
Dari kota Purwokerto Arga dan Arumi menaiki bus ke Jakarta. Sepanjang perjalanan
mereka lebih banyak terdiam tenggelam dengan pikirannya masing masing, Arumi
merebahkan kepalanya dibahu suaminya perasaanya gelisah membayangkan apa yang
akan terjadi sesampainya dirumah suaminya. Arga menggenggan tangan istrinya,
Dia juga merasakan kegelisahan Arumi dan berusaha menenangkannya
“Tudurlah…..kita baru akan sampai Jakarta besok pagi” Arga mengusap kepala istrinya.
Tidak ada jawaban dari Arumi matanya terpejam tapi pikirannya berlari entah jauh kemana.
Ada rasa yang tidak di mengerti membuatnya merasa takut.
Pukul delapan pagi bus yang ditumpangi Arga dan istrinya sampai di salah satu terminal
bus di Jakarta. Setelah meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal dan kaku
setelah semalaman duduk dalam bus, Arga dan Arumi bangun dari kursi mereka
dan melangkah keluar dari bus.
Suasana terminal pagi itu sangat ramai hingga untuk lewat pun harus sabar mengantri
karena banyaknya penumpang yang masih duduk-duduk diteras terminal. Arumi
berjalan sambil memegang lengan suaminya yang menjinjing tas pakaian. Ketika
keduanya sedang berjalan di antara bus-bus yang parkir menuju pintu keluar terminal dari arah
belakang mereka terdengar keributan dan teriakan:
“Tangkap….copet!….kejar !”. Arumi yang lebih dulu menoleh kebelakang
dan melihat seorang laki-laki dikejar banyak orang menuju kearahnya,
ia segera merapatkan badannya ke badan bus yang ada disampingnya.
Tapi lain halnya dengan Arga yang memandang fokus kedepan
dan tidak menyadari keadaan dibelakangnya, sekilas ia mendengar teriakan istrinya:
“Mas Arga…awas !!” Namun belum sempat menoleh kearah istrinya, ia merasa badannya
terdorong dengan keras kesamping membentur bus. Arga mengaduh sambil memegang
kepalanya yang terbentur tiang besi, tasnya terlepas dari tangannya, ia mengerjap
ngerjapkan matanya kemudian pandangan menjadi gelap dan tubuhnya jatuh terkulai.
Arumi yang menyaksikan suaminya terjatuh menjadi histeris membuat perhatian
orang orang di terminal mengarah pada Arumi dan Arga.
“Mas Arga…. !!” Arumi berteriak memanggil manggil suami nya yang terkulai pingsan
dipelukannya. Seorang petugas terminal berseragam DLLAJR yang melihat kerumunan
orang yang mengelilingi Arumi segera mendatanginya untuk menolong dan membubarkan
kerumunan orang di sekitar Arumi. Petugas itu segera minta Arumi membawa tasnya
lalu memanggil petugas lainnya untuk membantu mengangkat Arga kedalam kantor
terminal. Atas anjuran kepala Terminal Arga segera dibawa ke rumah sakit maka
dengan menggunakan mobil DLLAJR.
Arga di bawa ke Rumah Sakit yang terletak tidak jauh dari terminal bus tersebut.
Sepanjang jalan Arumi menangis dan memeluk suaminya yang diam tak bergerak. Arumi
__ADS_1
merasa panik wajah nya terlihat pucat pasi, ia baru pertama kali berada di kota
ini dan harus mengalami kejadian buruk tanpa ada seseorang yang ia kenal selain
suaminya sedangkan sekarang suaminya mengalami kecelakaan yang entah bagaimana
keadaanya. Tubuhnya gemetar dan ia sangat ketakutan.
“mas Arga….bangun mas, kita sudah di Jakarta ayo temui mama dan papa, jangan
tinggalkan Arum” rintihan pelan Arumi bisikan di telinga Arga.
Sampai di Rumah sakit Arga langsung diterima di ruang rawat sementara unit gawat
darurat. Arumi menunggu diluar selama Arga ditangani Dokter
sambil memeluk tas pakaiannya dengan perasaan cemas tubuhnya gemetar,
wajah wanita itu sudah tidak karuan, ada guratan yang
terpancar di sana hatinya diliputi kebingungan dan ketakutan tidak tahu apa
yang harus dia lakukan.
Ketika dokter yang memeriksa Arga keluar ia segera menanyakan keadaan suaminya.
“Nyonya….suami anda belum sadar tapi keadaan umumnya bagus jadi tidak ada yang perlu
dikuatirkan sudah diberi obat mungkin sebentar lagi akan siuman, silahkan anda
menunggunya didalam.” Dokter itu menjelaskan pada Arumi.
