
“Nak Arga mari menghadap Bapak !” pinta Pak Rakhim
agar Arga duduk berhadapan dengannya. Semua mata memandang kearah Pak
Rakhim menunggu apa yang akan dilakukannya.
Pak Rakhim menadahkan kedua tangannya memanjatkan doa dan berdzikir membaca
ayat-ayat Allah dengan hati tulus memohon pertolonganNYA. setelah selesai
ia kemudian mengucapkan Bismillah sambil menekankan kedua telapak tangannya
ke pelipis kepala Arga sambil terus membaca doa.
Arga memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing lama kelamaan
ia tak kuat menahan sakit dikepalanya setelah mengaduh Arga terkulai pingsan.
Semua orang yang berada diruangan itu terhenyak kaget.
“Arga..!!!” jerit bu Rahma. Pak Rakhim menyeka peluhnya nafasnya terengah engah,
kemudian ia beristighfar sambil menghela nafas panjang.
“Arga anakku kamu kenapa, bangunlah !” ratap Bu Rahma
sambil memeluk anaknya yang pingsan.
Anita bangkit segera memegang nadi tangan Arga, memeriksa kondisi laki laki itu.
“Tante…tenanglah Arga tidak apa-apa, dia seperti sedang tidur saja, nafas
dan denyut nadinya normal. kita tunggu saja
mungkin sebentar lagi bangun !” kata Anita menenangkan bu Rahma.
“Betul…. Arga hanya tidur untuk sementara, percayalah dia tidak apa-apa
mudah mudahan ingatannya kembali seperti semula,
baiklah… sebelum Arga sadar… kami mohon diri” kata Pak Rakhim
berdiri sambil meraih lengan putrinya.
“Pak Rakhim… apa tidak lebih baik bapak menunggu sampai Arga bangun
dan Bapak juga baru saja datang ke rumah kami,
menginaplah disini!” pinta Pak Purnomo.
“Terimakasih…. demi kebaikan nak Arga sebaiknya kami pergi
sebelum dia bangun ” kata Pak Rakhim. Di rengkuhnya bahu putrinya
dan menuntunnya untuk beranjak dari ruangan itu. “Mari kita pulang Nak….!”.
Sejenak Sandya menoleh memandang wajah Arga yang masih terlelep
kemudian ia berjalan memberi salam pada semua yang hadir dan pamit pulang,
setelah selesai menyalami semuanya Pak Rakhim memapahnya
berjalan keluar rumah. Roni dan Hilman membawakan tas besar
yang sudah disiapkan Sandya, menatap langkah Sandya dengan haru mereka
kesal karena merasa tak bisa menolong Sandya.
“Arga…kau sudah sadar Nak?” teriak Bu Rahma gembira
melihat anaknya membuka matanya.
“Mama....!”Arga membuka mata menatap heran wajah Ibunya
yang ada di dekatnya kemudian memandang sekelilingnya,
bagai orang yang kehilangan sesuatu ia lalu meraih bahu ibunya
kemudian mengguncang bahu Ibunya dengan kencang.
“Mama…mana Arum…? dimana dia…? Arum… Arum..!!!” teriak Arga
bangkit dari tidurnya kemudian berlari ke pintu luar mencari keberadaan Arumi.
Bu Rahma dan semua orang yang hadir menatap Arga dengan bingung
dan prihatin. Apa yang terjadi dengan Arga dan siapa Arum?
“Arga…! siapa Arum ?” tanya Bu Rahma keheranan.
“Arum..!!!! tunggu !” teriak Arga berlari kearah istrinya
yang akan keluar halaman ditemani Roni dan Hilman.
“Mas Arga…!” Arumi terkejut mendengar suara Arga yang memanggilnya.
Arumi membalikkan badan segera berlari kearah suaminya
dengan air mata berlinang,
keduanya saling berpelukan erat, Arumi menangis di dada suaminya.
Bu Rahma terperanjat menyaksikan Arga yang tiba tiba memeluk Sandya
begitupun dengan pak Purnomo, Anita dan kedua orang tuanya.
Mereka terdiam melihat tindakan Arga,
kecuali Roni dan Hilman yang tersenyum haru merasa lega akhirnya
sahabat mereka menemukan kebahagiaannya.
“Arum…istriku..!, ooh… terimakasih Tuhan… aku ingat semuanya sekarang !”
bisik Arga seraya mencium telinga dan pipi istrinya.
Ada rasa bersalah karena melupakan istrinya dan lalai menjaga perasaannya.
“Mas Arga…!” isak Arumi yang hanya bisa menyebut nama suaminya
karena terlalu bahagia.
“Sayang…maafkan aku… sudah membuat kamu sangat menderita
selama aku melupakanmu !” bisik Arga dengan mata basah.
Pak Rakhim memandang keduanya dengan senyum,
bibirnya bergerak mengucapkan Alhamdulillah.
Arga mengendurkan pelukannya dan menghampiri pak Rakhim mencium
__ADS_1
tangan mertuanya dengan takjim.
