
Pagi-pagi Pak Rakhim memutuskan untuk menelpon keluarga Arga di kota, Bapak berangkat ke
kota untuk menjual hasil kebun sambil mencari warnet.
Arga dan Arumi mengantar bapak sampai pangkalan mobil yang akan membawanya ke kota.
“Bapak…jangan lupa bawakan kami oleh oleh!” pinta Arumi manja berusaha menutupi keresahan hatinya,
Pak Rakhim tersenyum seraya menganggukkan kepala
“Kalian baik baik dirumah ya !” pesannya sambil melambaikan tangan ketika mobil yang
ditumpangi mulai berangkat.
Setelah mobil yang ditumpangi bapak lenyap dari pandangan, Anita dan Arga berjalan kembali
menuju rumah tanpa ada yang berbicara tenggelam dalam pikiran masing masing.
Suasana hati mereka masih berkabut ada kekhawatiran dihati keduanya.
Arga khawatir kalau keluarganya yang akan dihubungi bapak akan membuat dia harus
berpisah dengan Arumi, Arga menggenggam tangan istrinya dan menautkan jemarinya.
Arumi memandangi suami dengan senyum lebar berusaha untuk mencairkan
suasana hati hati mereka.
“Mas Arga… aku ingin mandi ke sungai, ayo kita berenang ?” rajuk Arumi pada suaminya.
“ayo sayang……aku juga ingin berenang !”.Arga memeluk bahu istrinya. Keduanya berjalan
menuju ke sungai dengan senyum ceria mencoba melupakan kekalutan yang mereka rasakan.
Pagi itu di sungai sudah dipenuhi oleh beberapa gadis teman Arumi yang sedang mandi
maupun mencuci pakaian.
Arga dan Arumi memilih tempat yang agak jauh dari gadis gadis desa tersebut.
Keduanya berjalan kearah batu besar yang ada di sungai kemudian duduk diatas batu.
Mereka bercengkrama sambil menikmati sejuknya udara pagi,
Arumi memainkan kakinya kedalam sungai dan menyipratkan air sungai ke arah suaminya
dengan tertawa riang yang dibalas oleh Arga yang menyipratkan air yang diraup dengan tangannya.
Keduanya larut dalam canda dan kebahagian. Arga melepaskan baju yang dipakainya
dan terjun ke sungai, Namun tiba tiba dia tertegun memandang aliran air
yang mengalir deras kearahnya sekelebat ingatannya seperti
pernah berada di tempat lalu mengibaskan wajahnya
“Mas Arga….ada apa, mas tidak bisa berenang?” goda Arumi yang melihat Arga
memandangi aliran sungai sambil menggelengkan kepala.
“Arum….sekilas tadi aku merasa seperti pernah berenang disungai ini” sahutnya.
“Mas memang pernah berenang disini, karena aku dan teman teman menemukan mas hanyut
disungai ini dan terdampar di bebatuan sebelah sana dalam keadaan pingsan dan
kepalamu terluka, apa sekarang mas sudah ingat mengapa sampai hanyut ?”. Arumi menatap
suaminya dalam. Arga menggelengkan kepala.
“Entahlah…..,aku masih tidak ingat sama sekali, ah sudahlah tidak usah dibicarakan lagi sayang,”
mereka kembali bermain air.
“Arum lihat ….bukankah itu temanmu Wati dan Parman ?”.Arga menunjuk dua orang yang
berjalan ke arah sisi lain sungai.
__ADS_1
“Wati….!!!!” teriak Arum memanggil sahabatnya yang sedang berjalan bersama Parman.
“Parman, kemari…!!!” Arga juga berteriak memanggil Parman seraya melambaikan tangannya.
Baik Wati maupun Parman menengok kearah suara yang memanggilnya
keduanya saling pandang kemudian tersenyum sambil
mendatangi pasangan pengantin yang selalu bahagia itu.
“Hai….pengantin baru…rupanya sedang bulan madu di sungai ya….!” sahut Wati menggoda Arga dan
Arumi
“Wati..! Parman..! kesini kita berendam bersama!” ajak Arumi
“Ayolah….Parman..terjunlah…kita berenang kamu tidak takut air khan ?” goda Arga
“Ayo…Wat kita terjun! masa orang desa dibilang takut air ” kata Parman tertawa
seraya masuk ke air setelah melepaskan kaos yang dipakaiannya.
“Parman…ayo kita berenang keatas melawan arus!” tantang Arga ke Parman.
“Ayo kita berlomba!”, keduanya lalu berlomba berenang menuju hulu.
“Hai….hati-hati ! jangan terlalu jauh berenangnya!” teriak Arumi.
“Hahaha…Arga lihat tuh istrimu, takut suaminya hanyut” goda Parman
Arumi cemberut mendengar godaan Parman
“Arum…bagaimana rasanya jadi pengantin baru” goda Wati.
“Ya….lebih mengasyikkanlah ketimbang sendirian, makanya Wati kamu nunggu apalagi, cepat
menikah!” Wati meringis mendengar Arumi
“Wat…aku lihat kamu makin dekat sama Parman, kalian keliatan serasi,
bahagia, aku akan bahagia kalau Parman bisa menjadi suamimu ” ujar Arumi serius.
