
Arga terus berjalan memasuki hutan naik keatas bukit , sepanjang jalan kadang ia tersenyum
menikmati kicauan burung dan binatang-binatang kecil yang melintas didepannya
yang kadang-kadang membuat nya kaget.
Ketika kakinya terasa sulit diajak melangkah lagi, ia lalu melepaskan lelah sambil duduk dan minum,
matanya memandang keadaan sekitarnya yang sunyi senyap
dimana yang terdengar hanya bunyi binatang-binatang kecil dan suara kipasan daun jati
yang bergerak karena tiupan angin.
Selesai makan makanan kecil dan minum ia merapikan kembali ranselnya dan duduk santai
bersandar pada sebuah pohon seraya memandang kearah bawah jalan yang ia lalui tadi,
dirasakannya ia sudah ditempat yang amat tinggi meskipun belum sampai dipuncak,
angin yang bertiup menyebabkan ia mulai mengantuk namun belum sempat memejamkan matanya,
pandangan nya tertumbuk pada suatu benda hitam besar yang rupa nya seekor **** hutan
yang berdiri tegak memandangnya dengan tajam dan berdiri agak jauh darinya.
Arga sangat terkejut, dengan cepat ia meraih ranselnya dan berjalan mundur naik kearah puncak bukit,
dilihatnya **** hutan itu juga berjalan maju mendekatinya.
Merasa yakin binatang itu akan mengejarnya maka dengan mengerahkan kekuatannya
Arga berlari sekencang kencangnya.
Ketika merasa sudah sampai diatas bukit dengan nafas terengah-engah
ia kembali menengok kebelakang dengan harapan yang mengejarnya sudah tidak mengikuti lagi
tetapi ia sangat terkejut ketika melihat **** hutan itu masih berdiri memandangnya.
Arga tertegun ketika ia memandang kearah bawah bukit
terlihat sungai yang cukup lebar dengan airnya yang mengalir deras,
kemudian ia teringat cerita Pak Wongso bahhwa di hilir sungai ada sebuah desa,
maka tanpa berpikir lagi ia lalu menuruni bukit yang kali ini sangat curam
berbeda dengan lereng bukit dimana ia naik tadi sangat landai dan mudah didaki.
Meski sudah berhati-hati tak urung Arga terperosok dan jatuh terguling-guling kebawah, baru berhenti
saat tubuhnya terbentur pohon. Dengan menahan sakit ia mencoba berdiri,
pandangannya berkunang-kunang pelipis kanannya terasa perih
ketika meraba kepalanya ia terkejut karena sarung tangannya berwarna merah
dengan cepat ia mengambil saputangan dari saku jaketnya
dan menekan pelipisnya untuk menahan darahnya yang mengucur dari lukanya,
kemudian ia mengikat kepalanya.
Arga menyandarkan badannya kepohon yang menahannya saat tubuhnya terguling kebawah
namun kembali ia terkejut tatkala memandang keatas ternyata **** hutan itu
masih saja memandangnya dikejauhan.
“Gila….! kenapa dia mengikutiku terus” geramnya, Arga merasa kesal sekaligus ngeri
karena akibat kejaran **** hutan membuat ia terpisah jauh dari teman-temannya yang menunggu dibalik bukit
dan untuk kembali naik kepuncak bukit ia merasa tidak mampu karena seluruh tubuhnya
terasa sakit. Karena rasa putus asa yang mencekam hatinya, Arga berteriak marah:
“Binatang keparat ! kalau ingin membunuhku mengapa tidak langsung saja menyerangku, kau
membuatku tersesat !”. eram Arga
Mendengar bentakan Arga, **** itu menggeram dan berjalan kearahnya.
Melihat **** itu akan menyerangnya lagi Arga kembali berlari turun,
ia bertekad untuk bisa mencapai sungai. Dengan tidak memperdulikan sakit di kepalanya yang membuat pandangan matanya kabur ia berlari terus hingga tubuhnya bergulingan
__ADS_1
dan jatuh kesungai. Dan dengan tenaganya yang masih tersisa
ia mencoba berenang namun karena derasnya air sungai akhirnya Arga tidak berdaya
tubuhnya terseret arus sungai yang mengalir menuju hutan jati sebelahbarat.
Sementara itu di balik bukit tempat Arga meninggalkan kedua teman.
Hilman dan Roni sudah gelisah menunggu kedatangan Arga yang tidak kunjung kembali.
Berkali-kali mereka berteriak-teriak memanggil namanya tetapi tidak ada sahutan, yang
terdengar hanya gema suara keduanya yang terdengar nyaring dan makin menambah
keseraman suasana hutan.
“Gimana nih..Ron, jangan-jangan Arga tersesat!” ujar Hilman cemas.
“Hus….jangan berkata begitu, mudah - mudahan tidak terjadi apa-apa padanya” sahut Roni yang
juga sudah merasa khawatir.
“Tapi…sekarang sudah hampir sore, sebentar lagi hutan ini akan gelap, aku mulai takut Ron!”.Hilman
sudah mulai panik
“Kalau begitu kita pulang, nunggu dirumah Pak Wongso saja, tadi Arga juga sudah bilang
kita boleh pulang duluan ” sahut Roni.
Setelah terjadi kesepakatan kedua nya kemudian berjalan pulang.
