
Satu bulan sudah Arumi tinggal di Jakarta, bapak sudah pulang kembali ke desa sehari
setelah kedatangannya banyak urusan yang masih harus di selesaikan di desa
katanya. Bapak di antar oleh Roni dan Hilman. Mereka ingin minta bapak
mengenalkan mereka dengan bidadari desa yang cantic seperti Arumi. Arumi
tersenyum mendengar rencana mereka dan membuatnya mengingat Wati sahabatnya.
Semoga salah satu dari mereka bisa berjodoh dengan Wati.
Jakarta bukanlah kota yang memberikan hawa sejuk pegunungan seperti didesa,
hawa panas hampir sepanjang hari menyelimuti kota, tapi Arumi menyukai kota ini
tempat dimana suaminya tinggal dan ia bahagia berada disini menjalani
kisah hidupnya bersama Arga suaminya.
Rasanya menakjubkan…, ketika membuka mata mendapati senyum manis Arga
yang menyambutnya membuat debar debar indah di hati.
Senyum simpul Arumi terukir sebelum bibir Arga menyentuh kelembutan bibirnya
membuat Arumi melupakan segalanya, termaasuk luka kehilangan Arga
beberapa waktu lalu. Mungkin itu yang membuat perasaan
Arumi selalu berbunga bunga dan senyum Arumi merekah.
“Dari tadi senyum terus….., kenapa sayang..?” Arumi menoleh pada Arga
yang baru memasuki kamar, Pipi Arumi merona merah menahan malu.
“Sayang……” Arga bertanya lagi. Arga melangkah perlahan
dan berlutut di tepi ranjang. Kedua tanganya menangkup wajah Arumi.
Bibir Arga mengulum senyum di wajah nya menahan tawa melihat Arumi yang
tersipu malu.
“Hari ini kita ke dokter ya, ..?” ucap Arga tangannya mengusap perut Arumi
yang masih datar.
Arumi mengangguk dan menatap suaminya, Arga tersenyum dengan mata teduh.
“Ayo siap siap… dah ditunggu mama sama papa buat sarapan.”
Di kecupnya kening Arumi.
Arumi turun dari ranjang lalu melangkah ke kamar mandi tak lama ia keluar
dengan tubuh yang hanya terlilit handuk. Arga yang masih duduk di sisi ranjang
fokus dengan ponsel nya menengok ke arah Arumi.
“eheem… Arum… kalau kamu tidak cepat cepat pakai baju,
kita bisa batal ke dokter” geram Arga
membuat Arumi bergegas lari ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.
Arga mengulum bibir menahan tawa geli melhat tingkah istrinya
‘ ah… istri cantikku selalu sukses mengalihkan fokusku dari apapun.
Pak Purnomo sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi
ketika Arga dan Arumi turun dari kamar mereka.
Arumi langsung berjalan ke arah dapur menemui bu Rahma
yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
“Mama masak apa.., Arumi bantu ya?
Bu Rahma menoleh tersenyum dan mengusap bahu Arum
. ”Ini kamu bawa saja nasi gorengnya ke meja”
“Iya Ma…..Maaf Arum nggak bantuin Mama nyiapin sarapan” ucap Arumi tersenyum malu.
Bu Rahma tersenyum. ”nggak apa apa… nanti kan Arum bisa masak
untuk makan malam”.
Arumi, menantunya adalah perempuan sederhana berhati lembut
yang telah membuat Arga anaknya menjadi laki laki dewasa penuh tanggung jawab,
Arumi sudah membuat Arga menjadi kebanggaannya dan mama tak
akan putus menyayangi menantunya ini.
Tersenyum malu Arumi menerima wadah nasi goreng yang sudah dibuat mama
ke meja makan diikuti bu Rahma yang membawa ayam goreng
“Kalian jadi periksa ke dokter kandungan” Tanya pak Purnomo
“Jadi Pa…., Arga sudah buat janji dengan dokter Ratih jam sebelas.” jawab Arga
“Hari ini Arga mau ajak Arum ke kantor dulu mengecek beberapa berkas
sekalian ngenalin nyonya Arga sama orang kantor” jawab Arga
mengedipkan mata ke arah Arumi
“Ajak Arum jalan jalan sekalian, Arga” itu titah bu Rahma , mama cantiknya Arga
“Sip…Bos” Arga menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempol.
“Mama jadi hari ini ikut papa berangkat ke Jepang” Tanya Arga
“iya jam sebelas kita berangkat, pesawatnya nanti jam satu siang” bu Rahma
sambil menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya.
“Wah… Arga nggak bisa antar kalian dong” ucap Arga
“sudah kalian terusin jadwal ke dokter saja, kita di antar pak Tarno” jawab pak
Purnomo
“kamu jaga menantu mama, Arga” tegur bu Rahma
__ADS_1
Pak Purnomo akan menemui rekan bisnisnya di Jepang sekaligus mengajak istrinya
berlibur ke Jepang selama satu minggu. Menikmati kebersamaan mereka kembali
setelah berbagai kejadian tidak mengenakan yang mereka alami beberapa bulan ini.
