
Dedaunan kering berlarian tak tentu arah, angin berhembus kencang rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Stefani terduduk kaku menatap keluar jendela kamarnya, perlahan menghembuskan napas panjang dan menutup laptopnya sambil tersenyum mengangkat kedua tangannya berdiri riang.
" Akhirnya libur semester... " gumam Stefani riang
TREEEDDD....TREEDDD ....TREEDDD...
" Fan, Lo dimana? " pesan singkat Kesya.
" Di ruman Key. "
" Gue kesana yah... please π₯Ίπ. "
" Jangan bilang Lo kabur dari rumah yah. "
" Nanti dah gue jelasin.π. "
" Lo kenapa sih?. "
" Lo share lokasi yah. Gue berangkat sekarang "
" Ok deh. "
...******** 2 jam kemudian ********...
Sebuah mobil berwarna putih nampak mulai menyesuaikan diri parkir di depan rumah Stefani yang amat sederhana dan antik dengan kesan Betawi yang pekat.
" Lo kenapa sih?. " Tanya Stefani penasaran
" Gue gak tau rasanya gue pengen mati aja!. " Teriak Kesya berlari menghampiri sosok Stefani yang masih berdiri melipat kedua tangannya.
" Lo kenapa? gue masih bingung " Stefani dengan cepat menurunkan nada dan merangkul sahabatnya yang terus menangis dan menepuk pundak Kesya lembut.
" Gue gak paham, gue bingung, gue marah Fan. " Isak tangis Kesya.
Teh manis hangat tengah di bawa Stefani menuju kamar, sambil membawa sekotak tisu. Kesya masih sibuk dengan tangisannya dan duduk termenung di atas kasur sederhana Stefani.
" Key, " ujar halus Stefani.
" Fan, gue kayaknya gak layak lagi tuk hidup. " jawab Kesya mengangkat wajahnya.
__ADS_1
" Yah emang. " Stefani nyengir, " BUSYET. " teriak Stefani kaget melihat makeup Kesya berantakan dan matanya hitam terkena maskara yang luntur.
" Lo memang jahat... " isak tangis Kesya semakin menjadi. Kembali menyembunyikan wajahnya.
" Gini, Lo jelasin dulu apa masalah Lo. Masa gak ada yang bisa di selesaikan. " Stefani menarik kedua tangan Kesya menyakinkan
" Jadi, gue tuh bingung Fan. sekarang kan libur panjang ni yah. HEUHEUHEU.... "
" Jangan nangis lagi dong terus apa? "
" Terus, cowok gue ngajak jalan, nonton, shopping, naik gunung, ke villa, taman hiburan, dan ngajak ke pantai juga. "
" Lah masalahnya apa?. kirain gue ngajak kawin. "
" Justru itu gue bingung pilih yang mana?. "
" Ini namanya Lo lagi pamer. Ya pilih aja tempat nya satu atau dua jangan banyak-banyak emang Lo gak bakalan capek. " Justru itu masalah nya. "
" Masa gara-gara gini aja Lo mau mati sih Key. "
" HEUHEUHEU..... Masalahnya kan setiap tempat beda cowoknya. " Kesya kembali menarik tangannya dan menyembunyikan wajahnya
" Masa gue harus membelah diri Fan. masa iya gue harus jalan 1 hari sama Anton, Arvi, Bobi, Rifki, Migo, Pino, Sandi, Wanto, Rega, Wendy, Sony, Agung? "
" Lo lagi ngabsen buat antrian sembako?. " Stefani menepuk tangan gak percaya dan kepalanya menggeleng heran.
" Bantu gue Fan... Please... " Kesya turun dan memeluk kedua kaki Stefani erat.
" Untuk ini gue angkat tangan " Stefani beranjak pergi meninggalkan Kesya yang masih dengan tangisannya.
Stefani termenung menatap langit yang perlahan menghitam, perlahan cahaya kecil bermunculan menghiasi malam yang sepi.
" Fan, kamu lagi apa sayang?. " Nenek menghampiri Stefani dan membelai rambut panjangnya.
Stefani tidak menjawab dan berbalik memeluk nenek erat dan perlahan menangis tersedu.
" Kamu kenapa nak?. " Nenek terheran dengan sikap Stefani. karena baru kali ini nenek melihat Stefani menangis setelah sekian kalinya. Karena setelah meninggalnya orang tuanya Stefani seakan kehilangan air matanya juga.
Stefani berdiri di tengah ilalang yang tinggi, kicauan burung bernyanyi merdu, bisikan angin memenuhi seluruh daun telinga. Stefani menatap lurus sosok tinggi lelaki di depannya,
__ADS_1
" Reza?. " Bisik hati Stefani tersenyum bahagia.
" Fan, fan, FAN. HEY STEFANI... " Panggil kesal Kesya menarik selimut yang menyelimuti seluruh tubuh Stefani.
" APAAN SIH LO..." Stefani serentak terbangun dari mimpinya. Dan menatap Kesya kesal
" Masalah gue gimana Fan?. " keluh Kesya setengah memohon.
" Gini aja. Mana ponsel Lo?. "
" Ini... "
BRUUUG.... BRUUUG....CRAKKK...
" LO GILA YAH ?. " kedua mata Kesya seakan berlomba melompat keluar melihat Stefani membanting-banting ponselnya hingga rusak parah.
" Udah kelar tuh urusan Lo, gue tidur lagi yah. " Stefani menarik kembali selimutnya dan siap posisi menyusul sosok Reza tadi.
" HEUHEUHEU.... LO JAHAT " Kesya menangis kencang.
" Bukan itu maksud gue..."
Gemuruh ombak menerjang silih berganti, mentari memancarkan pesonanya, kicauan burung laut bersahutan silih berganti. Stefani dan Kesya berjalan menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan dan sesekali bercanda bersama.
" Fan, gue masih heran kenapa Lo rusak ponsel gue?. "
" Itu kan biar bisa Lo pake alasannya ke cowok-cowok Lo. biar Lo gak usah bohong. "
" Padahal kan bisa di matiin aja gak usah di rusak yah. "
" Udah, udah lah kita nikmati aja masa liburan ini " Stefani menarik Kesya mendekati gemuruh ombak.
Ketika asyiknya saling melempar pasir dengan Kesya tiba-tiba sosok Reza muncul di sudut mata Stefani. Stefani berhenti sejenak dan perlahan berjalan menyusul sosok itu yang perlahan menghilang dari pandangan.
Stefani terus berjalan setengah berlari menghampiri sosok itu dengan hati-hati.
" Re... " suara Stefani terhenti ketika sosok wanita cantik berambut pendek menggandeng Reza dan menariknya memasuki kapal dan perlahan hilang dari pandangan.
...β¦....... Bersambung ............
__ADS_1
Nantikan lanjutannya yahπ₯°. Jangan lupa like komen dan vote yah π