
Pak Rakhim masih duduk terdiam di kursi yang sejak tadi didudukinya, menyaksikan
semua yang terjadi di ruangan ini. Pak Rakhim tersenyum melihat putrinya yang
tampak bahagia dalam pelukan suaminya .
“Nak Arga… bisa bapak bicara” panggil pak Rakhim. Arga menoleh
dan berjalan ke arah bapak.
Ruangan pesta hening seketika, semua mata mengarah kembali pada pak Rakhim
. “Ada satu hal lagi yang perlu bapak sampaikan pada kamu dan Arumi”
ucap pak Rakhim. Arga membawa istrinya duduk di hadapan bapak
“ katakan apa yang mau bapak sampaikan” jawab Arga tenang
“Arga…. kamu sudah bertemu orang tuamu dan mereka juga sudah menerima
Arumi sebagai istrimu. orang tuamu juga mengharap kamu tetap tinggal
di rumah ini bersama mereka, untuk itu bapak berharap kalian berbahagia
hidup di Jakarta, karena memang kamu dan istrimu tidak boleh kembali
kehutan jati” ucap Pak Rakhim dengan tatapan datar.
“Tidak boleh kembali ke desa, kenapa Pak ?” tanya Arga heran.
Pak Rakhim memandang Arga dalam.
“Arga Bapak mau Tanya sesuatu, apa yang telah kamu lakukan kemarin malam
terhadap istrimu sebelum Bapak kemari?
Mengapa Arumi istrimu menjerit dan menangis?” tanya Pak Rakhim,
sejenak Arga terdiam mendengar pertanyaan mertuanya. Lalu
dengan penuh penyesalan ia menatap Arumi dan memeluk erat sekali.
“Oh Tuhan…. saya telah menamparnya…, saya marah karena cemburu…
. dan Arum menjerit memanggil Ibunya.. ah istriku maafkan aku…!” sesal Arga.
Pak Rakhim menghela napas kemudian menceritakan kejadian
di depan rumahnya kemarin malam pada Arga.
Arga hanya terdiam mendengarkan tanpa melepas pelukan
tangannya di bahu Arumi.
“Kamu tahu apa yang terjadi di desa akibat tindakanmu….? Dia yang menyayangi Arumi
sangat marah, mengaduk aduk isi hutan, menginjak injak sawah penduduk dan
datang menemui bapak di rumah, ketika Bapak keluar Dia memandang tajam ke arah
Bapak dengan nafas terengah engah, lalu Bapak bertanya kenapa dia marah,
saat bapak menanyakan apa Dia merasakan Arumi sedang susah
Dia menganggukkan kepala,
saat menanyakan apakah Bapak harus datang kesini untuk menemui Arumi
Dia juga menganggukkan kepalanya lagi,
tapi ketika Bapak menanyakan apa Dia mengharap Arumi kembali ke desa ini
Dia menggelengkan kepalanya dan saat itu Bapak merasa iba
saat memandangnya, Dia sudah sangat tua sekali lalu
Bapak mengucapkan terima kasih kepadanya dan berbicara dengannya
untuk melepas Arumi, bahwa sudah waktunya kita orang tua melepas
putri yang kita sayangi untuk membina masa depan bersama suaminya
yang akan mencintai dan menjaganya selamanya, kamu tahu Arga….,
mendengar ucapan Bapak Dia meneteskan airmatanya
kemudian bangkit dan berjalan gontai masuk hutan ” ujar Pak Rakhim.
“Maafkan…. aku Arum… maafkan perbuatanku !” kata Arga
dengan penuh penyesalan sambil mendekap istrinya.
“Sudahlah mas Arga… kamu tidak bersalah…,
kamu lakukan itu karena kamu sedang lupa…,
aku memaafkanmu” bisik Arumi seraya memeluk suaminya.
“Kalian berdua boleh berkunjung ke desa tapi untuk sekarang
menetaplah kalian di kota ini. Binalah keluarga kalian” Ucap bapak haru
Sementara semua orang yang mendengar cerita Pak Rakhim diruangan ini
terdiam tak mengerti, melihat semua orang terdiam
Pak Rakhim , Arga dan istrinya akhir nya tersenyum.
“Ehm… kenapa semua diam, sudah jangan dipikirin kejadian yang kami alami…
sekarang ayo kita makan lihat hidangan sudah mulai dingin!” ujar Arga
__ADS_1
sambil tertawa mencairkan suasana yang sempat dan kaku beberapa saat.
