Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 22


__ADS_3

“mas Arga lepaskan tangan saya…..lihat tuh mbak Anita marah!” ucap Sandya


saat mereka melewati kursi yang diduduki Anita.


“Biar…! kita bicara diatas !” sahutnya ketus. Arga terus menyeret Sandya melewati


Anita, membuat mata bulat Anita makin melotot dan menatap horror keduanya.


Kejadian itu tidak luput dari pandangan kedua orang tua Anita dan orang tua Arga. Pak


Rahardiansyah memandangi Arga dengan tajam kemudian saling berpandangan dengan


istrinya. Bu Haiimah mengangkat kedua bahunya mengisyatkan keheranan pada


suaminya. Sedang pak Purnomo dan bu Rahma hanya terdiam merasa tidak enak


dengan tamunya.


“Arga…kenapa Sandya ?” tegur Bu Sunarya melihat anaknya naik keatas bersama Sandya.


“Sandya kurang sehat Ma, Aku antar ke kamar dulu, ada yang mau dibicarakan soal


suaminya !” teriak Arga. Terus melangkah mengabaikan pandangan tajam orang


orang yang berada diruang tamu rumahnya.


“Mas Arga…!, ada apa sih…? lepaskan dong tangan saya!” pinta Sandya


setelah mereka memasuki kamar Sandya, Arga pun melepaskan tangan Sandya.


“Sandya…! aku sudah bilang aku nggak suka kamu bersama dengan laki-laki lain,


kamu membuatku marah!”.ucap Arga terlihat frustasi wajahnya kusut.


“Mas Arga….! Kenapa mas marah saya dekat dengan mas Roni dan mas Hilman,


saya ini cuma tamu bukan tunangan atau istri mas Arga”. Ucap Sandya keras.


“Sandya…sudah kubilang…perasaanku …”. Arga tidak melanjutkan perkataannya


ia binggung harus berkata apa hatinya benar benar kalut.


“Kenapa…dengan perasaan mas Arga? Apa hak mas Arga melarang saya berbicara


dengan orang lain, hanya karena perasaan kamu terhadap saya,


kamu bisa bertindak seolah saya adalah milikmu…, ingat saya sudah punya suami


sedangkan mas Arga akan bertunangan dan menikah dengan Anita,


lalu…setelah kamu menikah dengan Anita, bagaimana dengan perasaamu?


apa kamu mau menjadikan saya simpanan kamu… ?” Sandya memuntahkan


perasaannya dengan terengah engah dan terkejut saat sebuah


tamparan mendarat di pipinya yang mulus.


“Plaaaakkk……….”


“Tutup mulutmu…. Sandya…..!” karena tak bisa menahan amarahnya


Arga melayangkan tangannya menampar pipi Sandya dengan keras.


“Mas Arga .…!” isak Sandya seraya memegang pipinya yang terasa sakit,


hatinya sangat perih karena tak menyangka Arga yang biasa bersikap lembut


kini berubah kasar terhadapnya.


“Maaf….” Arga tertegun menyadari kesalahannya telah melayangkan tangannya


pada pipi Sandya, perasaannya tidak karuan campur aduk antara marah


dan menyesalmenyelimuti hatinya.


Ia segera keluar kamar dan turun menemui tamu tamunya.

__ADS_1


Roni dan Hilman yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Arga


saling berpandangan, keduanya merasa khawatir dan menduga duga


apa yang terjadi pada Sandya yang tidak ikut turun lagi bersama Arga.


 “Arga….mana Sandya…? kami mau pamit pulang


sudah malam ” ujar Roni. Arga menatap tajam Roni dan Hilman.


“Sandya….sudah tidur, kalian pulanglah nanti aku sampaikan pamitmu padanya ”


sahut Arga sambil mengantar tamunya sampai ke pintu.


Kemudian ia menghampiri Anita yang masih menunggunya.


“Anita…sorry aku ingin istirahat dulu…rasanya capek sekali..sampai ketemu besok”.


Ucap Arga segan lalu kembali keatas menuju kamarnya.


Anita hanya terdiam hati terlalu sakit melihat sikap Arga


yang mengacuhkan dirinya sejak mereka kembali bertemu.


Ditemuinya kedua orang tuanya yang masih berbincang


dengan kedua orang tua Arga dan mengajak orang tuanya pulang.


Bu Halimah memeluk putrinya yang terlihat kesal


lalu mengajak Pak Rahardiansyah untuk pamit dengan pak Purnomo dan bu Rahma.


“Kami pulang dulu..” pamit pak Rahardiansyah


“iya..kita akan bicarakan lagi masalah anak anak nanti, Maafkan sikap Arga”


jawab pak Purnomo sambil mengantar tamunya ke halaman rumah.


