Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 15


__ADS_3

“Parman…...apa yang kamu lakukan, Kenapa kamu mengorbankan diri


untuk menyelamatkanku” ratap Arga.


“Arga…..bawalah aku pulang…!!” pinta Parman dengan napas yang terengah engah.


Dengan tubuh yang masih gemetar Arga  mengangkat dan


memanggul tubuh Parman, betepatan dengan datangnya polisi yang mendapat laporan


dari sopir mobil. Arga dibantu polisi membawa pulang Parman kerumahnya.


“Bapak….!!!.Arum…!!!!” teriak Arga pilu sambil meletakkan tubuh Parman


di bangku panjang yang ada di teras rumah.


Pak Rakhim dan Arumi yang terkejut mendengar teriakan Arga segera keluar rumah


 warga desa yang melihat Arga memanggul tubuh Parman bergegas


mendatangi rumah kepala desanya.


“Arga…..! apa yang terjadi…? ya Allah kenapa Parman?” tanya Pak Rakhim.


“Bapak….Parman tertembak, pamanku ternyata ingin membunuhku


tapi…Parman melindungi aku sehingga tembakannya mengenai tubuh Parman!”


ujar Arga terbata bata, tubuhnya gemetar dan terasa lemas napasnya tersengal sengal.


Arumi segera memeluk suaminya, keduanya  duduk


disisi tubuh Parman. Parman membuka matanya tersenyum menatap Arumi.


“Parman….terima kasih kamu sudah menyelamatkan suamiku,


maafkan aku yang…”. belum selesai ucapan Arumi Parman menghentikannya


seraya menutup bibir Arumi dengan jari tangannya dan berkata lirih:


“Arum….! jangan teruskan ucapanmu, Arum..… kamu harus bahagia. Arum…


.nama lain dari cinta adalah pengorbanan, takdir dengan kejam telah memisahkan


aku darimu tapi lihatlah sekarang…! takdir tidak bisa menghalangi aku berkorban


untuk kebahagiaanmu, Arga… cintailah Arumi melebihi cintaku padanya!”


Parman menghentikan ucapannya karena dadanya terasa sesak.


Arga segera memegang tangan Parman dan berkata:


“Sahabatku! percayalah…aku akan menjaga cintamu , kamu akan tetap hidup dihati kami,


kita bersama-sama mencintainya ” Parman tersenyum puas mendengar ucapan Arga dan


membalas erat genggaman tangan sahabat nya.


“Wati…!” Parman memanggil lirih gadis yang sedari tadi berdiri dibelakang Arumi sambil


menangis. Arumi segera membimbing sahabatnya agar duduk disisi Parman.


“Parman….!” Wati tak dapat menahan kepedihan hatinya melihat wajah pemuda


yang dicintainya sangat pucat ia segera menubruknya dan menangis didadanya.


Parman mengangkat tangannya membelai rambut gadis yang selalu menunggu cintanya.


“Wati….maafkan aku yang tak dapat membagi cintaku padamu,” Parman pun menutup mata.



Parman….!!!!” jerit Arumi, Wati dan Arga bersamaan melihat tangan Parman jatuh


terkulai setelah mengakhiri ucapannya. Seluruh warga yang menyaksikan


meneteskan air mata haru.


“Innalillahi wa inailaihi rojiun” ucap pak Rakhim melihat kepergian


Parman. Arga membimbing istrinya yang lemas dan Pak Rakhim


segera memerintahkan tetangganya untuk mengangkat Wati yang pingsan


agar dibawa masuk kekamar. Kepada mertuanya dan polisi Arga


menceritakan keadaan pamannya yang telah tewas di cabik cabik ****


hutan, kemudian Pak Rakhim segera memerintahkan warganya untuk membantu polisi


mengambil dan memakamkan jenazah Sunardi dan Beno dari hutan jati.


Berkat kerja sama warga penguburan jenazah Parman, Sunardi dan Beno  bisa


dilaksanakan hari itu juga sesudah magrib meskipun baru selesai setelah jam


sembilan malam. Malamnya langsung diadakan pengajian mendoakan arwah yang


meninggal. Suasana kesedihan masih terasa mencekam di keluarga Pak Rakhim,


terutama Arga yang masih termenung tak dapat memejamkan matanya karena masih


terbayang dalam ingatannya bagaimana Parman mengorbankan nyawa untuk melindungi


dirinya, juga masih tergambar dipelupuk matanya bagaimana ia menyaksikan paman


dan temannya diinjak-injak **** hutan yang mengamuk dengan ganas.


