
Sandya terbangun pukul lima pagi dengan tubuh yang masih terasa lemah
ia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri,
dinginnya air yang mengguyur tubuhnya cukup untuk memberikan kesegaran.
Selesai mandi Sandya membereskan kamar yang telah di tempatinya
kemudian memasukkan baju bajunya ke dalam tas besar yang dibawanya dari desa.
Sandya sudah mantap untuk meninggalkan rumah ini saat acara pertunangan berlangsung,
ia sudah menyiapkan sepucuk surat yang akan ditinggal di kamar ini.
Karena ia tidak akan sanggup untuk pamit pada Arga.
Sandya keluar kamar menemui bu Rahma
untuk membantu persiapan pesta sesuai janjinya kemarin.
Sejak pagi bu Rahma sudah disibukkan dengan berbagai hal
untuk mempersiapkan acara pertunanga Arga dan Anita.
Pembantu rumah tangga di kerahkan untuk membereskan rumah dan menata
ruangan agar terlihat rapi dan indah.
Sandya menghela napas bersandar di meja dengan
pikiran berkelana jauh membayangkan Arga.
Ingatan Sandya kembali pada saat saat bersama Arga di desa
hingga insiden yang terjadi di terminal yang membuat Arga melupakan dirinya.
Arga suaminya yang hari ini akan bertunangan dengan wanita lain.
Menjelang siang mobil catering yang membawa hidangan pesta
berupa makanan, kue kue dan minuman sudah sampai di depan rumah Arga,
Bu Rahma meminta Sandya membantu petugas catering
menata diatas meja makan yang sudah disiapkan.
Rino dan Hilman baru saja masuk ke dalam rumah Arga,
keduanya langsung menemui Sandya.
Sandya menyambut keduanya dengan senyum tipis.
“Sandya adiknya mas Roni yang cantik…. bagaimana keadaanmu”
Tanya Roni gemas
“Mana Arga” Hilman mengarahkan pandangannya ke seantero rumah
mencari keberadaanArga..
Tidak mendapat respon dari Sandya kedua orang ini memalingkan wajah
menatap lekat Sandya. Yang di tatap hanya tersenyum tipis
dan menunjukkan telunjuknya ke atas kearah kamar Arga.
Bu Rahma yang melihat kehadiran Roni dan Hilman
berjalan menghampiri mereka.
“Kalian sudah datang” sapa bu Rahma
“Iya tante, kami sudah siap dengan kamera
untuk dokumentasi acara nanti” ujar Roni.
Senyum bahagia merekah di wajah bu Rahma.
“Aduh.. ini Arga kenapa belum turun dari kamar
sebentar lagi calon tunangannya kan datang
jangan jangan malah belum bangun, kalian bisa tolong bangunkan Arga
dan suruh bersiap?” pinta bu Rahma pada Roni dan Hilman
“Siap…komandan!” kompak keduanya menyahut
lalu berjalan menuju kamar Arga di lantai dua memenuhi perintah kanjeng ratu.
“Arga….! woooiiii……Arga bangun!” teriak Roni sambil mengetuk pintu
kamar Arga, tidak ada sahutan
Hilman langsung membuka pintu kamar Arga yang ternyata tidak dikunci.
Keduanya masuk ke kamar Arga dan melihat orang yang mereka cari
masih pulas terlentang di ranjangnya.
“Arga….bangun…” Roni menarik bantal di kepala Arga
dan melemparkan ke wajahnya. Arga menggeliat
malas mengangkat kedua tangannya.
“Kalian ngapain bangunin gue pagi pagi, gue masih ngantuk” Arga menguap
dan menutup matanya kembali.
Roni dan Hilman saling berpandangan dan tersenyum jail lalu
menarik kaki Arga untuk turun dari ranjang.
“ini udah siang bro…, tunangan loe bentar lagi datang” teriak Hilman
Arga melotot selebar lebarnya.” Hah…. Siapa yang mau tunangan”
Tanya Arga bingung.
Roni dan Hilman tertawa keras melihat ekspresi cengo Arga.
Tunggu dulu !, Arga baru menyadari sesuatu lalu menarik narik rambutnya kesal.
Hari ini orang tua nya sudah mengatur acara pertunangannya dengan Anita
__ADS_1
teman semasa kecil. Arga tidak mencintai Anita,
dia hanya menganggap Anita adiknya karena mereka
berdua sama sama anak tunggal.
“udah buruan mandi sono…, keburu tamunya datang”
Roni menepuk bahu Arga yang masih linglung.