“Bapak… maafkan Arga” ucap Arga lirih, pak Rakhim tersenyum
menganggukkan kepala sambil menepuk bahu Arga.
Arga kembali merengkuh bahu Arumi dan membimbing istrinya masuk kerumah
dimana semuanya sudah menyambut di pintu dengan tatapan heran,
kecuali Roni dan Hilman keduanya menyeka matanya yang basah karena gembira.
“Arga…apa artinya semua ini ?” tanya Anita cemas.
“Mari semuanya kedalam aku akan menceritakan apa yang terjadi
dengan ku selama di hutan jati “ ucap Arga sambil menuju ruang tamu.
“Mama… Papa…. sebelum aku menceritakan semuanya,
kenalkan ini Arumi Sandyakala istriku… dan Pak Rakhim mertuaku !”
ucap Arga seraya memeluk bahu istrinya.
Pak Purnomo dan bu Rahma saling berpandangan lalu menatap Arga dan istrinya
“Oh Tuhan… Arga… kamu sudah menikah ?” seru Bu Rahma terkejut.
“Iya…Ma….. sekarang ingatanku sudah pulih, aku akan menceritakan
semua yang aku alami,” Arga menceritakan kisahnya pada orang tuanya
juga Anita dan kedua orang tuanya.
Mereka sudah berkumpul kembali diruangan yang sebelumnya disiapkan
untuk acara pertunangan Arga dan Anita.
“Sewaktu aku meninggalkan Roni dan Hilman di hutan jati aku naik ke bukit
karena aku sangat ingin melihat hutan dari atas bukit,
aku tidak memperdulikan teguran Roni dan Hilman yang mengingatkan larangan
pak Wongso untuk tidak masuk ke hutan jati barat yang ada dibalik bukit.
Tetapi belum sampai dipuncak, entah dari mana datangnya tiba-tiba seekor **** hutan
yang sangat besar mengikuti aku dari belakang, saking takutnya aku lari naik
sampai puncak bukit dengan nafas yang terengah engah, aku menengok kebelakang
ternyata **** itu masih mengikuti aku ketika kulihat ia mau menerkamku aku
kembali berlari menuruni bukit yang sangat terjal dimana dibawah nya aku melihat
sungai. Karena tergesa-gesa aku terpeleset badanku terbentur bentur pohon jati
dan jatuh terguling hingga ditepi sungai, kepalaku luka mataku berkunang-kunang,
aku sempat kesal dan marah kepada **** itu, aku berteriak kalau mau membunuhku
bunuh saja kenapa mengejar terus, aku putus asa karena untuk naik lagi kebukit
tak mungkin bisa kulakukan tubuhku terlalu lelah, kepalaku berat sekali
akhirnya aku lari ke sungai dan terjun ke dalam sungai, aku mencoba berenang
pangku seseorang dan dikelilingi gadis-gadis temannya ditepi sungai, kemudian
aku dibawa warga desa ke rumah pak Rakhim dan dirawat oleh Pak Rakhim dan Arumi
putrinya, saat itu aku mengalami amnesia aku tak ingat lagi masa laluku. Selama
Arumi merawatku, kami saling jatuh cinta lalu kami menikah. Beberapa hari yang
lalu datang paman Sunardi dan temannya… oh Tuhan !” Arga menghentikan ceritanya
dan menutup mukanya.
“Kenapa pamanmu Arga?” tanya Pak Purnomo
“Papa…maafkan Arga! paman Sunardi sudah meninggal di hutan jati.,
ternyata paman Sunardi datang karena ingin membunuhku,…
sore itu aku mengajak paman melihat pemandangan di hutan jati
sebelum kami ikut paman ke Jakarta. Namun saat sudah memasuki hutan
paman menodongkan pistol kearah ku yang berdiri beberapa meter di hadapan nya,
sebelum menembakku paman mengatakan kalau aku masih hidup
dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan segalanya
termasuk perusahaan dan warisan dari Papa,
namun bersamaan dengan letusan senjatanya, Parman sahabatku
yang mengikuti kami ke hutan jadi menghambur kearahku menghalangi peluru
yang dilepaskan paman sambil memperingatkanku kemudian tubuhnya jatuh dalam
pelukanku dengan peluru menembus punggungnya.
Sedang paman Sunardi yang marah karena tembakannya meleset
bermaksud menembak lagi tetapi tiba-tiba seekor **** hutan
yang pernah mengejarku menerjangnya dan menginjak injak serta merobek
perutnya dengan taringnya setelah itu ia juga mengejar teman paman dan
menginjaknya hingga tewas lalu ia kembali masuk hutan. Parman sahabatku
akhirnya meninggal dunia.
Keesokkan harinya Bapak meminta kami berangkat ke Jakarta
untuk bertemu kalian dan menjelaskan apa yang terjadi dengan paman Sunardi.
Namun sesampai di Jakarta aku dan Arumi mengalami kecelakaan kecil
tapi berakibat fatal, karena kecelakaan itu membuat aku melupakan Arum.
Ah..… istriku ! kamu tentu sangat menderita
dengan sikapku selama ini….. maafkan aku sayang !” Arga memeluk istrinya.
