Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 28


__ADS_3

 “Nak Arga mari menghadap Bapak !” pinta Pak Rakhim


agar Arga duduk berhadapan dengannya. Semua mata memandang kearah Pak


Rakhim menunggu apa yang akan dilakukannya.


Pak Rakhim menadahkan kedua tangannya memanjatkan doa dan berdzikir membaca


ayat-ayat Allah dengan hati tulus memohon pertolonganNYA. setelah selesai


ia kemudian  mengucapkan Bismillah sambil menekankan kedua telapak tangannya


ke pelipis kepala Arga sambil terus membaca doa.


Arga memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing lama kelamaan


ia tak kuat menahan sakit dikepalanya setelah mengaduh Arga terkulai pingsan.


Semua orang yang berada diruangan itu terhenyak kaget.


“Arga..!!!” jerit bu Rahma. Pak Rakhim menyeka peluhnya nafasnya terengah engah,


kemudian ia beristighfar sambil menghela nafas panjang.


“Arga anakku kamu kenapa, bangunlah !” ratap Bu Rahma


sambil memeluk anaknya yang pingsan.


Anita bangkit segera memegang nadi tangan Arga, memeriksa kondisi laki laki itu.


“Tante…tenanglah Arga tidak apa-apa, dia seperti sedang tidur saja, nafas


dan denyut nadinya normal. kita tunggu saja


mungkin sebentar lagi bangun !” kata Anita menenangkan bu Rahma.


“Betul…. Arga hanya tidur untuk sementara, percayalah dia tidak apa-apa


mudah mudahan ingatannya kembali seperti semula,


baiklah… sebelum Arga sadar… kami mohon diri” kata Pak Rakhim


berdiri sambil meraih lengan putrinya.


“Pak Rakhim… apa tidak lebih baik bapak menunggu sampai Arga bangun


dan Bapak juga baru saja datang ke rumah kami,


menginaplah disini!” pinta Pak Purnomo.


“Terimakasih…. demi kebaikan nak Arga sebaiknya kami pergi


sebelum dia bangun ” kata Pak Rakhim. Di rengkuhnya bahu putrinya


dan menuntunnya untuk beranjak dari ruangan itu. “Mari kita pulang Nak….!”.


 Sejenak Sandya menoleh memandang wajah Arga yang masih terlelep


kemudian ia berjalan memberi salam pada semua yang hadir dan pamit pulang,


setelah selesai menyalami semuanya Pak Rakhim memapahnya


berjalan keluar rumah. Roni dan Hilman membawakan tas besar


yang sudah disiapkan Sandya, menatap langkah Sandya dengan haru mereka


kesal karena merasa tak bisa menolong Sandya.


“Arga…kau sudah sadar Nak?” teriak Bu Rahma gembira


melihat anaknya membuka matanya.


“Mama....!”Arga membuka mata menatap heran wajah Ibunya


yang ada di dekatnya kemudian memandang sekelilingnya,


bagai orang yang kehilangan sesuatu ia lalu meraih bahu ibunya


kemudian mengguncang bahu Ibunya dengan kencang.


“Mama…mana Arum…? dimana dia…? Arum… Arum..!!!” teriak Arga


bangkit dari tidurnya kemudian berlari ke pintu luar mencari keberadaan Arumi.


Bu Rahma dan semua orang yang hadir menatap Arga dengan bingung


dan prihatin. Apa yang terjadi dengan Arga dan siapa Arum?


“Arga…! siapa Arum ?” tanya Bu Rahma keheranan.


“Arum..!!!! tunggu !” teriak Arga berlari kearah istrinya


yang akan keluar halaman ditemani Roni dan Hilman.


“Mas Arga…!” Arumi terkejut mendengar suara Arga yang memanggilnya.


Arumi membalikkan badan segera berlari kearah suaminya


dengan air mata berlinang,


keduanya saling berpelukan erat, Arumi menangis di dada suaminya.


Bu Rahma terperanjat menyaksikan Arga yang tiba tiba memeluk Sandya


begitupun dengan pak Purnomo, Anita dan kedua orang tuanya.


Mereka terdiam melihat tindakan Arga,


kecuali Roni dan Hilman yang tersenyum haru merasa lega akhirnya


sahabat mereka menemukan kebahagiaannya.


“Arum…istriku..!, ooh… terimakasih Tuhan… aku ingat semuanya sekarang !”


bisik Arga seraya mencium telinga dan pipi istrinya.


Ada rasa bersalah karena melupakan istrinya dan lalai menjaga perasaannya.


“Mas Arga…!” isak Arumi yang hanya bisa menyebut nama suaminya


karena terlalu bahagia.


“Sayang…maafkan aku… sudah membuat kamu  sangat menderita


selama aku melupakanmu !” bisik Arga dengan mata basah.


Pak Rakhim memandang keduanya dengan senyum,


bibirnya bergerak mengucapkan Alhamdulillah.


Arga mengendurkan pelukannya dan menghampiri pak Rakhim mencium

__ADS_1


tangan mertuanya dengan takjim.


