
"Gue seneng banget."
Maia yang sedang memegang gelas minuman mengernyit pada Beby. "Senang kenapa lo, Beb?"
Beby menjawab sambil terus melangkah di samping Maia, menyusuri koridor sekolah di jam istirahat. Mata perempuan itu bersinar mengikuti suasana hatinya yang lagi kasmaran. "Kemarin Primus temenin gue makan es krim."
Senyum Beby lebih mengembang lagi. "Dan dia nganterin gue pulang lho."
Keduanya membelok di sudut koridor, lalu Beby bertepuk tangan sendiri seolah-olah dia adalah orang paling bahagia di dunia. "Gue bilang juga apa, Primus pasti ngerespon gue."
Matanya menjeling saat menoleh pada Maia. "Kekhawatiran lo gak terbukti, kan?"
Maia menggeleng kecil, memajukan bibir, dan menahan seberkas kegelian. "Beb..." tegurnya.
"Iya, Maia. Kenapa?" Beby mengangkat dagu. "Mau kasih gue selamat ya?"
Maia menyenggol bahu Beby. "Gue rasa lo terlalu berharap lebih deh sama Primus."
Beby manyun dan melepaskan tatapan bingung. "Maksud lo?"
Maia merangkul Beby, menghadapkan tubuh temannya itu untuk menghadap ke sisi lapangan. "Lo sepertinya harus banyak-banyak makan wortel deh, Beb. Supaya lo bisa lihat dengan jelas sekarang."
Perempuan berbandana merah muda itu pun makin tak mengerti dengan ucapan Maia. "Lihat apaan sih?"
Maia menunjuk dengan dagunya sementara Beby mencoba mengikuti arah yang dimaksud oleh temannya itu. "Tuh, Primus sama Lula lagi berduaan."
__ADS_1
Kemudian Maia menyambung kalimatnya dengan nada yang menakutkan. "Mereka walaupun sahabatan... tapi kayak orang pacaran. Feeling gue juga mengatakan kalau Primus sukanya sama Lula, bukan sama lo."
Beby tidak bisa menahan dirinya untuk tidak cemberut. Tidak bisa dipungkiri, hatinya terasa panas menemukan Lula berdiri sangat rapat dengan Primus. "Lula kenapa sih terus dekat-dekat sama Primus?"
"Harusnya Lula sadar dong kalau Primus mulai dekat sama gue."
"Menjauh gitu kek. Gak bisa jaga jarak apa itu cewek sama Primus?!" tambah Beby dengan decakan lidah.
Maia mendengus. "Beb, lo yang harusnya sadar! Lo yang datang di antara mereka." Mata Maia menatap Beby tajam dan setengah bersimpati. "Lo harus siap lihat kebersamaan Primus dan Lula. Selamanya."
Beby mengertak, sangat kesal pada kenyataan yang disampaikan Maia. "Jadi gue harus gimana?"
Maia menyesap ice chocolate-nya beberapa tegukan sebelum membalas Beby. "Mm... ada dua pilihan."
Beby terdiam sesaat untuk mencerna gagasan itu. Pada akhirnya perempuan itu berkata dengan sangat lantang. "Gue gak mungkin berhenti sampai di sini. Lihat aja, gue gak bakal biarin mereka sama-sama terus."
Karena kekesalan yang mulai semakin besar di hati Beby, mata perempuan itu sampai berkilat. "Gue bakal hancurin persahabatan mereka."
Dan tampaknya Beby sendiri ingin mengawali rencananya itu pada detik ini juga. Perempuan itu berlari tetapi Maia mencoba mengejarnya.
"Beb... lo mau ke mana?"
"Gue mau curi perhatian Primus. Lo ke kelas aja duluan." balasnya cepat, kemudian kembali berderap tanpa Maia lagi di sisinya.
Begitu sudah berada di hadapan Primus, Beby langsung saja menyambar tangan cowok yang mengenakan gelang itu. "Primus..."
__ADS_1
Alhasil Primus berhenti berbicara pada Lula. Cowok itu sekarang memusatkan perhatiannya pada Beby yang tampak gugup. "Beby? Kok lo panik gitu?"
Beby mendesah. "Prim! Gue bisa minta tolong gak?"
Adrenalin Primus meningkat menyaksikan Beby yang sangat gelisah. "Ada apaan memangnya?"
Tanpa memedulikan Lula, Beby menarik lengan Primus. "Ayo ikut gue..."
"Ke mana, Beb?"
Beby tersenyum dalam hatinya sementara wajahnya masih menampilkan raut kepanikan yang palsu. "Sebentar aja, Prim."
Primus mengangguk. "Iya... iya, gue mau izin dulu sama Lula." Cowok itu berpaling dan berseru pada Lula. "La, Gue—"
Beby memenggal kalimat Primus dengan menyeret cepat cowok itu agar ikut dengannya. "Prim... kelamaan! Ini penting!"
*****
PS: 750 vote dan 200 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
Instagram Penulis: Hendra.putra13
Terima kasih.
__ADS_1