
Pak Rakhim kembali menyalakan rokoknya setelah mematikan putung rokok yang sudah habis di hisapnya.
Siang itu ia sedang menunggu anaknya dan tamunya yang sedang keluar rumah lagi untuk
melihat-lihat pemandangan desa. Ketika melihat anaknya datang bersama tamunya
ia tersenyum dan menyapa:
“Arum….kalian kemana saja, lama sekali kalian jalan-jalannya,
rasanya rumah ini sepi sekali tanpa kalian“.tegur pak Rakhim.
“Kami ke bukit bapak, mas Arga…., yang susah diajak pulang Pak !”
sahut Arum seraya melirik kearah pemuda itu sambil tersenyum menggoda.
“Maaf Pak …saya sangat terpesona dengan suasana desa disini sampai lupa diri” ujar Arga membalas
pandangan kekasihnya dengan senyuman bahagia.
“Ehm…kalian rupanya gembira sekali hari ini,
Arum … ayo sediakan makanan sudah hampir sore, Nak Arga pasti sudah lapar!”
perintah Pak Rakhim. Arum pun segera berlari kedapur untuk menyiapkan makan siang.
“Nak Arga….. besok kalau ada kendaraan yang berangkat ke kota, Bapak berniat kekota,
maksud Bapak mau mencoba menelpon ke nomor di kartu nama yang ada di dompet nak Arga,
siapa tahu itu keluarga kamu, bapak akan mengabarkan keadaan Nak Arga disini ” ujar Pak Rakhim.
“Silahkan saja semua terserah Bapak, tapi bagaimana dengan ingatan saya,
saya masih belum mampu mengingat diri saya sendiri
bagaimana kalau saya tidak mengenal mereka, Tolong jangan mengabari mereka dulu pak.
saya akan merasa asing tinggal dengan mereka,
saya hanya ingin hidup dekat Bapak dan Arum” sahut Arga dengan perasaan cemas.
“Iya…tentu, Bapak hanya ingin mengabarkan keluarga kamu
supaya mereka tidak cemas dan bisa menengokmu kesini.”
Pak Rakhim menjelaskan dengan tenang.
“Bapak… saya ingin belajar bertani!,saya ingin bekerja dan menetap didesa ini
dan ingin hidup bersama …Arum.” kata Arga dengan suara gugup.
Sejenak Pak Rakhim tertegun dan kaget mendengar ucapan tamunya,
setelah mengambil nafas panjang ia bertanya:
“Kamu ingin hidup bersama putri Bapak ?”.
“Iya…Pak, saya ingin menikahi Arum, saya mencintainya,
saya mohon Bapak tidak keberatan dengan niat saya?”.Arga berkata dengan tegas dan tenang
“Bapak tidak keberatan tapi ada hal yang harus nak Arga ketahui sebelumnya tentang Arum.”
Lanjut pak Rakhim.
“ehm….kita makan dulu saja nanti kita lanjutkan pembicaraan kita ya?”
ujar Pak Rakhim menghentikan pembicaraannya setelah melihat
dari arah dapur putrinya datang membawakan makanan dan minuman.
Arga hanya terdiam. Kemudian merekapun menyantap makan siang bersama
dalam suasana yang hening.
Hal ini membuat Arumi bertanya tanya apa yang sedang dibicarakan antara bapaknya dan Arga.
Arumi memandangi kedua orang yang sedang makan dengan diam.
Selesai makan Arumi membawa peralatan bekas makan kebelakang, ia kembali ke dapur untuk
membereskan bekas makan mereka dengan pikiran yang penuh tanya. Sampai bapak
memanggilnya
“Arum …..duduklah disini, kita ngobrol bertiga Bapak ingin menceritakan sesuatu pada kalian”.
Arumi mengangguk menemui Bapaknya.
“Putriku…Bapak merasa mungkin sudah saatnya
Bapak harus menceritakan sesuatu tentang kamu yang selama ini Bapak simpan.”
Pak Rakhim memulai obrolannya
__ADS_1
Tadi Nak Arga sudah menyampaikan niat hatinya kepada Bapak,
bahwa dia ingin menikah dengan kamu, apakah kamu bersedia menikah dengannya ?”.
