Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 3


__ADS_3

Arga terus berjalan memasuki hutan naik keatas bukit , sepanjang jalan kadang ia tersenyum


menikmati kicauan burung dan binatang-binatang kecil yang melintas didepannya


yang kadang-kadang membuat nya kaget.


Ketika kakinya terasa sulit diajak melangkah lagi, ia lalu melepaskan lelah sambil duduk dan minum,


matanya memandang keadaan sekitarnya yang sunyi senyap


dimana yang terdengar hanya bunyi binatang-binatang kecil dan suara kipasan daun jati


yang bergerak karena tiupan angin.


Selesai makan makanan kecil dan minum ia merapikan kembali ranselnya dan duduk santai


bersandar pada sebuah pohon seraya memandang kearah bawah jalan yang ia lalui tadi,


dirasakannya ia sudah ditempat yang amat tinggi meskipun belum sampai dipuncak,


angin yang bertiup menyebabkan ia mulai mengantuk namun belum sempat memejamkan matanya,


pandangan nya tertumbuk pada suatu benda hitam besar yang rupa nya seekor **** hutan


yang berdiri tegak memandangnya dengan tajam dan berdiri agak jauh darinya.


Arga sangat terkejut, dengan cepat ia meraih ranselnya dan berjalan mundur naik kearah puncak bukit,


dilihatnya **** hutan itu juga berjalan maju mendekatinya.


Merasa yakin binatang itu akan mengejarnya maka dengan mengerahkan kekuatannya


Arga  berlari sekencang kencangnya.


Ketika merasa sudah sampai diatas bukit dengan nafas terengah-engah


ia kembali menengok kebelakang dengan harapan yang mengejarnya sudah tidak mengikuti lagi


tetapi ia sangat terkejut ketika melihat **** hutan itu masih berdiri memandangnya.


Arga tertegun ketika ia memandang kearah bawah bukit


terlihat sungai yang cukup lebar dengan airnya yang mengalir deras,


kemudian ia teringat cerita Pak Wongso bahhwa di hilir sungai ada sebuah desa,


maka tanpa berpikir lagi ia lalu  menuruni bukit yang kali ini sangat curam


berbeda dengan lereng bukit dimana ia naik tadi sangat landai dan mudah didaki.


Meski sudah berhati-hati tak urung Arga  terperosok  dan jatuh terguling-guling kebawah, baru berhenti


saat tubuhnya terbentur pohon. Dengan menahan sakit ia mencoba berdiri,


pandangannya berkunang-kunang pelipis kanannya terasa perih


ketika  meraba kepalanya ia terkejut karena sarung tangannya berwarna merah


dengan cepat ia mengambil saputangan dari saku jaketnya


dan menekan pelipisnya untuk menahan darahnya yang mengucur dari lukanya,


kemudian ia mengikat kepalanya.


Arga menyandarkan badannya kepohon yang menahannya saat tubuhnya terguling kebawah


namun kembali ia terkejut tatkala memandang keatas ternyata **** hutan itu


masih saja memandangnya dikejauhan.


“Gila….! kenapa dia mengikutiku terus” geramnya, Arga merasa kesal sekaligus ngeri


karena akibat kejaran **** hutan membuat ia terpisah jauh dari teman-temannya yang menunggu dibalik bukit


dan untuk kembali naik kepuncak bukit ia merasa tidak mampu karena seluruh tubuhnya


terasa sakit. Karena rasa putus asa yang mencekam hatinya, Arga berteriak marah:


“Binatang keparat ! kalau ingin membunuhku mengapa tidak langsung saja menyerangku, kau


membuatku tersesat !”. eram Arga


Mendengar bentakan Arga, **** itu menggeram dan berjalan kearahnya.


Melihat **** itu akan menyerangnya lagi Arga  kembali berlari turun,


ia bertekad untuk bisa mencapai sungai. Dengan tidak memperdulikan sakit di kepalanya yang membuat pandangan matanya kabur ia berlari terus hingga  tubuhnya bergulingan

__ADS_1


dan jatuh kesungai. Dan dengan tenaganya yang masih tersisa


ia mencoba berenang namun karena derasnya air sungai akhirnya Arga tidak berdaya


tubuhnya terseret arus sungai yang mengalir menuju hutan jati sebelahbarat.


 Sementara itu di balik bukit tempat Arga meninggalkan kedua teman.


Hilman dan Roni sudah gelisah menunggu kedatangan Arga yang tidak kunjung kembali.


Berkali-kali mereka berteriak-teriak memanggil namanya tetapi tidak ada sahutan, yang


terdengar hanya gema suara keduanya yang terdengar nyaring dan makin menambah


keseraman suasana hutan.


“Gimana nih..Ron, jangan-jangan Arga tersesat!” ujar Hilman cemas.


“Hus….jangan berkata begitu, mudah - mudahan tidak terjadi apa-apa padanya” sahut Roni yang


juga sudah merasa khawatir.


“Tapi…sekarang sudah hampir sore, sebentar lagi hutan ini akan gelap, aku mulai takut Ron!”.Hilman


sudah mulai panik


“Kalau begitu kita pulang, nunggu dirumah Pak Wongso saja, tadi Arga juga sudah bilang


kita boleh pulang duluan ” sahut Roni.


Setelah terjadi kesepakatan kedua nya kemudian berjalan pulang.