Semua yang mendengar cerita Arga tertegun dan terdiam.
__ADS_1
Pak Purnomon menunduk sedih mengingat nasib adiknya,
Arga memandang Ibunya yang juga memandangnya dengan air mata berlinang.
Anita memeluk bu Halimah dengan mata berkaca
dengan lembut bu Halimah membelai rambut putrinya.
Hati ikut merasakan perasaan hancur yang dirasakan putrinya. Sedang
Rahardiansyah memandang sayu istri dan putrinya.
“Mama…Papa…. maafkan Arga, Arga tidak bisa melanjutkan pertunangan dengan Anita,
aku tahu kalian kecewa dengan kelakuan anakmu ini yang tidak bisa memenuhi
keinginan Papa dan Mama, sekarang tolong ijinkan kami pulang kedesa, kami akan
mencoba hidup disana selamanya sebagai petani” kata Arga. Lalu ia memandang
wajah Arumi kedua saling pandang dan tersenyum, Arga mengecup kening istrinya
dengan penuh kasih.
“Arga… anakku… kamu hanya memikirkan dirimu sendiri
tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu,
kamu adalah anakku satu-satunya tentu saja aku dan Mamamu
akan menerima Arumi sebagai menantu di rumah ini ” kata pak Purnomo.
Dengan hati terharu Arga menghampiri Ayahnya dan memeluknya.
“Terimakasih
Papa...” bisik Arga, Pak Purnomo menepuk-nepuk punggung anaknya matanya
berkaca-kaca karena bahagia. Kemudian Arga menghampiri dan memeluk Mamanya yang
menangis sambil menciumi pipinya karena gembira.
Arga kemudian membimbing istrinya mendekati orang tuanya,
Arumi menangis dipelukan mertuanya
yang memeluknya dan membelai rambutnya dengan rasa sayang.
Arga mendekati Anita dan meraih bahunya. ”Anita.. maafkan saya,” ucap Arga
Anita memeluk Arga dan menumpahkan tangisnya
di dada lelaki yang di sayanginya.
“Anita… aku akan tetap menyayangimu sebagai adikku,
aku yakin diluar sana ada seseorang yang kelak bisa membahagiakanmu”
ucap Arga tulus sambil mengusap lembut rambut Anita.
Arumi mendekati mereka dengan wajah sendu
”mbak Anita maafkan Arum” cicit Arumi.
Anita melepaskan pelukannya pada Arga dan memeluk Arumi dengan erat.
“Arum… aku yang minta maaf ingin mengambil suamimu
dan sudah membuatmu sedih” ucap Anita.
Sejak awal Anita merasa Arga tidak mencintainya. Arga hanya menyayanginya
sebagai teman kecilnya, namun ketika Arga melamar dua bulan lalu
Anita terlalu bahagia menerima lamaran dari teman kecilnya
melupakan kebenaran perasaan Arga yang menganggapnya adik tersayang
bukan kekasih tersayang. Kini Arga sudah menemukan cinta sejatinya
kekasih tersayangnya. Dan dia harus melepaskan lamaran cinta teman kecil.
“Seharusnya kamu cerita sama aku kalau si pikun ini suami kamu,
dasar orang utan sama istri sendiri tidak ingat” goda Anita
dengan mata yang masih berkaca membuat Arumi dan seisi ruangan tersenyum.
Arga tersenyum menepuk kepala Anita dengan sayang
Pak Purnomo mendekati sahabatnya pak Rahardiansyah
“maafkan aku tidak bisa melanjutkan rencana kita” ucap pak Purnomo.
Pak Rahatdiansyah memeluk sahabatnya dan menepuk punggung pak Puromo
. “Anak anak kita lebih bahagia menjadi teman” ucap pak Rahardiansyah.
Bu Rahma dan bu Halimah pun saling berpelukan penuh haru.
Kejadian yang di alami Arga dan pulihnya ingat Arga membuat
acara pertunangan Arga dan Anita tidak jadi dilaksanakan
namun pembatalan pertunangan Arga dan Anita itu tidak
membuat persahabatan antara kedua keluarga terputus.
Dengan jiwa besar Pak Rahardiansyah memaklumi
dan tetap menjalin persahabatan mereka
meski batal menyatukan anak-anaknya, demikian pula Anita
meskipun merasa sedih, tapi hatinya mengakui bahwa selama ini
Arga tidak mencintai dirinya.
Roni dan Hilman saking gembiranya memeluk sahabatnya bersamaan.
“Arga akhirnya jadi juga loe nikahin anak kepala desa” ucap Roni
yang di sambut tawa ceria Arga dan Hilman.
“Iya sekarang gue nggak perlu kelayapan ke hutan lagi, bidadari gue dah ada di sini”
seloroh Arga sambal menarik lengan Arumi dan merengkuh lalu mengecup keningnya.
Arumi tersenyum malu menerima perlakuan suaminya di depan teman temannya.
Tawa mereka pun terdengar memenuhi ruangan pesta.
__ADS_1