Tanya bapak kepada Arumi
Arumi diam sejenak memandangi wajah bapak dan Arga bergantian
lalu ia pun dengan gugup akhirnya mengangguk sambil menunduk.
“Syukurlah….kalau Arum bersedia,
namun Bapak ingin menceritakan suatu hal lebih dulu kepada Nak Arga tentang putri bapak ini,
setelah mendengar cerita ini bapak membebaskan nak Arga untuk tetap meneruskan
atau mengurungkan niatnya menikah dengan putri bapak”.
masih dengan tenang pak Rakhim berbicara dengan kedua anak muda dihadapannya.
Baik Arga maupun Arumi saling pandang dengan heran,
tetapi keduanya diam saja. membiarkan bapak meneruskan ceritanya.
“Kira-kira dua puluh tahun yang lalu yaitu sepulangnya Bapak dan Ibu dari tanah suci
kami mampir kerumah saudara di desa hutan jati timur.
Pada suatu sore kami berdua berjalan-jalan memandangi hutan jati
yang sore itu sangat ramai dengan suara burung berkicau,
Bapak dan istri memang sangat suka menikmati suasana sejuk dan indah yang ada di hutan jati,
kami merasa senang sekali mendengar nyanyian burung-burung di hutan itu.
Tiba-tiba diantara suara kicauan burung yang bernyanyi kami mendengar suara tangisan bayi,
kami berdua sangat terkejut lalu mencari kearah datangnya suara tangisan bayi itu,
ketika tiba di sebuah pohon jati yang terbesar disitu
kami menemukan bayi perempuan yang sangat cantik, sejenak kami saling pandang
karena kebingungan tetapi kemudian tanpa ragu lagi bayi itu kami ambil.
Saat kami membalikkan badan hendak pulang kembali kami berdua terkejut bukan main
karena didepan kami telah menghadang sekawanan **** hutan yang besar dan
memandang kami dengan tajam.
atau tidak, Bapak mengatakan bahwa Bapak akan mengasuh
dan menjaga bayi perempuan itu seperti anak sendiri, kemudian Bapak mencium bayi itu
berulang ulang kali bayi mungil dalam gengdongan bapak hingga ia tertawa-tawa.
Aneh setelah mendengar suara tawa bayi itu sekawanan **** hutan itu
kemudian melesat dan menghilang. Akhirnya bapak dan ibupun
membesarkan bayi perempuan yang kemudian Bapak beri nama Arumi Sandyakala,
kami sangat bahagia karena selama pernikahan yang kami jalani , kami belum di karunia anak.
Bapak dan Ibu merawat Arumi dengan penuh cinta sampai istri bapak meninggalkan bapak
karena sakit yang dideritanya. Selama ini bapak selalu berdoa kepadaNYA
agar Tuhan selalu melidungi bayi yang sudah kami anggap putri
sendiri itu dari gangguan laki-laki yang bukan jodohnya
dan Bapak juga mendoakan agar jodohnya secepatnya datang kedesa ini,
sebelum Bapak menyusul Ibu yang telah mendahului Bapak kembali menghadap kehadiratNYA
setelah mengasuh Arumi sampai umur lima tahun. Sampai sekarang Bapak tidak tahu
siapa orang tua Arumi dan juga tidak tahu siapa yang telah meninggalkan bayi cantik itu
di hutan jati. Nah….Nak Arga, Bapak sudah menceritakan asal usul Arumi putri bapak,
jika nak Arga ragu dan mau mengurungkan niatnya,
Bapak hanya menganggap jodoh Arum memang belum tiba”. Pak Rakhim mengakhiri ceritanya
seraya memandang tamunya.
Arga yang serius mendengar cerita pak Rakhim diam terpaku, sementara Arumi yang baru
tahu siapa sebenarnya dirinya sangat shok, hatinya sangat sedih, air matanya berlinang
membasahi pipinya, selama ini ia menyangka Pak Rakhim adalah orang tuanya,
__ADS_1
ternyata ia hanya anak buangan yang tidak tahu asal usulnya.
