
Selesai sarapan mereka pergi menggunakan mobil Roni menuju ancol.
Tidak banyak percakapan selama perjalannya. Hanya Roni dan Hilman
yang beberapa kali meloncarkan godaan pada Sandya dan hanya di tanggapi
dengan senyum tipis Sandya.
“Sandya….,kamu mau ya jadi model kita, kamu cantik banget kalau di foto loh
bisa jadi model iklan” ucap Roni.
“
yeeeah…. Emang Sandya nya dah cantik makanya hasil fotonya ok” timpal Hilman
“Mau ya Sandya” Roni mengedipkan matanya kearah Sandya.
Sedang Sandya cuma mesem. “yah dia Cuma senyum doing”
“kalau senyum gitu berarti mau dong” Hilman tertawa lebar
Sesampai di pantai Roni dan Hilman langsung menyiapkan peralatan
yang mereka bawa dan mengajak Sandya berjalan kearah pantai
yang tidak terlalu ramai. Roni langsung gercep menarik lengan
Sandya dan memberikan arahannya mengabaikan tatapan tajam Arga
yang sejak di dalam mobil tak lepas memandangi Sandya.
“Sandya…kamu mulailah jalan sepanjang pantai ini sambil bernyanyi !,
kamu jangan memandang Hilman yang akan merekammu dengan Video,
cuek saja seolah-olah dia tidak ada didepanmu ya?
selendangmu biarkan dilehermu jangan diikat biar melambai-lambai tertiup angin,
siap?” atur Roni layaknya seperti seorang sutradara hebat, Sandya mengangguk.
Anita menggandeng lengan Arga berjalan mengikuti Roni dan Hilman
yang tidak lepas memandangi Sandya
“Arga…kamu nggak jalan jalan sama Anita ?” tanya Hilman.
“Enggak aku mau lihat kalian buat vidio” sahut Arga acuh, sementara matanya terus
menatap kearah Sandya. Sandya yang mengetahui pandangan taham Arga tidak
memperdulikannya dan mulai mengkuti arahan Roni.
Sandya menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan ketika berada dihutan
bersama Arga. Arga terdiam mendengar syair lagu yang dinyanyikan Sandya,
hatinya berdesir dia merasa pernah mendengarnya.
“Diwajahmu……..ku lihat bulan…..….
Bersembunyi ……… di sudut kerlingan……
Sadarkah tuan……kau ditatap insan…..
Yang haus akan belaian……..
__ADS_1
Walau ….tiada….. dapat……
yang mudah dicapai tangan.
Hati ingin…..menggapai…...
Kiranya….tinggi di awan…..
Diwajahmu……..ku lihat bulan…..….
Bersembunyi……… di sudut kerlingan……
Jangan….. biarlan ku tiada berkawan..…..
Hamba…menantikan tuan……..
“Sandya….!!”teriak Arga tiba tiba sambil berlari ke arah Sandya
mengikuti dorongan hatinya yang gelisah dan bingung.
Sementara itu Hilman dengan kamera Videonya terus merekam
ke arah Sandya dengan menahan napas.
“Sandya….aku sepertinya pernah mendengar lagu ini,
tapi aku tidak ingat dimana dan kapan …!, apa waktu didesa kamu pernah
bernyanyi untukku” ucap Arga sambil memegang bahu Sandya.
“Mas Arga…., kalau tidak ada yang diingat, jangan memaksa untuk mengingat
nanti mas Arga sakit, yang lalu biarlah berlalu ….” sahut Sandya
seraya menatap wajah suaminya dengan sedih tak terasa air matanya berlinang,
ingin Sandya memeluk Arga tapi wanita itu sadar suaminya kini bukan miliknya lagi.
aku bisa gila Sandya…. rasanya aku ingin mati saja !”. rintih Arga
merasa putus asa dan tidak mampu lagi menahan keresahan y
ang tiba tiba mendera hatinya, tanpa menghiraukan
sekelilingnya Arga meraih tubuh Sandya dan memeluk erat
Hilman dan Roni yang berdiri tidak jauh dari keduanya saling pandang
dan segera bergerak berdempetan berusaha menutupi keduanya
agar tak dilihat Anita yang sedang membeli minuman dingin.
“Busyet…Ron…kaki gue gemeteran asyik amat mereka ” bisik Hilman sambil nyengir
“Sudah jangan banyak ngomong rekam terus mereka,
mudah-mudahan Anita nggak ngelihat untung jaraknya agak jauh dari sini”
jawab Roni nggak mau kehilangan moment manis sahabatnya itu
“Man….sebenarnya Arga sangat mencintai Sandya…ya ?,
hanya dia tidak ingat masa lalunya, kasihan juga….ya ampun lama amat
pelukannya….bikin ngiri saja…Man kita dekatin mereka yuk, biar udehan! ”. Roni
berjalan mendekati dua sejoli
__ADS_1
“Arga… Sandya….inget…ini tempat terbuka !” tegur Roni. Keduanya segera tersadar
dan melepaskan pelukannya dan saling berpandangan,
Sandya mengejapkan kedua matanya karena malu
sekaligus bingung melihat tingkah Arga padanya.
“Maaf…”ucap Arga menatap Sandya tersenyum lembut.
“Hei…dari tadi kalian ngeliatin ya…?” gugup Arga menggaruk tengkuknya.
“Bukan ngeliatin ….tapi melototin sampai gemeteran nih kaki ” Hilman terkekeh
mencoba mencairkan suasana melihat ekspresi Arga yang gugup.
“Arga…..,Anita bisa ngamuk nanti kalau tahu kamu meluk Sandya.” Ucap Roni
mengedipkan matanya ke Hilman.
Biarin saja….mau marah silahkan, mau putus silahkan aku tidak perduli….” Sahut
Arga cuek.
“Arga loe jatuh cinta sama Sandya? Yeah..lagi-lagi kita kalah bersaing ya Ron?” ujar
Hilman terkekeh
“Nggak apa-apa yang penting teman kita bahagia Man”. timpal Roni
dan keduanya pun tertawa
“Terimakasih…kalian memang sahabat yang baik” ujar Arga
seraya menggandeng Sandya tetapi Sandya
segera menjauh melihat Anita berjalan ke arah mereka.
“Dah itu singa cantik yang satu dateng, awas nanti ngamuk.” Ucap Roni
melihat Anita yang berjalan ke arah mereka.
“Kalian ngapain sih …,Arga…ayo kita ke tempat lain kita kesini mau bersenang senang
bukan untuk menonton Sandya nyanyi, kalian kalau mau pulang duluan deh, kami
nanti pulang naik taxi!” ucap Anita melirik Sandya seraya menarik tangan Arga dan
mengajaknya pergi menjauh. Arga yang tidak bisa lepas dari lengan Anita
kemudian mengikuti Anita.
Roni dan Hilman terkekeh menahan tawa melihat wajah kusut Arga
sedang Sandya menatap kepergian Arga dengan tatapan sendu.
” Kita pulang saja Mas” ajak Sandya
“Sandya…sudahlah jangan dipikirin,
kalau kamu mau kita bisa jalan ke tempat lain” ujar Roni
mengajak Sandya menuju mobil.
“tidak usah mas.., kita pulang saja” ucap Sandya lesu
Melihat Sandya yang murung, Roni dan Hilman tak bisa berbuat apa-apa,
__ADS_1
mereka akhirnya mengantar Sandya pulang ke Arga, tidak ada percakapan
sepanjang perjalanan sampai mereka tiba dirumah.