
Arga keluar menemui pamannya yang ingin melihat lihat pemandangan hutan jati, bapak
sudah tidak ada dirumah tapi ada warga desa yang memerlukan bantuan bapak untuk
mengecek saluran pipa air bersih yang belum lama ini di buat oleh mahasiswa
mahasiswa yang tugas pengabdian di desa Hardjomulyo.
“Bagaimana paman, apa jadi jalan jalan ke hutan jati?” Tanya Arga pada Sunardi
yang sedang mengisap rokok diteras.
“Jadi dong !…ngrokok dulu Arga.!” Jawab Sunardi menatap Arga seraya menawarkan
rokoknya pada keponakannya.
“Terimakasih….saya tidak merokok ” tolak Arga.
“Heran…kamu kan dulu perokok Arga…, apa kamu juga lupa …,
coba deh…kamu pasti suka!” desak Sunardi
tapi Arga tetap menolak sambil menggelengkan kepala.
“Baiklah kalau begitu ayo kita jalan-jalan ” ajak Sunardi tidak sabar.
“Ehm….Bapak kemana ya ?” tanya Arga
“Tadi keluar kearah sana ada orang yang menjemputnya, istrimu mana tidak ikut kita?”
tanya Sunardi melongok ke dalam rumah mencari keberadaan Arumi.
“Sedang berkemas untuk keberangkatan besok pagi ,
ayo paman kita berangkat nanti keburu gelap!”. Jawab Arga enggan.
Arga meninggalkan rumah diikuti Sunardi dengan pandangan waspada melihat sekeliling
jalan yang mereka lalui. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Parman yang
sedang mengawasi mobil Beno, Parman membungkukkan badannya berpura pura
memperbaiki rantai sepedanya menatap Arga. Arga yang melihat Parman menegurnya
“Hai …Parman…ada apa dengan sepedamu ?” sapa Arga.
“Eeh…Arga tidak ada apa apa cuma rantai sepedaku lepas….kamu mau kemana?”
Parman menjawab dengan pandangan tajam ke arah Sunardi
“Aku mau mengantar pamanku jalan-jalan kehutan jati…., paman ! kenalkan ini
sahabatku Parman..” Arga mengenalkan pamannya kepada Parman. Keduanya
bersalaman, Parman sangat terkejut mengetahui bahwa orang yang akan
mencelakakan dan membunuh Arga adalah paman Arga sendiri hatinya semakin geram
dan marah,juga bingung bagaimana memberitahu Arga bahaya yang sedang
mengincarnya. Parman menghembuskan napas mencoba menenangkan dirinya.
“Istrimu..nggak ikut ….Arga ?” Tanya Parman mencoba menahan Arga
untuk tidak pergi dengan pandangannya melirik Sunardi tajam.
“Arumi ada di rumah….dia sedang berkemas untuk keberangkatan kami besok ”.ujar Arga
ragu
“Kamu dan Arumi mau pergi kemana?” Parman mendongakkan kepala menatap Arga
“kami akan ke Jakarta menemui keluargaku” jelas Arga
“Oh…kalau begitu selamat jalan, semoga perjalanan kalian lancar dan selamat” ucap Parman
pandangan tak lepas pada Sunardi yang berjalan mendahului Arga.
__ADS_1
“Oke deh…sudah sore pamanku sudah nunggu untuk menikmati pemandangan hutan jati….
,saya pergi dulu ya Parman..!” ucap Arga seraya melambaikan tangan meninggalkan
sahabatnya. Parman memandangi kepergian Arga sejenak ia termenung bibirnya
bergetar menyebut lirih nama Arumi, setelah Arga terlihat agak jauh kemudian
meletakkan sepedanya dibalik pohon dan berjalan mengikut Arga sambil
mengendap-endap agar tidak terlihat keduanya.
Sunardi melirik Beno memberi isyarat untuk mengikuti Arga dan dirinya.
“Hai…Beno..ayo ikut jalan-jalan!” teriak Sunardi kepada Beno yang sedang merokok sambil
berdiri di depan mobilnya diujung jalan menuju hutan jati sedang sopir nya
duduk dibelakang stir sambil mendengarkan dangdut koplo. Beno berjalan perlahan
ke arah Arga.
“Oh..ya Arga..aku datang dengan Beno temanku tapi dia tadi nggak ikut kerumah katanya
lebih senang nunggu di warung sambil ngopi dan ngobrol sama sopir. Beno lalu
ikut bergabung menuju hutan. Parman yang
melihat mereka berjalan ke dalam hutan, segera menghampiri sopir yang sedang
asyik mendengarkan lagu dangdut dari tape mobil nya.
“Hai…..mas…dengar, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini kalau kamu mau selamat,
kalau tidak aku akan membawamu ke polisi !” bisik Parman menatap tajam sopir mobil
yang di sewa Sunardi. Sopir itu binggung dengan teguran Parman.
