
Saat makan malam Pak Bagas bersikeras untuk tetap ingin makan malam bersama di ruang makan. Padahal Bu Anya sudah menyuruhnya untuk tetap di kamar saja tetapi Pak Bagas tidak mau dengan alasan dia sudah merasa kuat dan baik-baik saja.
Selesai makan malam, mereka berkumpul sebentar di ruang keluarga untuk bersantai dan mengobrol ringan.
"Ow ya sepertinya kapan-kapan Papa sama Mama mau pergi liburan." ucap Pak Bagas tiba-tiba ketika mereka sedang asyik melihat tontonan yang ada di televisi.
Tentu saja mereka pun menoleh bersamaan menatap ke arah sumber suara berasal. Terutama Bu Anya yang merasa dirinya disebut karena sebelumnya tidak ada pembicaraan sama sekali tentang hal tersebut.
"Bagus itu Pa, bener. Dito setuju." jawab Dito.
Karena memang sudah saatnya kedua orang tuanya menikmati apa yang sudah mereka perjuangkan sejak dulu, pikir Dito.
"Iya Rani juga setuju." jawab Rani juga sambil menganggukkan kepala untuk lebih memastikan bahwa dia juga setuju.
"Mama mau kita liburan ke mana?" tanya Pak Bagas kepada istrinya yang hanya diam saja.
Karena Pak Bagas yakin bahwa pasti istrinya tersebut merasa kaget dengan hal ini.
"Cuma berdua saja Pa?" tanya Bu Anya memastikan.
"Iya dong Ma." jawab Pak Bagas sambil memeluknya dari samping, karena posisi mereka saat ini sedang duduk bersama di ruang keluarga.
"Apa gak sebaiknya sama Rani dan Dito juga? Mereka belum bulan madu kan." ucap Bu Anya memberi usul.
Tentu saja hal itu segera ditolak oleh Dito, karena Dito tidak ingin mengganggu kedua orang tuanya menghabiskan waktu bersama.
"Gak lah Ma, nanti aku sama Rani bisa bulan madu sendiri sekalian lihat jadwal aku dulu, perusahaan bisa ditinggal atau tidak." jawab Dito memberi alasan yang cukup bisa diterima oleh Bu Anya.
Akhirnya Bu Anya pun setuju diajak liburan berdua dengan Pak Bagas.
Setelah memastikan segala sesuatunya, minggu depan Pak Bagas dan Bu Anya benar-benar memutuskan untuk liburan dan hanya berdua.
__ADS_1
...----------------...
Saat ini Rani dan Dito sudah berada didalam kamar, setelah pembahasan tentang liburan untuk kedua orang tua mereka.
Dito lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan saat ini giliran Rani yang sedang berada di kamar mandi. Dito lebih memilih menunggunya dengan membuka laptop untuk melihat pekerjaan yang sempat dia tinggalkan siang tadi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Rani sudah memakai baju dinasnya yang sebelumnya sudah dia bawa ke kamar mandi ketika dia akan menggosok gigi.
"Masa iya aku harus pakai kayak gini di depan Mas Dito." gumam Rani ketika melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin.
Jujur saja Rani merasa tidak percaya diri menampilkan tubuhnya meskipun itu kepada Dito, suaminya sendiri.
Cukup lama Rani berdiam diri di depan cermin didalam kamar mandi. Dito sempat khawatir tetapi dia berpikir mungkin Rani sedang buang air besar sehingga membuatnya lebih lama di kamar mandi. Hingga akhirnya Rani memutuskan untuk percaya diri, karena dia melakukan ini semua untuk suaminya sendiri yang sudah halal.
Karena selama satu minggu ternyata Rani sudah membaca-baca di internet hal-hal yang memang wajib dilakukan oleh pasangan suami istri. Dan sekarang Rani cukup tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyenangkan suaminya.
"Ceklek..."
Dengan ekor matanya Dito menangkap pergerakan tersebut, dan dia merasa aneh kenapa Rani tidak segera menghampirinya jika memang sudah selesai dari kamar mandi.
"Ngapain masih di si...tu Poo?" tanya Dito terbata ketika dia menoleh ke arah dimana Rani masih berdiri disana, dan ternyata Dito melihat pemandangan yang tentu saja langsung menarik perhatiannya.
