
Pagi-pagi tampak Roni dan Hilman teman seperjalanan Arga ke Jawa Tengah sudah datang dan
mereka kemudian sibuk berkemas menata barang-barang dan memasukkan perlengkapan
yang akan dibawanya bertualang ke mobil Panternya. Setelah segalanya siap Arga pamit
kepada Ayah dan Ibunya.
“Arga….hati-hati dihutan ya, jaga dirimu baik-baik, kalau kurang apa-apa cepatlah
telepon, jangan lupa kalau semuanya sudah selesai segera pulang !” pesan Ibunya.
“Iya…Ma….doakan ya semuanya aman dan lancar , agar kami cepat pulang !” pintanya sembari
mencium pipi Ibunya.
“Papa….kami pergi !” pamitnya kepada Ayahnya.
“Hati-hati Arga….! Dan ingat cepat pulang, Anita menunggumu !”.
“Iya..Pa…salam saja untuknya kalau dia nelpon!” sahut Arga sambil menjalankan mobilnya.
“Arga….kamu nggak nemuin Anita dulu,
apa dia nggak marah kamu tinggal begitu saja?” tanyaRoni.
“Aah…tidak usah….dia sudah tahu kok kemarin, kita langsung berangkat saja ” sahut Arga kalem.
“Mudah-mudahan jalanan nggak macet ya, kalau macet bisa malam sampai disana” ujar Hilman.
“Kalau lancer sore hari kita sampai Cirebon, lalu selepas magrib sudah sampai Tegal
mudah mudahan kita belum terlalu untuk sampai dihutan jati didaerah Margasari”
kata Roni sembari membuka peta.
“Kita kunjungi dulu rumah kepala desanya dan kita utarakan maksud kita, syukur-syukur
dia baik hati mau menampung kita untuk menginap dirumahnya” sela Arga
“Biasanya kepala desa memiliki seorang putri yang cantik
siapa tahu dia akan naksir kita” ujar Roni sambil tertawa.
“Ehm…kita berdua bersaing dong, Arga kan sudah punya calon istri, jadi nggak boleh
ikutan, kalau bandel kita laporin, ya…Ron ?” goda Hilman.
“Iya….ambil deh tuh cewek ! Tapi kalau dia naksir kepadaku bagaimana ?”tanya Arga tersenyum
geli.
“Jangan gitu dong Arga, kasihan dong sama kita-kita ini yang belum laku !” sahut Hilman
dan Roni hampir serentak.
“Ha..ha…ha…aku bercanda kok ! kalian serius amat sih!
Lagian pak kepala desa belum tentumengijinkan putrinya naksir kita , karena…..”.
“Karena apa… ?” desak Hilman penasaran.
“Karena putri bapak kepala desa yang sangat cantik itu baru saja masuk sekolah TK alias
baru berumur 10 tahun ha..ha..ha..” Arga tertawa terbahak, baik Roni maupun Hilman
setelah saling berpandangan akhirnya juga tertawa ngakak.
Didalam perjalanan mereka tak henti-hentinya bercanda, tertawa dan menyanyi-nyanyi bergembira.
Bila merasa lelah mereka beristirahat di warung makan yang tidak begitu ramai di pinggir jalan
dan melepaskan lelah sambil tiduran dibangku-bangku panjang yang tersedia didepan warung makan.
Tak berapa lama kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
Menjelang malam mobil mereka baru melewati kawasan hutan jati menuju desa yang mereka
ingin kunjungi untuk bermalan dan istirahat.
Jalanan yang sepi terlihat sangat menyeramkan diwaktu malam hari.
Ketika melihat ada belokkan yang merupakan jalanan kecil yang tidak diaspal
masuk kearah pedalaman, Arga kemudian membelokkan mobilnya dengan perlahan
dan hati-hati karena keadaan jalan yang dilalui lebarnya pas selebarmobilnya.
