
“mas Arga lepaskan tangan saya…..lihat tuh mbak Anita marah!” ucap Sandya
saat mereka melewati kursi yang diduduki Anita.
“Biar…! kita bicara diatas !” sahutnya ketus. Arga terus menyeret Sandya melewati
Anita, membuat mata bulat Anita makin melotot dan menatap horror keduanya.
Kejadian itu tidak luput dari pandangan kedua orang tua Anita dan orang tua Arga. Pak
Rahardiansyah memandangi Arga dengan tajam kemudian saling berpandangan dengan
istrinya. Bu Haiimah mengangkat kedua bahunya mengisyatkan keheranan pada
suaminya. Sedang pak Purnomo dan bu Rahma hanya terdiam merasa tidak enak
dengan tamunya.
“Arga…kenapa Sandya ?” tegur Bu Sunarya melihat anaknya naik keatas bersama Sandya.
“Sandya kurang sehat Ma, Aku antar ke kamar dulu, ada yang mau dibicarakan soal
suaminya !” teriak Arga. Terus melangkah mengabaikan pandangan tajam orang
orang yang berada diruang tamu rumahnya.
“Mas Arga…!, ada apa sih…? lepaskan dong tangan saya!” pinta Sandya
setelah mereka memasuki kamar Sandya, Arga pun melepaskan tangan Sandya.
“Sandya…! aku sudah bilang aku nggak suka kamu bersama dengan laki-laki lain,
kamu membuatku marah!”.ucap Arga terlihat frustasi wajahnya kusut.
“Mas Arga….! Kenapa mas marah saya dekat dengan mas Roni dan mas Hilman,
saya ini cuma tamu bukan tunangan atau istri mas Arga”. Ucap Sandya keras.
“Sandya…sudah kubilang…perasaanku …”. Arga tidak melanjutkan perkataannya
ia binggung harus berkata apa hatinya benar benar kalut.
“Kenapa…dengan perasaan mas Arga? Apa hak mas Arga melarang saya berbicara
dengan orang lain, hanya karena perasaan kamu terhadap saya,
kamu bisa bertindak seolah saya adalah milikmu…, ingat saya sudah punya suami
sedangkan mas Arga akan bertunangan dan menikah dengan Anita,
lalu…setelah kamu menikah dengan Anita, bagaimana dengan perasaamu?
apa kamu mau menjadikan saya simpanan kamu… ?” Sandya memuntahkan
perasaannya dengan terengah engah dan terkejut saat sebuah
tamparan mendarat di pipinya yang mulus.
“Plaaaakkk……….”
“Tutup mulutmu…. Sandya…..!” karena tak bisa menahan amarahnya
Arga melayangkan tangannya menampar pipi Sandya dengan keras.
“Mas Arga .…!” isak Sandya seraya memegang pipinya yang terasa sakit,
hatinya sangat perih karena tak menyangka Arga yang biasa bersikap lembut
kini berubah kasar terhadapnya.
“Maaf….” Arga tertegun menyadari kesalahannya telah melayangkan tangannya
pada pipi Sandya, perasaannya tidak karuan campur aduk antara marah
dan menyesalmenyelimuti hatinya.
Ia segera keluar kamar dan turun menemui tamu tamunya.
__ADS_1
Roni dan Hilman yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Arga
saling berpandangan, keduanya merasa khawatir dan menduga duga
apa yang terjadi pada Sandya yang tidak ikut turun lagi bersama Arga.
“Arga….mana Sandya…? kami mau pamit pulang
sudah malam ” ujar Roni. Arga menatap tajam Roni dan Hilman.
“Sandya….sudah tidur, kalian pulanglah nanti aku sampaikan pamitmu padanya ”
sahut Arga sambil mengantar tamunya sampai ke pintu.
Kemudian ia menghampiri Anita yang masih menunggunya.
“Anita…sorry aku ingin istirahat dulu…rasanya capek sekali..sampai ketemu besok”.
Ucap Arga segan lalu kembali keatas menuju kamarnya.
Anita hanya terdiam hati terlalu sakit melihat sikap Arga
yang mengacuhkan dirinya sejak mereka kembali bertemu.
Ditemuinya kedua orang tuanya yang masih berbincang
dengan kedua orang tua Arga dan mengajak orang tuanya pulang.
Bu Halimah memeluk putrinya yang terlihat kesal
lalu mengajak Pak Rahardiansyah untuk pamit dengan pak Purnomo dan bu Rahma.
“Kami pulang dulu..” pamit pak Rahardiansyah
“iya..kita akan bicarakan lagi masalah anak anak nanti, Maafkan sikap Arga”
jawab pak Purnomo sambil mengantar tamunya ke halaman rumah.
