
Sampai di rumah mereka disambut bu Rahma yang sedang menyiapkan hidangan makan siang.
“Oh…kalian sudah pada pulang…lho..mana Arga ?” tanya Bu Rahma.
“Arga masih keliling jalan jalan bersama Anita ” sahut Sandya .
“Ooh… ya.. biarin saja deh, mereka sudah lama tidak ketemu mungkin kangen,
eh kalian masuk saja ayo kita sekalian makan siang sambil ngobrol,
ada yang ingin kami bicara kan dengan kalian!” ajak Bu Rahma sambil menuju meja makan.
Pak Purnomo sudah duduk menunggu dimeja makan.
“Bagaimana senang Nak Arum jalan jalannya ? sudah berkunjung kemana saja ?”
tanya Pak Purnomo
“Hanya jalan jalan ke pantai bagus sekali pemandangan di sana saya senang ” sahut
Sandya.
Setelah semuanya duduk dimeja makan, Bu Rahma menyilahkan semuanya mulai makan.
Bu Rahma memandangi Sandya, Roni dan Hilman yang sedang menikmati makan siang
mereka.
“Nak Roni, Hilman dan kamu Sandya, kami ingin minta tolong kalian untuk membantu
kami menyiapkan acara pertunangan untuk Arga, kalian tahu kami tidak ingin Arga
keluyuran lagi bertualang ke hutan hutan, kami ingin dia di rumah karena itu kami
sudah berunding dengan keluarga Pak Rahardiansyah agar besok malam datang ke
rumah ini untuk meresmikan pertunangan Arga dan Anita, hanya pesta keluarga
saja, yang penting hikmat, bagaimana kalian bersediakan membantu kami ?” tanya
Bu Rahma penuh harap.
Baik Roni, Hilman dan Sandya ketiganya terhenyak dan menghentikan makannya
mendengar ucapan Bu Rahma. Wajah Sandya memucat napasnya sesak
terasa udara terhenti mengisi paru parunya
untung saja tidak ada makanan yang tersedak di kerongkongannya.
Roni dan Hilman saling berpandangan
kemudian keduanya serentak menatap Sandya sendu.
Pak Purnomo dan Bu Rahma saling berpandangan merasa heran melihat ketiganya
terdiam. Sesaat kemudian terdengar Sandya tertawa kecil dan berkata:
“Tentu. Ma.. kami siap membantu, kami turut bahagia jika mas Arga bahagia…
ya kan mas Roni ?” tanya Sandya seraya menepuk bahu Roni yang duduk didekatnya.
“Eh.... iya…. kami akan bantu ” sahut Roni tergagap kaget dengan tindakan Sandya
yang mendadak. Di tatapnya wajah ayu disebelahnya dengan miris. Yang ditatap
mengalihkan pandangan.
Hilman tertawa samar dan merengkuh bahu Sandya
“iya cantik kita bakal ikutan bantuin mama dan papa untuk bikin Arga bahagia”
seraya mengedipkan matanya ke Roni.
“Terimakasih… kalian sungguh sahabat Arga yang baik, ayo teruskan makannya
nanti kita bicarakan lagi acara untuk besok !” kata Bu Rahma tersenyum puas.
Setelah membicarakan acara kejutan untuk Arga bersama pak Purnomo dan bu Rahma,
Roni dan Hilman pamit pulang dan Sandya mengantar mereka sampai di teras.
Sebelum memasuki mobil Roni menepuk pundak Sandya
“Sandya…,kenapa kamu melarang kami bicara yang sebenarnya” kata Roni.
“Mas Roni, saya tidak tahu harus berbuat apa, ini takdir saya mempunyai suami yang
tidak mengingat istrinya meskipun saya mencintai mas Arga. Saya harus merelakan
Anita menjadi pendamping mas Arga”. ucap Sandya lirih.
“Sandya…. kenapa kamu menerima saja semua ini,
kenapa kamu menyerah tanpa perlawanan sedikitpun….?, ayo Sandya …kita lawan,
kami siap membantu..!” desak Hilman memberi semangat.
“saya tidak punya amunisi untuk melawan, hati ini sudah hancur berkeping keping.
Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya jadi saya yang harus mempersiapkan
pesta pertunangan suami saya sendiri, Saya mencintai Arga tapi takdir menggariskan
Anita yang akan hidup bersamanya,” tangis Sandya tumpah dihadapan Roni dan
Hilman.
__ADS_1
“Terima kasih kalian sudah membantu Sandya, Saya akan belajar ikhlas meskipun terasa
sakit. Besok saat acara pertunangan berlangsung Sandya akan meninggalkan rumah
ini dan pulang ke desa.” ucap Sandya dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau pertunangan itu benar terjadi,
kita berdua akan mengantar kamu pulang ke desa”
ucap Roni pelan lalu mengusap kepala Sandya lembut.
“Terima kasih Mas Roni..., mas Hilman…, kalian baik sekali!” Cicit Sandya pelan
Roni dan Hilman berjalan masuk ke mobil dalam diam
eduanya tercekam dalam keharuan melihat nasib Sandya..
Ketika Roni akan menjalankan mobilnya sebuah taxi berhenti di depan rumah,
Arga dan Anita turun dari taxi
“Lho kalian mau kemana?” tanya Arga.
“Sorry Arga, kami pulang dulu ada tugas wajib dari mamamu yang harus diselesaikan
besok malam” ujar Roni seraya menjalankan mobilnya.
“Tugas wajib… Sandya apa maksud ucapan Roni tadi ?” Tanya Arga heran.
“Mas Arga bisa tanyakan pada Mama langsung, ada berita gembira buat kalian berdua”
ujar Sandya cuek lalu masuk kedalam rumah dan langsung berlari ke atas menuju
kamarnya.
Bu Rahma tersenyum bahagia melihat kedatangan Arga dan Anita.
Arga yang penasaran hendak mengejar Sandya dicegah oleh bu Rahma
“Arga…., Anita…! kemarilah ada yang mau mama sampaikan” ucap bu Rahma
“Ada apa Ma..? Tanya Arga
Bu Rahma tersenyum menatap Arga dan Anita yang
memandangi nya dengan tatapan heran
“Kalian bersiap siaplah, besok kalian akan bertunangan
hanya disaksikan keluarga dan teman-temanmu yang penting sah dan hikmat,
soal pestanya akan kita adakan pada resepsi pernikahan kalian
nanti” ucap Bu Rahma.
sedangkan Arga hanya melongo terlalu kaget dan marah dengan rencana dadakan
dari mamanya.
“Ma… kenapa harus buru-buru, aku belum siap bertunangan Ma,” protes Arga.
“Arga… kamu sudah dewasa sudah waktunya berumah tangga,
mama tidak mau kamu keluyuran lagi kehutan hutan,
Papa juga ingin kamu segera mengurus perusahaan kita. jangan
mengewakan Mama dan Papamu !” tegur Bu Rahma.
Ach… Arga mengusap usap rambutnya dengan kesal.
“Maaf… Anita aku mau istirahat dulu” ujar Arga langsung lari keatas
tanpa menghiraukan panggilan Anita dan teguran mamanya.
Bu Rahma lalu menghibur Anita agar bersabar menghadapi Arga
kemudian meminta Anita pulang untuk beristirahat.
Arga mengetuk pintu kamar Sandya beberapa kali karena tidak ada jawaban, Arga
langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Arga memandangi sekeliling
kamar yang hanya di terangi oleh lampu tidur, ada sebuah lilin yang menyala diatas
meja nakas disisi tempat tidur sedangkan Sandya yang terbaring dengan selimut
menutupi tubuhnya hingga leher.
“Sandya…”bisik Arga lirih lalu duduk disisi pembaringan, Sandya membuka matanya
memandang wajah Arga dengan pandangan sedih
lalu tangan kanannya meraba pipi Arga,
airmata sudah mengalir membasahi pipi wanita itu.
Dengan napas terengah engah Sandya mencurahkan isi hatinya.
“Mas Arga…, Ini malam terakhir kita bertemu,
besok kamu akan bertunangan dengan Anita, saya doakan
semoga mas Arga dan mbak Anita bahagia, Terima kasih mas Arga sudah bersikap
baik dan menolong Sandya. Maafkan Sandya kalau Sandya sudah membuat mas Arga
__ADS_1
susah. Besok setelah selesai acara pertunangan mas Arga saya akan keluar dari
rumah mas Arga dan saya akan pulang ke desa” ucap Sandya lirih.