Arga kemudian mengajak istrinya makan.
Suasana kediaman keluarga Purnomo kembali hangat dan ceria
mereka menikmati hidangan siang itu dengan perasaan suka cita.
Tetapi ketika bangun dari duduk Arumi memegangi tangan Arga dengan gemetar
“Arum kenapa sayang !” Arga meraih Arumi dalam pelukkannya dengan cemas.
“Mas Arga…. kepalaku pusing… ooh..!”. ucap Arumi
“Arumi… kenapa kamu….? Anita.. tolong istriku kenapa ini ?” teriak Arga.
Anita yang sedang makan meletakkan piringnya segera menghampiri Arumi.
“Arga… bawa istrimu kekamar aku akan memeriksanya,” ucap Anita.
lalu berjalan mengikuti Arga yang menggendong Arumi.
Melihat Arga yang menggendong Arumi membuat kepanikkan terjadi lagi
di rumah pak Purnomo. Para orang tua mengikuti Anita
yang menyusul Arga ke kamar mereka di lantai atas.
“semuanya sebaiknya tolong tunggu saja di bawah saja ya…!” pinta Anita
sambil mengikuti Arga yang membawa Arumi ke kamarnya.
Arga merebahkan istrinya di ranjang menatap dengan cemas.
“Arga…kamu tunggu saja di luar kamar biar aku periksaan keadaan Arumi!
kamu tidak usah cemas…” ucap Anitai.
“Tapi…Arum tidak apa apa kan Anita? Tanya Arga pelan
“makanya biar aku memeriksanya….!” pinta Anita.
“Baik aku menunggu dibawah….., ehm..Anitaa…!”. jawab Arga
“Ya..” Anita kembali menengokkan kepalanya
“Terimakasih!” bisik Arga
Anita mengangguk lalu menutup pintu kamar, sedang Arga turun kebawah.
“Kenapa.. istrimu Arga?” serentak semuanya menanyakan keadaan Arumi.
“Entahlah…. Anita sedang memeriksanya” sahut Arga cemas.
Tak lama kemudian Anita keluar dari kamar dan turun menemui Arga,
Arga langsung menyambutnya dengan penasaran
“Nggak apa-apa Arum hanya kelelahan, sekarang sudah sadar
tapi perlu Arum perlu istirahat.” Jawab Anita dengan pandangan dalam pada Arga
“Arga ..! selamat…. kamu akan menjadi seorang ayah !” Anita tersenyum
sambil menjabat tangan Arga.
“Jadi…. Arum… sedang hamil ?” tanyanya gembira, Anita mengangguk.
Saking girangnya Arga memeluk Anita “ terima kasih”.
Kemudian Arga menghambur ke arah mamanya lalu memeluk erat
“Mama… istriku hamil aku akan jadi ayah. Dan mama akan punya cucu
!”. ucap Arga dengan mata berkaca karena bahagia.
“Oh… Tuhan.. terimakasih atas karuniaMu yang berlimpah pada kami!” bisik Bu Rahma
gembira mengusap kepala anak kesayangannya. Pak Purnomo pun meraih Arga dalam
pelukannya merasakan kebahagiaan anaknya.
Semuanya tamu yang ada di ruangan itu memeluk Arga sambil mengucapkan selamat.
Suasana rumah pak Purnomo semakin semarak dipenuhi keharuan dan kebahagiaan
yang berturut turut terjadi hari ini
“Maaf semuanya saya permisi dulu mau menemani istri saya, silahkan teruskan
pestanya...., selamat makan!” ujar Arga sambil lari keatas menuju kamar Arumi,
meninggalkan meriahnya pesta, semua yang hadir tersenyum cerah seraya
menggelengkan kepalanya.
Arga memasuki kamar di pandanginya istri cantiknya yang terbaring di ranjang
lalu mengunci pintu kamar. Aku melangkah pelan mendekati ranjang
menghampiri Arumi dan duduk di sisi ranjang.
Arumi menatap ku dengan mata berlinang, keduanya saling bertatatapan
dengan wajah yang tak bisa tergambarkan. Arga merengkuh lembut istrinya
dan menenggelamkan kepala Arumi di dadanya memeluk mesra istrinya. ,
Arga memeluk erat seraya mengucap syukur dan tersenyum.