“Arga….serem amat ya …kalau didepan nggak ada desa bagaimana ?” tanya Hilman yang agak ngeri
melihat pohon - pohon jati yang berukuran besar yang ada disisi kanan kirinya
dengan daunnya yang lebar-lebar, sedang penerangan jalan saat itu hanya
mengandalkan dari sinar bulan purnama.
“Rasanya kaya masuk goa saja” sambung Roni ketika melihat rimbunnya daun jati disisi jalan
sehingga ranting daun jati bagian puncak saling bertaut menutupi jalanan.
“Kalian kaya baru masuk hutan saja, kita kan sudah berapa kali keluar masuk hutan, di
Sumatera lebih lebat dari hutan ini tapi kamu berani,
hutan jati ini dulu di tanam jadi tumbuhnya beraturan” sahut Arga
“Iya ..ya…tapi nggak tahu nih, kenapa aku jadi merasa seram masuk kehutan ini !” sambung Hilman
yang duduk di bangku belakang, saking takutnya ia tidak berani menoleh kebelakang.
“Eh…itu ada orang lewat, kita tanya ada desa nggak didepan sana!” kata Roni.
Arga menghentikan mobilnya dan menyapa laki-laki tua yang memikul pikulan yang
berisi ikatan daun jati.
“Selamat malam Pak, boleh kami tanya Pak, apa ada desa didepan sana Pak?” tanya Arga.
“Ada…tapi masih jauh,silahkan terus saja !” sahutnya.
“Terimakasih Pak !”. Arga kembali mempercepat laju kendaraannya
dan tak lama kemudian mereka melihat kelap-kelip lampu penerangan.
hati mereka merasa lega karena akhirnya dapat menemui desa di tengah hutan jati.
__ADS_1
Ketika sampai dirumah pertama dipinggir hutan, Arga menghentikan mobilnya.
“Ron….turun dong ! tanya dimana rumah kepala desanya?” perintah Arga. Roni mengangguk dan
turun dari mobil nya, kemudian ia mengetuk pintu rumah itu.
“Assalamualaikum”sapanya.
“Waalaikum salam” terdengar suara serak menyahut dari dalam rumah.
Tampak seorang lelaki tua membuka pintu menyambut mereka dengan heran.
“Maaf Pak, saya datang dari Jakarta mau menanyakan rumah Pak kepala desa disini,
ehm…apa Bapak bisa menolong kami ?” tanya Roni.
“Rumah kepala desa…? Ehm…mari saya antar, dekat kok dari sini!”. Laki-laki tua itu
kemudian menutup pintu dan keluar rumah mengantarkan tamunya kerumah Pak Wongso,
kepala desa Margasari.
Sampai dirumah kepala desa yang cukup luas terasnya mereka diterima dengan ramah. Arga
kemudian menceritakan keperluannya datang ke desa hutan jati yaitu ingin
melihat-lihat keadaan hutan dan isinya,
karena selain untuk penyelidikan yang hasilnya akan dibukukan,
mejelahi hutan adalah hobbynya.
“Kalau begitu kalian semua malam ini menginap saja disini,
besok Bapak akan mengantar kalian sampai tepi hutan sebelah timur,
sekarang sebaiknya kalian istirahat dulu selain sudah malam
kalian tentu lelah sekali setelah menempuh perjalanan seharian”
ujar Pak Wongso, kepala desa di desa itu.
Setelah mengucapkan terimakasih Arga dan kawan-kawannya mengikuti Pak Wongso masuk
kerumah dan beristirahat diruang tamu. Ketiganya tidur dalam satu kamar yang cukup besar
tetapi tempat tidurnya kecil maka Pak Wongso memberi tambahan tikardan bantal.
“Orang desa memang terkenal baik dan ramah,
makanya aku suka mengunjungi desa” ujar Arga seraya merebah kan tubuhnya dan meluruskan
kakinya yang terasa pegal setelah seharian duduk dibelakang setir.
“Oh iya Ron…ramalan kita meleset, rupanya Pak kepala desanya nggak punya anakcewek,
tour kita kali ini berarti sepi lagi ” sela Hilman yang tiduran diatas tikar berdua Roni.
