
Acara lamaran malam itu dirumah keluarga Hardiansyah berlangsung singkat, karena pinangan yang diajukan
oleh keluarga Purnomo langsung disambut dan diterima dengan baik oleh pihak keluarga Hardiansyah selaku tuan rumah.. Kedua keluarga yang bersahabat baik itu memang sudah lama bertekad mengekalkan pertalian keluarga dengan menyatukan putra putri mereka menjadi suami istri.
Arga Wiguna maupun Anita Rahardiansyah yang akan dijodohkan oleh kedua orang tua tidak menolak,,
keduanya menyetujui perjodohan itu. Hal ini karena mereka memang sudah sejak kanak kanak selalu bersama. Karena persahabatan kedua orang tua mereka dan juga tempat tinggal mereka yang berada dalam satu lokasi perumahan. Arga dan Anita berteman dekat bahkan selalu berangkat kesekolah bersama.
Arga menerima perjodohan itu selain karena persahabatan kedua orang tua mereka, baginya Anita adalah sahabat terbaik yang dimilikinya juga sudah mengerti dirinya dan Ia menyayangi Anita itu sudah cukup.
Sedangkan bagi Anita, Arga adalah cinta pertamanya, pelindung dan belahan jiwanya,
sehingga ia merasa sangat bahagia saat Arga dan keluarganya datang untuk melamarnya.
Hingga SMA Arga dan Anita bersekolah di tempat yang sama., Hanya setelah di perguruan tinggi mereka berbeda kampus. Arga mengambil jurusan ekonomi dan Anita menekuni bidang kedokteran..
Meski memilih bidang ekonomi, Arga seorang pencinta alam ia senang bertualang menjelajahi hutan dan
gunung, entah sudah berapa kali ia mendatangi hutan yang ada di Jawa dan Sumatera bersama teman-temannya yang merupakan kelompok pencinta alam di kampusnya.
Kadang untuk kegemarannya menjelajah alam itu ia tidak segan-segan membiayai kelompoknya
dengan uang tabungannya sendiri atau mendapat dana dari orang tuanya.
Kecintaannya pada alam ini yang menyebabkan Pak Purnomo merasa khawatir anaknya akan lupa pada kuliahnya karena ia sangat mengharapkan Arga kelak bisa menggantikan kedudukannya mengendalikan perusahaannya yang bergerak dibidang Export-Import. Maka setelah berunding dengan istrinya,
Pak Purnomo bertekad menikahkan Arga dengan putri sahabatnya dengan harapan setelah berumah tangga anaknya akan betah dirumah dan tidak bertualang lagi sehingga dapat menyelesaikan kuliahnya yang sudah hampir selesai., Arga yang tidak dapat mengelak lagi permintaan orang tuanya akhirnya menurut tetapi
ia mengajukan syarat pernikahan dilaksanakan setelah ia menyelesaikan kuliahnya.
Saat Arga dan teman temannya berencana untuk menjelajahi hutan di sekitar Gunung Slamet di daerah Jawa Tengah, Rahma ibunya merasa khawatir dan melarangnya pergi.
Namun Arga bersikeras menyakinkan kedua orang tuanya kalau ia akan baik baik saja karena sudah beberapa kali menjelajahi hutan di beberapa pegunungan di Jawa.
Pak Purnomo hanya mengelus dada memikirkan keinginan anaknya hingga ia akhirnya meluluskan permintaan anaknya dengan syarat sebelum pergi Arga harus meminang Anita dan bertunangan dengannya.
Arga menyetujui persyaratan yang diajukan ayahnya. Maka hari ini keluarga Purnomo mengunjungi sahabatnya Hardiansyah untuk melamar Anita dan meresmikan pertunangan anak anak mereka.
Anita yang sejak kemarin mendapat kabar rencana lamaran Arga merasa sangat bahagia,
hatinya berbunga bunga karena ia sudah lama menantikannya saat saat seperti ini, meskipun
iAnita tahu sikap Arga selama ini yang hanya menganggap adik terhadapnya.
Anita yakin perasaan Arga padanya akan berubah jika mereka nanti sudah menikah.
“Permisi…om..Tante, saya mau bicara dengan Anita” Arga menyela obrolan kedua orang
tuanya dengan kedua orang tua Anita.
“Ya sudah kalian ngobrol sama di teras depan” Hardiansyah terkekeh menanggapi
permintaan Arga.
__ADS_1
“anak muda punya acara sendiri” Purnomo menimpali sahabatnya
“Anita ! ajak Arga jalan-jalan di taman, siapa tahu bosan duduk di teras ddalam!” perintah Bu Halimah kepada putrinya seusai acara lamaran yang dilanjutkan dengan makan malam.
Sementara kedua pasang sahabat itu meneruskan pembicaraan
mengenai rencana untuk anak anak mereka.
