Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DUA PULUH: ROMANSA PRIMUS DAN LULA


__ADS_3

Follow Instagram: Hendra.putra13


Primus dan Lula keluar dari supermarket lalu memberhentikan angkot seperti cara mereka tadi berangkat ke sana. Keduanya mengambil posisi di sudut angkot dekat kaca belakang. Di dalam perjalanan Primus tiba-tiba terdiam cukup lama sehingga perempuan yang duduk di seberangnya menegur. "Prim, lo kok jadi diam gitu?"


"Lagi mikirin Beby?"


Bahu Primus tersentak, dia menatap mata Lula. "Kok lo tahu kalau gue lagi mikirin seseorang, La?"


Lula menarik napas dan berusaha tersenyum. "Jadi lo beneran mikirin Beby?"


Kepala Primus tergeleng di hadapan Lula. "Gak, La. Gue kepikiran sama nyokap gue. Gue kadang mikir kenapa Tuhan mengambil orang yang baik sama gue terlalu cepat."


Hati Lula selalu ikut melesak apabila Primus bercerita kembali tentang dirinya dan ibunya. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, kesedihan Primus tidak pernah berkurang apabila cowok itu mengenang ibunya. Dengan pelan, Lula mencoba berbicara. "Jangan sedih gitu, Prim. Gue juga jadi ikutan sedih."


Sudut bibir Primus tertarik sewaktu cowok itu menyunggingkan senyum miring. "La, gue takut lo menghilang dari kehidupan gue."


"Gue gak punya lagi alasan untuk hidup kalau lo pergi dari gue." sambung Primus dengan nada lemah.


Kegelisahan Primus yang sampai ke hati Lula, membuat perempuan itu mencetus gemetar. "Primus..."


"Gue masih di sini kali. Gue gak mungkin ninggalin lo."


Dengan tangan yang terulur ke depan, Lula menempatkan tangannya ke punggung tangan Primus dan meremasnya lembut. "Ingat, Prim. Kita diciptain untuk selalu bersama, kan?"


Primus masih tersenyum kecil dan hatinya mendadak bertanya, tumben Lula bicara seperti itu ke gue? Apa gue lagi salah dengar?


Cowok yang menggunakan T-shirt putih itu memilih menyengir saja. "Jangan bete-bete lagi sama gue ya, La. Mungkin lo sudah bosen ya sama lawakan receh gue."


Sebelum Lula sempat menanggapi, Primus melanjutkan kalimatnya. "Tapi tenang aja, entar gue cari lagi deh yang lucu. Biar lo selalu tersenyum, La."

__ADS_1


Lula menatap wajah Primus lekat-lekat. "Kenapa sih lo mau gue tersenyum, Prim?"


Tanpa menunggu dua detik, Primus langsung menjawab. "Karena gue sayang sama lo, La."


Hati Lula seketika diserbu kegugupan mendengar kata-kata itu. Dia tidak mengerti harus berkata-kata sehingga hanya bisa mengulang kata itu sambil memilin bibir. "Sayang...."


Primus mengangguk. "Iya... Kalo lo sayang gak sama gue, La?"


Lula hanya bergerak gelisah mendapat pertanyaan itu meskipun selama ini dia selalu mengharapkan Primus menanyakan itu padanya. Namun sebagai perempuan biasa, Lula hanya bisa tersenyum malu dan bergumam gugup. "Mm.... gue..."


"Gue juga sayang lo, Prim." Akhirnya Lula jujur pada perasaannya.


Serempak Primus melotot dengan senyum lebar mendapat jawaban dari Lula. "Seriusan, La?"


Namun senyum manis itu lekas menghilang dari bibir Primus seiring Lula membuyarkan lamunannya. Ternyata sedari tadi hanyalah khayalannya saja. Percakapan tadi hanya di alam bawah sadarnya.


"Prim! Lo ngapain senyum-senyum sendiri gitu? Buruan turun, sudah sampai tahu."


Primus mengembuskan napas lalu menjawab secepat mungkin. "Gue tadi keinget nyokap gue, La. Dia dulu sering juga belanja bulanan. Dia juga selalu tanya ke gue mau nitip apa."


Sebelum menggeser tubuhnya ke samping untuk keluar dari angkot, Lula bergumam. "Prim... lo baik-baik aja, kan?"


Primus mengangguk dan tersenyum ringan. "Cowok kuat kayak gue gak bisa sedih kali."


"Santai aja, La."


Setelah Lula dan Primus turun dari angkot dan menyusuri ruas jalan komplek perumahan mereka, akhirnya mereka tiba juga tepat di depan pintu rumah Lula. Primus meletakkan semua kantong belanjaan di dalam ruangan rumah lalu keluar lagi menghampiri Lula.


"Makasih ya udah mau nemenin belanja." cetus Lula begitu Primus hadir di hadapannya.

__ADS_1


Primus bergidik santai. "Yaelah biasa aja kali, La. Gue kan sudah biasa temenin lo kemana-mana."


Dengan kerlingan mata jail, Primus lagi-lagi menggoda Lula. "Yang gak biasa itu kalau gue disuruh ngelamar lo. Hehehe."


Sambil menunduk dan menyembunyikan senyumnya, Lula berkata. "Apaan sih, Prim. Oh ya, gue masuk duluan ya. Sekali lagi makasih."


"La..." tegur Primus ketika sahabatnya itu sudah mencapai ambang pintu. Dengan terpaksa Lula memutar tubuh dan menjawab kembali. "Iya?"


"Lo cantik, La."


Astaga, mimpi apa Lula semalam? Kenapa saat ini dia merasakan debaran jantung yang kencang sekali? "Selain jago berantem, lo juga gombal ya, Prim. Gue tahu nih, pasti lo mau latihan buat nembak cewek, kan?" lontar Lula, mencoba mengalihkan suasana agar ketersipuannya tidak terlalu kentara.


"Pengennya sih gitu," kata Primus. "Tapi gue gak tahu tuh ceweknya mau apa nggak, soalnya gue bukan tipenya dia." Primus sadar dia bukanlah cowok idaman Lula.


Lula menggeleng-geleng. "Prim.... Prim...."


"Yaudah gue masuk ke dalam ya?" Lula tak mau Primus melihat rasa sedih yang saat ini menyinggahi hatinya.


Sebelum sempat melangkahkan kaki lagi ke depan, Lula langsung saja terperanjat dan menepi di pelukan Primus karena seekor kucing baru saja menabrak kakinya.


Mulut Primus melengkung seraya membalas dekapan Lula. Pada detik-detik itu, cowok beralis tebal itu sempat berkata. "Mulai besok kayaknya gue mau melihara kucing, La."


Dengan mata terbuka lebar, Lula memekik. "Apa?"


"Kalau dengan melihara kucing lo bisa berada dalam pelukan gue, gue akan ngelakuin itu, La." Tapi.... lagi-lagi kata-kata itu hanya tertahan di dalam hati Primus dan cowok itu mengambil ucapan lain untuk dilontarkan. "Iya, gue pengen aja terus nakutin lo gitu."


Lula kontan mengernyit dan melepaskan pelukannya dari Primus. "Dasar nyebelin."


Primus hanya terkekeh-kekeh saja. "Oh ya, hati-hati baper karena lo tadi sudah peluk gue, La. Meluk cowok ganteng kayak gue bisa bikin lo baper pasti."

__ADS_1


Dengan gemas bercampur senang Lula pun memekik. "PRIMUUUUUUSSSS!"


*****


__ADS_2