Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 11


__ADS_3

Kediaman keluarga Purnomo sejak kabar hilangnya Arga Wiguna putra tunggal


pasangan Purnomo dan Rahmarumah itu terlihat suram


tidak lagi bersinar seperti sebelumnya. Sudah sebulan lebih setelah kepergian Arga,


rumah keluarga Purnomo masih sesekali dikunjungi sahabat dan sanak saudara


yang memberikan dukungan dan penghiburan kepada pasangan suami istri itu.


Silih berganti sanak saudara dan keluarga baik dari pihak Pak Purnomo


maupun dari pihak Bu Rahma selalu berdatangan menemani mereka.


Kehilangan anak tunggal mereka membuat keduanya selalu dirundung kesedihan.


Purnomo selalu disibukkan untuk mencari informasi keberadaan Arga dan mengirim orang


orang yang dipercaya untuk melakukan pencarian. Ia mulai merasa putus asa sehingga


perusahaannya di serahkan kepada adiknya Sunardi.


Sedangkan Rahma sejak mendapat khabar dari Roni dan Hilman


bahwa putra semata wayangnya hilang dihutan jati sering menangis


dan kadang-kadang sampai pingsan dan sakit sakitan,


sehingga keluarga mereka bergantian datang memberikan hiburan agar Bu Rahma tabah


menghadapi musibah yang dialaminya. Hampir setiap malam dirumahnya di adakan shalat


dan doa bersama memohon kehadiratNYA agar Arga segera ditemukan.


Bila Arga selamat segera bisa kembali pulang tetapi jika sudah tiada agar mereka


bisa menemukan jasadnya.


Telpon yang ada diruang keluarga berdering siang itu,


Sunardi adik bungsu Pak Purnomo yang juga ada di rumah itu segera mengangkat telepon,


ia berbicara dengan seseorang yang menanyakan alamat rumah kakaknya,


Tiba tiba wajahnya mengeras mendengar berita yang di sampaikan si penelpon,


alisnya berkerut kemudian dengan berat mengambil buku notes


ia mencatat sesuatu di kertas pesan yang ada disisi telpon dan berbicara dengan wajah tegang


terlihat geram. Purnomo dan istrinya yang juga ada diruang keluarga


memandang Sunardi dengan penuh tanya.


“Baik…..! kami akan segera kesana “ Sunardi mengakhiri sambungan telpon


dan melangkah kearah sofa dimana Purnomo dan Rahma berada


menghempaskan dirinya di single sofa.


“Siapa yang menelpon Nardi ?” tanya Pak Purnomo yang merasa heran


melihat adiknya tampak tegang dan seperti kebingungan.


“Biasa Mas, dari orang yang iseng mengabarkan kalau Arga masih hidup, tetapi orang itu meminta kita


menjemput Arga dengan membawa uang sebagai pembayaran perawatan Arga selama


bersama mereka”. jawab Sunardi datar seperti menyembunyikan sesuatu.


“Nardi…kita temui orang itu, apapun yang diminta akan aku berikan


asalkan orang itu bisa menemukan dan membawa anakku dengan selamat,


katakan siapa tadi yang menelpon dan  kamu sudah mencatat alamatnya kan?,


biar mas suruh orang orang kepercayaan kita mencari dan menemui mereka”. Penuh semangat


Purnomo menanggapi penjelasan adiknya, sedang Sunardi yang terlihat makin tegang


“Iya Mas…tenang dulu jangan kuatir , kita jangan terburu buru percaya dengan orang itu.


Arga sudah lebih dari satu bulan hilang aku sendiri yang akan menyelidiki kebenaran berita dari


penelpon tadi”. Sunardi menanggapi keinginan kakaknya tampak gugup dan mencoba


menyembunyikan kegusarannya.


“Nardi…temukan Arga mbak yakin kalau Arga masih hidup, jadi siapapun penelpon itu


yang mengabarkan tentang anakku, kita harus mencari dan menemuinya?” timpal Bu Rahma

__ADS_1


menghampiri suaminya dengan penuh harap.


