Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
SEMBILAN BELAS: PRIMUS SEBENARNYA SERIUS


__ADS_3

Like dan komentarnya dikondisikan ya. Gratis kok


***


Ibunda Lula melangkah buru-buru ke halaman belakang rumah untuk menghampiri anaknya. Beliau bermaksud ingin meminta tolong kepada Lula untuk menggantikannya berbelanja bulanan karena sore ini beliau harus menghadiri undangan dari salah satu teman baiknya.


Dengan busana yang anggun dan elegan, beliau hadir di tengah-tengah Lula dan Primus yang sedang mengobrol santai di paviliun. "Ya ampun, Lula," cetus beliau terlontar sewaktu Ibu Aya—ibundanya Lula menemukan tangan anaknya dibalut perban. "Tangan kamu kok diperban gitu?"


Lula memilin bibir setelah tersentak mendengar teguran dari ibunya. "Gak pa-pa kok, Ma. Ini tadi cuma kena benang layangan aja." Perempuan itu lantas tersenyum untuk meyakinkan.


Dengan seberkas perasaan cemas, ibu Aya menilik anak perempuannya. "Yang benar? Aduh, makanya kamu lain kali mainnya hati-hati yah, sayang."


Lula mengangguk lalu bertanya spontan melihat ibunya yang sudah tampil rapi "Mama mau pergi ke mana?"


Ibu Aya tersenyum hangat. "Oh iya, ini mama mau pergi ke rumah tante Syahrini, dia syukuran butik barunya. Karena takutnya nanti mama pulang kemalaman, rencananya tadi mama mau nyuruh kamu pergi ke supermarket buat beli belanja bulanan."


Beliau menyentuh lembut bahu Lula sambil melanjutkan ucapannya. "Tapi karena tangan kamu lagi sakit, ya sudah, kamu istirahat aja."


Lula lekas menimpali ucapan ibunya. "Lula bisa kok, Ma. Kasih ke Lula aja daftar belanjaannya."


Mata Ibu Aya menyipit. "Ah yang benar?"


"Iya, Ma. Gak usah khawatir gitu deh."


Melihat anaknya menyengir lebar di hadapannya, beliau pun mengiyakan. "Oke deh kalau gitu. Tapi mama baru ngizinin kalau Lula belanjanya ditemenin sama Primus."


Ibu Aya memiringkan sedikit kepalanya, memberikan senyum pada seorang cowok yang duduk di sebelah Lula. "Primus bisa kan temenin Lula?"


Senyum Primus terulas ringan. "Enggak usah ditanya lagi, pasti bisa kok, Tante."


****


Lula dan Primus beralih dari udara panas ke udara sejuk setibanya mereka menjejakan kaki di lantai supermarket. Langkah mereka beriringan mendekati rak yang menyusun perlengkapan bumbu dapur. Berjarak dua langkah di samping Lula, Primus bersedekap menilik sosok sahabatnya itu.


"Lula, gue perhatiin lo kok gendutan, ya?" tegur Primus dengan tampang sok serius.

__ADS_1


Lula pun berhenti sesaat. Perempuan itu menunduk memeriksa tubuhnya sendiri lalu mengangkat wajah kembali sembari bertanya pada Primus. "Masa sih, Prim?"


Bibir Primus pun melengkung manis. "Gak usah panik gitu. Gue becanda aja kok. Hehehe."


Lula mendecakkan lidah, "Apaan sih, Prim. Gak lucu tahu."


Dengan menjinjing dua keranjang di tangan, Primus bergerak menyusul jarak Lula yang kembali berderap ke depan. Sambil merapatkan diri ke bahu Lula, Primus menyeletuk. "Biasanya lo juga ketawa biar gak lucu, La."


"Lo sudah bosan dengan lawakan receh gue ya?" sambung cowok itu dengan alis terangkat sebelah.


Lula menggedikkan bahu. "Tahu ah..."


Ketika Lula hendak mengambil saus botol yang ada di rak, Primus kembali membuka suara. Kali ini suara cowok itu terdengar lembut dan tulus. "Lula... gue suka sama lo."


Seketika hati Lula mengembang di dalam dada mendengar kalimat yang diucapkan oleh Primus, tetapi karena Primus yang kerap bercanda terhadapnya, Lula mencoba mengabaikan perasaannya yang kini terbang melayang. Perempuan itu mendesah membalas Primus. "Prim... kapan sih lo berhenti bercandanya?"


"Gue lagi males bercanda sekarang. Ini masih banyak belanjaan yang belum kita beli, Prim!" lanjut Lula sambil memamerkan daftar belanjaan di tangannya.