“Selamat…sayang kamu akan jadi ibu anakku ” bisik Arga
__ADS_1
seraya mengecup kening istrinya. Menghela napas ada rasa bersalah membesit
dihati Arga. Beberapa hari ini telah melupakan keberadaan istrinya. Membiarkan
istri menangis melihat wanita lain memeluk mesra dirinya, tanpa dia sadari
Arumi menangis dalam pelukan suaminya “Mas Arga…, kita akan punya anak…,
kamu akan jadi seorang ayah ” bisik Arumi manja. melingkarkan tangannya
pada punggung Arga.
“Sandya….eh.... Arum… kamu ingin anak laki-laki atau perempuan ?”.ucap Arga
“Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja yang penting lahir selamat. Ehem ….!
Mas Arga mulai sekarang kamu harus memilih…. Arumi atau Sandya…..,
tapi aku tidak mau kamu memanggil nama wanita lain didepanku !” rajuk Arumi
sambil cemberut. Mendengar istrinya merajuk Arga tersenyum lebar
kemudian sambil mempererat pelukannya ia berbisik manja:
“Ehm…baiklah… karena Arumi adalah cinta pertamaku maka aku akan memilih Arum….
tapi dengan syarat…. kamu harus selalu berada disisiku dan tidak boleh meninggalkan
aku…. kalau tidak….. ,” Arga menghentikan ucapan mengerlingkan mata pada Arumi.
“Kalau tidak..kenapa..?” tanya Arumi yang tersenyum mendengar ucapan suaminya.
“Kalau tidak…. aku….. akan lari kepelukan…. Sandya” bisik Arga di telinga istrinya.
“Iiih… dasar curang !” seru Arumi seraya mencubit hidung suaminya.
Keduanya tertawa tapi kemudian keduanya diam dan saling memandang,
tangan Arga bergerak mengusap wajah Arumi lalu mencium keningnya.
Arga mendekat dan menarik Arumi tenggelam dalam pelukannya
mengecup bibir lembut Arumi,
Arumi
menangis “Mas Arga jangan tinggalin Arum lagi, Arum bahagia akhirnya mas Arga
bisa kembali ingat Arum”
Arga mendekat dan memagut lembut bibir istrinya
. “Maafkan mas yang sudah membuat kamu sedih karena melupakanmu”
Arumi yang tak sanggup lagi menatap pandangan Arga segera memejamkan matanya
saat bibir suaminya semakin mendekat dan ******* lembut bibirnya
maka tak ada pilihan lagi baginya selain menyambutnya dengan mesra.
Keheningan malam itu berlalu demikian indah bagi Arga dan Arumi ,
keduanya menjalin masa depan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Malam ini pak Rakhim menginap di kediaman keluarga Purnomo,
sudah menjelang tengah malam saat bapak memasuki kamar tamu,
suasana rumah sudah sepi di tinggal penghuninya yang terlelap
setelah menjalani hari yang cukup melelahkan.
Pak Rakhim duduk di sisi ranjang tersenyum lega mengingat putrinya
yang sudah di terima dengan baik oleh keluarga Arga.
Bapak mengingat istrinya yang telah pergi meninggalkannya
dan tidak sempat melihat kebahagiaan putri mereka.
Wajah bapak berkaca kaca mengenang saat saat ia dan istrinya
mendapatkan Arumi dalam hidup mereka dan merawatnya penuh kasih sayang,
tanpa terasa setetes air mata jatuh
Ibu…, putri kita sudah menikah dan hidup
bahagia, suaminya sangat menyayangi Arumi begitupun dengan keluarga Arga. Kamu
juga ikut merasakan bahagia juga di sana ya bu.
Jika malam itu di rumah keluarga Purnomo penuh diliputi suasana kebahagiaan
namun tidak demikian dengan suasana malam dihutan jati, malam itu angin bertiup
kencang membuat suara gemuruh dedaunan terdengar nyaring membuat warga desa
lebih memilih berdiam di rumah. Malam itu sang penjaga hutan jati telah kembali
ke pemilik alam, raganya membeku dikeheningan malam diiringi lolongan pilu
seisi hutan. Suasana desa sangat sunyi senyap seakan berkabung mengiringi
kepergian penjaganya yang Wallahua’lam hingga kini tidak ada yang tahu kemana
perginya. Karena semenjak itu penduduk desa dengan leluasa dapat menikmati
hasil hutan jati timur dan barat tanpa ada rasa takut. Mereka tidak pernah lagi
bertemu dengan penghuni hutan jati yang mereka segani sampai sekarang
__ADS_1