“Ayo…Arga ! kita keluar !” ajak Anita. Tanpa menjawab
Arga bangkit dan mengikuti Anita keluar menuju halaman rumah.
Keduanya berjalan menuju kolam renang yang ada di samping rumah kemudian duduk di kursi taman.
“An….aku besok berangkat ke Jawa Tengah, kamu ingin oleh-oleh apa?” tanya Arga mengawali
pembicaraan sambil menyalakan rokoknya.
“Ah…aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin kamu segera pulang!” sahut Anita.
“Kalau sudah selesai ….ya pulang masa mau dihutan terus”.
“Arga…ngapain sih kehutan? kan enak dikota segalanya ada, apa sih yang kamu cari disana?”.
“Ehm…entahlah…aku merasa bahagia dan puas jika berada ditengah hutan
memandang pohon-pohon dan binatang-binatang kecil yang bebas berkeliaran,
“Iih....ogah..ah,orang desa saja ingin bisa tinggal ke kota, kamu aneh malah kebalikannya, ingin
mengalami hidup susah didesa” gerutu Anita. Mendengar jawaban Anita, Arga hanya tersenyum.
“Anita….terus terang saja…dalam soal selera saja kita sudah beda bagaimana kalau sudah
menikah?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya.
“Arga….untuk membangun rumah tangga yang harmonis, bukan hanya karena cinta kita harus
saling menghargai dan harus bisa mendengar saran dan pendapat diantara kita,
kalau tidak mau mengalah ya…akan sulit”. Anita mengungkapkan pendapatnya.
“Tapi tidak semuanya kan suatu permintaan itu harus dipenuhi, kita juga punya kan hak untuk menolak
jika kita tidak suka ?”. sela Arga, lalu kembali menatap Anita dan bertanya
. “Anita…aku ingin tanya, soal kita, ehm…kamu beneran menerima pinangan orang tuaku
apa tidak ada pemuda yang marah atau sakit hati?”.
“Tahu ya…..kurasa sih nggak ada, kamu bagaimana..? apa nggak ada gadis yang menangis
melepasmu menjadi milikku ?”. Anita mendongak sambil menaikkan alisnya menjawab pertanyaan Arga.
__ADS_1
“Aku sih…jelas nggak ada, sampai saat ini aku belum ingin memikirkan perempuan,
terus terang…aku masih senang bebas bertualang menjelajah hutan bersama teman-teman,
aku akan menghentikan hobbyku kalau kuliahku sudah selesai dan mungkin saat itulah aku siap berumah tangga….jadi aku minta kau sabar menungguku, bagaimana kamu sanggup ?” tanya Arga.
“Iya….aku akan sabar menunggumu, tapi aku nggak janji…kita serahkan saja kepadaNYA, apa
kita berjodoh atau tidak, kamu juga harus ingat bahwa kamu adalah calon suamiku,
awas kalau nanti melirik gadis di gunung!” ancam Anita sambil tersenyum masam.
Arga tersenyum sambil mematikan rokoknya.” Mana ada gadis di hutan adanya **** hutan” seloroh Arga
“Arga….rokok nggak baik lho buat paru-parumu, apa kamu nggak bisa menghentikannya, lagian nafasmu
jadi bau tembakau?”.
“Aku belum bisa menghentikannya…tapi nggak tahu nanti kalau sudah kucoba, mungkin
bisa” sahut Arga santai.
“Anita…sudah malam….ayo kita kedalam!” ajak Arga.
Keduanya kemudian masuk ke rumah, sementara orang tua mereka kelihatan masih ngobrol
sambil tertawa.
“Pa…sudah malam, sebaiknya kita pulang, aku takut kesiangan besok” pinta Arga kepada Ayahnya
kemudian mereka pamit pulang.
“Arga cepat pulang ya, jangan terus tinggal di hutan !” pinta Pak Hardiansyah.
“Iya…Oom…kalau sudah meninjau hutan Jati di Jawa Tengah pasti saya akan cepat pulang” sahut Arga.
“Ehm..Anita…aku permisi ya, sampai ketemu nanti, mari Oom, Tante…saya permisi pulang ”, setelah
pamit Arga dan orang tuanya berjalan keluar rumah.
“Arga…!Tunggu !” panggil Sonia sambil berjalan menghampiri calon tunangannya.
“Ada apa Anita ?” tanya Arga.
“Ehm....Arga…kamu tidak memberiku ciuman perpisahan padaku, kamu pergi kan cukup lama?” tanya
Anita malu-malu. Arga tersenyum mendengar permintaan calon tunangannya kemudian
dia mendekat dan mencium pipi Anita.
“Anita….Sorry…aku tak mau menciummu karena nafasku masih bau rokok….sudah ya….daag!” ujarnya
sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Anita yang berdiri terpaku dengan hati kesal.
__ADS_1