Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
ENAM: JANJI PRIMUS


__ADS_3

VOTE DAN KOMENTARNYA YA…


FOLLOW INSTAGRAM AKU: HENDRA.PUTRA13


AKU MAU ADAIN GIVEAWAY DI INSTAGRAM. SILAHKAN FOLLOW DULU BIAR GAK KETINGGALAN YA HEHE


Pagi ini Lula dikejutkan oleh kucing yang tiba-tiba sedang berguling di kasurnya. Perempuan itu melesat di kasur dan berteriak, membuat keramaian di pagi hari. Sementara itu Primus menyengir melihat Lula di sana.


Saat sadar ada keberadaan Primus di kamarnya dan sudah pasti cowok itulah pelaku yang menaruh kucing itu di sana, Lula memekik geram. "Primuuuussssss!"


Primus tertawa sambil mengelus-elus punggung kucing. "Iya, sayaaaaang?"


"Kenapa ada kucing di sini! Turunin kucingnya sekarang!" Lula mundur ke ujung ranjang. Menarik selimut ke atas dadanya sebagai antisipasi kalau-kalau kucing di depannya itu menerjangnya.


Primus justru mengangkat kucing itu dan hendak menyodorkannya pada Lula. Perempuan itu memperingatkan dengan penuh ketakutkan. "Primus! Gue gak suka kucing! Turunin sekarang atau....."


Suara Lula menghilang, bingung ingin memberi hukuman apa pada Primus.


"Atau apa? Mau cium gue? Buruan sini, mumpung orang ganteng sudah mandi." Primus memajukkan pipinya ke depan.


Lula sekejap memperhatikan sosok cowok di depannya. Benar, Primus sudah tampak segar. Rambutnya lembab, cowok itu pun sudah siap dengan seragam putih abu-abu di tubuh. Dengan cepat Lula langsung menjawab iseng. "Iya. Tapi turunin dulu kucingnya. Bawa kembali ke luar."


"Ah bohong," balas Primus.


"Kalau mau, cium dulu sekarang baru gue bawa kucingnya keluar." imbuh Primus memain-mainkan alis.


"Primus! Udah ah bercandanya. Atau gue teriak manggil bokap aja biar lo dimarahin?!" Lula mengancam saking tak tahu lagi harus melawan Primus dengan cara seperti apa.


Cowok itu justru menantang. "Panggil aja. Gue tadi udah minta izin sama bokap lo kok buat gangguin lo."


Lula melotot. Perempuan itu berkacak pinggang lalu cepat-cepat menarik tubuhnya lagi ke belakang karena sadar kucing itu masih ada dalam gendongan Primus dan kapan pun cowok itu bisa saja melemparkannya ke hadapannya.


Lula mendesah. "Primus..."


Primus mengangkat pandangannya dari kucing dan menatap Lula. "Iya, Apa?"

__ADS_1


"Kita udah sahabatan berapa lama?"


Daerah di antara alis Primus berkerut. "Mm.... dari kecil kan?"


"Terus tahu aku gak suka kucing sejak kapan?" Lula bertanya lagi.


"Dari kecil juga kan?"


"Singkirin kucingnya ya. Primus anak baik deh." Lula memelas dengan senyuman lebar.


Tetapi cowok itu tetap saja menggeleng. "Ah bohong lu. Orang-orang bilang gue bandel, kok."


Lula dengan naluriah menitikkan air matanya yang membuat Primus mendadak resah. Cowok itu buru-buru menurunkan kucing ke lantai dan menggiringnya keluar. Lula masih tidak berhenti menitikkan air mata sedangkan Primus mencoba bergerak ke ujung ranjang menghampiri sahabatnya itu. "Lula.... maafin gue."


"Jangan nangis gitu. Udah ya nangisnya."


"Kalau lo mau marah sama gue, marah aja gapapa. Pukul aja gue, La. Candaan gue gak asik tadi."


Lula menoleh dan menatap sendu ke arah wajah Primus. "Kenapa sih lo gak pernah dengerin kata-kata gue?"


"Capek gue, Prim!"


Primus menunduk. Lewat sudut matanya, dia melihat Lula menghapus air mata lalu melengos pergi meninggalkan dirinya. Dalam tunduknya, Primus merasa menyesal dan tak enak hati kepada Lula saat ini.


