
Arga membuka matanya ketika ia merasakan sentuhan lembut di lengannya.
“mas Arga…..! sudah siang,bagaimana keadaanmu?
Sudah bisa bangun dari tempat tidur?” gadis itu menyentuh kening Arga
dengan punggung tangannya merasakan suhu tubuh pemuda itu.
“sudah tidak demam” gumamnya pelan.
Arga yang terbangun hanya tersenyum memandangi Arumi
pemuda itu terpesona memandangi paras ayu yang ada dihadapannya,
dia menganggukkan kepala dan mencoba bangun dari dipan.
“hati-hati, kalau masih lemas jangan dipaksa” tegurnya Arumi cemas
“ah…tidak apa-apa, aku sudah lebih sehat” sahut Arga
“mau mandi dulu atau ngopi dulu?” tanya Arumi lirih sambil tersenyum
di pandangi nya pemuda yang sekarang sudah duduk di atas dipannya
dan terlihat lebih sehat.
“aku ingin mandi dulu, tapi dingin sekali pagi ini” katanya
seraya menatap Arumi yang duduk disisi tempat tidurnya, lalu tersenyum manis.
“Kalau merasa dingin minumlah dulu kopinya, biar kusiapkan dulu air hangat untuk mandi”
.sahut gadis itu kemudian beranjak dari kamar.
“Arum…jangan pergi dulu ! temani aku sebentar,”ucap Arga
seraya meraih lengan Arumi dengan cepat sebelum gadis itu meninggalkannya.
“mas Arga….masih pusing, luka dikepalamu apa masih terasa sakit…?” Arumi terkejut
dengan sentuhan yang tiba tiba dari pemuda itu, wajahnya pun merona merah tersipu malu.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya tatapan tak lepas pada Arumi.
“Arum …terima kasih sudah menolongku, kamu gadis baik” bisik Arga.
“itu sudah kewajiban kita untuk saling menolong” sahut gadis itu
“kamu juga cantik”. Sela Arga yang masih memegang lengan gadis itu.
“ Hah…” pekik Arumi, gadis ayu mengangkat wajahnya menatap Arga,matanya melotot,
mulutnya menganga seakan jantung terhenti mendadak mendengar ucapan spontan
laki laki yang ada dihadapannya.ditariknya lengan yang masih dipegang pemuda itu.
wajahnya sudah semakin memerah karena terkejut.Dengan gugup ia akhirnya ia bersuara.
“silahkan di minum dulu kopinya” kemudian tergesa meninggal pemuda itu
“aaahh… !!” Arga meraup wajahnya lalu bangun dari dipan
sambil memegang kepalanya yang masih terasa pening.
“Mas Arga…. kenapa…?? tiduran saja kalau masih sakit!”.
Gadis itu berbalik memandang dengan cemas
“Tidak apa apa…! aku tak mau tiduran terus ,bisa tolong bantu aku sampai kekamar mandi?”
Arum yang merasa cemas melihat keadaan Arga tanpa sadar menggandeng lengan Arga
dan memapahnya keluar kamar mengantarkannya sampai kamar mandi.
Perhatian Arumi sukses membuat hati Arga berbunga bunga,
jantungnya berdetak lebih cepat dan menghadirkan seutas tersenyum manis.
Arumi meninggalkan pemuda itu didepan kamar mandi
kemudian membereskan dipan yang di tempati Arga untuk tidur
dan menyiapkan pakaian bapaknya yang bisa dipakai oleh pemuda itu,
lalu kembali kearah kamar mandi menunggu pemuda itu keluar dan
menggandengnya kembali kekamar.
“ini ada baju bapak, bisa mas Arga pakai” diberikannya pakaian bapak
yang sudah disiapkan kepada pemuda itu sebelum keluar kamar.
Arga hanya mengangguk menerima pakaian itu dan tersenyummanis.
“Arum…aku ingin jalan-jalan keluar, kamu mau mengantarku ?”
tanya Arga saat keluar kamar dengan sudah bepakaian rapi. Wajahnya terlihat lebih segar.