Wajah Arga memucat hatinya terasa perih mendengar ucapan Sandya.
“Apa maksud ucapanmu!, Sandya kamu tidak boleh pergi …!
Aku mohon jangan tinggalkan aku…!” ucap Arga.
Arga menutup wajahnya dengan kedua tanganya, perasaannya kacau rasanya ingin
menjerit sekuatnya meneriakkan nama Sandya. Ada desir halus melecut hatinya, Dia
tidak mengerti mengapa hatinya hancur mendengar ucapan Sandya, kepalanya terasa
sakit memikirkan harus berpisah dengan Sandya, Perasaanya begitu dalam pada
Sandya, ia merasa tak bisa hidup tanpa wanita itu namun kenyataan yang diketahuinya
wanita itu sudah bersuami membuatnya frustasi.
“oh Tuhan apa yang harus aku lakukan ” Arga merintih pilu, mendengar suara Arga
tangis Sandya pecah tidak tertahankan lagi
“Mas Arga….” bisik Sandya lirih menatap dalam Arga.
“Sandya akan berusaha mengingatkan mas Arga untuk yang terakhir kali sebelum kita
berpisah untuk selamanya…., Mas Arga lihatlah lilin ini !” bisik Sandya seraya
mendekatkan tangan kanannya pada lilin yang menyala di atas nakas, diletakkannya
telapak tangannya di atas api dengan maksud memadamkannya seperti yang pernah wanita
itu lalukan disaat dimalam pertama pernikahannya dengan Arga.
Arga terbelalak memandang perbuatan Sandya dengan cepat dia meraih tangan yang
tersengat api.
“Sandya…apa yang kamu lakukan…?” teriak Arga
diraihnya tangan Sandya lalu dikecup perlahan.
Sekelebat terlintas sesuatu di ingatannya, Arga memejamkan mata sejenak.
“Oh....Tuhan…aku merasa pernah melihat semua ini tapi dimana….?”
Keluh Arga seraya mengecup telapak tangan Sandya yang menghitam
dan meniup-niupnya. Ada rasa bersalah yang tiba tiba hadir
saat ia mencium telapak tangan yang memerah, diciumnya cukup
lama tanpa terasa melelehkan air mata.
“Maafkan…aku yang melukaimu” menggenggam erat tangan itu
seakan berkata bahwa ia berjanji untuk membahagiakan wanita ini.
“Mas Arga…. apa kamu mengingat atau merasakan sesuatu sekarang?” bisik Sandya
menahan perih sekaligus terharu melihat perbuatan yang Arga lakukan sama persis
seperti yang pernah dilakukan pada saat malam pertama pernikahan mereka.
“Sandya…katakan padaku apa yang terjadi. Aku merasa mengalami dejavu”
Arga merengkuh Sandya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Dari segala kekuatan yang Sandya punya untuk tetap tegar di hari ini,
akhirnya semua sumber kekuatan itu habis
dan Sandya menangis dalam pelukan Arga. isaknya semakin kencang,
Inikah akhir jodohnya. Akankah pernikahannya berakhir sampai disini.
Arga mengeratkan pelukannya sungguh….
terasa sakit banget mendapati Sandya yang hancur
dan tenggelam dalam tangis di dadanya.
Arga membaringkan tubuh Sandya di ranjang dan tangannya bergerak
mengusap air mata di wajah wanita itu. matanya sayu menatap Sandya
lalu tanganya mengusap lembut rambut Sandya
dan mengecup lama kening wanita itu sebelum beranjak meninggalkan kamar.
Arga masuk ke kamarnya lalu merebahkan tubuh di ranjang memandang langit langit
kamar dengan tatapan kosong. Setelah dia meninggalkan Sandya di kamar tamu hatinya
tersiksa dengan segala hal yang entah apa…, Arga merasakan kenyamanan saat
bersama wanita itu, tapi Dia juga merasa bersalah karena wanita itu sudah
bersuami. Kemarahan, kekesalan dan ketidak berdayaan yang di rasakan Arga
membuat sakit di kepala Arga kambuh.
Sepanjang malam matanya sulit terpejam hingga menjelang pagi baru Arga terlelap
__ADS_1
kelelahan