Didalam kamar Sandya tidak dapat menahan kesedihan hatinya


ia lari ketempat tidur dan menangis sambil memeluk bantal


Katanya mas Arga menyayangiku


Katanya akan selalu melindungiku


Tapi mas Arga memporak porandakan hatiku


dan membuatnya hancur berkeping keping.


Mengapa kasih saying dancinta mas Arga harus terhenti sampai di sini,


belum sempat kami menghabiskan waktu berkeliling Jakarta berdua seperti janjinya


Mengapa mas Arga justru tega


melupakanku membuatku merasa rapuh dan tak terlindungi.


Sandya mencoba memejamkan matanya airmatanya masih juga berlinang


dan sesekali masih terdengar isaknya. Hatinya terasa pedih mengenang nasibnya


ingin rasanya ia meninggalkan rumah ini dan pulang kedesa saat itu juga


tapi ia tak punya keberanian untuk pulang sendiri.


Tidak diperdulikannya ketukan dan suara panggilan Arga di balik pintu kamarnya


yang berkali-kali memanggilnya.  keheningan akhirnya memenuhi suasana kamar


Sandya hingga akhirnya ia tertidur setelah lelah menangis dan merasakan


kegelisahan dan luka hatinya .


Arga masuk kekamarnya badannya lelah dan kepalanya terasa sakit.


Pikirannya kacau, ia tidak mengerti mengapa harus marah melihat Sandya

__ADS_1


yang dekat dengan teman temannya dan mengacuhkan dirinya.


Ia menyesal telah bertindak kasar dan melukai wanita itu.


Hatinya miris merasa sakit mendengar isak tangis yang menyayat hati.


Hujan yang turun dengan derasnya mengguyur desa Harjomulyo sudah berhenti


beberapa jam yang lalu. Suasana desa malam ini sangat mencekam


sesekali terdengar suara aneh yang menyayat


membuat warga desa enggan untuk keluar rumah mereka.


Di dalam hutan jati barat yang sepi dan mencekam , sesosok binatang buas penghuni


hutan sedang meradang,  merasa gelisah,


dengan mata hitam menyalang berputar putar dan berlari mengaduk aduk isi hutan


sambil mengeluarkan dengusan kemarahan dan geraman keras dan panjang hingga


menimbulkan suasana gaduh. Puas lari kesana kemari **** hutan itu berlari


memasuki desa, berjalan gelisah hingga tiba didepan rumah Pak Rakhim **** hutan


itu berhenti dengan pandangan tajam menusuk kemudian ia memasuki halaman rumah


dan mondar-mandir sambil mendengus.


Pak Rakhim yang sedang duduk berdzikir mendengar ada suara aneh


didepan rumahnya bergegas keluar. Ia terkejut ketika melihat seekor **** hutan


yang sangat besar duduk mendekam didepan pintu rumahnya mengadap kearahnya


dan menatap dengan tajam.


“Ki sanak….selamat datang dirumahku…., Apa yang menbuatmu susah? apa kau mau


mengatakan sesuatu tentang putri kita ?” sapa pak Rakhim dengan ramah. Tampak


olehnya kepala **** itu mengangguk pelan.


“Ki sanak apa kau merasa putri kita sedang menemui kesulitan ?” kembali **** itu


menganggukkan kepalanya.


“Dan apa kau mengharap aku menemuinya segera?” setelah mendapat jawaban


yang sama akhirnya Pak Rakhim menyanggupi segera berangkat ke Jakarta


untuk melihat keadaan Arumi dan Arga.


“Ki sanak apa kau mengarapkan putri kita kembali kemari ?” kali ini ia melihat ****


itu menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.


“Terimakasih.. Ki sanak meski bagaimanapun sayangnya kita kepada putri kita,


tapi kini sudah waktunya kita harus melepas buah hati kita dengan ikhlas


untuk menempuh masa depannya bersama suaminya yang akan menjaga


dan mencintainya selamanya” tampak oleh Pak Rakhim butiran air mata menetes


dari sudut mata  **** hutan yang kelihatan sudah sangat tua itu.


Setelah mendengar perkataan pak Rakhim **** hutan itu dengan perlahan kemudian bangun


dan berjalan gontai meninggalkan rumah Pak Rakhim menuju hutan jati.


Pak Rakhim memandangi **** hutan itu hingga bayangan hilang dalam kegelapan malam


dengan mengucapkan syukur atas kebesaran Tuhan.


“Allahu Akbar….Engkau Maha Besar ya Allah telah menciptakan hati yang mulia

__ADS_1


meski Kau berikan  kepada seekor binatang” bisik pak Rakhim sambil menutup pintu.


__ADS_2