“Sarapan dulu mas….Bapak sudah menunggu didepan !”
gadis itu bicara sambal menyiapkan sarapan tanpa menanggapi pertanyaan Arga,.
“Mari sarapan dulu nak Arga…..!
bagaimana rasanya pagi ini masih pening?” tanya Pak Rakhim seraya mempersilahkan
Arga duduk di sampingnya diatas dipan yang terbuat dari bambu.
“Sudah enakan Pak, semua ini berkat pertolongan Bapak dan Arum,
saya sangat berterima kasih,entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan ini”.sahut Arga
“Sudahlah….tidak perlu dipikirkan, manusia hidup harus saling tolong menolong,
ayo kita makan!” ajak Pak Rakhim.
“Maaf ya…kalau makanannya kurang enak,
mungkin tidak seenak makanan di kota” ujar Arumi seraya menyendokkan nasi
dan lauk untuk bapak kemudian tamunya.
“ehm…apakah aku dari kota ya? Ah ..aku tidak bisa mengingat apa-apa, tapi makanan ini …
ehm…...Arum yang masak ya…? Pantas…. !”.
seloroh Arga dengan pandangan tak lepas dari Arumi
“Pantas apa? nggak enak ya ?”sahut Arumi cemas takut Arga tidak suka masakannya.
“sangat lezat, melihat masakanmu aku jadi lapar….
beneran enak kok !” ujarnya mengacungkan jempolnya sembari makan.
Arumi tersenyum kemudian ia ke belakang meneruskan pekerjaannya di dapur.
Interaksi keduanya tidak luput dari perhatian pak Rakhim yang memperhatikan keduanya
dalam diam sambil menikmati sarapannya.
“Bapak…..boleh saya melihat-lihat daerah sekitar sini ?”
__ADS_1
tanya Arga setelah mereka menyelesaikan sarapan nya.
Pak Rakhim menatap tamunya dengan tenang.
“Silahkan….pergilah bersama Arum,
tapi hati-hati ya kamu masih kelihatan lemah, “ sahut pak Rakhim
“Arum…!!!!!! temani tamu kita jalan-jalan !” teriak Pak Rakhim memanggil putrinya.
Arumi yang sedang membereskan bekas sarapan didapur menghampiri mereka.
“Mas Arga… ingin jalan kemana?
Di sini hanya ada hutan jati, sungai dan sawah ?” tanya Arumi.
“Aku mau melihat lihat pemandangan di desa ini” sahutnya tersenyum
yang berhasil menampakkan rona merah di wajah gadis itu. (“Kemanapun aku
mau asal bersamamu ”) gumamnya dalam hati
“Ayo…aku antar ke arah bukit di ujung desa,
dari sana bisa memandang kebawah, tapi apa kamu sudah kuat berjalan”.
Arumi mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Arga
“Kita coba saja kalau nggak kuat aku akan bilang”.
Arga bangkit dan berpamitan dengan pak Rakhim.
“Bapak.., kami pergi dulu” pamit Arumi.
“Iya…, Arum hati hati jangan terlalu jauh ke hutan jati” pesan pak Rakhim.
Kedua muda mudi berjalan menyusuri jalan desa menuju ke arah bukit
sambil bercakap-cakap,
entah bagaimana mulanya tangan mereka saling bertautan dan berjalan sambil
bergandengan tangan.
Mereka menyusuri persawahan yang hijau memanjakan mata dan
menghirup segarkan udara pagi.
Sesekali berlarian dengan canda dan gelak tawa,
mereka menuju daerah bukit yang ada didekat hutan jati.
Kemudian mencari tempat agak datar dan ditumbuhi rumput hijau yang
tumbuh menebal untuk beristirahat.
“Uh….lelah sekali ” keluhnya Arga lalu membaringkan tubuhnya
terlentang diatas rumput hijau
“Istirahat saja dulu…..!” Arumi duduk tersenyum
sesekali melirik ke arah pemuda di sampingnya.
Gadis itu bersantai menikmati hawa dingin khas pegunungan
yang selalu berhasil memberikan kenikmatan tersendiri,
Arumi memejamkan mata menghirup udara segar,
tiba tiba sebuah tangan kekar merengkuh tubuhnya.