Mereka juga ingin memberikan waktu untuk anak dan menantunya
menikmati kebersamaan dan terbiasa di rumah tanpa kehadiran mereka.
Karena tampaknya Arumi masih terlihat kagok dan sungkan berada di rumah ini.
Selesai sarapan Arga menggandeng lengan Arumi pamit pada kedua orang tuanya
dan membawa istrinya ke kantornya.
Sampai dikantor Arga menggenggam tangan Arum membawanya menaiki sebuat lif
menuju kantor Arga yang berada di salah satu gedung tinggi yang ada di Jakarta.
Sedangkan ruangan kerja Arga ada di lantai delapan.
Sebelum masuk keruanganya Arga melangkah menuju suatu ruangan
dan memperkenalkan istrinya kepada beberapa karyawan yang membantu bisnisnya
.Arumi hanya tersenyum menerima sambutan hangat dari karyawan di kantor suaminya.
Arga terlihat begitu di hormati oleh karyawannya.
Memasuki ruangan Arga membiarkan Arumi berkeliling ruangan
dengan pandangan takjub, ia tersenyum pada Arumi lalu mengusap kepala istrinya.
”Kamu istirahat di sofa, aku memeriksa berkas sebentar” Arumi mengangguk
Arga melangkah menuju meja kerjanya membuka tumpukan berkas
yang tersusun rapi diatas meja,
“ada minuman dingin di kulkas kalau kamu haus” ucap Arga tetap serius pada
berkasnya. Arumi duduk di sofa yang ada diruangan itu setelah mengambil
minuman.
“Kantor mas Arga bagus…, pantas saja betah lama lama di kantor” gumam Arumi
Arga menoleh ke arah Arumi meletakkan berkas yang beberapa saat
lalu di tekuninya, melangkah ke sofa. Direngkuhnya tubuh istri
dan mengecup ujung kepalanya.
“tetap aja mas lebih suka kalau berlama lama sama istri mas ini”
Arumi terkekeh “bisa di pecat papa dong, kalau mas Arga sama Arum terus”
Tawa Arga pun terdengar nyaring.” Udah ayo kita berangkat ke rumah sakit”
Arga meraih lengan Arumi dan mengandengnya keluar ruangannya menuju lift
dan meninggalkan kantor ke sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta.
Mobil Arga sudah memasuki halaman parkir sebuah rumah sakit.
Setelah memarkirkam mobil Arga keluar dari mobil dan berlari
kemudian menggenggam tangan Arumi menuntunnya ke dalam rumah sakit.
Mendudukkan Arumi di kursi ruang tunggu Arga mengurus Administrasi,
kemudian Arga dan Arumi menunggu didepan ruang tunggu dokter kandungan.
Tidak berapa lama kami sudah berada di dalam ruangan dokter spesialis kandungan
untuk memeriksakan kehamilan Arumi.
Arga sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi kesehatan Arumi dan kandunganya.
Seorang dokter wanita paruh baya menyambut dengan senyum ramahnya.
Setelah menanyakan beberapa hal dokter Ratih meminta Arumi naik ke brankar
di ruanganya. ”Silahkan bu Arum naik ke atas brankar, kita lihat kondisi janinnya ya”
Arga menuntun Arumi menaiki brankar.
Dokter Ratih yang memeriksa Arumi mengangkat keatas blues Arumi
dan mengoleskan jel ke perut Arumi kemudian Dokter Ratih meletakkan alat
yang di pegangnya ke perut Arumi dan menggerak gerakannya.
“Ini Rahim bu Arumi dan yang bulat ini janinnya” dokter Ratih menjelaskan
sebuah gambar yang muncul di layar monitor.
“janin nya sekarang berusia sepuluh minggu
, Alhamdulillah kondisinya baik “ jelas dokter Ratih
Jantung Arga berdegup kencang kala menyaksikan monitor usg,
Arga menggenggam erat tangan Arumi dengan mata berkaca kaca terharu
melihat darah dagingnya sudah tumbuh di Rahim istrinya.
Arumi juga terlihat bahagia memandangi layar monitor, merasa takjub
bagian dari diri suaminya yang tumbuh di dalam dirnya.
Dokter Ratih menyelesaikan pemeriksaannya dan mencetak
beberapa gambar hitam putih hasil pemeriksaan USG Arumi.
“Bu Arum ada keluhan mual dan muntah muntah” Tanya dokter Ratih
“Saya baik baik saja dokter,
tidak merasa kan mual apalagi muntah muntah” jawab Arumi
“oh… ya sudah ini saya kasih vitamin aja, konsumsinya di perhatikan ya pak,
sekarang ini bu Arum harus memberikan makanan untuk adik bayinya
selain untuk tubuh ibu sendiri” nasehat dokter Ratih pada Arumi dan Arga.
