Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DUA PULUH DUA: LULA ATAU BEBY


__ADS_3

Eros dan Gino melengos dari kelas dan mencari-cari keberadaan Primus begitu bel istirahat terdengar. Kedua cowok itu akhirnya menemukan Primus di ujung koridor lantai dasar sedang memegangi tongkat pel di tangan. Ini adalah hari kedua Primus dihukum untuk menggantikan hukuman skorsnya.


Eros melirik dan menyengir pada Primus. "Lo gak capek Prim, bersihin koridor sekolah?"


"Lo pikir aja sendiri." sambar Primus cepat.


Setelah tertawa melihat ekspresi Primus yang kesal, Eros menumpangkan lengannya di bahu Gino. "Kalau gue lebih milih diskors kali, Prim." cetusnya lagi.


Primus menarik napas seraya melepaskan tongkat pel ke ember yang berisi air sabun. Demi Lula, dia akan melakukan apa pun yang bisa membuat perempuan itu tersenyum. Termasuk perlahan-lahan menjadi anak baik-baik di sekolah. "Gue bukan Primus yang dulu lagi. Gue sudah berubah."


Gino menyingkirkan tangan Eros dari bahunya lalu melotot memandang lantai di hadapannya. Takjub dengan hasil kerja Primus. "Buset, kinclong banget cuy lantainya."


Primus langsung memperingatkan ketika kedua temannya itu mencoba bergerak ke samping. "Jangan lo injak-injak lagi lantainya yang di situ. Baru juga gue bersihin."


"Habis ini pokoknya kalian berdua harus pijetin gue." tambah Primus karena jengkel dengan keisengan kedua temannya itu.


Eros yang berada di seberang Primus menyeletuk. "Kenapa harus kita, Prim? Suruh Beby aja Prim. Pasti mau tuh dia pijetin. Secara dia suka sama lo."


Gino menoyor kepala Eros sekaligus melemparkan tatapan tak menyangka. "Nah, bener. Tumben lo pintar." Gino menelengkan kepalanya kembali menghadap ke depan. "Kali ini setuju gue sama sarannya Eros."

__ADS_1


Sebelum Primus sempat menanggapi, Eros berbicara lagi. "Kalau gak Beby, suruh aja Lula yang pijetin lo. Pasti mau tuh mereka pada."


Primus mengembuskan napas dan menyandarkan bahu ke tembok. "Gak setia kawan lo semua. Suruh pijatin aja gak mau."


Gino dan Eros lantas terkekeh. Dan sebelum mereka berdua diseret oleh Primus untuk menjadi tukang urut dadakan, keduanya mencari alasan untuk kabur dari sana. "Aduh.... Prim, gue tinggal dulu bentar. Ada panggilan alam nih." lontar Eros sambil memegangi perutnya sendiri. Berakting pura-pura sakit perut.


Menengok Eros yang bergerak ke depan, Gino memekik. "Eros, mau ke mana lo? Gue ikut woy!"


Primus hanya tersenyum tipis dan menggeleng-geleng melihat kedua temannya itu lari terbirit-birit meninggalkannya. Tetapi sewaktu Primus hendak mengulurkan tangan untuk meraih tongkat pel-nya, terdengar seseorang memanggilnya sehingga dia harus memutar tubuh.


"Primus,"


Tanpa langsung menjawab pertanyaan Primus, Lula lekas mengelap keringat di kening Primus dengan sapu tangannya. "Lo keringetan. Pasti capek, kan?"


Saat Lula dengan penuh perasaan mengusap keningnya, Primus hanya bisa menahan napas karena dadanya kini berdesir sangat hebat. Hal seperti ini selalu Primus rasakan ketika Lula tanpa diminta tulus memberikan perhatian penuh padanya. Lula selalu ada untuk dirinya.


"Oh ya, nih gue bawain lo minum." sambung Lula begitu menarik tangannya lagi dari wajah Primus.


Tampak keduanya kini terlibat saling pandang dengan senyum malu-malu yang disembunyikan. Dan ketika Primus ingin mengambil botol air mineral itu dari tangan Lula, Beby entah dari mana hadir di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Bersama dengan seulas senyum, Beby menyapa Primus. "Hai, Prim..."


Primus terpaksa mengalihkan pandangannya dari Lula dan mengernyit pada perempuan yang baru saja menegurnya. "Beby?"


Beby terus memasang ekspresi manis di depan Primus sambil berseru, "Nih buat lo."


Kontan Lula merasa hatinya terusik menyaksikan apa yang dilakukan Beby saat ini. Perempuan itu juga menyodorkan botol air minum untuk Primus. Lula sangat bisa merasakan bahwa Beby ingin menunjukkan perhatiannya pada Primus. Sebuah langkah awal untuk benar-benar ingin mengambil hati Primus agar tertarik padanya.


Kini Lula dan Beby pun saling tatap. Tidak bisa dipungkiri bahwa seberkas kecemburuan menjalari perasaan Lula. Sebuah perasaan yang sangat ditakuti dan dibenci oleh Lula. Takut kalau dia akan selalu merasa begini—merasakan seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya dan seperti ada desakan air mata yang ingin mengalir dari matanya. Lula tahu bahwa dia tidak akan pernah sanggup kalau Primus membalas cintanya Beby.


Sementara itu Primus hanya bisa mematung di tengah mereka berdua, Primus terdiam dengan kening terlipat. Sangat bimbang harus mengambil botol minuman dari siapa. Lula ataukah Beby?


****


PS: 650 like dan 150 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.


Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE


Instagram Penulis: Hendra.putra13 follow ya :)

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2