Sweet Memories

Sweet Memories
Lelah


__ADS_3

Kesya menatap kosong ponselnya. Ponselnya terus bergetar dan jam menunjukkan sudah lewat tengah malam,


" Happy birthday sayang... wish you all the best ♥️💕....."


" HBD Dede kecilku... semoga dengan bertambahnya usia......"


" Sayang selamat hari lahir yah..."


Banyak notifikasi WA masuk seakan berlomba mengejar angka tepat pengiriman jam 12 malam. Kesya merebahkan tubuhnya di atas kasur mewah nya dan perlahan memejamkan mata nya.


Kesya berjalan menyusuri lorong waktu dan berhenti sejenak di sebuah danau kecil dan disana Kesya nampak berdua dengan seorang laki-laki tampan dengan kaos dan celana jeans nya. Mereka saling menatap satu sama lain, namun bukan tatapan biasa.


Kesya menatap lelaki itu semakin dalam dan perlahan air matanya menetes, dengan cepat kedua tangannya menyambar air mata itu seakan tak ingin lelaki itu memandangnya lemah.


Lelaki itu hanya diam dan perlahan pergi meninggalkan Kesya sendirian yang akhirnya memecahkan tangisannya.


" Ghozi Lo Emang brengsek. " ujar Kesya lirih.


Ghozi?. Iya, salah satu anggota GATR yang terkenal. Tanpa semua orang tau, Kesya dan Ghozi menyimpan sebuah kenangan yang hanya mereka berdua yang tau. Sebuah kenangan pahit cinta pertama yang kandas tanpa sebab yang jelas.


Semenjak Ghozi meninggalkan Kesya waktu itu. Kesya merasa bahwa semua laki-laki itu sama, gak ada yang setia dan kejam sehingga Kesya memutuskan untuk memanfaatkan semua laki-laki yang tertarik kepadanya.


Namun, Tanpa Kesya sadari semakin lama, Kesya semakin masuk terlalu dalam dan semakin sulit keluar dari lubang hitam yang dia ciptakan. Sekarang sudah 12 kumbang yang terjerat olehnya, dan perlahan rasa takut bercampur iba menyelimuti hati nya.


Kesya Pagi ini tidak seperti biasanya, dia nampak murung dan sibuk dengan pemikiran nya sendiri. Stefani dan Cintya perlahan mendekati sahabatnya itu


" Key, tumben Lo kayak gini? " tanya Stefani tanpa basa-basi.


" Iya, Lo Kenapa?. " Cintya ikut penasaran


" Kayaknya Gue butuh saran dan solusi kalian deh. " jawab Kesya lirih


" Hmm... Lo mulai cerita dulu gih. "


" Iya biar kita paham harus ambil tindakan apa. "


" Gue merasa lelah banget, Gue capek dari perhatian dan kasih sayang cowok-cowok Gue. "


" Nah, kenapa malah capek dan lelah. Di sayang 1 cowok aja Gue harus ngimpi dulu malah. " jawab Cintya tiba-tiba.


" Lo bayangin aja . setiap malam Minggu gue harus keluar rumah dari pagi nyampe malam buat bareng mereka di beda-beda waktu. "


" Iya juga sih..."


" Terus intinya mau Lo apa Key?. " tanya Stefani langsung.


" Kayaknya Gue mau tinggalin mereka semuanya. Gue capek "

__ADS_1


" Hmmm.... "


Cintya mengeluarkan kertas HVS dan sebuah pensil dari tasnya. Kita rumuskan dulu masalahnya yah. Mereka bertiga nampak serius menatap kertas kosong itu hingga banyak sekali coretan dan huruf-huruf di atas nya.


" Ok, beberapa alternatif rencana sudah di rumuskan nih " ujar Cintya bangga sambil mengangkat tangannya yang masih memegang pencil.


" Aaahhh Akhirnya. " Stefani tersenyum mengangkat kerta itu.


" Semoga lancar yah... " Kesya menatap kedua sahabatnya itu penuh harap.


" Lo tenang aja. Selama ada Gue sama Nci pasti beres. "


" Iya deh gue sedikit tenang. "


" Gitu dong Key. "


Jam istirahat telah tiba, Stefani nampak asyik menatap Reza yang baru hari ini kelihatan masuk sekolah. Tanpa di sadari, kedua sahabatnya sudah sedari tadi memperhatikan tingkah Stefani yang mencurigakan.


