cowok bagi Lula. Satu-satunya cowok yang dibutuhkan Lula. Tetapi tampaknya mulai detik ini harapan itu perlahan mulai dipupusnya. Kendati sekarang hatinya terasa amat hancur, Primus berniat untuk melepaskan Lula untuk dekat dengan siapa pun.


Sebelum melanjutkan langkah menuju kelasnya, Primus berhenti sejenak di pinggir kelas Lula. Dari balik jendela kelas, mata Primus menyoroti Lula yang sedang duduk tertunduk. Kali ini Primus memandang iri pada siapa pun cowok yang pada akhirnya akan dekat dengan sahabatnya itu.


Kali ini waktu berlangsung muram bagi Lula dan Primus di sekolah. Beruntung beberapa detik yang lalu bel pulang sudah tiba. Keduanya mengambil tas dengan lesu lalu mulai meninggalkan kelas.


Lula melangkah menghindari Primus sementara cowok itu kini sedang mencari-cari dirinya. Lula secepatnya mencegat angkot begitu dia melintasi gerbang sekolah. Primus di parkiran mengedarkan pandangan tetapi tetap tidak menemukan keberadaan Lula.

__ADS_1


Sambil membawa motornya bergabung di jalan raya, Primus masih mencari-cari. Di kelokan kompleks perumahan mereka, akhirnya Primus menemukan perempuan itu. Primus mematikan mesin kendaraannya dan menyeretnya saja mengimbangi langkah Lula.


Mulut Primus melengkung membentuk segaris senyum. Mata cowok itu tidak bercahaya seperti biasanya dia memandang Lula. "Kata orang suka sama orang boleh aja ganti-ganti. Tapi yang namanya sahabat akan tetap di hati, La."


Primus terus mendorong ke depan motor besarnya sambil kembali mencetus. "Mungkin lo sudah mulai suka sama orang lain, La. Tapi gue masih tetap ada di hati lo, kan?"


Lula menoleh. Matanya sudah terlalu penuh untuk menampung air mata terlebih mendengar perkataan Primus barusan. "Prim," Suara Lula mengalun gemetar.


Sudut bibir Primus tertarik. "Gue mungkin gak sempurna, La. Gue gak bisa bikin semua cewek tergila-gila sama gue. Cowok berandal kayak gue juga mungkin sebenarnya gak pantas jadi sahabat lo. Tapi gue pengen lo jangan jutekin gue ya, La."


Mata Primus memerah, ingin kuat tetapi cowok itu lemah karena perasaannya sendiri. "Kalau lo memang mau dekat sama cowok lain, santai aja, La. Gue janji gak bakal gangguin lo kok. Gue janji gak akan ngelarang-larang lo lagi. Tapi jangan marah sama gue, La."


"Asal lo senang, gua juga ikut senang, La. Gue juga ikut lega kalau memang ada cowok lain yang sayang juga sama sahabat gue dan mau jagain dia."


Primus berhenti dan lamat-lamat menatap mata Lula. Suaranya terdengar getir. "Mungkin aja kan gue gak bisa nemenin lo selamanya."

__ADS_1


Air mata mengalir menghiasi wajah Lula. Perempuan itu terisak dan mencubit lengan Primus. "Prim, lo bicara apa sih?"


Primus mengangkat ringan bahunya. "Bicara yang nyata-nyata aja, La."


"Nyata apa?" isak Lula.


"Gue gak bakal bisa selamanya bersama dengan lo, La. Gue cuma sahabat. Pada akhirnya nanti, lo akan memiliki seseorang selain gue." Primus menarik napas panjang, hatinya bergetar. "Kita gak tahu apa yang terjadi ke depan, La. Mungkin aja kita gak bisa terus bareng lagi. Kita harus terbiasa menjalani hidup kita masing-masing, La."


Lula langsung menyentak dengan isakan dalam. "Prim.... lo mau ninggalin gue?"


***


Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE


Instagram Penulis: Hendra.putra13

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2