
Pak Rakhim yang sedang berada didepan rumah menyambut tamunya
dengan tatapan tenang dan ramah
“Ada yang bisa saya bantu mas?” Tanya pak Rakhim.
“apa saya bisa bertemu dengan bapak Rakhim? Tanya Sunardi
“Saya Rakhim, Mas ini siapa dan ada keperluan apa? Pak Rakhim
memandangi tamunya penuh selidik.
“Kenalkan Pak! saya Sunardi orang yang berbicara di telpon dengan bapak kemarin,
saya adik dari Purnomo orang tua Arga, anak muda yang katanya bapak temukan di hutan .
” Sunardi berbicara datar dan pandangan tajam.
“Betul saya memang menemukan nak Arga yang terluka
karena hanyut di sungai” jawab bapak tenang.
“Kalau benar orang yang bapak temukan adalah Arga keponakan saya,
boleh saya bertemu dia ?” Sunardi terus menatap tajam pak Rakhim.
“Tentu mas Sunardi bisa bertemu dengan Arga, dia sedang ada halaman belakang
sebentar Bapak panggil ya !” ucap Pak Rakhim tegas seraya berjalan ke ruang belakang
mencari menantunya. Tak lama kemudian bapak dan Arga keluar menemui tamunya.
“Arga …! Bagaimana kabarmu…?,akhirnya kamu ditemukan,
Arga kami semua dirumah cemas menunggumu syukurlah kamu sehat-sehat saja”
ujar Sunardi langsung memeluk erat Arga dengan senyum tipis,
Arga hanya berdiri terdiam kaku, dirinya merasakan tidak nyaman dipeluk tamunya.
“Arga….! Mas Sunardi in pamanmu, adik Ayahmu, apa kamu tidak ingat ?”
Pak Rakhim menjelaskan pada Arga tamu yang menemuinya.
“Maaf…saya tidak ingat siapa anda, saya tidak bisa mengingat masa lalu saya,
tapi saya senang bertemu Paman,bagaimana keadaan Ibu dan Bapak saya ?”
jawab Arga sambil menatap Sunardidengan pandangan bingung.
“Arga…apa yang terjadi?, kamu tidak ingat masa lalu, maksudya apa?”
Sunardi menunjukkan kecemasannya pada Arga,
namun wajah menahan senyum tipis dan tatapan liciknya,
“maaf mas Sunardi, kecelakaan yang dialami Arga telah membuat ia kehilangan ingatan
masa lalunya karena itu Arga mungkin tidak mengenali mas Sunardi.”
Bapak menjelaskan keadaan Arga kepada tamunya dengan tatapan tenang namun tajam
“Arga, jadi kamu tidak ingat sama saya, saya om kamu.
Mama dan papamu sangat khawatir dan terus mencari kamu,
mereka sangat merindukan kedatanganmu….” Sunardi memegang bahu Arga berusaha
meyakinkan, pandangan Sunardi mengarah pada sosok dibelakang Arga.
ehm… Siapa wanita di sampingmu ini…, apa dia istrimu?” tanya Sunardi seraya memandang Arumi.
“Benar Paman…, Arum kenalkan Pak Sunardi ini pamanku !”. Arumi tersenyum
sambil menyalami Sunardi kemudian permisi meninggalkan tamu suaminya untuk kedapur.
“Arga….apa yang terjadi?” Tanya Sunardi
“Maaf paman, saya tidak tahu apa yang terjadi
dan tidak mengingat apapun tentang diri saya” jelas Arga
“Karena itu kamu menikah disini, Apa kamu juga tidak ingat dengan Anita tunangan kamu?”
cecar Sunardi mencoba memprovokasi Arga
“tunangan?” tanya Arga heran.
“Iya ….sebelum kamu bertualang ke hutan jati, kamu melamar Anita
dengan janji sepulang dari petualangan kamu disini, kalian akan bertunangan
dan pernikahan akan dilaksanakan setelah kalian selesai kuliah,
tapi sekarang kamu tidak ingat dan sudah menikah disini,..bagaimana
ini Pak !”.pancing Sunardi
“Arga….sudah..punya tunangan?” gumam Arumi yang baru membawakan minuman.
“Tapi paman…aku tidak kenal mereka….aku sudah beristri,
aku tidak mau pulang ke Jakata kalau harus meninggalhan istriku,
aku akan tetap tinggal disini” jawab Arga panik mendengar penjelasan tamunya
lalu memandang istrinya dengan cemas, tersenyum tipis
__ADS_1
Sunardi menyembunyikan kegembiraannya mendengar jawaban Arga kemudian membujuk
Arga.