Arumi segera masuk menemui Arga dan duduk disisi brankar tempat Arga terbaring dengan
selang infus ditangan isaknya masih meramaikan ruangan.
Dipandangnya wajah suami nya sekuat tenaga menahan tangis.
Tangannya gemetar membuka tas pakaiannya dan mengambil handuk kecil lalu
penuh kasih sayang, selesai mengelap ia mengusap rambut suaminya. Wajah Arga masih
terlihat pucat.
Tak berapa lama Arga membuka matanya, Arga tampak kebingunan memandang sekitarnya,
Arga tertegun dan merasa heran melihat seorang wanita cantik yang duduk disisi
tempat tidurnya sedang memandangnya dengan pandangan mata berbinar binar
gembira meskipun pipinya basah oleh air mata.
“Alhamdulillah Mas Arga…..kamu sudah sadar…oh syukurlah ”. ucap Arumi merasa lega
melihat Arga yang sudah membuka matanya lalu memeluk suaminya
“Si...siapa…kamu..? kamu…kenal aku ?” tanya Arga keheranan dirinya dipeluk mesra melepaskan
pelukannya. Bagai kejatuhan berkarung karung beban berat Arumi terhenyak saat
Arga melepaskan pelukkannya, tubuhnya seketika kaku.
“Mas Arga! Kamu tidak apa apa kan?” cicit Arumi sendu melihat pandangan Arga
yang bingung dan tidak lagi mengenalinya.
“Aku…dimana…?” Arga segera bangun dan duduk di brankarnya
setelah Arumi melepaskan pelukannya. Arumi hanya terdiam,
pikirannya tiba tiba kosong, wanita itu bingung mengetahui
keadaan suaminya yang tidak mengenalnya lagi saat tersadar dari pingsannya
__ADS_1
tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Kamu di rumah sakit…karena pingsan ”. ucap Arumi lirih
“Kamu kenal aku…, pasti kamu juga kenal teman temanku, di mana Roni dan Hilman apa
mereka masih menunggu ku dihutan jati?”.Arga bertanya dengan tidak sabar
“Maaf mas…saya tidak kenal mereka…” sahut Arumi pelan
“Apakah kamu yang mengantar aku dari hutan jati kesini? sendirian ? dan kenapa aku bisa
pingsan, tolong ceritakan…aku tak ingat apa-apa…!, siapa namamu dan mengapa
kamu bersamaku disini?” Arga yang dalam kebingungan melontarkan banyak
pertanyaan pada Arumi.
Tubuh Arumi bergetar menyadari keadaan suaminya, dengan hati yang teriris pilu Arumi
tersenyum lembut menutupi keresahannya dan dengan perasaan yang sangat perih Arumi
mencoba menjelaskan kejadian yang menimpa Arga hingga ia pingsan dan dibawa ke
rumah sakit ini.
“Mas Arga….saya teman mas dari desa hutan jati barat, nama ku Sandya, kamu tinggal
dirumah Pak Bapak angkatku di desa, karena kamu akan ke Jakarta maka bapak menitipkan
saya kepadamu yang juga akan pergi ke Jakarta. Sampai di terminal bus pagi tadi
kepalamu terbentur bus saat kamu tertabrak copet yang lari kearahmu dan kamu
pingsan lalu kamu di bawa ke rumah sakit ini ”.jelas Arumi tenang yang
mengganti panggilannya dengan nama belakangnya.
“Oh..begitu…ehm…tujuanmu ke Jakarta mau menemui siapa ?”.tanya Arga
“Saya ke Jakarta mencari suamiku, kami baru dua bulan yang lalu menikah tapi dia
pergi meninggalkan saya begitu saja” kata Arumi sambil mengusap airmatanya,
hati- nya sangat pedih.
“Jangan menangis Sandya…aku akan membantu mencari suamimu..
kamu bisa tinggal sementara dirumahku,
orang tuaku pasti tidak akan keberatan menerimamu ”.ucap Arga lembut
menatap Arumi.
Arumi hanya terdiam menahan air matanya “Terimakasih” mata Arumi berkaca kaca
berusaha menahan perasaannya namun ia tak mampu
menahan lagi air matanya yang deras mengalir dipipinya, hatinya miris mendengar
ucapan suaminya yang menganggapnya orang asing, laki laki yang katanya
mencintainya dan berjanji melindunginya telah melupakannya, kini ia tak mungkin
lagi bisa memeluk dan mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang istri
kepada lelaki yang sangat di cintainya ini.
Arga menggenggan tangan wanita itu berusaha menenangkan dan menghibur Sandya yang
sedang menangis sambil menelungkupkan kepalanya disisi tempat tidur, ada rasa
aneh mendesir dihatinya lalu di usapnya ujung kepala wanita itu dengan lembut
__ADS_1
seakan hatinya merasakan sakit yang di alami Sandya.