“Apa salah saya Mas ? saya sedang menunggu penyewa
“Kamu tahu…. ! kamu membawa dua orang penjahat yang akan membunuh warga desa ini,
kamu lihat kan pemuda yang dibawa kedua orang yang sewa mobil ini,
dia akan dibunuh di hutan itu, cepat kamu pergi
dan bantu saya melaporkan ke kantor polisi terdekat”. Ucap Parman tegas
dengan pandangan tetap mengawasi keberadaan Arga dan dua orang yang ingin
mencelakainya.
“I..iya..Mas..saya akan pergi…saya nggak ikutan mereka, saya akan lapor polisi mas”
sahutnya seraya melarikan mobilnya dengan cepat pulang kekota.
Parman kemudian kembali berlari mengejar Arga ke hutan ,
setelah dapat melihat Arga cukup dekat Parman kembali mengendap endap
sembunyi dari satu pohon ke pohon lainnya. Hatinya berdebar debar ketika melihat paman
Arga dan temannya berhenti di pinggir hutan jati membiarkan Arga berjalan terus
sambil bicara sendiri. Parman menghembuskan napas lalu ia bersembunyi pada pohon
yang terdekat agar dapat menyaksikan dari dekat apa yang akan dilakukan mereka.
Rupanya selain Parman dari arah yang berlawanan yaitu dari dalam hutan jati
sepasang mata sipit juga dengan tatapan tajam memperhatikan gerak-gerik Sunardi dan Beno.
Baik Parman maupun pengintip lain nya menjadi tegang
ketika melihat Sunardi mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya dan menodongkan
kearah Arga yang masih terus berjalan tidak menyadari bahaya yang mengintainya.
__ADS_1
“Arga…!”panggilan Sunardi membuat Arga membalikkan badan menoleh
ke arah suara Sunardi, ia tertegun melihat orang yang mengaku
pamannya menodongkan senjata padanya.
“Paman….ada apa, apa yang paman lakukan ?” Arga menatap Sunardi nanar
“Kamu harusnya sudah mati disini sejak sebulan lalu” ujar Sunardi dengan senyum licik
menodongkan senjata ke Arga
“Apa maksud paman ?” tanya Arga tubuhnya bergetar
“karena kamu tidak boleh pulang ke Jakarta, kembalinya kamu ke rumah akan membuatku
kehilangan segalanya yang sudah aku usahakan selama ini ”. dengan mata nanar Sunardi
mulai mengarahkan senjatanya ke arah Arga.
“kalau kamu kembali ke Jakarta sekarang, Ayahmu akan membatalkan penyerahan
perusahaannya dan warisan hartanya kepada ku karena itu kamu harus aku lenyapkan
disini, sorry Arga kamu harus mati dan dikubur dihutan ini” katanya seraya
membidikkan pistolnya kedada Arga.
Bertepatan dengan Sunardi yang sedang mengangkat pistol dan menarik pelatuknya,
Parman secepat kilat lari kearah Arga sehingga menutupi pandangan Sunardi
yang sedang membidik dada Arga.
“Arga….awas…..aaaaah !!!” jerit Parman berbarengan dengan bunyi letusan senjata api
yang memuntahkan pelurunya menembus punggung punggung Parman.
“Parman….!!!!!!!!” jerit Arga menyambut tubuh Parman yang berlari kearahnya
dan memeluknya. Arga tidak menyangka Parman akan muncul tiba tiba dihadapannya.
Sunardi merasa kaget dan geram, ia tidak menyangka ada orang
yang menghalangi sasarannya dan bersiap menembakkan kembali senjatanya,
namun sebelum ia menyadari situasinya dari arah hutan terdengar suara geraman
dan gemuruh mendatangi dan menyerangnya tiba tiba.
Tak ayal lagi tubuhnya terpental ketika seekor **** hutan besar dengan ganas menerjangnya,
pistolnyapun terlepas dari tangannya dan terlempar kedalam sawah.
Terdengar dengusan kemarahan yang berbaur dengan jerit kesakitan Sunardi yang
berkali-kali kena tusukkan taring **** hutan yang menyeruduknya dan
menginjak-injak badan nya dengan buas. Sementara itu Beno terpaku menyaksikan
pemandangan yang mengerikan didepannya, Beno baru sadar ketika **** hutan itu
melepaskan tubuh Sunardi yang terkapar bersimbah darah dan ganti memandang tajam kearahnya.
Ia segera bersiap melarikan diri namun malang belum sempat badannya bergerak
dia sudah diterjang dengan ganas dan mengalami nasib yang sama dengan yang di alami Sunardi.
Setelah puas melihat mangsanya tidak bergerak lagi, **** hutan itu sejenak memandang ke
arah Arga yang sedang memeluk Parman dengan wajah kalut, Arga memandangnya
dengan ketakutan namun **** hutan itu menggoyangkan kepalanya kekanan dan
kekiri lalu melesat masuk kedalam hutan meninggalkan Arga yang panic dan wajah
yang memucat.
__ADS_1