“Sabar Ma…., Nardi akan menyelidiki orang yang baru saja menelpon


tadi, kita akan segera bertemu Arga, kalau anak kita sudah diketemukan”


Purnomo memeluk erat istrinya untukmenenangkan.


“Oh..Tuhan mudah-mudahan kali ini benar, anakku masih hidup,


Arga….Mama sudah rindu padamu Nak!” ratap Bu Rahma


dipelukan suaminya air matanya kembali terurai.


“Sabar Mbakyu….tadi orang yang menelpon mengatakan Arga masih hidup


dan meminta kita menjemputnya dengan membawa uang pengganti biaya perawatan Arga.


Aku akan menyelidiki dulu siapa penelpon itu dan memeriksa kebenaran berita itu.


Biar besok  aku berangkat ke Jawa tengah mengecek kebenaran alamat


yang diberikan penelpon tadi, katanya lokasinya ada dihutan jati barat


masih wilayah kota Baturaden” hibur Sunardi kepada kakak iparnya.


“Dik Nardi ….tolong bawa pulang anakku segera, aku yakin anakku masih hidup !”


pinta Bu Rahma seraya menyeka air matanya.


“Iya Mbakyu, besok pagi-pagi saya akan berangkat, kalau begitu saya pergi dulu,


saya akan menemui teman yang kebetulan orang dari daerah sana jadi


bisa untuk penunjuk jalan” sahut Sunardi.


Sunardi pun segera pergi meninggalkan rumah Purnomo dengan perasaan gusar,


pikirannya sudah kemana mana. Sebuah rencana sudah memenuhi kepalanya,


bagaimanapun Arga tidak boleh kembali ke Jakarta.


Ia melajukan kendaraannya dengan kencang ke daerah Senen.


Ia harus menemui Beno seorang mantan residivis


yang menguasai lapak di sekitar stasiun Senen.


Sunardi duduk di warung kopi milik Beno menyalakan sebatang rokok,


menghapirinya dengan membawa segelas kopi.


“Ada apa bos, kusut banget tuh muka” Beno membuka percakapan


“ada orang yang nelpon ke rumah abang gue, ngabarin kalo ponakan gue yang ilang


di hutan masih hidup” jawab Sunardi geram


“bagus dong bos, akhirnya tuh anak ketemu” timpal Beno


Sunardi memandang Beno dengan wajah nanar penuh kekesalan,


”Apanya yang bagus, kalo tuh anak balik abang gue bakal ngusir gue


dan ngasih tuh perusahaan ke anaknya, bisa buyar semua rencana gue” sahut Sunardi,


matanya melotot menahan geram


“terus ada rencana apa bos” Beno makin penasan dengan bosnya


“Beno loe cari mobil deh besok loe ikut gue ke alamat yang dikasih tuh orang,


loe bawa juga anak buah satu orang” perintah Sunardi


“emang alamatnya dimana bos?”Tanya Beno


“desa yang ada di kawasan hutan jati didaerah Baturaden”


“boleh gue kasih saran bos,” ucap Beno


“Apa” hadik Sunardi kesal


“mending kita berangkat nanti malam bos naik kereta sampai Purwokerto


dari sana baru deh kita sewa mobil yang sudah tau daerah hutan jati” usul Beno


Sunardi mengepulkan asap rokok seraya memikirkan ide Beno.


“Boleh juga ide loe.” Sunardi tersenyum culas


“kita pergi berdua aja bos,terlalu resiko kalau bawa orang lagi,” timpal Beno

__ADS_1


 “tadi orang yang telpon bilang kalau Arga selamat dan tinggal dirumah nya,


tapi dia hilang ingatan jadi dia nggak ingat lagi siapa dirinya, gue mau cek


apa benar orang yang di temuiin itu Arga.”  Sunardi menjelaskan info yang didapat.


