
Kediaman keluarga Purnomo sejak kabar hilangnya Arga Wiguna putra tunggal
pasangan Purnomo dan Rahmarumah itu terlihat suram
tidak lagi bersinar seperti sebelumnya. Sudah sebulan lebih setelah kepergian Arga,
rumah keluarga Purnomo masih sesekali dikunjungi sahabat dan sanak saudara
yang memberikan dukungan dan penghiburan kepada pasangan suami istri itu.
Silih berganti sanak saudara dan keluarga baik dari pihak Pak Purnomo
maupun dari pihak Bu Rahma selalu berdatangan menemani mereka.
Kehilangan anak tunggal mereka membuat keduanya selalu dirundung kesedihan.
Purnomo selalu disibukkan untuk mencari informasi keberadaan Arga dan mengirim orang
orang yang dipercaya untuk melakukan pencarian. Ia mulai merasa putus asa sehingga
perusahaannya di serahkan kepada adiknya Sunardi.
Sedangkan Rahma sejak mendapat khabar dari Roni dan Hilman
bahwa putra semata wayangnya hilang dihutan jati sering menangis
dan kadang-kadang sampai pingsan dan sakit sakitan,
sehingga keluarga mereka bergantian datang memberikan hiburan agar Bu Rahma tabah
menghadapi musibah yang dialaminya. Hampir setiap malam dirumahnya di adakan shalat
dan doa bersama memohon kehadiratNYA agar Arga segera ditemukan.
Bila Arga selamat segera bisa kembali pulang tetapi jika sudah tiada agar mereka
bisa menemukan jasadnya.
Telpon yang ada diruang keluarga berdering siang itu,
Sunardi adik bungsu Pak Purnomo yang juga ada di rumah itu segera mengangkat telepon,
ia berbicara dengan seseorang yang menanyakan alamat rumah kakaknya,
Tiba tiba wajahnya mengeras mendengar berita yang di sampaikan si penelpon,
alisnya berkerut kemudian dengan berat mengambil buku notes
ia mencatat sesuatu di kertas pesan yang ada disisi telpon dan berbicara dengan wajah tegang
terlihat geram. Purnomo dan istrinya yang juga ada diruang keluarga
memandang Sunardi dengan penuh tanya.
“Baik…..! kami akan segera kesana “ Sunardi mengakhiri sambungan telpon
dan melangkah kearah sofa dimana Purnomo dan Rahma berada
menghempaskan dirinya di single sofa.
“Siapa yang menelpon Nardi ?” tanya Pak Purnomo yang merasa heran
melihat adiknya tampak tegang dan seperti kebingungan.
“Biasa Mas, dari orang yang iseng mengabarkan kalau Arga masih hidup, tetapi orang itu meminta kita
menjemput Arga dengan membawa uang sebagai pembayaran perawatan Arga selama
bersama mereka”. jawab Sunardi datar seperti menyembunyikan sesuatu.
“Nardi…kita temui orang itu, apapun yang diminta akan aku berikan
asalkan orang itu bisa menemukan dan membawa anakku dengan selamat,
katakan siapa tadi yang menelpon dan kamu sudah mencatat alamatnya kan?,
biar mas suruh orang orang kepercayaan kita mencari dan menemui mereka”. Penuh semangat
Purnomo menanggapi penjelasan adiknya, sedang Sunardi yang terlihat makin tegang
“Iya Mas…tenang dulu jangan kuatir , kita jangan terburu buru percaya dengan orang itu.
Arga sudah lebih dari satu bulan hilang aku sendiri yang akan menyelidiki kebenaran berita dari
penelpon tadi”. Sunardi menanggapi keinginan kakaknya tampak gugup dan mencoba
menyembunyikan kegusarannya.
“Nardi…temukan Arga mbak yakin kalau Arga masih hidup, jadi siapapun penelpon itu
yang mengabarkan tentang anakku, kita harus mencari dan menemuinya?” timpal Bu Rahma
__ADS_1
menghampiri suaminya dengan penuh harap.
