
Seorang wanita berambut pendek lurus dan memakai kacamata hitam keluar dari mobil merah dan berjalan menghampiri Stefani.
" Mega?. " Bisik hati Stefani penuh tanya
" Stefani?. " tanya Mega sambil membuka kacamata hitam nya.
Stefani hanya terdiam di tempatnya
" Aku Mega " Mega menyodorkan tangannya.
Memang kedua orang ini sudah pernah bertemu beberapa kali tanpa berkenalan secara formal.
" Stefani " jawab Stefani menyambut tangan Mega lalu dengan cepat melepaskan nya lagi.
" Bukanya ini mobil Reza?. ". Stefani terus memperhatikan mobil merah itu
" Iya ini mobil kak Reza. " jawab Mega seakan tau isi hati Stefani
" Yuk...! " Ajak Mega sambil menghampiri mobil dan membuka pintu penumpang.
" Kemana?. " tanya Stefani penuh curiga
" Kak Reza udah nungguin kamu " jawab Mega sambil tersenyum tipis.
Tanpa berpikir panjang Stefani langsung masuk kedalam mobil.
Suasana dingin mulai menusuk, Stefani masih terdiam dalam kebekuan, begitupun dengan Mega yang masih membisu.
" Apa apaan ini?. Oooh tidak kenapa gue bisa ada disini?. " Sesal Stefani menggigit ujung bibirnya kuat
" Aaawww... sial sakit. " teriak hati Stefani memegangi ujung bibirnya yang sedikit bengkak.
" Kenapa?. Kenapa harus Aku?. " tanya hati Mega menelan pelik
" Hmmm...Eu... kita mau kemana?. " Setelah sekian lama akhirnya Stefani mencoba mencairkan suasana dingin itu.
" Kita sudah sampai. " jawab singkat Mega memasukan mobilnya ke halaman sebuah rumah yang tak asing adalah rumah Reza.
" Iniiiii.... "
" Iya, kamu kan udah pernah ngintip di luar? "
__ADS_1
Dengan santai Mega memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah Reza, dengan sangat hati-hati Stefani mengikuti setiap langkah Mega.
Di halaman belakang rumah Reza nampak sepi dan gelap, perlahan sosok Mega hilang entah kemana. Stefani bingung dan masih mencari sosok Mega yang tiba-tiba menghilang
" Kemana tuh anak?. Apa jangan-jangan gue di kerjain tuh anak?. " gerutu Stefani dengan sedikit penyesalan.
Kaki Stefani sudah sampai di bibir kolam renang, hampir saja kakinya terpeleset dan menyentuh ujung kolam. Namun tiba-tiba seorang laki-laki menarik tubuh Stefani hingga seluruh tubuh Stefani dia kuasai dalam pelukan hangatnya.
WIIIIING....CRAKK....
Kembang api tiba-tiba menyambar cantik di atas gelapnya malam, mata Stefani seketika berbinar kagum melihat cantiknya langit malam. Stefani tersenyum hangat menyambut senyum hangat milik Reza yang masih menggenggam tubuhnya erat. Lampu-lampu taman seketika menyala tak kalah cantiknya.
" Tahukah kamu Fan. Kamu adalah wanita yang Aku cari selama ini, " Bisik halus Reza membuat pandangan Stefani enggan berpaling darinya.
" Getaran hebat apa ini?. " Bisik hati Stefani berkali-kali menahan luapan dalam dadanya. Stefani perlahan melepaskan tangan Reza yang terus memeluknya.
" Za, kamu memang benar-benar laki-laki penuh dengan kejutan. " Stefani menggenggam tangan Reza erat. Dua pasang mata mereka saling menatap dalam.
Reza tersenyum tipis dan berjalan menarik tangan Stefani menuju sebuah meja di pinggir kolam yang sudah siap dengan hidangan di atasnya.
Pandangan Stefani tak lepas dari sosok Reza di depannya, Reza hanya tersenyum tipis memperhatikan Stefani yang seakan terus mengagumi nya.
" Ini nyata Stef, " jawab Reza seakan tau isi hati Stefani
" hah?. " Stefani menundukkan kepalanya seakan malu dengan perkataan Reza yang tau isi hatinya.
" Ternyata benar. " Ujar Reza terus menggoda Stefani yang perlahan mukanya memerah.