“Arum….aku sebenarnya suka sama Parman dan berharap Parman mencintaiku, tetapi cintanya
hanya untukmu ” bisik Wati pelan dan wajah yang tiba tiba merona malu. Arumi
memandangi teman baiknya merasa bersalah.
“Wati….aku menyayangi Parman seperti seorang adik kepada kakaknya,
aku percaya….kalau kamu dapat lebih membahagiakannya dan
bersamamu ia akan dapat melupakan aku ”. Arumi berharap kedua sahabatnya
dapat menjadi pasangan yang berbahagia.
“Yah…doa kan mudah mudahan kami berjodoh.” ucap Wati lirih memandang ke arah Parman ,
sejenak Arumi tersenyum menatap sahabatnya lalu ia mengalihkan pandangannya kearah suaminya
di kejauhan yang kelihatan sedang berenang dan ngobrol dengan Parman.
“Parman….kamu hebat, aku tidak sanggup mengalahkanmu melawan arus sungai yang deras ini” puji
Arga yang tidak dapat menandingi kekuatan Parman dalam berenang.
“Yah…tapi dalam cinta, aku kalah…kamu lebih hebat ” sahutnya sambil tertawa.
“Parman….maaf kan kami, aku tidak berniat melukaimu karena aku mencintai Arumi, aku tahu
kalau kamu juga mencintainya, Arum menceritakan tentang kamu saat malam pernikahan kami
tapi sekarang Arum adalah istriku, aku berharap kamu bisa menerima ini
dan kita tetap bisa berteman”. Tegas Arga
“Sudahlah Arga, aku sudah merelakan Arum menjadi milikmu, kami memang tidak berjodoh, Arum
__ADS_1
sudah ku anggap seperti adikku, jadi kita sekarang berteman okey?” ujar Parman seraya mengajak
berjabat tangan yang kemudian disambut Arga dengan gembira.
“Arga…bagaimana malam pengantinmu..?” tanya Parman sambil tersenyum.
“Yah…luar biasa indahnya, kuharap kamu segera menyusul Man !
bagaimana dengan Wati sepertinya kalian cocok”.Arga mencoba menggoda Parman.
Parman tertawa kencang meski terdengar seakan dipaksakan, setelah menyelam sebentar
kemudian ia mengajak Arga kembali menemui Arumi dan Wati.
“Hai….kalian asyik banget ngobrolnya, apa saja sih yang dibicarakan ?” tanya Arumi penasaran.
“Mau tahu saja, urusan laki-laki….. rahasia dong… ya kan Arga ?” sahut Parman tertawa.
Arga mengangguk tertawa kemudian segera menghampiri Arumi,
di tatapnya wajah istrinya yang terlihat memucat kedinginan
“Sayangku…..kamu sudah kedinginan lihat bibirmu sudah terlihat pucat,”
Arga mengecup bibir istrinya singkat. Parman dan Wati yang melihat adegan mesra
temannya saling berpandangan lalu kedua hanya tersenyum masam.
“wow…adegan mesranya dirumah aja, bikin iri aja nggak tahu nih disini masih pada
jomblo” teriak parman.
“iya nih mas Arga… bikin iri aja” timpal Wati
Pasangan pengantin baru tertawa bersama ”makanya kalian cepat nikah” Arga memeluk
istrinya sambil terkekeh, membuat Parman dan Wati makin mengerucutkan bibir kesal.
Setelah mencium bibir istrinya Arga naik ke atas batu besar yang terdapat dipinggir sungai
dan mengeringkan tubuhnya dengan merebahkan badannya berjemur diatas batu tersebut
memandangi istrinya yang masih bermain air. Dan membiarkannya Arumi
berbicara dengan Parman dan Wati.
Parman mendekati Arumi yang masih bermain air disamping Wati, sementara Wati asik
memainkan kaki di dalam sungai.
“Arum….kamu tentu bahagia, Arga sangat mencintaimu” kata Parman
seraya memandang mesra wajah ayu yang selalu hadir dalam mimpinya.
“Parman…..sekarang aku sudah merasa bahagia dan
aku mau kamu juga merasakan bahagia,” sahut Arumi
“Parman…aku tahu Wati mencintaimu…menikahlah dengannya,
aku yakin kau akan menemukan cinta yang kamu dambakan ” bisik Arumi
Parman hanya tersenyum tipis “Mudah-mudahan aku bisa, Arum! naiklah keatas suamimu
sudah menunggumu, aku juga tak ingin kamu sakit, karena kedinginan” pintanya lirih.
Arum menurut dan setelah pamit pada Wati ia segera berjalan ke tepi sungai menyusul Arga.
“mas Arga…,ayo pulang aku sudah lapar” Arum meraih lengan Arga dan menggayut manja.
Arga tertawa bahagia menyambut istrinya.
“Ayo….sayang kita pulang, tuh lihat wajah kamu pucat sepertinya sudah kelaparan” Arga
merangkul istrinya. Keduanya berjalan pulang meninggalkan Parman dan Wati.
*
__ADS_1