“terus kalau bener orang itu si Arga mau kita apain itu bocah, bos” Tanya Beno


“kita bikin dia nggak mau balik ke Jakarta, tapi kalau Arga berkeras mau kembali ke Jakarta,


ya… terpaksa tuh anak kita habisin.” katanya seraya menyilangkan telapak tangannya ke


lehernya.


“Kalau dia udah tidak mau ke Jakarta ?” sambung Beno.


“Ya…gampang…kita tinggal saja!” sahut Sunardi cuek.


“Pulang dari sana gue akan tinggal bilang ke abang gue bahwa berita dari penelpon itu bohong,


orang yang ditemuin ternyata bukan Arga anaknya, atau kita bilang bahwa dia sudah mati


karena kecelakaan dihutan, beres deh ! kalau semuanya lancar gue bakal kasih loe bonus”.


Kemudian Sunardi memberikan sejumlah uang pada Beno


“nih loe pesen tiket kereta buat ntar malam, gue balik dulu loe kabarin gue kalo dah


siap berangkat, kita ketemuan lagi di sini” perintahnya pada Beno yang di


anggukkan oleh Beno.”Siap bos!”


Sunardi kembali ke rumah Purnomo untuk memberitahukan rencana keberangkatan nya


mencari Arga kepada kakaknya, namun dibalik itu dia memikirkan berbagai cara


untuk menyingkirkan keponakannya. Ia tidak menginginkan keponakannya kembali ke


Jakarta karena jika Arga pulang maka akan hilang kesempatan untuk menguasai


perusahaan dan memperoleh warisan dari kakaknya. Pak Purnomo memberikan


sejumlah uang kepada adiknya untuk keperluan keberangkatannya.


“ini kamu bawa buat keperluan disana, kalau ada berita langsung telpon “ perintah


pak Purnomo pada Sunardi. Sunardi menganggukkan kepala lalu pergi meninggal kakaknya.


Sunardi yang masih bujangan sejak kepergian Arga tinggal menetap bersama kakaknya


meski mereka bersaudara. Pak Purnomo menyayangi Sunardi, dia tahu adik bungsunya


memiliki sifat yang tidak baik, urakan dan sulit dinasehati


karena sedari kecil ia tumbuh dalam kasih sayang yang berlebihan dari orang tuanya


terutama dari Ibunya. Ketika Arga hilang Sunardin datang dengan janji ingin bekerja dengan baik


maka Pak Purnomo tidak sampai hati dan memberikan kesempatan kepada adiknya itu


untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya di urus oleh Arga di sela sela kuliahnya.


Sementara pak Purnomo sibuk mencari keberadaan Arga.


Sunardi menggunakan kesempatan itu dengan baik. Saat saat awal menjalankan tugasnya


Sunardi masih mendapat pengawasan langsung dari sang kakak


namun selama menggantikan kedudukan Arga, Sunardi berusaha berkerja dengan baik


hingga membuat Pak Purnomo terkesan dan pada hasil kerjanya akhirnya pak


Purnomo mempercayai dan menyerahkan urusan perusahaan pada Sunardi.


Kesibukkan Purnomo mencari tahu keberadaan Arga dan merawat istrinya


yang sering sakit sejak Arga hilang membuat Purnomo mempercayakan urusan


perusahaannya kepada adikknya itu. Sunardi merasa senang


arena sudah hampir berhasil menguasai perusahaan milik kakaknya.


Maka tak bisa dibayangkan betapa terkejutnya Sunardi saat menerima telpon


dari Pak Rakhim yang mengabarkan bahwa Arga selamat dan masih hidup


dan sekarang tinggal di rumahnya dihutan jati di daerah sekitar Baturaden.


Timbul ketakutan dalam hatinya jika keponakan nya kembali maka Purnomo


akan menyerahkan perusahaannya kepada Arga dan kemungkinan kedudukannya di perusahaan

__ADS_1


akan tergeser sehingga rencananya mengambil alih perusahaan akan


terganggu dan bisa gagal total karena itu


__ADS_2