“Bapak… maafkan Arga” ucap Arga lirih, pak Rakhim tersenyum


menganggukkan kepala sambil menepuk bahu Arga.


Arga kembali merengkuh bahu Arumi dan membimbing istrinya masuk kerumah


dimana semuanya sudah menyambut di pintu dengan tatapan heran,


kecuali Roni dan Hilman keduanya menyeka matanya yang basah karena gembira.


“Arga…apa artinya semua ini ?” tanya Anita cemas.


“Mari semuanya kedalam aku akan menceritakan apa yang terjadi


dengan ku selama di hutan jati “ ucap Arga sambil menuju ruang tamu.


“Mama… Papa…. sebelum aku menceritakan semuanya,


kenalkan ini Arumi Sandyakala istriku… dan Pak Rakhim mertuaku !”


ucap Arga seraya memeluk bahu istrinya.


Pak Purnomo dan bu Rahma saling berpandangan lalu menatap Arga dan istrinya


“Oh Tuhan… Arga… kamu sudah menikah ?” seru Bu Rahma terkejut.


“Iya…Ma….. sekarang ingatanku sudah pulih, aku akan menceritakan


semua yang aku alami,” Arga menceritakan kisahnya pada orang tuanya


juga Anita dan kedua orang tuanya.


Mereka sudah berkumpul kembali diruangan yang sebelumnya disiapkan


untuk acara pertunangan Arga dan Anita.


 “Sewaktu aku meninggalkan Roni dan Hilman di hutan jati aku naik ke bukit


karena aku sangat ingin melihat hutan dari atas bukit,


aku tidak memperdulikan teguran Roni dan Hilman yang mengingatkan larangan


pak Wongso untuk tidak masuk ke hutan jati barat yang ada dibalik bukit.


Tetapi belum sampai dipuncak, entah dari mana datangnya tiba-tiba seekor **** hutan


yang sangat besar mengikuti aku dari belakang, saking takutnya aku lari naik


sampai puncak bukit dengan nafas yang terengah engah, aku menengok kebelakang


ternyata **** itu masih mengikuti aku ketika kulihat ia mau menerkamku aku


kembali berlari menuruni bukit yang sangat terjal dimana dibawah nya aku melihat


sungai. Karena tergesa-gesa aku terpeleset badanku terbentur bentur pohon jati


dan jatuh terguling hingga ditepi sungai, kepalaku luka mataku berkunang-kunang,


aku sempat kesal dan marah kepada **** itu, aku berteriak kalau mau membunuhku


bunuh saja kenapa mengejar terus, aku putus asa karena untuk naik lagi kebukit


tak mungkin bisa kulakukan tubuhku terlalu lelah, kepalaku berat sekali


akhirnya aku lari ke sungai dan terjun ke dalam sungai, aku mencoba berenang


pangku seseorang dan dikelilingi gadis-gadis temannya ditepi sungai, kemudian


aku dibawa warga desa ke rumah pak Rakhim dan dirawat oleh Pak Rakhim dan Arumi


putrinya, saat itu aku mengalami amnesia aku tak ingat lagi masa laluku. Selama


Arumi merawatku, kami saling jatuh cinta lalu kami menikah. Beberapa hari yang


lalu datang paman Sunardi dan temannya… oh Tuhan !” Arga menghentikan ceritanya


dan menutup mukanya.


“Kenapa pamanmu Arga?” tanya Pak Purnomo


“Papa…maafkan Arga! paman Sunardi sudah meninggal di hutan jati.,


ternyata paman Sunardi datang karena ingin membunuhku,…


sore itu aku mengajak paman melihat pemandangan di hutan jati


sebelum kami ikut paman ke Jakarta. Namun saat sudah memasuki hutan


paman menodongkan pistol kearah ku yang berdiri beberapa meter di hadapan nya,


sebelum menembakku paman mengatakan kalau aku masih hidup


dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan segalanya


termasuk perusahaan dan warisan dari Papa,


namun bersamaan dengan letusan senjatanya, Parman sahabatku


yang mengikuti kami ke hutan jadi menghambur kearahku menghalangi peluru


yang dilepaskan paman sambil memperingatkanku kemudian tubuhnya jatuh dalam


pelukanku dengan peluru menembus punggungnya.


Sedang paman Sunardi yang marah karena tembakannya meleset


bermaksud menembak lagi tetapi tiba-tiba seekor **** hutan


yang pernah mengejarku menerjangnya dan menginjak injak serta merobek


perutnya dengan taringnya setelah itu ia juga mengejar teman paman dan


menginjaknya hingga tewas lalu ia kembali masuk hutan. Parman sahabatku


akhirnya meninggal dunia.


Keesokkan harinya Bapak meminta kami berangkat ke Jakarta


untuk bertemu kalian  dan menjelaskan apa yang terjadi dengan paman Sunardi.


Namun sesampai di Jakarta aku dan Arumi mengalami kecelakaan kecil


tapi berakibat fatal, karena kecelakaan itu membuat aku melupakan Arum.


Ah..… istriku ! kamu tentu sangat menderita


dengan sikapku selama ini….. maafkan aku sayang !” Arga memeluk istrinya.