“Arga kalau kamu sudah betah tinggal disini dan tidak mau pulang dengan paman tidak apa apa,
nanti akan paman sampaikan pada papa dan mamamu kalau kamu selamat dan senang tinggal
didesa ini, soal papa dan mama kamu biar paman yang mengurusnya” dengan tatapan
tajam Sunardi mencoba menghasut Arga untuk mengabaikan orang tuanya.
Pak Rakhim yang sejak tadi terdiam tampak mengeryitkan dahinya
mendengar pembicaraan menantu dan tamunya.
“Ehemmm Arga…. menurut bapak, kamu tetap harus pulang bertemu dengan orang tuamu
dan juga tunanganmu. Ceritakan apa yang kamu alami juga tentang pernikahanmu dengan Arumi.
Jelaskan kepada tunanganmu bahwa lamaran yang kamu ajukan tidak bisa dilanjutkan
karna kamu sudah menikah dan pernikahan tidak bisa begitu saja diputuskan”
Pak Rakhim menengahi mereka dan memandang curiga pada Sunardi.
ia merasa heran dengan perkataan Sunardi yang seperti mendorong Arga
untuk tidak kembali ke Jakarta dan melupakan keluarganya.
Sunardi menghembuskan napas mulai cemas karena Pak Rakhim mengacaukan rencananya
dengan membujuk Arga kembali ke Jakarta.
“Iya sih Arga memang harus pulang, tapi kamu tidak bisa bawa istrimu pulang ke Jakarta.
Sampai dirumah pesta pernikahan Arga dan Anita akan langsung disiapkan.
Keluarga Rahardiansyah orang tua Anita adalah keluarga kaya dan terpandang di Jakarta,
mereka akan marah besar bila Arga membatalkan pertunangan dan Purnomo papa Arga tidak dapat
menanggung malu karena sudah berjanji akan menikahkan anak mereka,!” Tatapan
Sunardi tajam mengintimidasi Arga.
“Bapak lebih baik saya tidak ke Jakarta, saya tidak mau meninggalkan Arum
apalagi menikah dengan orang yang tidak saya kenal, lagian saya tidak mengingat
mereka saya akan tersiksa hidup diantara mereka”. ucap Arga mulai terpengaruh hasutan Sunardi
Argai meraih bahu Arumi dan merengkuhnya
“Arga….suamiku, Bapak benar kamu harus pulang menemui orang tuamu,
akan menerima dengan ikhlas” sambung Arumi lembut
menatap teduh suaminya meski hatinya terasa perih.
“Tidak Arum…aku tidak akan pulang, aku tak mau mereka memisahkan kita”
bantah Arga gusar menatap nanar mata Arumi.
“Ehm…Arga kalau kamu tidak ingin meninggalkan desa ini, paman sih setuju saja
tapi paman harus bilang bagaimana pada orang tuamu?” dengan
menahan geram Sunardi terus menghasut Arga untuk tidak kembali ke Jakarta.
“Bilang saja , anak mereka sudah mati” ujar Arga kesal.
“Arga… !!! apa yang kamu bilang, Bapak tidak setuju dengan ucapanmu,
kamu sangat kurang ajar, kamu tahu bagaimana perasaan seorang Ibu
jika kehilangan anaknya ? pokoknya kamu harus ke Jakarta !” bentak bapak dengan marah.
Pak Rakhim menatap tajam Arga, kecurigaannya semakin kuat dengan perkataan Sunardi
yang seakan menghalangi Arga untuk pulang ke Jakarta. Di pandanginya tamunya
dengan seksama, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Maafkan saya bapak, baiklah saya akan ke Jakarta, tapi aku akan membawa Arum denganku,
apapun yang terjadi aku tak mau pisah dari istriku” Arga menjawab pelan sambil memandangi Arumi
dengan wajah sendu.
“Ya….sudahlah kamu bisa ikut saya pulang ke Jakarta, kita bisa berangkat malam ini
dengan kereta” Sunardi menatap tajam mendengar perkataan Arga,
kemudian menghela napas menutupi kekesalannya pada pak Rakhim.,
bibirnya tersenyum tipis dan matanya melirik Arga.
“Sebaiknya kita berangkat besok pagi saja paman, saya belum berkemas
dan paman juga pasti masih capek, istirahatlah dulu dirumah kami” ujar Arga tegas pada Sunardi.
“ya udah kalau itu mau kamu” Sunardi menimpali dengan sinis.
“oh ya……Arga, mumpumg ada disini paman mau jalan jalan sebentar di desa ini,
kamu bisa antar paman melihat lihat hutan sekitar sini,
__ADS_1
kelihatan menyenangkan menikmati pemandangan di desa yang sudah membuat kamu betah”
ucap Sunardi tersenyum tipis sambil menghela nafas panjang
setelah rencana menahan kepergian keponakannya tak berhasil lalu
ia berniat menjalankan rencana berikutnya.