*****


Lula sepagi ini sudah memasang tampang cemberut. Perempuan itu masih kesal kepada Primus. Tetapi karena rasa sayangnya terhadap cowok itu jauh lebih besar, dia berbisik pada ibunya di dapur yang sedang menyiapkan sarapan. "Mah, kok Primus bisa pakai seragam? Om Bram udah kasih izin dia buat masuk ke rumah?"


"Om Bram pagi-pagi banget udah pergi ke luar. Kuncinya udah ditaruh di tempat biasa kata Primus tadi." balas ibunya yang sedang mengaut nasi goreng dari wajan ke mangkuk kaca besar.


"Mm... dia sudah sarapan belum, mah?" Lula bertanya.


"Kayaknya belum deh, suruh aja Primus ikut sarapan sama-sama kita." jawab Ibunya sambil membuka celemek di depan tubuhnya.


Lula pun memutar tubuh dan menyaksikan ibunya menaruh mangkuk kaca itu ke meja makan. Bergegas Lula melangkah ke ruang depan untuk menghampiri ayahnya. "Pah, sarapan yuk." seru Lula.

__ADS_1


Ayahnya bangkit dari kursi sambil mengajak Primus, akan tetapi cowok itu hanya bergeming di sana. Lula mencoba menarik napas lalu berbicara pada cowok itu. "Prim, ikut sarapan."


Primus tampak menoleh dan menatap Lula dengan raut bersalah. "Gak. Gue udah sarapan. Lo aja, biar gue nunggu di sini." Cowok itu nyata-nyatanya berbohong. Sedari tadi dia mencari makanan di rumahnya, tetapi tak menemukan apa pun.


Rasa kesal Lula kepada Primus lenyap begitu saja. Dia tidak akan pernah bisa marah seharian pada cowok itu. Primus adalah kesayangannya. Dalam pandangan Lula saat ini, yang duduk di kursi itu masih Primus yang dulu. Yang sedih saat kedua orangtuanya sering bertengkar.


Primus yang takut akan perpisahan.


Karena itu Lula maju dan duduk di sisi Primus. Kali ini Lula yang merangkul bahu Primus. Perempuan itu mengusap-usapnya sementara memandang sepasang mata cowok itu. "Kalau lo pikir gue marah beneran sama lo, itu berarti lo gak benar-benar kenal sama gue, Prim. Lo gak mengerti persahabatan kita."


Primus ikut berpaling menatap senyum yang terbit di bibir Lula. "Gak, La. Kayaknya gue sudah keterlaluan sama lo. Setiap hari gangguin lo. Ngerepotin lo. Gue juga sering bikin lo nangis."


Primus merenung dengan wajah tertunduk. "Gue takut aja kalau lo nanti beneran pergi karena gak tahan sama sikap gue. Karena tingkah gue sendiri yang akhirnya nanti buat lo pergi. Siapa lagi yang peduli sama gue?"


"Siapa lagi orang yang paling sayang sama gue setelah nyokap gue gak ada?"


Hati Lula terasa perih. "Hush, masa yang katanya cowok kuat, jago berantem, sedih-sedihan begini? Pagi-pagi gini lagi." ucap Lula getir. Matanya berkaca-kaca.


Primus berusaha membuat segaris senyum namun tetap serius. "Lo mungkin lupa La, sebandel apa pun cowok, dia masih punya perasaan. Dan yang paling ditakuti dan terasa menyiksa bagi cowok sebandel apa pun di dunia ini adalah kehilangan orang yang paling dia sayang."


Napas Primus tertarik. "Dan gue pernah ngerasain itu sekali saat nyokap gue pergi. Gue gak mau ngerasain itu lagi, La."


Lula tak dapat lagi membendung air matanya yang bergulir di pelipis. "Primus, gue janji. Gue gak akan nangis lagi di depan lo. Kalau itu yang lo takutkan, ngeliat gue nangis, gue gak akan ngelakuin itu lagi. Gue janji."


Kelingking Lula terulur saat mengucapkan janji itu. Tetapi Primus menggeleng. "Gak, bukan lo yang harus janji. Tapi gue yang janji harus bikin lo senang, La. Biar lo senyum terus dan gak nangis lagi."


Primus mengaitkan jarinya pada kelingking Lula. "Cewek cantik jangan nangis pagi-pagi. Nanti di taksir om-om baru tahu rasa lo!"


Lula tertawa sembari mencubit gemas perut Primus. "AH, PRIMUS!"


*****


PS: BANTU SHARE CERITA SURAT DARI PRIMUS KE TEMAN TEMAN YA, BIAR TAMBAH BANYAK YANG BACA.


TERIMA KASIH. I LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2