Gue nggak mau tunangan …” guman Arga.
“Kenapa…. Kan loe yang ngelamar Anita
sebelum kita hangout ke hutan tempo hari”
pancing Hilman. Dia mau dengar Arga mengakui perasaannya.
“Gue nggak cinta Anita, gue ngelamar dia
supaya papa ngijinin gue hangout ke hutan jati ” sahut Arga
“Trus siapa yang loe cinta” Roni menaikkan alisnya menatap Arga serius
“Sandya…..gue cinta Sandya” ucap Arga pelan
yang langsung mendapat jitakan dari Roni.
“woiiii…. Bro , tuh cewek dah punya suami” ucap Roni
“Rino…Hilman, sejujurnya gue juga bingung sama perasaan gue ke Sandya.
Jantung gue kayak marathon kalau dekat Sandya, dan pengen meluk dia,
Gue ngerasa kita udah begitu dekat, gue nyaman kalau dekat Sandya
dan pingin selalu ada di sampingnya dan melindunginya.
Gue nggak ingat apa yang terjadi sama gue waktu di desa makanya
gue merasa perasaan gue ke dia salah karena dia udah bersuami
dan gue takut kalau suaminya Sandya pergi karena gue.”
Arga menyerocos dengan cepatnya membuat Roni dan Hilman
tertegun mendengar curahan hati sahabat mereka.
Keduanya hanya terdiam memandangi Arga.
“Arga….Sebaiknya loe cepat mandi, trus loe keluar temuin mama dan papa loe.
ceritain semua perasaan loe, kita yakin orang tua loe bakal ngerti” saran Hilman
“Loe juga mesti jelasin ke Anita langsung
kalau pertunangan kalian nggak mungkin dilakukan” tambah Roni.
Tok..tok… tok…
Sandya melongokkan kepalanya saat Roni membuka pintu kamar Arga,
dilihatnya Arga yang duduk ditepi ranjang
“kenapa belum rapi ?” tanya Sandya heran melihat Arga
sedang duduk diatas tempat tidur.
Tatapan mereka bertemu membuat jantungnya kembali berulah
buru buru dialihkan pandangannya pada Roni dan Hilman.
“Biarin…aku tidak mau turun…, aku tidak mau bertunangan….
aku tak mau kamu pergi” sahut Arga cemberut.
“Mas Arga...jangan begitu persiapan pesta sudah siap
tindakan mas Arga akan membuat Mama dan Papamu malu
pada keluarga Anita”.ucap Sandya pelan.
“Masa bodoh…pokoknya aku nggak mau turun
kalau kamu nantinya akan pergi meninggalkan aku”.teriak Arga,
dia mengingat rencana Sandya yang diucapkan wanita itu pada Arga tadi malam.
Sandya menghela nafas panjang melihat kekerasan hati Arga
Sandya menghampiri Arga kemudian duduk disisinya,
dipegangnya tangan suaminya dan meremasnya dengan lembut.
“Mas Arga….turutilah keinginan orang tuamu, kamu anak mereka satu satunya
jangan kecewakan mereka. Apa yang orang tua kamu lakukan itu untuk kebahagian mas
Arga, Anita gadis yang baik, cantik, terpelajar dan juga mencintai kamu, mas
Arga akan bahagia hidup bersama Anita.” Ucap Sandya lembut.
“Kamu juga cantik, baik dan pintar dan aku cinta kamu,
kenapa nggak kamu yang jadi tunanganku” cerocos Arga,
membuat Roni dan Hilman menggelengkan kepala
mendengar jawaban sahabat mereka yang udah mulai ngawur.
“Saya punya suami mas Arga” jawab Sandya jengkel
“Kenapa kamu mau pergi dari rumah ini dan tidak mau tinggal bersamaku.”
Ucap Arga menatap dalam Sandya
“Mas…Arga tempat saya didesa, saya akan menunggu suami saya kembali ke desa,
kalau mas Arga nanti kangen sama Sandya mas bisa datang ke hutan jati,
kalau mas sudah ingat Sandya mas Arga bisa temui Sandya
ditepi sungai yang ada dipinggir hutan jati, dimana kita pernah bertemu”
Sandya bersuara terbata menahan tangis namun
__ADS_1
tak urung airmatanya mengalir juga dari sudut matanya.
Mendengar ucapan Sandya, Arga menarik tubuh wanita itu langsung memeluknya erat,
perasaannya terasa hampa di biarkannya wanita menumpahkan tangis melepaskan
kesedihan yang sudah menumpuk di hatinya.
