Sweet Memories

Sweet Memories
Pacar 100 Hari


__ADS_3

Kembali ke hari kompetisi....


Stefani berdiri tegang menatap motornya yang terkapar parah di bawah hujan yang deras, tangan kanannya memegang erat sikut kirinya dengan jaket yang robek.


Stefani menatap lampu-lampu jalan dengan lemas, kakinya lunglai dan tidak kuat lagi menahan berat badannya sendiri dan akhirnya ambruk bersamaan dengan air mata yang mengalir deras sederas hujan malam itu.


Stefani mengusap wajah muramnya dengan senyum yang di paksakan, dia menatap layar ponselnya yang baru saja nyala.


" Eh Lo dimana, bisa jemput gue yah. Gue gak bisa bawa mobil. " isi pesan singkat Reza


" Ok " balas Stefani singkat, menghela napas panjang dan beranjak pergi dari kamarnya.


Reza nampak duduk santai bersama dengan 2 gadis cantik seksi di sisi kiri dan kanannya, tangannya memegang gelas berisi penuh bir dan meneguknya secepat mungkin.


" Lo sini, " ujar Reza menatap Stefani malas.


" Bukanya udah mau pulang " jawab malas Stefani menarik Reza keluar.


Stefani mengencangkan sabuk pengamannya dan menatap Reza di sebelahnya sedikit kesal.


" Za, ngapain sih Lo ngabisin duit orang tua Lo buat poya-poya kaya gini?. " ujar Stefani sambil sibuk menyetir


" Lo jangan sok ngajarin gue deh. Lo juga jangan munafik, Lo tuh parah Lo udah pernah bunuh orang jangan lupa Lo. mentang - mentang Lo udah gue bebasin malam itu. " jawab Reza dengan setengah sadar.


Dengan spontan Stefani menginjak rem dan seketika menatap Reza kesal dan perlahan meneteskan air mata.

__ADS_1


" Mulai sekarang, Lo jangan atur-atur hidup gue lagi. Gue muak. LO CATAT YAH, BUKAN GUE YANG BUNUH DIA, MOTOR DIA YANG NYENGGOL MOTOR GUE. DI SIRKUIT ITU KECELAKAAN WAJAR. ". Stefani hilang kontrol dan membanting setir mobil nya. Keluar membanting pintu mobil dan terduduk lemas menutupi wajahnya dengan isak tangis kencang kesakitan.


Matahari mulai memancarkan pesonanya, semilir angin lembut menyambut indahnya pagi ini, sorotan sepatu putih berlari kencang menyusuri lorong kelas.


BRUUUG....!!!


" Eh sorry. " Cintya menunduk malu membantu membereskan buku-buku persiapan UN yang berantakan.


" Mata Lo di taro dimana hah " bentak galak Angga berdiri menatap geram


" Maaf kak, Nci gak sengaja. " jawab Cintya ketakutan menyerahkan buku-buku yang berjatuhan tadi.


" STEFANI...! " Cintya melihat seperti ada pertolongan datang melihat Stefani yang baru saja datang.


" Eh, mau kemana Lo?. Lo bukannya Cintya si anak jenius itu yah ?. " Angga menarik Cintya menjauh, Cintya hanya pasrah menutupi wajahnya dengan rambut pendeknya menahan tarikan kerah baju dari arah belakang.


Cintya mencoba menahan senyum usilnya memainkan buku yang sedari tadi dia bawa, Kesya masih sibuk mengoles wajahnya dengan spon bedak di tangannya. Stefani hanya diam meniup sedotan yang tertancap di jus jeruk yang masih penuh.


Tiba-tiba GATR datang, dan Reza melangkah menuju arah Stefani dan merebut kursi Kesya yang duduk tepat di sebelah Stefani.


" EH, LO SIAPA. LIPSTIK GUE JADI BERANTAKAN..." teriak Kesya kaget dan geram mengelap pipinya yang teroles lipstik.


" KAK REZA? " Teriak Cintya gak kalah kagetnya.


" Urusan kita belum kelar. " selidik Reza menarik gelas Stefani dan meneguknya tanpa sedotan.

__ADS_1


" MAU LO APAAN SIH " Teriak Stefani keluar membanting kursinya kasar


" Mau gue Lo jadi pacar gue " jawab Reza singkat sambil mengambil siomay Stefani dan memakannya cepat.


" DASAR COWOK GILA " ledek Stefani membelalakkan mata pergi meninggalkan mereka.


Langkah cepat Stefani tiba-tiba terhenti, seketika terbesit wajah wanita tua menangis menatap Stefani sendu. Stefani seakan ada disana dan melihatnya langsung, perlahan air matanya ikut menetes.


Stefani berlari sekencang mungkin dan berdiri tepat di depan meja tempat Reza yang masih terdiam disana dan sibuk dengan siomay tadi.


" Gue mau jadi pacar Lo. " jawab singkat Stefani tanpa berpikir panjang.


" Ok. " jawab Reza singkat meninggalkan kerumunan teman-temannya itu.


Semua orang nampak bingung dengan apa yang terjadi, mereka perlahan menarik diri meninggalkan kantin sekolah.


Stefani masih berdiri mencoba menguasai dirinya yang nampak kacau, Kesya memegang erat lipstiknya dan menatap Stefani heran.


" Apaaaa " suara Cintya hilang tertelan kehampaan, air matanya mulai menetes dan beranjak pergi dengan segala kekecewaan memenuhi seluruh ruang di hatinya,


" Nci, ci, hey...! " Kesya mencoba mengejar Cintya yang semakin hilang dari pandangan nya.


Stefani akhirnya ambruk dan menangis histeris menahan sesak dalam hatinya yang terus meronta-ronta kesakitan tiada tara. Kantin nampak sepi yang terdengar hanya tangisan Stefani yang makin menjadi.


.......Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like, komen nya yah....😉


__ADS_2