Kepada Pak Wongso mereka menceritakan semua kejadian yang dialaminya,
sejenak Pak Wongso termenung mendengar cerita keduanya lalu iaberkata:
“Begini saja kalau sampai malam ini Nak Arga tidak juga pulang, besok pagi kita ramai-ramai
mencarinya sampai kebukit barang kali dia tersesat”.
Malam itu Roni dan Hilman tidak bisa tertidur dengan mereka gelisah dan was was
memikirkan keadaany Arga yang tidak juga muncul.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pak Wongso memanggil beberapa pemuda desa untuk
Selain bersama pemuda-pemuda desa Pak Wongso juga minta pertolongan seorang sesepuh desa
yang mengetahui seluk beluk hutan jati. Mereka berjalan dengan cara menyisir hutan ,
masing-masing berjarak kurang lebih dua meter satu dengan lainnya.
Ketika tiba dibawah kaki bukit, Pak Wongso memerintahkan semuanya berhenti dan berkumpul di
ujung jalan setapak yang menuju keatas bukit.
“Bagaimana Pak Djayeng, menurut pendapat Bapak yang tahu keadaan hutan ini kemana lagi
kita harus mencari sebelum kami semua meneruskan pencarian ini ?” tanya Pak Wongso
kepada orangtua yang diajaknya.
“Pak Wongso, menurut perasaan saya pencarian ini tidak ada gunanya dilanjutkan,….….
.lihatlah keatas sana !” kata Pak Djayeng seraya menunjuk kearah ujung jalan setapak
diatas bukit yang masih terlihat.
Semuanya memandang keatas dan mereka kemudian saling pandang
heran dengan apa yang telah mereka lihat
yaitu seekor **** hutan yang berdiri menghadap kearah mereka.
“Pak Djayeng …apa artinya ini ?” tanya Pak Wongso.
“Pak Wongso sebaiknya kita pulang saja,
saya yakin orang yang kita cari ada di balik bukit itu
dan **** hutan bukit ini telah menghadang kita,
jelas berarti kita tidak boleh melewati bukit ini.
Ini sudah suratan takdir, kedatangan Nak Arga ke hutan jati ini
memang sudah lama ditunggunya. Mari kita pulang saja dan berdoa
__ADS_1
bersama mudah-mudahan Allah melindungi anak muda itu” ajak Pak Djayeng
Pak Wongso diam sejenak mendengar penuturan pak Djayeng, sesepuh yang memahami
seluk beluk hutan jati. Kemudian menandangi Roni dan Hilman.
“Ayo….kita kembali kedesa !” ujar Pak Wongso.
Roni dan Hilman saling berpandangan, wajah mereka tampak pias dan bingung
“Tapi Pak…bagaimana dengan nasib teman kami,
bagaimana kami harus menceritakan semua ini kepada orang tuanya,
apakah mereka akan percaya, tolong kami Pak…..!” pinta Roni cemas.
“apa kita tidak bisa lapor ke polisi untuk melakukan pencarian” timpal Hilman
Pak Wongso dan warga yang ikut dalam rombongan pencarian hanya terdiam,
mereka mempercayai apa yang dikatakan pak Djayeng
dan tidak berani melanjutkan pencarian ke dalam hutan.
“Nak Roni…..sudahlah jangan cemas, untuk beberapa hari ini tinggalah didesa kami
sambil menunggu siapa tahu nak Arga akan kembali,
kalau setelah tiga hari nak Arga tidak kembali
maka kita akan lapor ke polisi dan menelpon keluarganya,
semuanya terserah mereka, kita hanya bisa memberi keterangan dan membantu
sebisanya ” ujar Pak Wongso.
Mendengar nasihat bapak kepala desa. Roni dan Hilman hanya terpaku dan menuruti perkataan
pak Wongso dengan perasaan yang tak menentu, khawatir, takut dan rasa bersalah.
kemudian semuanya kembali kedesa.
*********
Di tempat lain disuatu sore pada hari yang sama saat Arga terseret arus sungai siang itu,
tampak sungai yang tidak begitu dalam dengan batu-batu besar
yang terdapat ditengahnya diantara aliran air sungai yang sangat bening,
ditepi sungai nampak beberapa gadis desa sedang bercanda
sambil mandi dan bermain di air sungai yang jernih menyegarkan.
“Arum…! Sudah hampir sore…ayo kita pulang!” teriak Wati
salah seorang dari gadis-gadis itu
memanggil sahabatnya salah seorang gadis
yang berkulit lebih putih yang sedang berendam.
“Tunggu dulu… Wat ! lagi asyik nih!” sahut Arumi
seraya membalik-balikkan tubuhnya yang dililit kain sebatas dada hingga lututnya.
Ketika ia sedang berendam sambil memandang datangnya aliran air,
tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu yang menelungkup diatas bebatuan
dipinggir sungai tidak jauh darinya, maka ia berteriak kepada teman-temannya.
“Hai…lihat disana !!!”.teriak kan Arumi
membuat teman teman mengarahkan pandanganya kearah yang di
tunjuknya
“Eh…seperti orang hanyut…, ayo kita lihat….
kasihan siapa tahu masih hidup!” ajak Wati setelah melihat kearah yang ditunjuk
Arumi. Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi orang yang telungkup
dipinggir sungai yang ternyata adalah seorang laki laki.
Perlahan-lahan Arumi membalikkan tubuh laki laki tersebut
__ADS_1