Sweet Memories

Sweet Memories
EXTRA PART


__ADS_3

Tiga bulan berlalu..


Setiap pagi Dito masih saja menikmati kehamilan simpatiknya. Ketika bangun tidur selalu saja memuntahkan isi perutnya dan kepalanya terasa pusing. Tetapi ketika Rani sudah memeluknya dan Dito sudah menghirup aroma tubuh Rani pasti dia langsung merasa lebih baik.


Seperti pagi ini, Dito keluar dari kamar mandi dengan lemas dan bersamaan dengan itu Rani masuk ke kamar karena mendengar suara Dito yang muntah-muntah. Karena seperti biasa Rani selalu bangun pagi dan membantu asisten rumah tangga setiap harinya padahal banyak yang melarangnya apalagi saat ini Rani sedang hamil tetapi Rani tetap memaksa ingin melakukan meskipun bukan pekerjaan yang berat-berat.


"Sayang, kamu dari mana?" rengek Dito sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda bahwa dia ingin Rani memeluknya.


Ya, semenjak Rani hamil dan Dito mengalami kehamilan simpatik membuat Dito seperti seorang anak kecil dan ingin selalu berada di dekat Rani.


"Maaf Boo kan aku bantu Mbak dulu." ucap Rani sambil duduk disebelah Dito dan memeluknya.


"Ini aku buatin teh hangat, diminum dulu biar enakan." lanjut Rani sambil memberikan teh kepada Dito.


Dito segera menerimanya kemudian menyesapnya perlahan. Lalu meletakkan gelas di meja setelah itu kembali memeluk Rani dan membenamkan wajahnya di dada Rani.


"Jangan siksa Papa seperti ini donk Nak." ucap Dito sambil mengelus perut Rani yang sudah mulai terlihat menonjol dengan posisinya masih memeluk Rani.

__ADS_1


"Ngomong apa sih Sayang, kamu itu. Gak boleh ahh ngomong seperti itu." jawab Rani sambil mengelus rambut Dito.


Dito pun hanya diam saja, dia malah memejamkan mata menikmati pelukan dan sentuhan dari istrinya.


...----------------...


Sedangkan di teras rumah, disana ada Pak Bagas dan Bu Anya yang sedang berolahraga kecil di halaman rumah mereka.


"Dito masih mengalami kehamilan simpatik Ma?" tanya Pak Bagas sambil menggerakkan tangan dan kakinya.


"Masih Pa, paling sebentar lagi juga udahan kan uda tri semester pertama ini." jawab Bu Anya yang juga melakukan hal yang sama seperti Pak Bagas.


"Tapi dulu Papa lama, sampai Dito mau lahir baru selesai itu muntah-muntahnya." keluh Pak Bagas mengingat betapa tersiksanya dirinya waktu Bu Anya hamil Dito.


"Ya sudahlah Pak, dinikmati aja. Itu kan juga hasil perbuatan Bapak." jawab Bu Anya santai.


"Heeemmm.." Pak Bagas hanya berdehem saja.

__ADS_1


"Trus kemana Rani? Biasanya pagi juga uda bangun dia ikut kita olahraga." tanya Pak Bagas mencari keberadaan menantunya.


"Palingan bayi besarnya uda bangun. Biasalah, ngekepin bayi besar dulu." jawab Bu Anya sambil terkekeh.


Karena Bu Anya sering melihat betapa manjanya Dito kepada Rani ketika dia mengalami morning sick setiap paginya. Maka dari itu Bu Anya selalu meledek Dito dengan menyebut bayi besarnya Rani.


Dan Dito pun hanya diam saja mendengar ejekan dari orang tuanya, karena memang seperti itu kenyataannya. Apalagi untuk membantah perkataan Ibunya di pagi hari dia tidak akan sanggup, dia lebih baik terus memeluk Rani daripada harus meladeni ledekan dari Ibunya, pikirnya.


...****************...


Gak tahu aja tiba-tiba pengen bikin extra part nya 🤭


Tapi jangan ditungguin ya, nanti kalau pengen bikin ya tiba-tiba kayak gini aja 😅


Jangan lupa dukung novel baru ku ya 😍 langsung ke profil ku aja 😘


Tetap semangat 💪

__ADS_1


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2