Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 25


__ADS_3

Sampai di rumah mereka disambut bu Rahma yang sedang menyiapkan hidangan makan siang.


“Oh…kalian sudah pada pulang…lho..mana Arga ?” tanya Bu Rahma.


“Arga masih keliling jalan jalan bersama Anita ” sahut Sandya .


“Ooh… ya.. biarin saja deh, mereka sudah lama tidak ketemu mungkin kangen,


eh kalian masuk saja ayo kita sekalian makan siang sambil ngobrol,


ada yang ingin kami bicara kan dengan kalian!” ajak Bu Rahma sambil menuju meja makan.


 Pak Purnomo sudah duduk menunggu dimeja makan.


“Bagaimana senang Nak Arum jalan jalannya ? sudah berkunjung kemana saja ?”


tanya Pak Purnomo


“Hanya jalan jalan ke pantai bagus sekali pemandangan di sana saya senang ” sahut


Sandya.


Setelah semuanya duduk dimeja makan, Bu Rahma menyilahkan semuanya mulai makan.


Bu Rahma memandangi Sandya, Roni dan Hilman yang sedang menikmati makan siang


mereka.


“Nak Roni, Hilman dan kamu Sandya, kami ingin minta tolong kalian untuk membantu


kami menyiapkan acara pertunangan untuk Arga, kalian tahu kami tidak ingin Arga


keluyuran lagi bertualang ke hutan hutan, kami ingin dia di rumah karena itu kami


sudah berunding dengan keluarga Pak Rahardiansyah agar besok malam datang ke


rumah ini untuk meresmikan pertunangan Arga dan Anita, hanya pesta keluarga


saja, yang penting hikmat, bagaimana kalian bersediakan membantu kami ?” tanya


Bu Rahma penuh harap.


Baik Roni, Hilman dan Sandya ketiganya terhenyak dan menghentikan makannya


mendengar ucapan Bu Rahma. Wajah Sandya memucat napasnya sesak


terasa udara terhenti mengisi paru parunya


untung saja tidak ada makanan yang tersedak di kerongkongannya.


Roni dan Hilman saling berpandangan


kemudian keduanya serentak menatap Sandya sendu.


Pak Purnomo dan Bu Rahma saling berpandangan merasa heran melihat ketiganya


terdiam. Sesaat kemudian terdengar Sandya tertawa kecil dan berkata:


“Tentu. Ma.. kami siap membantu, kami turut bahagia jika mas Arga bahagia…


ya kan mas Roni ?” tanya Sandya seraya menepuk bahu Roni yang duduk didekatnya.


“Eh.... iya…. kami akan bantu ” sahut Roni tergagap kaget dengan tindakan Sandya


yang mendadak. Di tatapnya wajah ayu disebelahnya dengan miris. Yang ditatap


mengalihkan pandangan.


Hilman tertawa samar dan merengkuh bahu Sandya


“iya cantik kita bakal ikutan bantuin mama dan papa untuk bikin Arga bahagia”


seraya mengedipkan matanya ke Roni.


“Terimakasih… kalian sungguh sahabat Arga yang baik, ayo teruskan makannya


nanti kita bicarakan lagi acara untuk besok !” kata Bu Rahma tersenyum puas.


Setelah membicarakan acara kejutan untuk Arga bersama pak Purnomo dan bu Rahma,


Roni dan Hilman pamit pulang dan Sandya mengantar mereka sampai di teras.


Sebelum memasuki mobil Roni menepuk pundak Sandya


“Sandya…,kenapa kamu melarang kami bicara yang sebenarnya” kata Roni.


“Mas Roni, saya tidak tahu harus berbuat apa, ini takdir saya mempunyai suami yang


tidak mengingat istrinya meskipun saya mencintai mas Arga. Saya harus merelakan


Anita menjadi pendamping mas Arga”. ucap Sandya lirih.


 “Sandya…. kenapa kamu menerima saja semua ini,


kenapa kamu menyerah tanpa perlawanan sedikitpun….?, ayo Sandya …kita lawan,


kami siap membantu..!” desak Hilman memberi semangat.


“saya tidak punya amunisi untuk melawan, hati ini sudah hancur berkeping keping.


Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya jadi saya yang harus mempersiapkan


pesta pertunangan suami saya sendiri, Saya mencintai Arga tapi takdir menggariskan


Anita yang akan hidup bersamanya,” tangis Sandya tumpah dihadapan Roni dan


Hilman.

__ADS_1


“Terima kasih kalian sudah membantu Sandya, Saya akan belajar ikhlas meskipun terasa


sakit. Besok saat acara pertunangan berlangsung Sandya akan meninggalkan rumah


ini dan pulang ke desa.” ucap Sandya dengan mata berkaca-kaca.


“Kalau pertunangan itu benar terjadi,


kita berdua akan mengantar kamu pulang ke desa”


ucap Roni pelan lalu mengusap kepala Sandya lembut.


“Terima kasih Mas Roni..., mas Hilman…, kalian baik sekali!” Cicit Sandya pelan


Roni dan Hilman berjalan masuk ke mobil dalam diam


eduanya tercekam dalam keharuan melihat nasib Sandya..


Ketika Roni akan menjalankan mobilnya sebuah taxi berhenti di depan rumah,


Arga dan Anita turun dari taxi


“Lho kalian mau kemana?” tanya Arga.


“Sorry Arga, kami pulang dulu ada tugas wajib dari mamamu yang harus diselesaikan


besok malam” ujar Roni seraya menjalankan mobilnya.


“Tugas wajib… Sandya apa maksud ucapan Roni tadi ?” Tanya Arga heran.


“Mas Arga bisa tanyakan pada Mama langsung, ada berita gembira buat kalian berdua”


ujar Sandya cuek lalu masuk kedalam rumah dan langsung berlari ke atas menuju


kamarnya.


Bu Rahma tersenyum bahagia melihat kedatangan Arga dan Anita.


Arga yang penasaran hendak mengejar Sandya dicegah oleh bu Rahma


“Arga…., Anita…! kemarilah ada yang mau mama sampaikan” ucap bu Rahma


“Ada apa Ma..? Tanya Arga


 Bu Rahma tersenyum menatap Arga dan Anita yang


memandangi nya dengan tatapan heran


“Kalian bersiap siaplah, besok kalian akan bertunangan


hanya  disaksikan keluarga dan teman-temanmu yang penting sah dan hikmat,


soal pestanya akan kita adakan pada resepsi pernikahan kalian


nanti” ucap Bu Rahma.


sedangkan Arga hanya melongo terlalu kaget dan marah dengan rencana dadakan


dari mamanya.


“Ma… kenapa harus buru-buru, aku belum siap bertunangan Ma,” protes Arga.


“Arga… kamu sudah dewasa sudah waktunya berumah tangga,


mama tidak mau kamu keluyuran lagi kehutan hutan,


Papa juga ingin kamu segera mengurus perusahaan kita. jangan


mengewakan Mama dan Papamu !” tegur Bu Rahma.


Ach… Arga mengusap usap rambutnya dengan kesal.


“Maaf… Anita aku mau istirahat dulu” ujar Arga langsung lari keatas


tanpa menghiraukan panggilan Anita dan teguran mamanya.


Bu Rahma lalu menghibur Anita agar bersabar menghadapi Arga


kemudian meminta Anita pulang untuk beristirahat.


Arga mengetuk pintu kamar Sandya beberapa kali karena tidak ada jawaban, Arga


langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Arga memandangi sekeliling


kamar yang hanya di terangi oleh lampu tidur, ada sebuah lilin yang menyala diatas


meja nakas disisi tempat tidur sedangkan Sandya yang terbaring dengan selimut


menutupi tubuhnya hingga leher.


“Sandya…”bisik Arga lirih lalu duduk disisi pembaringan, Sandya membuka matanya


memandang wajah Arga dengan pandangan sedih


lalu tangan kanannya meraba pipi Arga,


airmata sudah mengalir membasahi pipi wanita itu.


Dengan napas terengah engah Sandya mencurahkan isi hatinya.


“Mas Arga…, Ini malam terakhir kita bertemu,


besok kamu akan bertunangan dengan Anita, saya doakan


semoga mas Arga dan mbak Anita bahagia, Terima kasih mas Arga sudah bersikap


baik dan menolong Sandya. Maafkan Sandya kalau Sandya sudah membuat mas Arga

__ADS_1


susah. Besok setelah selesai acara pertunangan mas Arga saya akan keluar dari


rumah mas Arga dan saya akan pulang ke desa” ucap Sandya lirih.


