
Primus menekan rem dan menghentikan motornya di pekarangan rumah. Belum sempat melepas tas serta jaketnya, cowok itu langsung saja melangkah buru-buru ke rumah Lula. Sekilas lirikan, cowok itu tadi sempat melihat sahabatnya itu tengah duduk di salah satu kursi kayu tepat di samping sisi pintu.
"Lula," tegur Primus ketika cowok itu sudah berdiri di hadapan Lula.
Bahu Lula sedikit tersentak, cepat-cepat perempuan itu menggeserkan raut sedih dari wajahnya. "Eh, Prim."
Primus menenggelamkan kedua tanganya ke dalam kantong jaket lalu bertanya. "Lo ngapain duduk sendirian di teras, La?"
"Nungguin gue ya?" Cengiran lebar menghiasi wajah cowok itu setelah melepaskan tebakan tersebut.
Lula melengkungkan senyum masam. "Apaan sih, Prim. Gue lagi cari angin aja."
Senyum Primus pun menghilang. Cowok itu masih bisa merasakan sesuatu yang lain yang tengah berderak di hati Lula. "La... lo masih marah sama gue?" tanyanya.
Kening Lula berkerut. "Marah?"
Primus lekas mengambil posisi di samping kursi Lula. "La... jangan lama-lama ya marah sama gue."
Lula berupaya tidak memandang Primus atau dia akan lebih merasa sakit membayangkan kalau sahabatnya itu pasti sudah tersenyum berulang kali pada Beby. Setelah ******* kecil, Lula membalas. "Prim... gue gak marah kok sama lo."
Primus menyahut cepat. "Kalau lo gak marah... kasih gue senyum dong, La. Biar hati gue lega."
"Harus ya gue senyum?" seru Lula pelan.
__ADS_1
"Gak harus sih... tapi gue kangen aja lihat senyum lo."
Agar Primus tak terlalu banyak menanyakan tentang kondisi perasaannya saat ini, Lula menolehkan wajah ke Primus dan melemparkan sebuah senyum.
Mata Primus berbinar. "Nah gitu dong. Tapi senyum lo kok kayak malu-malu gitu?"
"Seneng ya gue kangenin?"
Lula memalingkan lagi wajahnya untuk menghadap ke depan. "Jangan geer deh."
"La, maafin gue ya." cetus Primus mencoba menyambung kembali percakapan di antara mereka.
Lula bertanya sekenanya. "Minta maaf untuk apa lagi?"
Lula membalas dengan gumaman pelan. "Sudah, Prim. Kita lupain aja yang tadi."
"Oh ya... lo kok baru pulang? Sore banget."
Primus menjawab antusias. Cowok itu memaksakan diri ingin terlihat senang di hadapan Lula. "Tadi Beby traktir gue es krim, La."
Langsung saja keresahan yang besar membanjiri perasaan Lula. Tampaknya waktu untuk kehilangan Primus sudah semakin dekat sehingga menciptakan bening air mata yang tipis di mata Lula. "Oh gitu.... pantesan lama.
Senyum Primus semakin lebar. "Maklumlah, La. Lagi masa-masa pendekatan gitu. Gue masih butuh waktu untuk membuka hati untuk Beby."
__ADS_1
"Walaupun gue agak sedikit canggung sih dekat sama dia, tapi gue harus paksain biar gue terbiasa sama Beby." Primus mengerlingkan mata. "Lo tenang aja, La. Gue bakal usaha untuk bisa mencintai Beby."
"Biar lo bahagia karena sahabat lo yang nakal ini akhirnya gak lagi ngerepotin lo."
Lula tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya ingin segera masuk ke dalam rumah dan menangis. Hatinya hancur berkeping-keping mengetahui Primus bertekad mewujudkan permintaan yang sebenarnya tidak pernah diinginkannya itu.
Daerah di antara kedua alis Primus dihiasi kerutan. "La... kok lo diam aja?"
"Jangan diam aja dong. Kasih gue semangat gitu." Primus terkekeh. "Tanpa dukungan dari lo, gue kayaknya gak bakal bisa, La."
Meskipun sukar rasanya menarik bibir untuk tersenyum, Lula mencoba melakukannya. "Gue selalu dukung lo kok, Prim. Semangat ya."
Mungkin dengan cara seperti ini, mengingatkan kalau hubungan Lula sama Primus hanyalah sebatas sahabat. Mereka bisa berbagi cerita, rahasia tapi tidak dengan cinta. Tembok tinggi perlahan-lahan akan terbangun di antara mereka, memisahkan dan menjauhkan.
*****
PS: 650 like dan 150 komentar untuk lanjut ke selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
Instagram Penulis: Hendra.putra13
Terima kasih.
__ADS_1