Arumi mengangkat kepalanya menoleh ke arah
Sementara dengan santai Arga duduk sambil merangkulkan lengan di bahu Arumi.
“udara di sini sangat sejuk,pemandangannya pun sangat indah”
Sambil menikmati pemandangan yang terhampar dari atas bukit
Arga melirik pada Arumi “seindah wajah kamu” Arga mengedipkan matanya
dengan senyum manisnya membuka obrolan. gadis berambut terurai itu tak
mampu berkata kata hanya menanggapinya dengan senyum canggung.
Arga mengarahkan pandangan ke sungai yang tampak dari atas bukit
dengan tersenyum menampilkan lesung pipit yang membuat Arumi semakin terhipnotis.
“Arum….kamu sangat cantik,
aku yakin pasti banyak pemuda didesa ini yang menyukaimu,
apakah kamu sudah punya pilihan,
maksudku adakah diantara mereka yang kamu cintai ?” tanya Arga
seraya memandang wajah Arumi yang menunduk.
Arumi menegang ‘oh..tidak..ia belum mampu mengontrol
buncahan hatinya yang serasa ingin meledak’.
“Apa?“ pekik Arumi lirih sambil menghela napas.
Arga kembali tersenyum manis menatap Arumi dengan sorot mata teduh
“Entahlah….kebanyakan dari orang tua mereka melarang anak laki-lakinya mencintaiku ”
Arumi menutup wajah dengan kedua tangan l
alu menghela napas menenangan debar di jantungnya dan mulai bercerita.
“Kenapa..?” kini Arga menatap heran.
“Aku sendiri tidak tahu…pernah ada beberapa pemuda yang mencintaiku dan melamarku,
meski aku tidak menyukainya tapi aku tidak berani menolak
karena kata Bapak pantang seorang gadis menolak pinangan laki-laki.
Ternyata setelah pinangan diterima, pemuda yang sudah melamarku
kemudian jatuh sakit sampai tidak bisa bangun, sudah diobati tapi tidak kunjung sembuh,
salah satu orang tua dari mereka bertanya kepada orang pintar
dan oleh orang pintar itu mereka di anjurkan untuk membatalkan lamarannya
karena aku bukan jodoh mereka
dan memang benar setelah membatalkan pinangannya
mereka kemudian sembuh seperti sediakala.
Sejak itu tak satupun orang tua mereka yang mengijinkan anaknya mencintaiku,
tidak ada lagi yang berani melamar, boleh mendekati aku tapi hanya sebagai teman biasa”
Arumi mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Arga masih menatap gadis di sampingnya dengan mata yang menyipit akibat tarikan
bibirnya yang tersenyum penuh cinta, perlahan tangan pria itu bergerak
menggenggam kedua tangan Arumi.
“Arum….semua itu terjadi mungkin karena kamu tidak benar-benar mencintai laki laki itu,
kamu menerimanya karena terpaksa, cobalah hatimu menerima cinta seseorang,
aku yakin tidak akan terjadi apa-apa pada orang itu?”
ujar Arga seraya menggenggam lembut tangan Arumi.
“Entahlah….aku tak ingin orang lain celaka karena aku” bisiknya lirih.
Arga menggeserkan tubuhnya perlahan mendekati Arumi,
ibu jari pria itu mengusap lembut jemari Arumi yang terasa dingin.
“Arum….ijinkan aku mencintaimu !” pandangan lembut Arga membidik bola mata gadis itu.
Hati Arumi meledak, pecah entah karena apa.
Ada ketakutan yang amat sangat di wajahnya,
tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangan Arga dan berteriak
“Jangan…mas Arga…! aku tidak ingin terjadi sesuatu atas dirimu!
aku tidak ingin kamu sakit…!” pekik Arumi gusar.
Arga meraih kembali kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan lembut.
“Arum…kamu sudah menolongku dari kematian, untuk mendapatkan cintamu
aku akan menghadapi resiko apapun” bisiknya
seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Arumi yang memucat.
“mas Arga….jangan..! aku…aku..” tubuh gadis itu sedikit gemetar,
degup jantungnya berdetak dengan kencang.