Wajah Arga memucat hatinya terasa perih mendengar ucapan Sandya.


“Apa maksud ucapanmu!, Sandya kamu tidak boleh pergi …!


Aku mohon jangan tinggalkan aku…!” ucap Arga.


Arga menutup wajahnya dengan kedua tanganya, perasaannya kacau rasanya ingin


menjerit sekuatnya meneriakkan nama Sandya. Ada desir halus melecut hatinya, Dia


tidak mengerti mengapa hatinya hancur mendengar ucapan Sandya, kepalanya terasa


sakit memikirkan harus berpisah dengan Sandya, Perasaanya begitu dalam pada


Sandya, ia merasa tak bisa hidup tanpa wanita itu namun kenyataan yang diketahuinya


wanita itu sudah bersuami membuatnya frustasi.


“oh Tuhan apa yang harus aku lakukan ” Arga merintih pilu, mendengar suara Arga


tangis Sandya pecah tidak tertahankan lagi


“Mas Arga….” bisik Sandya lirih menatap dalam Arga.


“Sandya akan berusaha mengingatkan mas Arga untuk yang terakhir kali sebelum kita


berpisah untuk selamanya…., Mas Arga lihatlah lilin ini !” bisik Sandya seraya


mendekatkan tangan kanannya pada lilin yang menyala di atas nakas, diletakkannya


telapak tangannya di atas api dengan maksud memadamkannya seperti yang pernah wanita


itu lalukan disaat dimalam pertama pernikahannya dengan Arga.


Arga terbelalak memandang perbuatan Sandya dengan cepat dia meraih tangan yang


tersengat api.


“Sandya…apa yang kamu lakukan…?” teriak Arga


diraihnya tangan Sandya lalu dikecup perlahan.


Sekelebat terlintas sesuatu di ingatannya, Arga memejamkan mata sejenak.


“Oh....Tuhan…aku merasa pernah melihat semua ini tapi dimana….?”


Keluh Arga seraya mengecup telapak tangan Sandya yang menghitam


dan meniup-niupnya. Ada rasa bersalah yang tiba tiba hadir


saat ia mencium telapak tangan yang memerah, diciumnya cukup


lama tanpa terasa melelehkan air mata.


“Maafkan…aku yang melukaimu” menggenggam erat tangan itu


seakan berkata bahwa ia berjanji untuk membahagiakan wanita ini.


“Mas Arga…. apa kamu mengingat atau merasakan sesuatu sekarang?” bisik Sandya


menahan perih sekaligus terharu melihat perbuatan yang Arga lakukan sama persis


seperti yang pernah dilakukan pada saat malam pertama pernikahan mereka.


“Sandya…katakan padaku apa yang terjadi. Aku merasa mengalami dejavu”


Arga merengkuh Sandya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Dari segala kekuatan yang Sandya punya untuk tetap tegar di hari ini,


akhirnya semua sumber kekuatan itu habis


dan Sandya menangis dalam pelukan Arga. isaknya semakin kencang,


Inikah akhir jodohnya. Akankah pernikahannya berakhir sampai disini.


Arga mengeratkan pelukannya sungguh….


terasa sakit banget mendapati Sandya yang hancur


dan tenggelam dalam tangis di dadanya.


Arga membaringkan tubuh Sandya di ranjang dan tangannya bergerak


mengusap air mata di wajah wanita itu. matanya sayu menatap Sandya


lalu tanganya mengusap lembut rambut Sandya


dan mengecup lama kening wanita itu sebelum beranjak meninggalkan kamar.


Arga masuk ke kamarnya lalu merebahkan tubuh di ranjang memandang langit langit


kamar dengan tatapan kosong. Setelah dia meninggalkan Sandya di kamar tamu hatinya


tersiksa dengan segala hal yang entah apa…, Arga merasakan kenyamanan saat


bersama wanita itu, tapi Dia juga merasa bersalah karena wanita itu sudah


bersuami. Kemarahan, kekesalan dan ketidak berdayaan yang di rasakan Arga


membuat  sakit di kepala Arga kambuh.


Sepanjang malam matanya sulit terpejam hingga menjelang pagi baru Arga terlelap

__ADS_1


kelelahan


__ADS_2