
Sunardi dan Beno yang sudah tiba di Purwokerto menyewa sebuah mobil
tidak jauh dari stasiun kemudian mereka melanjutkan perjalanan
menuju Baturaden dengan seorang supir yang mengetahui lokasi
dari alamat daerah yang akan dituju. Mereka berkeliling menjelajahi kota
menuju desa Harjomulyo hingga akhirnya sampai di sebuah desa dekat Hutan jati.
Mereka berhenti di sebuah warung kecil untuk beristirahat sambil mengamati situasi.
“Pak sopir…! kita minum kopi dulu diwarung depan”
Beno memerintahkan supir menghentikan mobilnya.
Sunardi dan Beno kemudian turun mereka memasuki warung
dan memesan kopi . siang itu warung mbok Darmi tidak terlalu ramai hanya ada beberapa orang
petani yang juga sedang menyeruput kopi diwarung itu.
“Monggo pak…, mau minum apa? Mbok Darmi dengan ramah menyambut tamunya
“Kopi hitam dua bu” jawab Beno. Sementara Sunardi mengarahkan pandangannya
ke sekelilingnya dengan wajah menyelidik mengawasi orang yang lalu lalang di depan warung.
“Bu…desa Harjomulyo masih jauh dari sini ya?” Beno bertanya lagi pada mbok Darmi
yang mengantar kan kopi mereka.
“loh bapak bapak mau ke Harjomulyo toh, ini sudah masuk desa Harjomulyo pak”
jelas mbok Darmi bersemangat mengajak tamunya ngobrol
“Bapak bapak ini ada keperluan apa ke Harjomulyo” Tanya mbok Darmi
“kami mau melihat lihat hutan jati bu” jawab Beno
“ oh.. hutan jati sudah tidak jauh dari sini pak, bapak tinggal lurus melewati gerbang desa
ada pertigaan ke arah barat dari situ bapak bisa masuk ke hutan jati”
__ADS_1
jelas mbok Darmi dengan semangat sementara Sunardi hanya mendengarkan
penjelasan pemilik warung sambil menghisap rokok.
“Bu….kalau rumah kepala desanya dimana ?” tanya Sunardi.
“Kalau rumah kepala desa dari pertigaan gerbang desa lurus melewati sawah sawah
di ujung jalan ada rumah bercat putih yang menghadap kesawah,
itu rumah pak Rakhim kepala desa disini”sahut mbok Darmi.
“Apa kepala desa ada di rumahnya bu?” Beno menyeruput kopi
“kalau siang pak Rakhim biasanya ada di rumah,” jelas mbok Darmi
“Dia tinggal sendiri di rumahnya?” Beno masih mengorek cerita pemilik warung
“Tidak pak….., pak Rakhim tinggal dengan putri dan menantunya.
Mereka baru saja menikah, menantu pak Rakhim itu orang kota” ucap mbok Darmi
sambil menyeduh kamu untuk seseorang yang baru memasuki warungnya
“kok bisa punya mantu orang Jakarta ?” Beno terus mencecar mbok Darmi
mas Arga menantu pak Rakhim itu ditemukan dan di tolong Arumi
waktu hanyut di sungai, setelah sembuh mas Arga tinggal didesa ini
dan pak Rakhim menikahkan mas Arga dengan putrinya Arum” tanpa curiga mbok
Darmi terus bercerita
“kayak dongeng aja” sela Beno dan mbok Darmi hanya tersenyum.
Sementara Sunardi menyimak cerita pemilik warung dengan focus
dan memikirkan rencana yang akan dijalaninya.
mbok Darmi meninggalkan tamu kedalam warung saat seseorang
yang baru masuk ke warung mbok Darmi duduk tidak jauh
__ADS_1
dari tempat duduk Sunardi dan Beno. Orang itu mengernyitkan dahi dan
menoleh sekilas pada Sunardi dan Beno.
Sunardi dan Beno berbicara pelan untuk mematangkan rencana mereka.
“Beno..,kita berangkat, gue akan jemput target loe nggak usah ikut ke rumah target
bawa mobil ke arah hutan dan loe tunggu di sana, entar sore gue akan ajak si Arga kesana,
loe bisa beresin dia dihutan dan kita buang mayat ke jurang.” bisiknya kepada Beno.
Sementara itu di kursi lain yang tidak jauh dari Sunardi dan Beno,
seseorang memperhatikan obrolan mereka sambil menyeruput kopi.
Mendengar pembicaraan kedu tamu mbok Darmi orang itu terhenyak,
menarik napas pelan sekilas orang itu melirik kedua orang yang sedang bersiasat jahat.
Perasaanya gusar tapi orang itu berusaha tenang sambil menghirup kopi.
Ketika Sunardi dan Beno meninggalkan warung, orang itu pun bangkit
segera membayar minumannya berniat mengikuti Beno dan Sunardi.
“Tumben…Man…buru-buru..nggak makan dulu?” tegur mbok Darmi
kepada petani yang ternyata adalah Parman.
“Hari ini masih ada kerjaan yang belum beres mbok, mesti buru buru pulang ke rumah,
saya pamit dulu mbok ” sahutnya bergegas pergi.
Dengan sepedanya Parman mengikuti mobil yang dikendarai orang asing
yang dilihatnya di warung mbok Darmi. Mobil tersebut menuju rumah pak Rakhim.
Perasaan Parman gelisah memikirkan pembicaraan yang didengarnya antara kedua orang itu
yang berniat akan mencelakakan Arga. Mobil berhenti tidak jauh dari rumah pak Rakhim,
hanya Sunardi yang turun dari mobil dan berjalan menuju rumah pak Rakhim
__ADS_1
sedangkan mobil melaju lagi kearah hutan jati. Parman mengikuti terus mobil tersebut
dan bersembunyi diantara pepohonan mengawasi apa yang mereka lakukan.