
ADA GIVEAWAY NOVEL, BURUAN FOLLOW INSTAGRAM AKU YA: Hendra.putra13
Seperti malam-malam biasanya, Lula menyempatkan duduk di paviliun yang dibanjiri cahaya bulan. Keheningan yang berderak di sekelilingnya membuat Lula bermain dengan perasaannya sendiri. Perempuan itu kecewa dengan dirinya sendiri mengapa dia begitu berat mengaku cinta pada Primus sementara cowok itu selalu ada di hadapannya.
Seperti saat ini Primus kembali hadir menemaninya. "Duduk sendirian aja, Bu. Mau ditemenin sama cowok ganteng gak?"
Senyum cowok itu tersungging. "Tapi duduknya bukan di sini, La. Duduknya di pelaminan gitu."
Lula berseru kecil. "Apaan sih, Prim. Bercanda lo gak lucu ah."
Primus duduk dengan punggung tegak di samping Lula. Wajah cowok itu terlihat semringah. "Biarin... yang penting gue sudah usaha, La."
Primus memerhatikan Lula sesaat lalu segera melepaskan jaket yang terpasang di tubuhnya. Pakaian yang terbuat dari bahan taslan itu kini disodorkannya pada Lula. "La... lo pasti kedinginan, kan?"
"Pakai nih jaket gue."
Kepala Lula termundur menatap jaket yang ditawarkan Primus. Karena Lula terlalu lama mengambil alih jaket miliknya, Primus langsung mencetus. "Tenang aja, La. Jaket gue wangi kok baru dicuci."
"Gak usah pikir-pikir gitu."
Tanpa banyak kata lagi, Primus bergeser lebih ke samping dan merentangkan jaketnya. "Sini gue pakaiin." ujarnya, mencoba menjulurkan jaket itu di punggung Lula.
Lula mengangkat kedua tangan merapikan sedikit jaket di bagian bahunya. Setelah itu Lula menoleh dan tersenyum. "Makasih, Prim."
Lula langsung dihadapkan senyum Primus yang menawan ketika cowok itu membalas ucapannya. "Gak usah pake makasih kali, La."
"Jadi maunya pake apa?" tanya Lula hangat. Sehangat suasana yang menyelimuti mereka kali ini. Sudah lama Lula tidak merasakan perasaan semacam ini. Perasaan nyaman tanpa ada rasa kegelisahan apa pun karena takut Primus akan menghilang dari hari-harinya.
Primus memainkan alisnya pada Lula. "Pake pelukan juga boleh, La."
__ADS_1
Kepalan tangan Lula lantas mengudara di depan wajah Primus. "Maksud lo pake tinjuan kali, Prim?"
Primus terkekeh sendiri. "Jangan serius gitu, La. Memangnya lo tega ya nampol muka gue yang imut ini? Hehehe."
Lula menurunkan tangannya dan mencubit lengan Primus. "Habisnya lo nyebelin banget sih."
Primus dan Lula kemudian saling diam untuk melakukan kegiatan yang seolah menjadi ritual mereka. Tidak pernah terlewatkan menatap bulan dan bintang-bintang yang mereka artikan seperti persahabatan mereka sendiri. Mereka akan siap untuk saling menerangi dalam keadaan segelap apa pun.
Namun keheningan itu terpecahkan oleh suara handphone Primus yang tiba-tiba berbunyi. "Siapa, Prim?"
Primus menatap layar ponselnya sambil menjawab Lula. "Beby sms nanyain gue sudah makan apa belum, La."
Getaran rasa sakit seketika kembali merambahi hati Lula. "Sejak kapan Beby punya nomer lo?"
Primus menurunkan ponselnya dan menoleh pada Lula. "Pas antar pulang tadi... dia minta nomer hape gue."
Dagu Lula terangguk pelan. "Ehm.. terus lo balas apa tuh pesannya Beby, Prim?"
"Kenapa gak lo balas? Kan kasihan Beby nungguin."
Primus berpikir kilat lalu mengembuskan napas. Cowok itu sempat lupa bahwa dia harus terlihat senang akan kedekatannya dengan Beby di depan sahabatnya itu. "Iya, iya gue balas. Gue balas belum makan aja."
Cowok beralis tebal itu lanjut berkata. "Baru kali ini ada yang nanyain gue sudah makan apa belum. Biasanya kan lo aja gitu yang rajin nanyain gue, La."
Beberapa detik kemudian ponsel Primus kembali berdering. "Astaga cepat banget Beby ngebalesnya. Katanya jangan lupa makan ya."
Ujung bibir Primus tertarik sambil melirik Lula. "Ternyata semua cewek suka ya ngingatin makan."
Masih pura-pura tersenyum, Lula langsung berdiri dari tempatnya duduk. "Prim, gue masuk duluan ya."
__ADS_1
Primus bergerak maju meskipun belum bangkit dari paviliun. "La... temanin gue kali."
"Kan sudah ada Beby yang temanin." balas Lula tanpa berani memandang wajah Primus. "Nih, pakai jaket lo. Entar lo masuk angin." lanjut perempuan itu seraya mengembalikan jaket milik Primus.
Primus akhirnya berdiri dan menggenggam tangan perempuan yang sebenarnya paling dia sayang. "La, kadang gue mikir.... ada gak cewek yang tulus seperti lo?"
Lula menunduk dengan wajah yang masih dipalingkan. "Prim... gue juga kadang mikir kok. Ada gak cowok yang bisa selalu jagain gue seperti lo."
Primus menelan ludah lalu melirih. "Gue takut kehilangan lo, La."
Lula langsung menimpali dengan hati yang sudah sangat bergejolak. "Gue lebih takut kehilangan lo, Prim."
"Lo harus janji ya, La. Jangan pergi dari hidup gue."
"Gue bisa hancur, La."
Perkataan Primus barusan memancing Lula untuk menilik wajah Primus. Benar saja, raut Primus sangat sedu dan matanya berkaca-kaca. "Lo gak lagi nangis kan sekarang? Nada bicara lo itu loh melow banget."
Primus membalas dengan seringaian. "Nangis? Cowok jago berantem kayak gue gak bisa nangis kali, La."
Lula ikut tertawa kecil, semata-mata ingin menyingkirkan kesedihan di antara mereka. "Tapi lo kan bukan Superman."
"Pasti nanti lo bakal nangis, Prim."
Primus terkekeh menanggapi kata-kata Lula. "Iya, mungkin."
Lula pun meralat kembali ucapannya. "Tapi kayaknya enggak deh, Prim. Lo kan kuat."
Primus menepuk lembut bahu Lula. "Gue pasti bakal nangis, La. Gue bakal nangis kalau lo niggalin gue, La."
__ADS_1
"Seperti gue nangis ketika nyokap gue ninggalin gue untuk selamanya." gumam Primus, dengan setitik air mata yang bergulir di pipinya.
****