
Mau giveaway novel nih, follow yuk instagramku: Hendra.putra13
Lula baru saja mengerang senang begitu dia selesai menyiapkan mie goreng paket lengkap kesukaan Primus. Seperti biasanya, Lula selalu mengantarkan makan malam untuk sahabatnya itu apabila dia tahu kalau om Bram belum juga pulang dari kantor. Sementara mengharapkan Primus datang ke rumahnya dan meminta dimasakan sesuatu sangat tidak mungkin, Primus pasti sungkan karena merasa selalu merepotkan dirinya.
Lantas dengan senyum mengembang, Lula langsung saja meninggalkan dapur dan berderap ke rumah sebelah. Ketika sampai, Lula pun menyapa Primus yang duduk di ruang tamu. "Cie yang lagi serius."
Bahu Primus tersentak kaget dan gelagatnya teramat kaku. "Lula..."
"Kok lo gak ketuk pintu dulu, La?" tanya Primus dengan degupan jantung yang keras. Kehadiran Lula yang mendadak kali ini benar-benar membuatnya kelimpungan. Segera cowok itu menyembunyikan kertas ke kantong belakang celana dan melemparkan pena ke meja.
Lula menggeleng tapi tetap tersenyum. "Pintu lo aja gak ketutup kok. Jadi gue langsung masuk aja."
"Lo kenapa kayak habis lihat hantu gitu sih?" Perempuan berkuncir kuda itu bertanya lagi sambil melangkah mendekati Primus di sofa.
Primus yang ditanya demikian, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Hah. Enggak kok. Gue kaget aja, La."
Lula segera mengulurkan tangan ke depan, mengungkapkan tujuan kunjungannya malam ini. "Gue bawain lo makanan nih, Prim."
Masih dengan detak jantung yang tak keruan, Primus mengembuskan napas lalu berseloroh pada Lula. "Perhatian lo gak berkurang sedikit pun sama gue, La."
Primus meraih piring sekaligus tersenyum lebar. "Makasih ya, La."
__ADS_1
Bibir lula melengkung dengan sempurna membalas seruan Primus. Dengan kening yang dikerutkan, Lula menggumam kecil. "Oh ya... tadi lo lagi ngerjain apa, Prim?"
"Ehm... gak lagi ngerjain apa-apa kok."
Lula merasa agak kebingungan karena kenyatannya tadi dia menemukan Primus sedang menuliskan sesuatu di kertas. Maka perempuan itu mencoba memastikannya kembali. "Jadi tadi barusan lo nulis apa?"
Rasanya tidak mungkin bagi Primus untuk mengatakan kalau dia baru saja menuliskan perasaan yang dituangkannya lewat sebuah kertas, terlebih itu adalah tentang perasaannya pada Lula. Primus hanya ingin mengabadikan perasaannya di kertas untuk bisa dibacanya pada suatu hari nanti, sebagai pengingat bahwa dia pernah jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri.
Dengan senyum yang sedikit kaku, Primus membalas Lula. "Enggak nulis apa-apa kok."
"Salah lihat lo, La. Hehehe."
Merasakan suasana hati Primus yang lain, yang benar-benar penuh kekakuan, Lula bertanya sekali lagi dengan mata yang disipitkan. "Prim... lo gak lagi nyembunyiin apa-apa kan sama gue?"
"Ada yang lo rahasiain sama gue?"
Primus mengangkat bahu dan dadanya berdebar. "Lo bicara apa sih, La?"
Lula menggeser tubuhnya ke samping, merapat pada Primus sehingga cowok di sampingnya itu berharap kalau Lula tidak mendengar detak jantungnya yang berpacu hebat. Masih dengan tatapan menyelidik, Lula mencentus. "Gue lihat kok lo jadi tegang gitu bicaranya?"
"Gak kayak lo biasanya aja gitu."
__ADS_1
Primus berhenti mengunyah lalu terkekeh. "Ah... masa sih? Perasaan lo aja kali, La."
Meskipun masih sangat penasaran dengan gelagat Primus yang malam ini bisa dibilang aneh, Lula menganggukkan dagu saja. "Ya sudah, Prim. Gue mau pulang dulu ya."
Primus mengancungkan jempolnya. "Sekali lagi makasih La, untuk makan malamnya."
"Iya, Primus. Sama-sama." Balas Lula kemudian menghilang di balik pintu yang dia tutup rapat.
Primus berdecak miris dan menurunkan piring ke meja. Tangannya merogoh sesuatu di kantong belakang celananya. Dengan kepala ditundukkan, cowok itu menatap secarik kertas di tangannya. "Gue gak mungkin kasih tahu lo kalau tadi gue nulis surat untuk lo."
"Mungkin sampai kapan pun surat ini gak akan pernah lo tahu, La."
"Sampai kapan pun lo gak akan tahu perasaan gue."
Primus melipat surat itu dan mengembuskan napas dalam-dalam. "Semua ini sudah terlalu baik untuk gue, La. Gue gak mau mengubah semuanya karena cinta konyol gue."
"Gue gak mau merusak persahabatan kita. Gue gak mau lo ngejauhin gue karena cinta ini. Cinta yang seharusnya gak ada di antara kita."
Tangan Primus pun terulur meletakkan kertas itu ke meja. Primus bersandar ke punggung sofa dan menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin gue La, yang sudah punya perasaan ingin memiliki lo di persahabatan kita."
*****
__ADS_1