“Mas Arga….” bisik Arumi seraya merebahkan kepalanya di dada suaminya


yang kemudian mendekapnya dengan erat keduanya masih merasakan kecemasan


“Istriku…..selain Parman yang telah berkorban untukku,


ada **** hutan yang telah melindungi aku, jika dia tidak ada mungkin setelah menembak Parman,


pamanku akan menembakku juga, sepertinya **** hutan itu adalah **** hutan


yang pernah kita temui sewaktu kita di hutan jati yang menolongmu dari ular berbisa


sebelum menikah.” Ucap Arga pilu

__ADS_1


“ohTuhan…hanya karena takut tidak dapat warisan dan perusahaan dari papaku paman


tega melakukan hal sekejam ini” ujar Arga seraya mendekap erat istrinya dan


mencium kepalanya hatinya sangat sedih membayangkan kejadian yang baru dialaminya.


Arumi hanya bisa memeluk suami nya dengan mata basah, perasaannya masih dicekam rasa


sedih, karena kematian pemuda yang sangat mencintai dirinya dan hampir saja ia


kehilangan suami yang sangat dicintainya. Tidak sanggup dibayangkan bila Arga


yang tertembak dan pergi meninggalkannya.


Malam ini desa kembali sepi dari teras rumahnya pak Rakhim memandang kearah hutan


jati dilihatnya sepasang mata tajam menatapnya, pak Rakhim menganggukan


kepalanya pelan seraya bergumam “Terima


kasih telah melindungi menantu kita dan menjaga kebahagian putri kita”


Keesokan harinya Pak Rakhim mengajak anak dan menantunya duduk-duduk diteras,


bapak ingin membicarakan rencana kepulangan Arga yang tertunda karena peristiwa


mengerikan yang mereka alami kemarin.


“Arga…..sebaiknya nanti sore kalian berdua berangkat ke Jakarta


sesuai dengan rencana yang sudah dibuat, Bapak akan menyusul kemudian


setelah selesai mengurus semuanya yang menyangkut kejadian kemarin di kantor desa”.


ujar bapak tenang


“Nanti sore Pak… ?” Arga menatap bapak heran.


“Iya…supaya sampai ke kota magrib, lalu kalian langsung saja berangkat


dengan bus ke Jakarta biar sampai disana pagi, jadi lebih mudah mencari alamat rumahmu,


 kalau setelah sampai di Jakarta kalian bingung telponlah kerumah


minta orang tuamu menjemputmu, sebaiknya kalian tidak usah cerita dulu tentang pamanmu


nanti Bapak yang akan menceritakan semuanya” pesan Pak Rakhim.


“Baiklah …kalau begitu ayo kami akan kemas-kemas!” ajak Arga kepada istrinya.


Jam tiga sore mobil dari kota sudah masuk ke desa, Arga dan Arumi sudah bersiap


berangkat ke Jakarta, sebelum naik ke mobil Pak Rakhim memeluk erat putrinya.


“Arum….temani suamimu menemui keluarganya, jadilah istri yang baik,


hormati mertuamu!, Insya Allah beberapa hari lagi Bapak datang ke Jakarta menengokmu ”


dikecupnya kening putri kesayangannya. Arumi menangis sambi memeluk erat sang Ayah


yang sangat dicintainya, baru kali ini ia berpisah dengan orang tuanya.


“Bapak….! benar ya segera menyusul Arum ke Jakarta ?” isak Arumi pelan


seraya menuntun putrinya naik ke mobil. Kemudian Pak Rakhim


memeluk menantunya sambil berbisik lirih:


“Arga….bapak percayakan Arum padamu, jagalah istrimu.” Ucap bapak tenang


“Saya akan selalu menjaga dan mencintai Arum, pak” ucap Arga mantap


“Nanti jika mobil kalian berjalan melewati hutan jati ajaklah istrimu melambaikan


tangannya ke arah bukit hutan jati disana, kamu mengerti maksud Bapak, Nak ?” bisik


bapak pada Arga


“Iya….Pak saya mengerti ” Arga menganggukkan kepalanya seraya memandang ke arah bukit


dimana ia melihat seekor **** hutan yang sedang berdiri memandang ke arahnya.


Saat mobil mulai berjalan Arga berbisik kepada istrinya:


“Arum… sebelum kita meninggalkan desa hutan jati yang kita cintai ini, ayo kita pamit.


lambaikan tanganmu ke arah hutan jati, mudah mudahan kita bisa secapatnya kembali


lagi kesini” bisik Arga sambil tersenyum lembut. Arumi menuruti perintah


suaminya, keduanya melambaikan tangan ke arah bukit hutan jati. Pak Rakhim yang


tak lepas memandangi mobil yang membawa putri dan menantunya akhirnya tersenyum


karena Arga menuruti permintaannya, kemudian ia memandang kearah bukit,


sepasang mata yang sangat menyayangi anaknya memandang tajam menyaksikan


kepergian Arumi. Setelah menggeram dengan suara yang kedengaran seperti


kesakitan sambil menggoyang goyangkan kepalanya ia lalu berjalan gontai masuk


hutan. Pak Rakhim menghela nafas panjang, setelah bibir nya menyebut keagungan


Tuhan ia kembali pulang kerumah.