“Sabar Ma…., Nardi akan menyelidiki orang yang baru saja menelpon
tadi, kita akan segera bertemu Arga, kalau anak kita sudah diketemukan”
Purnomo memeluk erat istrinya untukmenenangkan.
“Oh..Tuhan mudah-mudahan kali ini benar, anakku masih hidup,
Arga….Mama sudah rindu padamu Nak!” ratap Bu Rahma
dipelukan suaminya air matanya kembali terurai.
“Sabar Mbakyu….tadi orang yang menelpon mengatakan Arga masih hidup
dan meminta kita menjemputnya dengan membawa uang pengganti biaya perawatan Arga.
Aku akan menyelidiki dulu siapa penelpon itu dan memeriksa kebenaran berita itu.
Biar besok aku berangkat ke Jawa tengah mengecek kebenaran alamat
yang diberikan penelpon tadi, katanya lokasinya ada dihutan jati barat
masih wilayah kota Baturaden” hibur Sunardi kepada kakak iparnya.
“Dik Nardi ….tolong bawa pulang anakku segera, aku yakin anakku masih hidup !”
pinta Bu Rahma seraya menyeka air matanya.
“Iya Mbakyu, besok pagi-pagi saya akan berangkat, kalau begitu saya pergi dulu,
saya akan menemui teman yang kebetulan orang dari daerah sana jadi
bisa untuk penunjuk jalan” sahut Sunardi.
Sunardi pun segera pergi meninggalkan rumah Purnomo dengan perasaan gusar,
pikirannya sudah kemana mana. Sebuah rencana sudah memenuhi kepalanya,
bagaimanapun Arga tidak boleh kembali ke Jakarta.
Ia melajukan kendaraannya dengan kencang ke daerah Senen.
Ia harus menemui Beno seorang mantan residivis
yang menguasai lapak di sekitar stasiun Senen.
Sunardi duduk di warung kopi milik Beno menyalakan sebatang rokok,
menghapirinya dengan membawa segelas kopi.
“Ada apa bos, kusut banget tuh muka” Beno membuka percakapan
“ada orang yang nelpon ke rumah abang gue, ngabarin kalo ponakan gue yang ilang
di hutan masih hidup” jawab Sunardi geram
“bagus dong bos, akhirnya tuh anak ketemu” timpal Beno
Sunardi memandang Beno dengan wajah nanar penuh kekesalan,
”Apanya yang bagus, kalo tuh anak balik abang gue bakal ngusir gue
dan ngasih tuh perusahaan ke anaknya, bisa buyar semua rencana gue” sahut Sunardi,
matanya melotot menahan geram
“terus ada rencana apa bos” Beno makin penasan dengan bosnya
“Beno loe cari mobil deh besok loe ikut gue ke alamat yang dikasih tuh orang,
loe bawa juga anak buah satu orang” perintah Sunardi
“emang alamatnya dimana bos?”Tanya Beno
“desa yang ada di kawasan hutan jati didaerah Baturaden”
“boleh gue kasih saran bos,” ucap Beno
“Apa” hadik Sunardi kesal
“mending kita berangkat nanti malam bos naik kereta sampai Purwokerto
dari sana baru deh kita sewa mobil yang sudah tau daerah hutan jati” usul Beno
Sunardi mengepulkan asap rokok seraya memikirkan ide Beno.
“Boleh juga ide loe.” Sunardi tersenyum culas
“kita pergi berdua aja bos,terlalu resiko kalau bawa orang lagi,” timpal Beno
__ADS_1
“tadi orang yang telpon bilang kalau Arga selamat dan tinggal dirumah nya,
tapi dia hilang ingatan jadi dia nggak ingat lagi siapa dirinya, gue mau cek
apa benar orang yang di temuiin itu Arga.” Sunardi menjelaskan info yang didapat.