Didalam kamar Sandya tidak dapat menahan kesedihan hatinya
ia lari ketempat tidur dan menangis sambil memeluk bantal
Katanya mas Arga menyayangiku
Katanya akan selalu melindungiku
Tapi mas Arga memporak porandakan hatiku
dan membuatnya hancur berkeping keping.
Mengapa kasih saying dancinta mas Arga harus terhenti sampai di sini,
belum sempat kami menghabiskan waktu berkeliling Jakarta berdua seperti janjinya
Mengapa mas Arga justru tega
melupakanku membuatku merasa rapuh dan tak terlindungi.
Sandya mencoba memejamkan matanya airmatanya masih juga berlinang
dan sesekali masih terdengar isaknya. Hatinya terasa pedih mengenang nasibnya
ingin rasanya ia meninggalkan rumah ini dan pulang kedesa saat itu juga
tapi ia tak punya keberanian untuk pulang sendiri.
Tidak diperdulikannya ketukan dan suara panggilan Arga di balik pintu kamarnya
yang berkali-kali memanggilnya. keheningan akhirnya memenuhi suasana kamar
Sandya hingga akhirnya ia tertidur setelah lelah menangis dan merasakan
kegelisahan dan luka hatinya .
Arga masuk kekamarnya badannya lelah dan kepalanya terasa sakit.
Pikirannya kacau, ia tidak mengerti mengapa harus marah melihat Sandya
__ADS_1
yang dekat dengan teman temannya dan mengacuhkan dirinya.
Ia menyesal telah bertindak kasar dan melukai wanita itu.
Hatinya miris merasa sakit mendengar isak tangis yang menyayat hati.
Hujan yang turun dengan derasnya mengguyur desa Harjomulyo sudah berhenti
beberapa jam yang lalu. Suasana desa malam ini sangat mencekam
sesekali terdengar suara aneh yang menyayat
membuat warga desa enggan untuk keluar rumah mereka.
Di dalam hutan jati barat yang sepi dan mencekam , sesosok binatang buas penghuni
hutan sedang meradang, merasa gelisah,
dengan mata hitam menyalang berputar putar dan berlari mengaduk aduk isi hutan
sambil mengeluarkan dengusan kemarahan dan geraman keras dan panjang hingga
menimbulkan suasana gaduh. Puas lari kesana kemari **** hutan itu berlari
memasuki desa, berjalan gelisah hingga tiba didepan rumah Pak Rakhim **** hutan
itu berhenti dengan pandangan tajam menusuk kemudian ia memasuki halaman rumah
dan mondar-mandir sambil mendengus.
Pak Rakhim yang sedang duduk berdzikir mendengar ada suara aneh
didepan rumahnya bergegas keluar. Ia terkejut ketika melihat seekor **** hutan
yang sangat besar duduk mendekam didepan pintu rumahnya mengadap kearahnya
dan menatap dengan tajam.
“Ki sanak….selamat datang dirumahku…., Apa yang menbuatmu susah? apa kau mau
mengatakan sesuatu tentang putri kita ?” sapa pak Rakhim dengan ramah. Tampak
olehnya kepala **** itu mengangguk pelan.
“Ki sanak apa kau merasa putri kita sedang menemui kesulitan ?” kembali **** itu
menganggukkan kepalanya.
“Dan apa kau mengharap aku menemuinya segera?” setelah mendapat jawaban
yang sama akhirnya Pak Rakhim menyanggupi segera berangkat ke Jakarta
untuk melihat keadaan Arumi dan Arga.
“Ki sanak apa kau mengarapkan putri kita kembali kemari ?” kali ini ia melihat ****
itu menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.
“Terimakasih.. Ki sanak meski bagaimanapun sayangnya kita kepada putri kita,
tapi kini sudah waktunya kita harus melepas buah hati kita dengan ikhlas
untuk menempuh masa depannya bersama suaminya yang akan menjaga
dan mencintainya selamanya” tampak oleh Pak Rakhim butiran air mata menetes
dari sudut mata **** hutan yang kelihatan sudah sangat tua itu.
Setelah mendengar perkataan pak Rakhim **** hutan itu dengan perlahan kemudian bangun
dan berjalan gontai meninggalkan rumah Pak Rakhim menuju hutan jati.
Pak Rakhim memandangi **** hutan itu hingga bayangan hilang dalam kegelapan malam
dengan mengucapkan syukur atas kebesaran Tuhan.
“Allahu Akbar….Engkau Maha Besar ya Allah telah menciptakan hati yang mulia
__ADS_1
meski Kau berikan kepada seekor binatang” bisik pak Rakhim sambil menutup pintu.