" Lo lagi liatin siapa sih?. " tanya Kesya mencolek tangan Stefani berkali-kali


" Hah, engga. " jawab Stefani menatap Kesya sambil nyengir


" Jangan bilang Lo lagi menatap salah satu dari mereka! " Cintya memicingkan matanya tajam.


" Engga sumpah yah, gue cuman mikirin cara buat bales mereka. Udah itu aja. " degup jantung Stefani seketika terdengar jelas di telinga nya.


" Justru itu, Gue lagi memutar otak buat mikirin bagaimana caranya. "


" Nanti aja lah. Kita beresin dulu misi Lo aja yah Key, " Cintya menatap Kesya.


" Gue ke toilet dulu yah gak kuat. " Stefani lalu berjalan menuju toilet.


Melihat Stefani pergi dari kerumunan teman-temannya Reza membuntuti sosok Stefani yang perlahan hilang di balik pintu kamar mandi perempuan.


Reza berdiri tegak di samping pintu itu seakan menunggu kedatangan Stefani yang baru saja masuk.


Stefani berusaha menguasai dirinya sendiri dengan menarik beberapa napas panjang dan membasuh mukanya berkali-kali pula. Setelah cukup lama, Stefani mengeringkan mukanya dengan tisu yang ada di toilet dan perlahan berjalan keluar.


Ketika akan mengambil langkah panjang, sepasang kaki sudah terlebih dahulu memblokir jalan nya.


" Reza?. " Bisik hati Stefani dan perlahan langkah kakinya mundur ke belakang,


" Aaaww... " karena licin Stefani terpleset dan hampir terjatuh.


Tap, sepasang tangan Reza menarik pinggang Stefani sehingga Stefani setengah terjatuh.


" Apa ini?. " kedua mata mereka berbenturan dengan jarak yang cukup dekat

__ADS_1


" Lo kenapa?. " tanya Reza melihat wanita di depannya itu terjatuh di depannya.


" Stefani berdiri dengan cepat dan membuang semua khayalan nya.


" Sial. " bisik Stefani menyesal dengan jalan pikirannya sendiri.


Reza menyembunyikan senyum usilnya dengan melipat kedua bibirnya, seakan tau arah pikiran Stefani.


Stefani menutupi wajahnya yang semakin memerah dan berjalan semakin cepat. Tentu saja Reza masih menguntit nya dari belakang. Stefani yang menyadari hal itu langsung berbalik arah dan dengan cepat menyambar sosok Reza tanpa rasa takut.


" Mau Lo apaan sih?. " tanya Stefani semakin jengkel


" Mau Gue, Lo jadi pacar Gue. " jawab Reza singkat.


" Oh, mau ngelanjutin permain 100 hari itu bukan?. "


" Menurut Lo? "


" Za, Lo benar-benar sakit yah. Otak Lo benar-benar rusak. "


" Terus apa lagi?. Bukan kah itu pesona Gue di mata Lo?. "


" Hah?. "


" Gue gak mau tau Lo harus jadi pacar Gue. " Reza menarik dirinya mendekati Stefani dengan mengedipkan matanya.


" Apa-apaan ini?. " Stefani membuang mukanya menghindari tatapan Reza yang aneh.


" Nanti malam Gue jemput???? Lo di rumah yah, sayang. " Reza berbisik tepat di telinga Stefani dan pergi seenaknya.


Siang berganti malam, Stefani terus menatap arah jarum jam dinding yang di gantung di kamarnya. Waktu masih menunjukkan pukul 20:00 WIB, bisikan Reza masih terasa jelas di telinga Stefani. Stefani perlahan membuka lemari pakaian nya.


" Kok baju Gue kaos semua yah?. " bisik Stefani setengah kecewa.


" Eh emang gue mau kemana?. " Stefani tersadar dan menutup pintu lemarinya lagi


Nenek hanya menatapnya dari kejauhan dan melihatnya curiga tanpa bertanya ada apa.


Stefani merebahkan tubuhnya di atas kasur sederhana nya dan perlahan meraih ponselnya dan melihat tidak ada tanda-tanda Reza menghubungi nya. Dengan kecewa Stefani mematikan layar ponselnya itu.


TIIIIDDD...TIIIDDD ...


Klakson mobil terdengar bising di halaman rumah, tentu saja Stefani dengan cepat merapihkan rambutnya dan perlahan memperhatikan siapa yang ada di mobil itu di balik kaca jendela kamarnya.


...******Bersambung******...


Yuk kepoin terus dengan menantikan episode selanjutnya 💕

__ADS_1


__ADS_2