" Apanya?. " Tanya Stefani seakan mengelak
" Kamu memang lucu. " Reza tertawa kecil melihat tingkah Stefani yang semakin jelas merasa malu.
Semakin lama mereka terlihat semakin akrab dan perlahan menyantap hidangan di atas meja tadi, tentunya dengan sukacita dan rasa bahagia di setiap raut wajah mereka.
Di sudut sisi yang lain Mega memperhatikan kedua orang tersebut dengan perasaan yang terus menyayat hati dan perlahan air mata deras membanjiri wajahnya.
" Kak Reza kenapa senyum bahagia itu sangat sulit sekali Aku lihat?. Kenapa dengan Dia kakak sangat bahagia?. Baru kali ini aku merasa sedih atas kebahagiaan yang kakak miliki. Ada apa dengan Aku ini?. Harusnya Aku ikut bahagia kan?. Tapi kenapa rasanya sangat sesak dan mencekik?. " Jeritan hati Mega meluapkan segala kekecewaan nya.
Malam sudah semakin larut, Reza dan Stefani terus memandang indahnya bulan dan bintang malam itu, perlahan pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.
Mega berjalan dengan kaki lunglainya perlahan membuka pintu kamarnya dengan air mata yang terus mengalir, dia merangkul kedua kakinya dan menarik selimut agar bisa sedikit menghangatkan hatinya yang terus membeku.
__ADS_1
Setelah menghabiskan seperempat malam dengan Reza di halaman rumah, Stefani berjalan menghampiri kamar tempat Mega berada.
TOOOKK....TOOOKK...
" Meg, Lo dah tidur yah?. " ujar Stefani di balik pintu.
Mendengar suara Stefani, Mega langsung menghapus air matanya dan menarik selimut menyembunyikan segala kepedihan nya.
" Gue masuk yah, " dengan hati-hati Stefani berjalan menghampiri kasur dan merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata sambil terus tersenyum.
KRIIING.... KRIIING.... KRIIING
Alarm terdengar makin nyaring, Stefani meraih Alarm itu dan mematikan nya. ketika melirik ke sebelah nya kosong.
" Kemana si Mega?. " tanya Stefani dengan suara serak khas bangun tidur
Stefani perlahan berjalan keluar kamar dan memperhatikan sekeliling nya mencari Reza dan Mega. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Mega berdiri lurus dengan wajah sayu dan nampak lelah, menunduk pasrah di hadapan Reza yang menatapnya dengan tatapan bersalah.
" Kak, kamu tau Aku selama ini terus bertahan dengan semua ini?. Kamu paham dengan hatiku ini?. Kak Mega sayang sama kakak, Mega gak bisa ngelepasin kakak gitu aja, apalagi setelah apa yg kakak beri dan apa yang kakak lakuin ke Mega. kalau orang tua kita tau mau di taro dimana muka mereka kak?. " Mega menangis dan mendorong sosok Reza dengan sisa tenaga nya.
" De, Kakak tau kakak salah. Bukan berarti kakak gak bertanggung jawab dengan kamu."
jawab Reza bersikeras memegang tangan Mega meyakinkan
" APA??? " Stefani terperanjat dengan apa yang dia lihat dan dengar. Stefani berjalan menjauh dan pulang dengan hati yang amat kecewa dan dengan rasa bersalah dan iba yang menyelimuti nya.
Nenek perlahan membuka pintu kamar Stefani dan berjalan menghampiri Stefani yang tersungkur dengan tangisannya di balik selimutnya.
" Kamu ini bukanya mandi malah langsung menyembunyikan diri di balik selimut. " ujar Nenek membuka selimut itu dan merapikan rambut Stefani sehingga terlihat lah wajah merah nya menahan marah dan gejolak dalam hatinya.
Stefani sekejap terdiam dan merangkul nenek erat, seakan enggan melepaskan nya. Nenek hanya tersenyum tipis dan mengelus-elus tangan Stefani dengan hangatnya.
" Nek, apa artinya nek kalau seorang wanita minta pertanggung jawaban laki-laki?. " tanya Stefani di sela Isak tangisnya.
Tangan nenek secara spontan berhenti mengelus tangan Stefani.
" Hmmm... itu berarti laki-laki itu laki-laki yang gak baik. Kamu jangan sampai di pertemukan dengan laki-laki seperti itu. " jawab nenek lirih
" NENEK...." Teriak Stefani menangis semakin kencang.
...******BERSAMBUNG******...
__ADS_1