“Ah…kamu yang dipikirin cuma perempuan melulu,
tapi jangan khawatir dihutan nanti juga banyak…” sahut Roni
sambil membalikkan badannya membelakangi temannya.
“Banyak apa Ron?” desak Hilman.
“Hus …ketawanya jangan keras-keras ini dirumah orang tahu!
lagian sudah malam ayo cepat tidur!” tegur Arga,
mendapat teguran temannya Roni dan Hilman segera memejamkan matanya
meski mulut mereka masih tersenyum geli.
Kesokan harinya Arga dan teman-temannya sudah bersiap-siap,
ketiganya mengenakan pakaian jeans dan jaket kulit serta topi dengan ransel dipunggungnya,
tak berapa lama Pak Wongso keluar dari kamarnya dan mengajak mereka sarapan,
ada teh manis dan singkong rebus terhidang di bale bale yang ada di depan rumah.
“maaf nak, sarapan di desa ya seperti ini” pak Wongso mempersilahkan tamunya. Pak Wongso
tinggal sendiri di rumah ini karena istrinya sedang menginap di rumah anaknya
yang baru saja melahirnya.
“Wah…ini sudah istimewa pak” Hilman mengambil kudapan singkong rebus sambil tertawa.
“di Jakarta jarang ketemu sarapan seperti ini pak” timpal Roni.
“Berapa jauh hutan jati dari desa ini pak?” Arga bertanya sambil meminum tehnya
“ tidak jauh, hanya sekitar satu kilometer, setelah sarapan akan bapak antar kesana.
Setelah mengobrol sebentar sembari menuntaskan sarapannya,
pak Wongso mengantar tamunya menuju hutan jati,
mereka berjalan ke arah hutan jati sebelah timur.
“Pak kalau boleh tanya mengapa kita menuju kearah sebelah timur?” tanya Arga.
“Ehm …begini hutan jati sebelah timur itu biasa dilalui orang,
disana penduduk banyak yang mencari nafkah dengan mengambil daun-daun jati
yang sudah tua atau yang berjatuhan untuk dijual kepasar.
Kadang-kadang juga banyak ranting-ranting yang berserakan
dan mereka memanfaatkannya untuk kayu bakar. Dan memang kami mengijinkan
mereka mengambil hasil hutan asal tidak merusak,
sampai saat ini mereka mematuhi aturan yang berlaku,
sehingga hutan jati disebelah timur tetap terjaga, bersih dan tidak terlalu rimbun”
ujar pak Wongso menerangkan sambil terus berjalan.
“Kalau hutan sebelah barat sana, hampir tidak pernah dilalui warga desa karena terlalu lebat,
juga karena daerahnya yang tinggi naik bukit. Dibalik bukit sana sudahbukan termasuk daerah kami,
__ADS_1
untuk menuju kesana ada jalan setapak yang hampir tidak kelihatan lagi
karena tertutup rimbunnya pepohonan
sehingga penduduk disini jarang ada yang kesana.
Menurut cerita orang tua dulu hutan itu dijaga oleh pertapa
yang kadang tampil dalam wujud **** hutan.
Dibalik bukit itu ada sungai yang cukup deras
dan dihilir ada sebuah desa kecil yang juga mempunyai jalan tembus keluar
menuju kota Batu Raden Purwokerto
mungkin sekarang sudah ada mobil dari kota yang masuk kedesa itu
kalau dulu harus jalan kaki melalui lereng gunung Slamet,
jadi ya cukup jauh sekali dari sini”.pak Wongso meneruskan ceritanya dengan semangat.
“Binatang apa saja yang ada dihutan jati sini pak?” tanya Hilman.
“Binatang buas seperti harimau dan beruang tidak ada, paling ular dan binatang kecil
lainnya”. Sahut pak Wongso
“Syukurlah…!”gumam Hilman lega.
“Kenapa Man …takut ya ?” cela Roni.
“Ah enggak…cuma siap-siap saja” sahut Hilman, sementara Bobby hanya tersenyum
mendengar percakapan temannya.
