Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DUA PULUH TIGA: PERMINTAAN LULA


__ADS_3

Setelah Primus mengambil botol minum miliknya, Beby pergi dari sana dengan pipi merona. Sementara itu Primus dan Lula bergeser dari ujung koridor menuju salah satu bangku di taman sekolah. Andai Lula tidak bisa lebih menguatkan hatinya, air matanya pasti sudah mengalir di detik Beby tersenyum pada Primus.


Lula sadar, perasaannya yang lebih pada Primus akhirnya akan menyakiti hatinya sendiri seperti saat ini.


Menemukan raut muram di wajah Lula, Primus membuka suara. "Lo kenapa sih, La? Kenapa lo tiba-tiba sedih gitu?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Lula bertambah sedih dan gugup. Tidak ingin air matanya menitik di depan Primus, perempuan itu memilih bangkit dari kursi dan berderap cepat ke depan.


"Lula, lo mau kemana?" tanya Primus yang ikut mengejar Lula.


Sambil melangkah dengan terburu-buru, Lula membalas. Suaranya terdengar gemetar. "Gue mau ke kelas."


Primus menatap Lula dengan keadaan alis yang bertaut. "Baru juga kita ngobrol, La. Kenapa lo mau pergi?"


"Gue lagi mau di kelas aja, Prim!"


Primus berdecak, menangkap pergelangan tangan Lula, dan membalikkan tubuh perempuan itu agar menghadap ke arahnya. "La... gue mau nanya. Lo mau pergi karena marah sama gue?"


Lula menarik napas dalam-dalam dan mengulang pertanyaan Primus. "Marah?"


Primus mengangguk tegas. "Iya. Lo marah kan sama gue?"


Dengan ******* yang rendah, Lula menarik tangannya dari pegangan Primus. "Gue gak marah, Prim."


Primus kembali menghadang Lula ketika perempuan itu mencoba kembali melanjutkan langkah. "Gue gak bisa biarin lo pergi kalau lo marah begini."


Meski pandangannya buram karena desakan air mata yang ingin keluar, Lula mengangkat wajah dan menatap tajam Primus. Mencoba membohongi Primus kalau dirinya baik-baik saja. "Primus, gue gak marah."


Akan tetapi Primus bersikeras ingin mendengar penjelasan Lula. "Pokoknya gue gak bisa biarin lo pergi kalau lo marah begini."


"Gue capek, gue mau istirahat." cetus Lula dingin.

__ADS_1


"Lo marah, kan?"


"Gue gak marah."


Karena Lula yang masih berupaya membungkam perasaan sedihnya, Primus mencoba menebak sendiri dan pertanyaan itu seketika membuat hati Lula berguncang. "Lula... lo sedih kan karena gue ngambil minuman dari Beby?"


"Karena itu lo mendadak berubah begini." sambung Primus.


Dengan tenggorokan yang terasa tertekan, Lula berdalih meskipun perempuan itu nyatanya tidak bisa menyembunyikan getaran dalam nada bicaranya dan matanya sendiri tengah berkaca-kaca. "Buat apa juga gue sedih gara-gara air?"


Primus menatap dalam dan serius. "Ya gue gak tahu. Tapi mata lo itu... mata lo kodein gue kalau lo itu lagi sedih. Meskipun lo gak bilang, gue bisa lihat semuanya dari mata lo."


Langkah Primus maju selangkah, lebih dekat lagi dengan Lula. Tangan Primus terulur memegang bahu Lula. "Kita sudah sahabatan dari kecil. Lo gak bisa bohongin gue, La."


"Gue tahu kalau lo lagi sedih pasti lo nyoba ngindar dari gue. Lo gak mau lihatin ke gue kalau lo sedih. Lo takut gue ikutan sedih."


Bibir Lula bergetar sementara mencoba mengulas senyum yang sangat dipaksakan. "Lo kayaknya mulai ngaco deh, Prim."


"Cemburu?"


"Iya... lo cemburu kan gue lebih milih air dari Beby?"


Lula pura-pura terkekeh. Masih berusaha memudarkan kesedihannya yang semakin kentara di depan sahabatnya itu. "Lo bercanda, Prim?"


Primus langsung saja berdecak. "Gue gak pernah bicara seserius ini, La."


Lula menggelengkan kepala. "Primus.... gue biasa aja kok," Sambil mengambil arah pandang lain, Lula menyambung ucapannya. "Lagi pula buat apa gue cemburu? Memang gue pacar lo? Gue ini sahabat lo."


"Terserah lo lah mau ngambil air yang mana, Prim."


Primus mengernyit. "Kalau biasa-biasa aja, tapi kenapa lo tiba-tiba berubah begini?"

__ADS_1


"Tolong... jangan bikin gue gila, La. Gue bakal kepikiran kalau lo gak kasih tahu alasannya."


Lula mengangkat tangan, mencoba melepaskan pegangan tangan Primus di bahunya. "Gak ada yang berubah, Prim. Perasaan lo aja kali."


"Sudah dulu ya, Prim."


Begitu Lula mengayunkan dua langkah kaki ke depan, di saat itu Primus mengungkapkan sebuah alasan mengenai kejadian beberapa saat lalu sehingga Lula pun terpaku. "La... gue punya alasan kenapa ngambil air dari Beby."


"Gue menghargai niat baiknya dia, La. Makanya gue ambil airnya dia."


Lula menunduk dan menggerutu lirih. "Terus.... lo gak menghargai niat baik gue?"


Primus memutar bahunya lalu melangkah ke sisi Lula. "Bukan begitu juga, La. Gue sangat, sangat, sangat menghargai niat baik lo. Gue gak pernah kenal sama orang yang tulusnya mengalahkan lo. La... lo itu terlalu baik buat gue. Gue gak bisa lagi terus-terusan nerima sikap baik lo. Gue gak mau terus-terusan ngerepotin lo."


Sejatinya hati Lula sudah menangis saat ini. Dengan anggukan kecil, Lula membalas. "Ya sudah kalau gitu, Prim."


"Ya sudah apa, La?"


Lula memalingkan wajah lalu memejamkan mata. Air matanya menetes membahasahi pipinya. Sambil menahan isakan, Lula melirih pada Primus. "Lo pacarin aja Beby. Biar lo gak ngerepotin gue. Biar lo gak lagi nyusahin gue."


Setelah mengatakan itu, Lula langsung pergi meninggalkan Primus. Namun sedetik sebelum Lula melangkah dari hadapannya, Primus sempat membalas perkataan Lula itu. Kepalanya terangguk pasti pada Lula. "Oke, La. Gue bakal lakuin apa yang lo minta kalau itu bisa buat lo bahagia."


"Mulai detik ini gue janji gak akan ngerepotin dan nyusahin lo lagi." ucap Primus, diam, tak lagi mengejar Lula yang menjauh pergi.


******


PS: 650 like dan 150 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.


Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE


Instagram Penulis: Hendra.putra13 follow dong hehe

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2