Arga mengganggukkan kepala
__ADS_1
“ iya dokter saya akan memperhatikan makanan untuk istri saya”.
Setelah mendengar beberapa nasehat dokter Ratih tentang kehamilannya
Arga dan Arumi menninggalkan ruangan dokter kandungan itu dan disarankan
memeriksa satu bulan lagi.
Arga kembali menggandeng Arumi menuju mobil lalu melajukan mobilnya
dengan kecepatan sedang. Arga baru saja menerima pesan dari mamanya
kalau mereka sudah akan memasuki pesawat yang membawa mereka ke Jepang.
Ketika mobil yang di kendarainya melaju meninggalkan rumah sakit.
Arga mengarahkan mobilnya ke sebebuah restaurant yang sudah di booking
saat berada di kantor.
“Mas kita nggak pulang, kok arahnya bukan ke rumah?” Tanya Arumi
Arga mengelus kepala Arumi sambil satu tangannya tetap pada stir mobil
“ kita makan dulu ya” Arumi tersenyum menganggukkan kapala.
Tak lama mobil Arga memasuki halaman parkir sebuah bangunan indah,
memarkirkan mobil lalu segera keluar untuk membukakan pintu mobil Arumi.
Berjalan menggenggam jemari Arumi memasuki ruangan indah
yang di penuhi berbagai jenis bunga.
“Ini tempat apa Mas?” Arumi memandangi sekeliling ruangan.
“tempat makan” jawab Arga tersenyum simpul.
“Indah tempatnya, kayak di kebum bunga” ucap Arumi takjub
Arga hanya tersenyum menggandeng istrinya.
Sekretarisnya merekomendasikan Arga untuk membooking resto garden ini pagi tadi.
Seorang pelayan menyapa mereka dan mengantarkan ke tempat duduk
yang sudah Arga pesan. Arga mendudukkan Arumi di sebuah meja
yang di kelilingi bunga warna warni, mereka duduk berhadapan
seakan berada di taman bunga,
Arumi tersenyum manis hatinya ikut merasa berbunga bunga di ajak makan berdua.
Ini pertama kalinya Arumi makan di sebuah restaurant yang sangat indah.
Tak lama pelayan datang dan menyajikan makanan yang sudah Arga pesan
sejak booking tadi. Arumi terlihat senang dengan menu yang di sajikan,
di sesapnya jus strowberi sebagai minuman pembuka dengan wajah berbinar.
Ada dua porsi nasi dengan lauk bebek goreng kecombrang lengkap
dengan sambel matah yang menggiurkan.
Arga membawa Arumi ke sebuah Resto Garden yang menyediakan menu tradisional
karna Arumi memang lebih menyukai masakan Indonesia.
Di potong kecil kecil bebek goreng yang ada di piringnya
kemudian Arga menukar piringnya dengan piring Arumi
“Makan lah…. Kamu musti banyak makan”
Arumi memandangi makanannya dengan senyum meringis
membuat Arga mengeryitkan dahi khawatir.
“Kenapa… tidak suka? Tanya Arga
Arumi menggelengkan kepala
” Ini boleh nggak mas kalau makannya pake tangan saja,
susah kalau pake sendok garpu” cicit Arumi pelan
Arga mengulum bibir menahan tawanya
“ ya udah kita makannya pake tangan lebih nikmat nyolek sambelnya”
membuat Arumi salah tingkah
“Atau mau mas suapin, biar bikin romantis” Arga menggoda istrinya
“ich…mas Arga..” ketusnya menutupi wajah Arumi yang tampak bersemu malu
Arga tersenyum melihat istrinya yang focus menikmati hidangan yang memang sangat
enak.
“Arum…,” Arga berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Arumi.
Arumi mendongak memandang wajah suaminya,” sudah mau pulang”
Arga menggeleng, ”kamu tutup mata dong”
“mau apa sih, mas” Arum membulatkan matanya
“udah tutup mata aja sebentar, nggak di tinggal kok”, Arumi memejamkan matanya
Arga melingkarkan sesuatu di leher Arumi membuat istrinya tersentak
dan membuka mata saat merasa ada rantai tipis yang menyentuh lehernya.
Ia tersenyum seraya memegang liontin yang berbentuk huruf A
dengan kilau permata di sekitarnya.
“
I love you” bisik Arga mengecup sekilas bibir istrinya. Arumi tersenyum malu.
Arga menggandeng tangan Arumi berjalan keluar restoran
“Malu tadi ada pelayannya, mas malah cium Arum” omelnya berbisik.
Arga terkekeh dan kembali mengecup kening istrinya.
__ADS_1
”Mas nggak malu kalau cium kamu” bisik Arga menggoda.