“Baik…, saya sore ini saya akan temani paman melihat pemandangan hutan jati,
tapi sekarang paman bisa istirahat dulu, saya perlu bicara dengan Arumi”.
Arga pamit kepada Sunardi dan meninggalkan Sunardi dengan pak Rakhim
“Ayo silahkan mas Sunardi di cicipi kuenya atau barangkali ingin istirahat dulu.” ujar Pak Rakhim
yang sejaktadi mengamati tamunya tanpa banyak bicara.
“Iya…..Pak terimakasih, biar saya duduk di teras depan saja, hawanya disini nyaman sekali”
ujar Sunardi seraya bangkit dari duduknya dan berjalan keteras rumah
dan mengedarkan pandangan ke sekitar rumah pak Rakhim.
Di kejauhan dia melihat mobil yang ditumpangi Beno berhenti di dekat hutan jati.
Sunardi mengirim pesan kepada Beno untuk bersiap dengan rencana mereka.
Sunardi : Ben…loe siap di posisi, gue bawa target kesana
Beno : beres bos
Pak Rakhim hanya terdiam memandangi tamunya sambil melanjutkan pekerjaannya
Sementara Arga menemui istrinya yang sejak tadi berdiam di kamar. Arga segera menghampiri
Arumi yang sedang terbaring di tempat tidur.
“Arum….ada apa? kamu kenapa ?”.Arga membelai lembut pucuk kepala Arumi
“Mas Arga….perasaanku tidak enak, rasanya aku ingin menangis ” ujar Arumi seraya
membalikkan badannya duduk di ranjang memandang suaminya, tangannya mengusap
lembut wajah tampan dihadapannya, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar
sambil berbisik lirih: “Mas….haruskah …aku…melepasmu ?”.
“Sayangku…kamu bicara apa? Kenapa kamu harus melepasku ?”
bisik Arga seraya mendekap istrinya.
“Mas…. Kamu punya tunangan yang sudah menunggu di Jakarta” cicit Arumi
“Sayang….Aku sudah memilimu, kamulah hidupku, tidak ada pertunangan itu” dipeluknya
Arumi dengan erat.
“Mas Arga….aku takut kehilanganmu, tapi bila harus melepasmu aku ikhlas meski itu
seakan melepas sebagian hidupku....” bisik Arumi dengan mata terpejam hingga
air matanya berlinang mengalir dipipinya.
“Arum..tidak ada yang dapat memisahkan kita ” Arga tak dapat lagi menahan perasaannya
melihat kesedihan istri yang sangat dicintainya di elus lembut punggung Arumi yang bergetar
menahan tangis, keduanya saling mengeratkan pelukannya seakan tak ingin melepaskan nya.
“Orang tua mas Arga sudah menyiapkan pernikahan dengan tunangan mas Arga di Jakarta”
ucap Arumi lirih matanya sudah berkaca kaca.
“Arum…aku tidak akan menikah dengan orang lain, berjanjilah apapun yang terjadi dan dalam
keadaan bagaimanapun diriku, kamu tidak akan meninggalkan aku?” pinta Arga
seraya mendekap kepala istrinya kedadanya. Arumi tidak menyahut tetapi mempererat pelukannya,
hatinya terasa perih membayangkan apa yang akan terjadi dengan pernikahannya,
haruskah ia melepaskan suaminya dan menyaksikan pernikahan Arga dengan Anita.
“Mas Arga….aku akan pergi dari kehidupanmu bila kamu bahagia disamping Anita”
bisiknya lirih.
“Sayang…..hilangkan pikiran itu dari benakmu, percayalah aku hanya milikmu”
Arga mengecup bibir istrinya dengan lembut.
“Sekarang kamu berkemas kemas, besok pagi kita akan pergi ke Jakarta dengan pamanku”
Arumi melepaskan pelukan suaminya tersenyum lembut.
“iya….aku kemasin pakaian dulu, Mas temani paman saja” ucap Arumi
“Bawa seperlunya saja kita tidak akan lama disana, setelah bertemu dengan keluargaku
dan menjelaskan semuanya, kita akan kembali ke desa” tegas Arga menjelaskan rencananya
kepada istrimya. Arumi hanya menganggukkan kepala, hatinya masih merasa gelisah.
“Aku akan mengajak paman jalan jalan di hutan jati” dikecupnya pipi Arumi sebelum
meninggalkan istrinya di kamar.
__ADS_1