Semua yang mendengar cerita Arga tertegun dan terdiam.

__ADS_1


Pak Purnomon menunduk sedih mengingat nasib adiknya,


Arga memandang Ibunya yang juga memandangnya dengan air mata berlinang.


Anita memeluk bu Halimah dengan mata berkaca


dengan lembut bu Halimah membelai rambut putrinya.


Hati ikut merasakan perasaan hancur yang dirasakan putrinya. Sedang


Rahardiansyah memandang sayu istri dan putrinya.


“Mama…Papa…. maafkan Arga, Arga tidak bisa melanjutkan pertunangan dengan Anita,


aku tahu kalian kecewa dengan kelakuan anakmu ini yang tidak bisa memenuhi


keinginan Papa dan Mama, sekarang tolong ijinkan kami pulang kedesa, kami akan


mencoba hidup disana selamanya sebagai petani” kata Arga. Lalu ia memandang


wajah Arumi kedua saling pandang dan tersenyum, Arga mengecup kening istrinya


dengan penuh kasih.


“Arga… anakku… kamu hanya memikirkan dirimu sendiri


tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu,


kamu adalah anakku satu-satunya tentu saja aku dan Mamamu


akan  menerima Arumi sebagai menantu di rumah ini ” kata pak Purnomo.


Dengan hati terharu Arga menghampiri Ayahnya dan memeluknya.


“Terimakasih


Papa...” bisik Arga, Pak Purnomo menepuk-nepuk punggung anaknya matanya


berkaca-kaca karena bahagia. Kemudian Arga menghampiri dan memeluk Mamanya yang


menangis sambil menciumi pipinya karena gembira.


Arga kemudian membimbing istrinya mendekati orang tuanya,


Arumi menangis dipelukan mertuanya


yang memeluknya dan membelai rambutnya dengan rasa sayang.


Arga mendekati Anita dan meraih bahunya. ”Anita.. maafkan saya,” ucap Arga


Anita memeluk Arga dan menumpahkan tangisnya


di dada lelaki yang di sayanginya.


“Anita… aku akan tetap menyayangimu sebagai adikku,


aku yakin diluar sana ada seseorang yang kelak bisa membahagiakanmu”


ucap Arga tulus sambil mengusap lembut rambut Anita.


Arumi mendekati mereka dengan wajah sendu


”mbak Anita maafkan Arum” cicit Arumi.


Anita melepaskan pelukannya pada Arga dan memeluk Arumi dengan erat.


“Arum… aku yang minta maaf ingin mengambil suamimu


dan sudah membuatmu sedih” ucap Anita.


Sejak awal Anita merasa Arga tidak mencintainya. Arga hanya menyayanginya


sebagai teman kecilnya, namun ketika Arga melamar dua bulan lalu


Anita terlalu bahagia menerima lamaran dari teman kecilnya


melupakan kebenaran perasaan Arga yang menganggapnya adik tersayang


bukan kekasih tersayang. Kini Arga sudah menemukan cinta sejatinya


kekasih tersayangnya. Dan dia harus melepaskan lamaran cinta teman kecil.


“Seharusnya kamu cerita sama aku kalau si pikun ini suami kamu,


dasar orang utan sama istri sendiri tidak ingat” goda Anita


dengan mata yang masih berkaca membuat Arumi dan seisi ruangan tersenyum.


Arga tersenyum menepuk kepala Anita dengan sayang


Pak Purnomo mendekati sahabatnya pak Rahardiansyah


“maafkan aku tidak bisa melanjutkan rencana kita” ucap pak Purnomo.


Pak Rahatdiansyah memeluk sahabatnya dan menepuk punggung pak Puromo


. “Anak anak kita lebih bahagia menjadi teman” ucap pak Rahardiansyah.


Bu Rahma dan bu Halimah pun saling berpelukan penuh haru.


Kejadian yang di alami Arga dan pulihnya ingat Arga membuat


acara pertunangan Arga dan Anita tidak jadi dilaksanakan


namun pembatalan pertunangan Arga dan Anita itu tidak


membuat persahabatan antara kedua keluarga terputus.


Dengan jiwa besar Pak Rahardiansyah memaklumi


dan tetap menjalin persahabatan mereka


meski batal menyatukan anak-anaknya, demikian pula Anita


meskipun merasa sedih, tapi hatinya mengakui bahwa selama ini


Arga tidak mencintai dirinya.


Roni dan Hilman saking gembiranya memeluk sahabatnya bersamaan.


“Arga akhirnya jadi juga loe nikahin anak kepala desa” ucap Roni


yang di sambut tawa ceria Arga dan Hilman.


“Iya sekarang gue nggak perlu kelayapan ke hutan lagi, bidadari gue dah ada di sini”


seloroh Arga sambal menarik lengan Arumi dan merengkuh lalu mengecup keningnya.


Arumi tersenyum malu menerima perlakuan suaminya di depan teman temannya.


Tawa mereka pun terdengar memenuhi ruangan pesta.

__ADS_1


__ADS_2