Kepada Pak Wongso mereka menceritakan semua kejadian yang dialaminya,


sejenak Pak Wongso termenung mendengar cerita keduanya lalu iaberkata:


“Begini saja kalau sampai malam ini Nak Arga  tidak juga pulang, besok pagi kita ramai-ramai


mencarinya sampai kebukit barang kali dia tersesat”.


Malam itu Roni dan Hilman tidak bisa tertidur dengan mereka gelisah dan was was


memikirkan keadaany Arga yang tidak juga muncul.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pak Wongso memanggil beberapa pemuda desa untuk


Selain bersama pemuda-pemuda desa Pak Wongso juga minta pertolongan seorang sesepuh desa


yang mengetahui seluk beluk hutan jati. Mereka berjalan dengan cara menyisir hutan ,


masing-masing berjarak kurang lebih dua meter satu dengan lainnya.


Ketika tiba dibawah kaki bukit, Pak Wongso memerintahkan semuanya berhenti dan berkumpul di


ujung jalan setapak yang menuju keatas bukit.


“Bagaimana Pak Djayeng, menurut pendapat Bapak yang tahu keadaan hutan ini kemana lagi


kita harus mencari sebelum kami semua meneruskan pencarian ini ?” tanya Pak Wongso


kepada orangtua yang diajaknya.


“Pak Wongso, menurut perasaan saya pencarian ini tidak ada gunanya dilanjutkan,….….


.lihatlah keatas sana !” kata Pak Djayeng seraya menunjuk kearah ujung jalan setapak


diatas bukit yang masih terlihat.


Semuanya memandang keatas dan mereka kemudian saling pandang


heran dengan apa yang telah mereka lihat


yaitu seekor **** hutan yang berdiri menghadap kearah mereka.


“Pak Djayeng …apa artinya ini ?” tanya Pak Wongso.


“Pak Wongso sebaiknya kita pulang saja,


saya yakin orang yang kita cari ada di balik bukit itu


dan **** hutan bukit ini telah menghadang kita,


jelas berarti kita tidak boleh melewati bukit ini.


Ini sudah suratan takdir, kedatangan Nak Arga ke hutan jati ini


memang sudah lama ditunggunya. Mari kita pulang saja dan berdoa

__ADS_1


bersama mudah-mudahan Allah melindungi anak muda itu” ajak Pak Djayeng


Pak Wongso diam sejenak mendengar penuturan pak Djayeng, sesepuh yang memahami


seluk beluk hutan jati. Kemudian menandangi Roni dan Hilman.


“Ayo….kita kembali kedesa !” ujar Pak Wongso.


Roni dan Hilman saling berpandangan, wajah mereka tampak pias dan bingung


“Tapi Pak…bagaimana dengan nasib teman kami,


bagaimana kami harus menceritakan semua ini kepada orang tuanya,


apakah mereka akan percaya, tolong kami Pak…..!” pinta Roni cemas.


“apa kita tidak bisa lapor ke polisi untuk melakukan pencarian” timpal Hilman


Pak Wongso dan warga yang ikut dalam rombongan pencarian hanya terdiam,


mereka mempercayai apa yang dikatakan pak Djayeng


dan tidak berani melanjutkan pencarian ke dalam hutan.


“Nak Roni…..sudahlah jangan cemas, untuk beberapa hari ini tinggalah didesa kami


sambil menunggu siapa tahu nak Arga akan kembali,


kalau setelah tiga hari nak Arga tidak kembali


maka kita akan lapor ke polisi dan menelpon keluarganya,


semuanya terserah mereka, kita hanya bisa memberi keterangan dan membantu


sebisanya ” ujar Pak Wongso.


Mendengar nasihat bapak kepala desa. Roni dan Hilman hanya terpaku dan menuruti perkataan


pak Wongso dengan perasaan yang tak menentu, khawatir, takut dan rasa bersalah.


kemudian semuanya kembali kedesa.


                                                            *********


Di tempat lain disuatu sore pada hari yang sama saat Arga terseret arus sungai siang itu,


tampak sungai yang tidak begitu dalam dengan batu-batu besar


yang terdapat ditengahnya diantara aliran air sungai yang sangat bening,


ditepi sungai nampak  beberapa gadis desa sedang bercanda


sambil mandi dan bermain di air sungai yang jernih menyegarkan.


“Arum…! Sudah hampir sore…ayo kita pulang!” teriak Wati


salah seorang dari gadis-gadis itu


memanggil sahabatnya salah seorang gadis


yang berkulit lebih putih  yang sedang berendam.


“Tunggu dulu… Wat ! lagi asyik nih!” sahut Arumi


seraya membalik-balikkan tubuhnya yang dililit kain sebatas dada hingga lututnya.


Ketika ia sedang berendam sambil memandang datangnya aliran air,


tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu yang menelungkup diatas bebatuan


dipinggir sungai tidak jauh darinya, maka ia berteriak kepada teman-temannya.


“Hai…lihat disana !!!”.teriak kan Arumi


membuat teman teman mengarahkan pandanganya kearah yang di


tunjuknya


“Eh…seperti orang hanyut…, ayo kita lihat….


kasihan siapa tahu masih hidup!” ajak Wati setelah melihat kearah yang ditunjuk


Arumi. Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi orang yang telungkup


dipinggir sungai yang ternyata adalah seorang laki laki.


Perlahan-lahan Arumi membalikkan tubuh laki laki tersebut

__ADS_1


__ADS_2