Arga memeluk hangat tubuh dingin dan pucat itu airmata Arumi tumpah dan tangisnya
pun pecah. Arumi tak bisa membayangkan apakah kebahagian akan datang padanya
atau kah ia akan mengalami hal yang dulu pernah di alaminya
dan ditinggalkan untuk tetap hidup sendiri,
Arga mengeratkan pelukannya dan mengusap lembut punggung gadis itu
menyalurkan ketenangan dan perlindungannya
sehingga gadis itu terdiam dalam pelukan hangat Arga.
Sejenak Arumi terlena hingga memejamkan matanya dan saat Arga melepas pelukannya
ia membuka matanya, pandangan mereka bertemu dan jantung seketika serasa berhenti
berdetak. “ Maaf…” cicitnya.
Mereka pun saling berpandangan dengan wajah yang sangat berdekatan.
Suasana hening sejenak perlahan kedua tangan Arga meraih bahu gadis itu menyalurkan
perlindungan melalui mata teduhnya
“Arum…..aku cinta padamu” Arga tanpa melepas pelukannya.
“mas Arga …….aku…aku..juga mencintaimu,” bisik lirih gadis dalam pelukannya
“kalau badanku sudah kuat,aku akan bekerja pada Pak Rakhim sebagai petani
dan aku akan melamar mu, apakah kau mau menerimaku sebagai suamimu,
walaupun aku tak punya apa-apa bahkan aku tak tahu siapa diri ku…” lanjut Arga.
“aku tidak keberatan dengan keadaanmu, tapi kalau nanti kamu tertimpa musibah
dan sakit yang parah. Mas harus janji untuk pergi dari desa ini dan melupakanku.”
Lirih Arum meneruskan ucapannya.
Arga langsung meletakkan jarinya didepan bibir wanita itu menggelengkan kepalanya. ”Tidak
ada apapun yang akan terjadi, aku akan tetap disini bersamamu dan selalu
mencintaimu” memjawab dengan antusias
“aku juga akan selalu mencintai dan menyayangimu” desah Arumi
seraya memeluk pemuda yang sudah membuat debar debar aneh y
ang menyenangkan dan kadang membuatnya tidak bisa memikirkan apapun.
“Ah…Arum aku bahagia sekali mendapat cintamu” bisik nya seraya mempererat pelukannya.
“ mas Arga…kita sudah terlalu lama disini, kamu tidak ingin jalan-jalan lagi?”
tanya Arum seraya merebahkan kepalanya ke dada Arga yang mendekapnya dengan erat.
“Tidak..! aku tidak ingin kemana-mana aku ingin disini saja bersamamu sampai sore?”
tangan Arga terulur menyentuh pipi Arumi
dan menyelipkan rambutnya kebelakang telinga lalu mengecup rambutnya.
“Sampai sore ? apa kamu tidak lapar atau tidak ingin tidur ?”
tanya Arumi memutar bola matanya menatap Arga.
“Arum…berada didekatmu, aku tidak ingin apa-apa selain memelukmu…”
desahnya seraya menatap bibir merah merekah
yang membuat sebagian tubuhnya berdenyut dan membangkitkan gelora asmaranya.
Wajah gadis itupun kembali tersipu dan bersemu merah, pemandangan yang sangat
menyenangkan bagi Arga. Degub jantung Keduanya bertabuh begitu kencang merasakan
keindahan cinta yang baru saja hadir di hidup mereka.
“mas Arga…. Kita harus pulang, nanti bapak khawatir”
Arumi bangkit dengan wajah yang masih merona karena godaan Arga.
“Ayo lah….sayang” Arga berjalan santai sembari menggandeng tangan Arumi,
berjalan menuruni bukit sesekali mereka menegur warga desa
yang berpapasan dengan mereka dengan senyum yang tak
pernah lepas dari wajah keduanya.
Tanpa mereka sadari keasyikan keduanya yang larut dalam kemesraan tak lepas dari
padangan mata seekor **** hutan yang memperhatikan keduanya dari kejauhan dan
__ADS_1
tak berapa lama kemudian ia melesat
menghilang kedalam hutan jati.