“terus kalau bener orang itu si Arga mau kita apain itu bocah, bos” Tanya Beno
“kita bikin dia nggak mau balik ke Jakarta, tapi kalau Arga berkeras mau kembali ke Jakarta,
ya… terpaksa tuh anak kita habisin.” katanya seraya menyilangkan telapak tangannya ke
lehernya.
“Kalau dia udah tidak mau ke Jakarta ?” sambung Beno.
“Ya…gampang…kita tinggal saja!” sahut Sunardi cuek.
“Pulang dari sana gue akan tinggal bilang ke abang gue bahwa berita dari penelpon itu bohong,
orang yang ditemuin ternyata bukan Arga anaknya, atau kita bilang bahwa dia sudah mati
karena kecelakaan dihutan, beres deh ! kalau semuanya lancar gue bakal kasih loe bonus”.
Kemudian Sunardi memberikan sejumlah uang pada Beno
“nih loe pesen tiket kereta buat ntar malam, gue balik dulu loe kabarin gue kalo dah
siap berangkat, kita ketemuan lagi di sini” perintahnya pada Beno yang di
anggukkan oleh Beno.”Siap bos!”
Sunardi kembali ke rumah Purnomo untuk memberitahukan rencana keberangkatan nya
mencari Arga kepada kakaknya, namun dibalik itu dia memikirkan berbagai cara
untuk menyingkirkan keponakannya. Ia tidak menginginkan keponakannya kembali ke
Jakarta karena jika Arga pulang maka akan hilang kesempatan untuk menguasai
perusahaan dan memperoleh warisan dari kakaknya. Pak Purnomo memberikan
sejumlah uang kepada adiknya untuk keperluan keberangkatannya.
“ini kamu bawa buat keperluan disana, kalau ada berita langsung telpon “ perintah
pak Purnomo pada Sunardi. Sunardi menganggukkan kepala lalu pergi meninggal kakaknya.
Sunardi yang masih bujangan sejak kepergian Arga tinggal menetap bersama kakaknya
meski mereka bersaudara. Pak Purnomo menyayangi Sunardi, dia tahu adik bungsunya
memiliki sifat yang tidak baik, urakan dan sulit dinasehati
karena sedari kecil ia tumbuh dalam kasih sayang yang berlebihan dari orang tuanya
terutama dari Ibunya. Ketika Arga hilang Sunardin datang dengan janji ingin bekerja dengan baik
maka Pak Purnomo tidak sampai hati dan memberikan kesempatan kepada adiknya itu
untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya di urus oleh Arga di sela sela kuliahnya.
Sementara pak Purnomo sibuk mencari keberadaan Arga.
Sunardi menggunakan kesempatan itu dengan baik. Saat saat awal menjalankan tugasnya
Sunardi masih mendapat pengawasan langsung dari sang kakak
namun selama menggantikan kedudukan Arga, Sunardi berusaha berkerja dengan baik
hingga membuat Pak Purnomo terkesan dan pada hasil kerjanya akhirnya pak
Purnomo mempercayai dan menyerahkan urusan perusahaan pada Sunardi.
Kesibukkan Purnomo mencari tahu keberadaan Arga dan merawat istrinya
yang sering sakit sejak Arga hilang membuat Purnomo mempercayakan urusan
perusahaannya kepada adikknya itu. Sunardi merasa senang
arena sudah hampir berhasil menguasai perusahaan milik kakaknya.
Maka tak bisa dibayangkan betapa terkejutnya Sunardi saat menerima telpon
dari Pak Rakhim yang mengabarkan bahwa Arga selamat dan masih hidup
dan sekarang tinggal di rumahnya dihutan jati di daerah sekitar Baturaden.
Timbul ketakutan dalam hatinya jika keponakan nya kembali maka Purnomo
akan menyerahkan perusahaannya kepada Arga dan kemungkinan kedudukannya di perusahaan
__ADS_1
akan tergeser sehingga rencananya mengambil alih perusahaan akan
terganggu dan bisa gagal total karena itu