Tak kuasa menahan kesedihannya Arumi berlari kekamarnya sambil terisak,
Arga yang sedang tertegun mendengar cerita Pak Rakhim terkejut melihat Arum
yang lari kekamarnya sambil menangis, lalu ia segera mengejarnya wanita itu.
Sedang kan pak Rakhim hanya duduk terdiam menyaksikan apa yang dilakukan Arum dan Arga.
“Arum....!” bisiknya seraya duduk di sisi tempat tidur
dimana tubuh gadis itu telungkup dikasur sambil menangis
di usapkan kepala gadis itu dengan lembut.
“mas Arga….pergilah!! jauhi aku…aku tak layak untukmu,aku hanya anak buangan
yang tidak jelas asal usulnya…anak yang tidak diingin oleh kedua orangnya ……”
ratap Arum tanpa membalikkan badannya yang tetap tengkurap memeluk bantal.
“Arum…sayang…dengarlah! aku mencintaimu..” bisik Arga lembut
“kamu putri pak Rakhim,beliau sangat menyayangimu, aku tak perduli
dengan asal usul dirimu, yang aku tahu kamu adalah wanita cantik
yang lembut dan baik hati yang sangat kucintai.” lanjut Arga mulai mendekatkan tubuhnya
pada gadis itu lalu membelai kepala gadis itu.
“Arum…aku ingin hidup bersamamu selamanya dan tak seorangpun
yang dapat memisahkan kita. Ayo…bangunlah pandanglah aku!”
pinta Arga sambil membalikkan tubuh gadis itu sehingga terlentang
kemudian memeluknya. Arumi tertegun bibirnya terkatup mata berbinar bahagia
“mas Arga…” cicit Arumi sendu seraya membenamkan wajahnya
yang penuh airmata kedada pemuda yang baru saja melamarnya pada pak Rakhim.
Arga mempererat pelukannya dan mengusap lembut punggung gadis itu.
Arumi membalas pelukan pemuda yang sudah di cintainya itu.
Keduanya terdiam dalam pelukan erat yang saling membutuhkan dan melindungi.
“Mas Arga,…” panggil Arumi dengan suara lirih
ia tak yakin laki laki dihadapannya adalah takdir cintanya
“ehm…” suara Arga bergetar menahan deru napasnya gadis ini
kini berpotensi membuat jantungnya berdetakdengan cepatnya.
“ Aku sayang kamu,…jangan pernah pergi” pinta gadis itu seketika meluruhkan hati Arga.
“Sayang… aku tidak akan pergi. Kita akan menikah secepatnya,”
Arga meraih wajah gadis itu lalu menempelkan keningnya pada kecing Arumi,
Arumi menutup matanya terhanyut dengan sentuhan Arga, ada haru dan rasa
yang belum pernah ia alami sebelumnya. Arga tersenyum menatap wajah Arumi,
dari jarak sedekat ini tampak wajah gadis ini sangat manis.
Detak jantung gadis itupun tengah bertabuh kencang hingga
ia yakin jika Arga dapat mendengarnya, pipinya menghangat hatinya berbunga bunga
kemudian ia menatap Arga. Tiba tiba gadis itu merasa gugup mendapati hanya berdua di dalam
kamarnya dengan seorang lelaki. Arum mengerjapkan mata dan seketika bergerak tidak nyaman
melepaskan pelukan mereka. Ini berbahaya karena mereka belum terikat sah sebagai suami istri.
Sejenak keduanya terdiam dalam suasana canggung.
“Jangan takut…..,” ucap Arga pelan menenangkan gadis itu
dan kembali menggenggan tangan Arumi dan mengaitkan jemari mereka.
Arumi gugup, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini dengan siapapun
.”Ayo .., kita temui bapak” bisik Arga lembut.
Arumi menoleh pada Arga dan tersenyum pada wajah yang menatapnya penuh keseriusan dan
binar mata yang dalam. Perlahan Arumi mengangguk membuat senyum Arga merekah indah
dan menarik kaitan tangan mereka kemudian mencium tangan gadis itu.
__ADS_1
Mereka kemudian keluar dari kamar dengan bergenggaman tangan
menemui Pak Rakhim yang duduk diteras sambil merokok.