Dengan tatapan penuh arti, cowok di sampingnya itu kembali menegur. "Lula..."


"Kali ini gue serius, La."


Lula terdiam sementara tatapan mereka saling melekat. Waktu yang berderak di antara mereka seperti terhenti sejenak. Lalu beberapa detik kemudian, Primus mencoba melanjutkan perkataannya dengan nada lemah. "Gue suka...."


Ingin rasanya saat ini Primus mengeluarkan isi hatinya kepada Lula, namun cowok itu menimbangnya kembali. Mengingat bahwa Lula tidak menyukai dirinya, akhirnya Primus mengurungkan niat untuk mengatakan kalau dia benar-benar menyukai Lula. Ada rasa sakit yang terasa di dada Primus, tetapi itu semua harus dibayarnya agar Lula tidak menjauhinya karena dia telah diam-diam memiliki perasaan yang harusnya tidak ada di antara persahabatan mereka.


"Primus?" tegur Lula dengan suara gemetar menunggu kata selanjutnya yang akan terucap oleh cowok yang sedang menatapnya tanpa kedip itu.


"Gue suka... gangguin lo."


Ada kepedihan karena lagi-lagi semua isyarat cinta Primus itu hanyalah candaan. Menggantungkan harapan pada Primus tampaknya tidak perlu dia lakukan. Perempuan itu perlahan mengalihkan pandangan dan kembali mencari barang-barang yang harus dibawanya pulang ke rumah.


"La... tungguin gue kali." Panggil Primus.


"Kenapa sih cepat-cepat jalannya? Gue susah nih jalannya. Sudah tahu gue banyak bawa belanjaannya."

__ADS_1


Berikutnya Primus mengerutkan kening menatap Lula. "Kenapa sekarang berhenti? Capek ya? Makanya jangan cepat-cepat jalannya."


Lula mengeluh kesal. Benci pada dirinya sendiri karena dia begitu menyayangi Primus tetapi juga tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari sekadar sahabat bagi cowok itu. "Harusnya tadi lo gak usah ikut gue belanja deh."


"Apa kabar tangan lo, La? Emang tangan lo yang diperban itu bisa bawa belanjaan sebanyak ini?" Primus menyodorkan keranjangnya ke depan sewaktu Lula ingin menaruh sekotak sereal ke dalamnya. "Lagi pula kan gue diminta nyokap lo buat nemenin lo."


"Bukannya makasih sambil puji Primus ganteng gitu, ini malah dimarah-marahin."


"Gak kebayang deh kalau gue nanti jadi suami lo. Pasti...."


Lula melirik Primus dari sudut matanya. "Pasti apa?"


Cowok di sampingnya itu justru menyengir dan menyenggol bahu Lula. "Ada deh, kepo ya?"


"Dasar nyebelin!"


Sebelum sempat Lula jauh meninggalkannya ke depan, Primus berseru. "Pasti serasi banget kita kalau jadi pasangan, La."


"Apaan sih, Prim." sambar Lula ketika Primus hadir kembali di sampingnya. Tak bisa ditutupi bahwa detik ini senyum samar menghiasi bibir Lula. Lagi-lagi cowok itu selalu saja bisa memicu lengkung senyumnya untuk terbit.


Dengan cengiran lebar, Primus menggoda Lula. "Cie senyum-senyum. Senang ya gue bilang gitu?"


Sambil berupaya keras menyembunyikan ketersipuannya, Lula membalas. "Lo tuh yang senyum-senyum. Gue biasa aja kok, Prim."


"Lagian tipe suami idaman gue bukan kayak lo, Prim. Jangan geer deh!"


Primus menimpali dengan sindiran. "Suami? Pacar aja gak punya lo, La."


Mendengar Primus terkekeh, Lula memasang wajah masam. "Entar deh gue cari pacar yang pastinya gak nyebelin kayak lo."


Primus memainkan alisnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi. "Gak usah nyari jauh-jauh, La. Pacarin cowok yang ada di hadapan lo aja kali."


Lula tahu Primus sekadar bergurau dengannya, tapi hatinya selalu saja melayang ke awang-awang. Tak tahan lagi menerima gombalan Primus yang semakin membuat pipinya memerah, Lula melangkah cepat meninggalkan Primus.


Primus kehilangan senyumnya, tanda dia telah lelah bersandiwara di depan perempuan yang dia cintai itu. "Lah malah ditinggal pergi. Andai aja lo tahu La, kalau semua yang gue omongin itu sebenarnya dari lubuk hati gue yang paling dalam."

__ADS_1


******


__ADS_2