Sandya menghembuskan napas melepaskan pelukan Arga
menghapus air mata dengan punggung tanganya
lalu menatap kedua sahabat Arga yang sejak tapi terdiam seperti patung
menyaksikan adegan serasa sinetron tv.
“Mas Roni dan mas Hilman cepat bantuin temannya dandan biar keren ,
tuh tamunya sebentar lagi sampe.” Ucap Sandya tersenyum
lalu meninggalkan kamar Arga tanpa menunggu jawaban
dari dua orang yang masih bengong.
“eh… siap bos” sahut Roni. keduanya baru tersadar setelah Sandya keluar kamar.
“Sandya…..aku akan kebawah, …akan kuturuti kemauan Mama
tapi setelah pertunangan selesai aku akan pergi kehutan jati bersamamu ” teriak Arga
dengan nada putus asa. Langkah Sandya terhenti sesaat mendengar
ucapan Arga kemudian turun ke lantai satu tanpa berpaling kebelakang.
Kompak Roni dan Hilman mendorong Arga ke kamar mandi
”dah buruan mandinya” omel Roni meninggalkan Arga di kamar mandi
Hilman menyiapkan baju yang diberikan Sandya untuk dipakai Arga, mereka berhasil
memaksa Arga tampil keren di acaranya.
“cepatlah ! pakai baju loe, mana jas yang akan kau pakai ?” katanya
sambil membuka lemari dan mengambil jas warna abu-abu yang
masih terbungkus plastik.
“Pakai yang ini kan?” Arga mengangguk, Roni kemudian membantu memakaikannya.
“Nih Sisir rambutmu dan.. oh ya loe harus pakai bunga disaku jasmu
sini gue pasangkan nah.. rapi deh.” Hilman nggak mau kalah sibuk
“Arga …loe dah keliatan keren banget hari ini…
Anita bakal tambah klepek klepek nih” terkekeh Rino menggoda Arga.
Yang di dandanin cuma diam mematung tanpa ekspresi.
“Bro… kalau loe sekarang tampil keren bukan cuma buat Anita
tapi loe juga bisa bikin Sandya terpesona” ucap Hilman menimpali guraun Roni .
Kekehan kecil Arga membuat kedua sahabatnya prihatin,
ketiganya akhirnya berpelukan dan tertawa kecil.
“Sudah… Bro… ayo kita turun,dah ditungguin tuh!” ajak Roni
setelah mereka melepaskan pelukan mereka.
“Iya kayak anak perawan aja loe dandannya lama” goda Hilman
yang langsung di timpuk bantal oleh Arga dan gelak tawa merekapun pecah.
kemudian ketiganya turun untuk menemui orang tua Arga
yang sudah kumpul diruang tamu bersama dengan Anita dan kedua orang tuanya
yang baru beberapa saat sampe di rumah ini.
Sandya yang berada dibawah tangga memandang kearah Arga
pandangan mereka bertemu dan keduanya saling terdiam.
“Ehem…. Sandya nih calon pengantinnya dah keren” ucap Roni mencairkan suasana.
Sandya mengejapkan kedua matanya menyadarkan dirinya dari pesona Arga.
“Hehehe… silahkan mas Roni dibawa ke depan
pengantinnya sudah ditunggu sama pasanganya” Sandya tertawa kecil
menutupi kegugupannya karena Arga yang tidak lepas memandangnya.
Roni dan Hilman memandang Sandya dengan pandangan terharu
melihat ketabahan Sandya, kemudian Roni dan Hilman pun tertawa
lalu menyeret Arga ke ruang tamu tempat kedua orang tuanya dan
calon tunangan beserta keluarganya menunggu.
Arga duduk disamping Anita tersenyum tipis.
Perasaannya gelisah dan tidak nyaman.
Keadaan Arga tidak luput dari perhatian Anita dan kedua orang tuanya,
“Kamu sehatkan Arga? Tegur pak Rahardiansyah. Arga tidak menjawab
“Pa… sepertinya Arga lebih gugup daripada Anita ya, ?” goda bu Halimah
membuat semua yang hadir tersenyum simpul.
Setelah mengantar Arga menemui orang tuanya Roni dan Hilman
segera mengejar Sandya yang berjalan keluar menuju halaman rumah.
“Sandya…mau kemana?” tanya Roni.
“Ingin mengirup udara segar…. nafasku terasa sesak didalam” sahutnya
sambil terus melangkah meninggalkan ruangan pesta.
__ADS_1