
Stefani dengan segenap tekadnya mendorong Reza menjauh dan pergi dengan gejolak hati yang masih ribut.
" Sial...! " seru Reza membanting tembok dengan keras.
Untuk pertama kalinya Stefani, Kesya, dan Cintya memutuskan untuk menginap di sebuah villa yang tak jauh dari rumah Kesya.
" Kenapa harus satu kamar?. " Protes Stefani setelah menyadari bahwa mereka bertiga berada di kasur yang sama
" Hehehe biasa Gue nginep disini emang sekamar sama Kesya. " jawab Cintya terus terang.
" Ya udah Gue aja lah yang ganti kamar. " Stefani seakan keluar kamar.
Tap, tangan Kesya menarik Stefani mendekat dan menggelengkan kepalanya.
" Kita harus tetap bersatu. kita rumuskan masalah kita yah. " seakan punya ide brilian Cintya mengacungkan jarinya.
Dan Akhirnya cerita panjang di malam inipun segera di mulai. Mereka bertiga sudah berada di posisi tidur masing-masing, dan menatap langit-langit secara bersamaan.
" Lo ada rencana gak Key?. " tanya Cintya yang berada di sisi kiri Kesya
" Gue bingung sama si Reza. " jawab Stefani mengubah posisinya menghadap Kesya yang berada di tengah-tengah mereka.
" Iya gue lupa. tadi siang kak Reza ngapain aja sama Lo?. Kok Lo kayak yang tegang gitu ketemu kita?. " tanya Cintya semakin penasaran, dan semua orang menghampiri Stefani seketika.
" Gak ada yang spesial, dia cuman ngancem Gue. " jawab Stefani melipat bibirnya.
" Yakin Lo?. " tanya Kesya seakan ada yang Stefani sembunyikan.
Di tempat lain Reza tengah duduk di dekat kolam renang dan menikmati kopi hangatnya, Mega perlahan mendekat dan memakaikan sebuah kacamata di mata Reza.
" Kakak lebih suka menikmati penglihatan asli kakak. " ujar Reza melepaskan kacamata yang tadi Mega pakaikan.
" Kak, kenapa sih gak lanjutin pengobatan kakak. Kita balik Singapur lagi yuk kak. ! " ajak Mega sedikit cemas
" Sekeras apapun kita berusaha sulit bagi kakak untuk sembuh dek. " Reza menatap Mega sambil tersenyum tipis.
" Ayah malam telpon. kayaknya Minggu depan Mega baliagi ke Singapur kak. Mungkin dalam waktu lama gak bakalan nemenin kakak lagi, soalnya Mega di suruh fokus sekolah mulai saai itu ". Mega menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.
" Kamu sudah dewasa dek jangan kayak anak kecil lagi yah. " Reza mencoba menghibur dengan berupaya meraih wajah Mega. Namun apalah daya, dengan penglihatan yang redup di malam hari wajah itu sulit Reza raih.
Melihat itu semua Mega semakin cemas dan pergi meninggalkan Reza sendirian.
Hari yang sibuk kini telah di mulai kembali, seperti biasa suasana kelas masih normal seperti biasa. Namun ada yang tetap terasa kurang di hati Stefani, pandangan nya terus berpusat ke arah jendela luar.
__ADS_1
" Lo kenapa Fan?. " Cintya mengetuk tangan Stefani dengan pensil yang ia pegang.
" HAH?. " Stefani langsung berdiri dan sedikit berteriak. Tentu saja semua orang menahan tawa mereka karena masih ada pak Edwin yang sedang mengajar.
" Hemmm.... Stefani kenapa?. " tanya pak Edwin mulai geram.
" Engga Pak, saya mau izin ke toilet. " Stefani menjawab dengan senyum kudanya.
" Sana ! " Pak Edwin kembali pokus dengan catatan nya di papan tulis.
Tentu saja mau tak mau Stefani harus keluar kelas dengan alasan pergi ke toilet.
Stefani duduk di salah satu kursi yang ada di taman sekolah, dan sesekali menatap ponselnya tanpa tujuan.