“Orang orang yang dulu pernah akan melewati jalan setapak kearah hutan
sebelah barat sana untuk mencari kayu,
menceritakan kalau mereka pernah melihat seekor **** yang cukup besar
yang melintas dari kejauhan, meskipun siang hari saat itu ia membawa obor untuk jaga-jaga
tapi mereka segera membatalkan niatnya memasuki hutan dan
berlari pulang karena hatinya merasa khawatir dan takut, padahal mereka sudah
biasa mencari kayu dihutan untuk mencari nafkahnya. Mereka percaya kalau ****
hutan itu adalah jelmaan pertapaa yang melindungi hutan barat.” cerita pak Wongso.
“Kayak gue dong Arga…., sudah biasa keluar masuk hutan tapi kali ini, rasanya lain!”
kata Hilman.
“Lain..gimana? apa kamu punya firasat ?” sela Roni.
“Tahu!… pokoknya rasanya takut dan aneh!” sahut Hilman.
“Ah…sudahlah kalian bicara yang nggak ada gunanya saja,
ayo terus jalan!” tegur Arga.
“Nah….Bapak hanya bisa mengantar sampai sini,
Bapak kurang kuat jalan jauh, silahkan kalau kalian mau masuk lebih kedalam lagi,
tapi ingat jangan terlalu jauh dan cepat pulang,
jangan menunggu sore, nanti kalian tersesat !” pesan Pak Wongso.
“Terimakasih Pak, pesan Bapak akan selalu kami ingat” sahut Arga.
Setelah Pak Wongso pulang mereka kemudian melanjutkan perjalanan memasuki hutan.
Mereka cukup lama menjelajahi hutan sambil mengambil beberapa foto pohon pohon jati
yang ada di hutan itu. Arga begitu asik menikmati pemandangan yang di temui di hutan ini.
“Arga….tanah yang kita injak makin lama semakin menanjak berarti kita sudah sampai kebukit,
ayo kita kembali nanti tersesat!” Hilman mengingatkan Arga karena ia merasa
kelelahan karena jalannya mulai menanjak.
“Baru jam berapa, sudah kelelahan, ayo kita istirahat dulu !” ajak Arga sambil menurunkan ranselnya.
Mereka kemudian mencari tempat yang agak terang dan duduk diatas akar pohon yang sangat besar.
Mereka beristirahat dan mengambil air mineral yang mereka bawa di ransel untuk diminum.
“Arga…apa kamu belum puas melihat pohon jati segini luasnya,
diteruskan juga sama Arga…semuanya ya pohon jati…
kita kembali saja yuk…kita ke Baturaden saja naik kepuncak gunung Slamet
dan mandi air belerang disana rasanya lebih asyik !” ajak Hilman.
“Kesana kan bisa nanti setelah dari sini, kalau kalian sudah bosan jalan, kalian tunggu disini saja,
aku akan naik sendiri, aku mau melihat kesebelah barat, sebentar saja kok, okey!”
ujar Arga seraya mengambil ranselnya dan berjalan makin kedalam hutan.
Tidak dihraukannya teriakkan teman temannya.
“Jangan kesana Ga…! kalau kamu tersesat bagaimana ?” sahut Roni cemas.
“Ah enggak deh, dari atas kan kelihatan desa dibawah,
sudah ya aku pergi dulu, kalau kalian nggak mau nunggu ya pulang saja kedesa !
aku nanti pulang sendiri” kata Arga sambil berjalan meninggalkan temannya
yang masih duduk dan saling pandang, meski dalam hati mereka khawatir
tapi keduanya terpaksa membiarkan kenekatan Arga
yang kalau sudah ada maunya tidak ada yang bisa menghalangi.
Roni dan Hilman memandang kepergian Arga hingga hilang dari pandangan matanya,
sambil menunggu kembalinya Arga, keduanya kemudian melepaskan lelah
__ADS_1
sambil merebahkan badannya diatas akar-akar pohon.