
Siang hari Stefani terbangun dari malam yang mencekam, dia mulai melangkahkan kaki menghampiri jendela kamarnya dan membuka gorden dengan kedua tangannya.
AWWW... tanpa sengaja kaki Stefani menyentuh kursi yang ada di dekat jendela kamarnya. Stefani memperhatikan kakinya dan alangkah kagetnya melihat kaki kanannya yang sedikit melepuh karena tertempel dengan knalpot motor yang masih panas semalam.
Stefani duduk di ranjangnya dan memperhatikan kakinya dan teringat dengan peristiwa tadi malam. Stefani masih bingung dengan apa yang Cintya ucapkan tadi malam.
" Apa maksudnya?. Kok jadi aneh gini yah apa Gue malem hanya mimpi?. Tapi kok kaki Gue beneran terbakar?. " Stefani kembali merebahkan tubuhnya dan mengangkat kakinya yang terluka.
" Aaahhhhh.... pusing gue " Stefani beberapa kali mengepakkan tangannya ke kasur.
Kleeek...
Nenek masuk dengan membawa kotak p3k dan di raihnya kaki Stefani yang sedari tadi Stefani angkat tinggi-tinggi.
" Nenek kok tau luka aku?. " tanya Stefani heran dan duduk di atas kasur tanpa mengambil kakinya yang nenek obatin.
Nenek hanya diam dan terus mengobati luka Stefani
" AWWW..." Stefani pura-pura kesakitan.
Tentu saja nenek menatap Stefani cemas.
Stefani hanya nyengir melihat nenek.
" Nenek kenapa?. " tanya Stefani yang heran dengan tingkah nenek yang terus diam.
Setelah selesai mengobati kaki Stefani, nenek beranjak pergi membawa kotak p3k yang tadi dia bawa keluar kamar Stefani. Stefani dengan hati-hati mengikuti nenek dan melihat semua aktivitas nenek tanpa sepengetahuan nya. Stefani perlahan berjalan dengan menyeret kaki kanannya yang masih terasa perih, menghampiri nenek yang duduk cukup lama di kursi ruang tamu.
" Nenek..." ujar halus Stefani memeluk nenek dari belakang.
" Nenek mengencangkan genggaman Poto keluarga yang sedari tadi dia genggam di dadanya. Perlahan air matanya menetes hingga terasa hangat di tangan Stefani.
Stefani menghampiri nenek dan berusaha duduk di depan nenek dan menatap neneknya heran.
" Nak, kamu sudah dewasa. Maafkan nenek yang tidak bisa mendidikmu dengan benar. Nenek telah berdosa kepada kedua orang tuamu. " Nenek terus menangis dengan membelai halus rambut cucunya itu.
" Nenek...." Stefani merangkul wanita paruh baya itu dengan erat.
" Nenek gak suka kamu selalu balapan liar seperti itu. Nenek terlalu berat untuk kehilangan orang yang nenek sayangi. Cukup mereka yang meninggalkan kita ". Nenek memeluk Stefani semakin kencang.
Sore hari Stefani sudah berdandan siap-siap keluar rumah. Nenek mendekati Stefani dan berdiri di depan pintu
" Tenang nek, Fani keluar sama Kesya nek. Di mobil juga. " jelas Stefani menenangkan nenek sambil tersenyum usil.
" Iya nenek tau. Nenek datang kesini mau ngasih kabar kalau Kesya udah di depan dari tadi. " jawab nenek beranjak pergi
" Kenapa nenek gak bilang dari tadi. "
__ADS_1
Kesya duduk sambil memainkan kakinya menandakan sudah terlalu lama dia menunggu di luar. Stefani menghampiri Kesya sambil nyengir dan berjalan sedikit menyeret kaki kanannya.
" Lo kenapa?. " tanya Kesya heran
" Panjanglah ceritanya. nanti di mobil aja Gue ceritanya yah. " Stefani mendorong Kesya sampai ke depan mobil.
Dengan susah payah Stefani memposisikan kakinya supaya tidak tergores apapun di dalam mobil.
" Kaki Lo kenapa sih Fan?. "
" Jadi gini yah ceritanya... " Stefani membuka awal ceritanya dia bertemu Cintya tadi malam.
" Hah?. Lo mimpi yah jangan-jangan bukan hanya kaki Lo yang terluka tapi ada yang salah sama kepala Lo juga. " Seakan Kesya tidak percaya dengan apa yang dia dengar tentang semua peristiwa semalam.