" Kenapa dengan aku ini?. " tanya hati Stefani berkali-kali.
" Kenapa yah Reza gak masuk sekolah? " bisik hati kecilnya.
Lagi-lagi ketika sedang merasa sendiri, ada sosok Tony yang menghampiri dan duduk di samping Stefani dengan mengangkat salah satu kakinya di kursi.
" Lo mau tanya Reza tanya aja Fan. " ujar Tony tiba-tiba bicara seakan mereka sudah akrab.
Stefani memperhatikan sekeliling dan mulai duduk dengan santai setelah hasil pemindaian nya tidak ada orang lain di taman.
" Gue juga gak tau Fan. Awalnya sih Gue tau kelemahan Reza yang gak liat di malam hari, waktu itu Gue yang pertama kali dia kenal di sekolah ini, karena dia Gue tolong ketika lagi putus asa dan mau melakukan hal-hal yang mengerikan dengan hidupnya. "
" Maksud Lo apa?. "
" Iya dia pernah mau bunuh diri waktu kelas 1 SMP. Eh karena hal bodoh itu malah kakak perempuan nya yang meninggal. "
" Apa jangan-jangan hal itu yah yang buat Reza harus hidup sendiri di Jakarta dan jauh dari orang tua nya?. "
" Kok Lo nyampe tau sih?. " Tony menatap Stefani curiga
" Lo tau kan sifat gue gimana. jangan mikir yang enggak-enggak. "
Yah, memang Stefani dan Tony teman akrab dari masa taman kanak-kanak mereka sekarang. Namun karena orang tua Tony pindah ke Jakarta akhirnya mereka terpisah ketika Tony akan masuk SMA, namun komunikasi mereka masih terjaga dengan baik.
Sore hari Cintya seperti biasa masih mengajar sosok Angga sang kakak kwlas yang ingin menaklukkan setiap soal di UN nanti.
" Kak Angga soal yang kemarin udah di kerjain kan yah?. tanya Cintya sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran yang memenuhi tasnya.
" Yang mana yah?. " tanya Angga seolah tak tau.
__ADS_1
" Aaaahh kak Angga mah kebiasaan. " Cintya menarik buku tulis Angga.
" Hehehe kakak lupa Nci. "
" kebiasaan ah. kalau kayak gini terus Aku gak mau ah jadi tutor kakak lagi." Cintya melipat kedua tangannya dan memasang wajah betenya.
" Iya kakak kerjain kok. " rayu Angga.
" Ok, besok 10 soal tambahan yah. " tegas Cintya.
" Apa?. "
Cintya antusias sekali mengajarkan Angga dengan soal-soal UN nya. Sedangkan Angga masih sibuk mengagumi sosok Cintya di depannya itu.
" Jadi jawabannya apa kak?. A, B, C, D, atau E ?. " tanya Cintya serius
" Kamu cantik. " goda Angga
" Yang serius dong. " Cintya merasakan panas di kedua pipinya dan perlahan memerah.
" Kakak serius Nci. "
" Apaan sih nih kerjain. " Cintya berusaha menguasai dirinya sendiri dan berjalan menuju toilet.
Di kamar mandi Cintya mondar-mandir sambil terus mengipas kedua pipinya dengan tangannya.
" Apa ini?. " tanya hati Cintya merasa aneh.
" jangan-jangan....tidak, tidak, jangan sampe dan tidak mungkin. " penyangkalan Cintya
Di meja yang tadi, Angga terus menatap angka yang berganti di ponselnya seolah cemas karena Cintya tidak kunjung datang juga.
" Kemana anak ini?. " gumam Angga yang masih cemas.
Tiba-tiba muncullah Cintya dengan senyum kaku di wajahnya dan kembali duduk berhadapan dengan Angga.
" Jadi kita bahas soal yang mana lagi?. " tanya Angga mencoba mencairkan suasana.
" Yang no 13 dulu aja kak. " jawab Cintya memalingkan senyum usilnya.
" Ok kita mulai aja. " Angga menyembunyikan senyumnya dengan melipat kedua bibirnya.
...*********BERSAMBUNG********...
__ADS_1