Dito segera menyimpan data di laptop dan mematikannya kemudian menyimpan kembali laptop di tempat semula. Dito duduk di tepi ranjang tetapi dengan mata yang terus menatap penuh damba kepada istrinya yang saat itu sudah memakai baju dinas, yang sedari siang sudah mereka bahas.
"Poo.." panggil Dito.
Rani pun menatap Dito, kemudian dengan isyarat kepalanya Dito menyuruh Rani untuk mendekat. Dengan ragu Rani pun mendekat menghampiri Dito. Begitu sampai didepannya, Dito segera menarik pelan Rani sehingga Rani pun terduduk dipangkuan Dito dengan posisi menyamping.
Dito mencium tengkuk dan telinga Rani yang berada didepannya. Dan dengan sengaja memberikan rangsangan kepada Rani. Mendapat sentuhan seperti itu tentu saja membuat tubuh Rani seketika merasakan panas dengan gelenyar yang berbeda. Rani hanya menikmatinya sambil memejamkan mata.
"Jadi ini baju dinasnya?" bisik Dito tepat ditelinga Rani.
__ADS_1
Seketika Rani membuka matanya dan menjawabnya dengan anggukan. Bersamaan dengan itu tangan Dito sudah bergerilya menjamah apa yang ada didepannya. Seolah sudah mengerti tempat-tempat yang menjadi favoritnya, sehingga tangan Dito bisa bergerak bebas disana.
Dan tentu saja hal itu membuat tubuh Rani bisa menerimanya dengan baik. Entah naluri atau memang karena sudah bergairah, Rani pun dengan inisiatifnya sendiri mengalungkan kedua tangannya di leher Dito dan mencium bibir Dito dengan perlahan. Seperti mendapat angin segar Dito pun membalas ciuman Rani dengan penuh naf-su.
Dito melepaskan ciuman mereka, setelah merasa bahwa keduanya hampir saja kehabisan nafas. Dito mengusap bibir Rani dengan ibu jarinya yang sudah basah akibat ulahnya.
Kemudian tanpa permisi, Dito mengangkat tubuh Rani. Karena merasa terkejut Rani seketika memeluk Dito dengan erat. Seperti anak koala, Dito menggendong Rani.
"Boo...!" teriak Rani karena takut jatuh.
Dengan terkekeh Dito pun menurunkan Rani ke ranjang dengan perlahan. Seakan jika diletakkan dengan sembarangan akan mudah pecah.
Dito kemudian mengukung Rani, dan posisi Rani berada di bawah Dito tanpa bisa bergerak. Dito memandangi tubuh Rani yang masih terbungkus kain tipis tersebut. Sungguh begitu indah pemandangan didepannya itu.
"Jangan diliatin terus Boo, aku kan malu." rengek Rani yang berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, meskipun hal itu sia-sia saja.
Dito pun segera memegang kedua tangan Rani yang ingin menghalangi Dito menikmati pemandangan indah itu dan meletakkannya diatas kepala Rani sehingga membuat Rani tidak bisa bergerak lagi.
"Kamu seksi Poo." lirih Dito dengan suara yang sudah berkabut gairah.
Bagaimana tidak, sebagai laki-laki normal tentu saja Dito merasakan gairahnya sudah memuncak meskipun dia belum pernah merasakan hubungan suami istri tetapi cukup paham bagi Dito selama ini.
Dengan segera Dito kembali memberi rangsangan kepada Rani. Dia menji-lat perlahan telinga Rani, yang kemudian beralih ke leher jenjangnya kemudian dengan sengaja Dito turun ke bawah. Sedangkan Rani hanya memejamkan mata saja menikmati sensasi yang diberikan oleh suaminya tersebut.
Dan terlihat menyembul keluar dua benda kenyal milik Rani. Awalnya Dito hanya menji-lati bagian yang terlihat saja lalu tangan Dito yang semula memegang tangan Rani diatas kepala, dia gunakan untuk memberi remasan kepada salah satu benda kenyal tersebut.
...****************...
Tahan dulu ya gaes 🤭 ambil nafas dulu boleh 😅
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