
Bel pulang telah menjerit beberapa menit yang lalu. Begitu cepat koridor yang sepi berubah menjadi ramai oleh jubelan siswa dari semua kelas yang keluar dari pintu. Termasuk Primus yang baru saja mengenakan jaket boomer hijaunya. Cowok itu melangkah meninggalkan ruang kelas dan berjalan santai di koridor.
Namun seketika langkahnya terhenti begitu seorang perempuan datang mendekati dirinya.
"Primus..."
Sambil menoleh ke samping, Primus berseru. "Eh, Lo. Ada apa, Beb?"
Saking gugupnya menjawab pertanyaan Primus, Beby hanya tersenyum. Hal itu membuat Primus kembali menegur perempuan itu. "Gokil ya lo. Ditanya malah senyam-senyum sendiri."
Alis Primus yang melengkung sempurna terangkat sebelah. "Emang gue badut? Perasaan gak ada lucu-lucunya tuh muka gue."
Beby terkekeh dengan keadaan pipi yang merona. "Gak pa-pa kok, Prim. Gue pengen negur lo aja."
Primus pun ikut terkekeh kecil. "Pengen negur doang? Yakin?"
"Iya, Prim." jawab Beby masih malu-malu bersama anggukan kepala.
Primus melanjutkan kekehannya. "Lucu juga ya lo, Beb. Tapi yakin nih gak ada apa-apa?"
Melihat gelengan kepala Beby, Primus pun kembali berseru. "Gue cabut duluan yah."
Ketika Primus berhasil berderap beberapa langkah ke depan, terdengar Beby memanggil cowok itu kembali. "Primus..."
Alhasil Primus kembali berbalik untuk memandang Beby yang kembali memanggilnya. Satu tangan cowok itu tampak terasuk di kantong celana. "Iya, ada yang kelupaan?"
"Atau lo pengen negur gue lagi?"
Beby memberanikan diri mengayunkan kaki ke depan meskipun debaran jantungnya saat ini sangat tak terkontrol. "Gak kok, Prim."
"Gue cuma mau bilang hati-hati ya pulangnya." tukasnya kemudian pada Primus.
"Oke... sudah? Itu aja? Gak ada pesan apalagi gitu?"
__ADS_1
Selang dua detik kemudian Primus berdecak dan merasa lucu. "Lo diajak bicara senyum mulu ya, Beb. Jadi heran gue."
"Hmm... tapi bagus kok. Kalau boleh jujur, senyum lo itu bikin lo tambah manis."
Tanpa disengaja, sudut mata Primus melihat Lula yang tengah memerhatikannya dan itu kontan membuat Primus teringat akan permintaan yang dicetuskan Lula beberapa saat yang lalu. Meski rasanya sangat berat, tapi Primus berusaha untuk mewujudkan permintaan Lula. Semata-mata hanya ingin Lula bahagia. Cowok itu bertanya pada perempuan di hadapannnya. "Beb, lo mau gue antarin pulang gak?"
Mendengar itu, Beby tidak bisa menahan keterkejutannya. "Hah? Maksudnya pulang bareng lo, Prim?"
"Iya, gue antarin lo pulang.... anggap aja ucapan makasih gue karena lo sudah kasih gue air tadi." sambung Primus.
Beby memilin bibirnya. "Tapi... Prim."
Primus lekas menimpali keragu-raguan Beby. "Gak ada tapi-tapian. Gue gak suka ditolak. Dan kalau lo gak mau, pasti gue paksa."
Beby bergerak gelisah sambil berbicara hati-hati. "Bukannya gak mau, Prim. Lo kan biasanya sama Lula, ya?"
"Gue gak enak sama dia."
Primus mendengus. "Oh... kalau itu lo santai aja, Beb." Kemudian cowok itu langsung meraih tangan Beby. "Ayo ikut gue."
"La..." sapa Primus.
Beby mengeluarkan senyum, ikut menyapa. "Hai, La."
Setelah itu Primus langsung saja kembali berbicara. "Gue hari ini antar Beby pulang ya. Lo pulangnya sendiri aja ya."
Sunggingan senyum ikut menyertai wajah Primus. "Gak masalah kan, La?"
"Lo bisa kan pulang sendiri? Sudah gede juga, kan. Gak mungkin tersesat." lanjut Primus yang sangat mematahkan hati Lula. Karena untuk pertama kalinya, Primus dan dirinya tidak pulang bareng.
Lula pun menarik napasnya dalam-dalam. Senyumnya kali ini benar-benar terasa hambar. "Emh... iya, gak pa-pa kok."
"Gue bisa pulang bareng Siska."
__ADS_1
Siska yang berada di sisi Lula pun bergidik. "Lula," Sementara Lula kini memberikan sebuah kode senyum pada Siska sehingga perempuan itu akhirnya mengalah walaupun dia sama sekali tidak senang mengetahui bahwa Primus akan pulang bersama Beby. Siska menganggap Beby benar-benar pengacau di antara persahabatan Lula dan Primus.
"Iya, gue entar yang anterin Lula pulang." cetus Siska.
Primus lantas mengangguk. "Ya sudah kalau gitu, gue langsung duluan aja ya."
"Prim..." Terdengar tiba-tiba Lula memanggil sahabatnya itu.
"Iya kenapa, La?" balas Primus yang masih bertahan di hadapan Lula.
"Gue..."
"Iya, La?"
"Gue takut, Prim." Ingin rasanya Lula mengatakan kalau dia sangat takut kalau Primus akan benar-benar dekat dengan Beby. Namun dia enyahkan kembali niat itu dalam diam.
Primus bertanya sekali lagi. "Lo takut kenapa, La?"
Lula mengalunkan suara dengan nada rendah. "Gue... gue takut lo bikin anak orang jantungan, Prim. Lo kan bawa motornya ngebut."
"Bisa aja kan Beby nanti teriak-teriak kalau lo ngebut-ngebut gitu."
Beby langsung membalas perkataan Lula begitu saja. "Tenang aja, La. Gue bakal pegangan yang erat kok biar gak teriak-teriak ketakutan."
Primus tertawa mendengar ucapan Beby barusan. "Lo tenang aja, La. Spesial untuk Beby, gue bawa motornya pelan deh."
Primus dan Lula saling berusaha menutupi semuanya. Primus dan Lula saling menyembunyikan perasaannya di sudut hati yang gelap, agar tak ada yang melihatnya. Mungkin kini tidak ada lagi hari-hari mereka bersama. Hari yang penuh tawa, kini sudah jauh berbeda.
*****
PS: 650 like dan 150 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
__ADS_1
Instagram Penulis: Hendra.putra13 ayuk follow ya
Terima kasih.