" Sumpah gue gak bohong Key. makanya hari ini Gue mau ngajakin Lo buat klarifikasi ini semua. "
" Nah loh gimana caranya?. "
" Lo kan Deket banget sama Cintya yah. Lo coba hubungi nyokap nya gih Lo tanya dia ada dimana biar kita bisa klarifikasi langsung. Ok gak? "
" Iya deh iya...."
" Bentar yah gue telpon dulu. "
Tuuuuttt.....
" Ooh Kesya kemana aja udah lama gak main ke rumah. Iya Tante cukup baik, kamu apakabar?. " jawab mamah Cintya di seberang sana
" Tante hari ini Nci ada di rumah gak yah, Kesya mau main kesana Tan. "
" Lah, dia tadi ada yang jemput katanya mau belajar bersama dengan teman nya. kirain Kesya ikut juga."
" Justru itu tante Kesya ketinggalan makanya mau nyusul mereka. Alamatnya dimana yah Tan? "
" Di cafe dekat sekolah kalau gak salah Key. ".
" Siap tante makasih yah. "
Kesya menutup panggilan nya dan kembali pokus menyetir mobilnya menuju arah cafe dekat sekolah.
Cintya nampak sangat antusias menjelaskan setiap soal matematika kepada lelaki di depannya itu, sesekali dia tersenyum melihat lelaki itu terus menggosok kepalanya menandakan prustasi tahap awal.
" Kak, ini masih salah. Harusnya di kalikan dulu baru di tambah. " Cintya menunjuk salah satu angka yang ada di buku tebal di meja.
" Yah Gue salah lagi. "
" Gak apa-apa kak, semangat "
__ADS_1
" Aduh mana UN bentar lagi "
" Kakak pasti bisa kok Aku juga dulu sama gelas kosong. "
Sedang asyiknya membedah soal, datanglah Stefani dan Kesya menghampiri mereka berdua.
" Nci?. " Tanya Kesya tiba-tiba
" Angga?. " Stefani seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya
" Kalian ngapain kesini?. " tanya Cintya sedikit judes dan melipat kedua tangannya
" Lo baik-baik aja kan?. " tanya Kesya yang heran dengan tingkah Cintya yang 180° berubah.
" Lo udah gak pake kacamata lagi Nci?. " tanya Stefani polosnya
" Kenapa?. Biar Lo bisa mainin lagi?. Lo kira gue gak bisa pake softlens?. "
" Bu...Bukan itu maksud Gue Nci. "
" Udah kak kita ganti tempat aja. " Cintya membereskan buku-buku yang tergeletak di meja dan memasukan nya kedalam ransel dan beranjak bergi sambil sedikit mendorong meja.
" AWWW... tanpa sengaja salah satu kaki ujung meja itu menyentuh kaki Stefani yang terluka. Tentu saja Stefani meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. Seakan iba Cintya menoleh ke belakang dan hendak menghampiri kedua temannya itu. Namun Angga malah menariknya semakin jauh.
" Keterlaluan banget si Nci Fan. " Kesya memapah Stefani untuk duduk sejenak.
" Udah lah memang itu juga salah gue Key " Stefani masih menahan sakit di kakinya
" Apa mau gue pesenin minum dulu Fan?. "
" Gak usah kita balik aja "
" Yakin Lo masih kuat jalan?. "
" Kan ada Lo yang mapah gue. hehe "
" Dasar Lo yah... "
Setelah menemui Cintya, Kesya dan Stefani melanjutkan perjalanan ke arah rumah Reza untuk klarifikasi apa yang menimpa Cintya yang sebenarnya.
Stefani dan Kesya terus memantau pergerakan di rumah Reza. Akhirnya setelah 1 jam proses menunggu, Reza keluar memanaskan mobil yang dari tadi stay di depan rumahnya. Tiba-tiba Mega keluar menghampiri Reza dan sedikit merapikan pakaian Reza dengan akrab.
" Jangan-jangan selama ini yang Reza maksud cewek yang dia sukai itu Mega?. " tanya Kesya mulai menyulutkan api
" Udah lah gue pusing. Pulang aja Key. "
yuk ikutan lagi ceritanya 😍.
__ADS_1
siapa sih si Mega ini?. Jadi bikin menguras emosi. jadinya posisi Stefani tergeser lagi lah😌