 Dari kota Purwokerto Arga dan Arumi menaiki bus ke Jakarta.


Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak terdiam tenggelam


dengan pikirannya masing masing, Arumi merebahkan kepalanya dibahu


suaminya perasaanya gelisah membayangkan apa yang akan terjadi sesampainya


dirumah suaminya. Arga menggenggan tangan istrinya, Dia juga merasakan


kegelisahan Arumi dan berusaha menenangkannya


“Tudurlah…..kita baru akan sampai Jakarta besok pagi” Arga mengusap kepala istrinya.


Tidak ada jawaban dari Arumi matanya terpejam tapi pikirannya berlari entah jauh kemana

__ADS_1


. Ada rasa yang tidak di mengerti membuatnya merasa takut.


Pukul delapan pagi bus yang ditumpangi Arga dan istrinya sampai di salah satu terminal


bus di Jakarta. Setelah meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal dan kaku


setelah semalaman duduk dalam bus, Arga dan Arumi bangun dari kursi mereka


dan melangkah keluar dari bus.


Suasana terminal pagi itu sangat ramai hingga untuk lewat pun harus sabar mengantri


karena banyaknya penumpang yang masih duduk-duduk diteras terminal. Arumi


berjalan sambil memegang lengan suaminya yang menjinjing tas pakaian. Ketika


keduanya sedang berjalan di antara bus-bus yang parkir  menuju pintu keluar terminal dari arah


belakang mereka terdengar keributan dan  teriakan:


“Tangkap….copet!….kejar !”. Arumi yang lebih dulu menoleh kebelakang


dan melihat seorang laki-laki dikejar banyak orang menuju kearahnya,


ia segera merapatkan badannya ke badan bus yang ada disampingnya.


Tapi lain halnya dengan Arga yang memandang fokus kedepan


dan tidak menyadari keadaan dibelakangnya, sekilas ia mendengar teriakan istrinya:


“Mas Arga…awas !!” Namun belum sempat menoleh kearah istrinya, ia merasa badannya


terdorong dengan keras kesamping membentur bus. Arga mengaduh sambil memegang


kepalanya yang terbentur tiang besi, tasnya terlepas dari tangannya, ia mengerjap


ngerjapkan matanya kemudian pandangan  menjadi gelap dan tubuhnya jatuh terkulai.


Arumi yang menyaksikan suaminya terjatuh menjadi histeris


membuat perhatian orang orang di terminal mengarah pada Arumi dan Arga.


“Mas Arga…. !!” Arumi berteriak memanggil manggil suami nya yang terkulai pingsan


dipelukannya. Seorang petugas terminal berseragam DLLAJR yang melihat kerumunan


orang yang mengelilingi Arumi segera mendatanginya untuk menolong dan membubarkan


kerumunan orang di sekitar Arumi. Petugas itu segera minta Arumi membawa tasnya


lalu memanggil petugas lainnya untuk membantu mengangkat Arga kedalam kantor


terminal. Atas anjuran kepala Terminal Arga segera dibawa ke rumah sakit maka


dengan menggunakan mobil DLLAJR.


Arga di bawa ke Rumah Sakit yang terletak tidak jauh dari terminal bus tersebut.


Sepanjang jalan Arumi menangis dan memeluk suaminya yang diam tak bergerak. Arumi


merasa panik wajah nya terlihat pucat pasi, ia baru pertama kali berada di kota


ini dan harus mengalami kejadian buruk tanpa ada seseorang yang ia kenal selain


suaminya sedangkan sekarang suaminya mengalami kecelakaan yang entah bagaimana


keadaanya. Tubuhnya gemetar dan ia sangat ketakutan.



mas Arga….bangun mas, kita sudah di Jakarta ayo temui mama dan papa, jangan


tinggalkan Arum” rintihan pelan Arumi bisikan di telinga Arga.


Sampai di Rumah sakit Arga langsung diterima di ruang rawat sementara unit gawat


darurat. Arumi menunggu diluar selama Arga ditangani Dokter


sambil  memeluk tas pakaiannya dengan perasaan cemas tubuhnya gemetar,


wajah wanita itu sudah tidak karuan, ada guratan yang terpancar di sana


hatinya diliputi kebingungan dan ketakutan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Ketika dokter yang memeriksa Arga keluar ia segera menanyakan keadaan suaminya.


“Nyonya….suami anda belum sadar tapi keadaan umumnya bagus


jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan sudah diberi obat mungkin


sebentar lagi akan siuman, silahkan anda menunggunya didalam.”


Dokter itu menjelaskan pada Arumi.


Arumi segera masuk menemui Arga dan duduk disisi brankar tempat Arga terbaring


dengan selang infus ditangan isaknya masih meramaikan ruangan.


Dipandangnya wajah  suami nya sekuat tenaga menahan tangis.


Tangannya gemetar membuka tas pakaiannya dan mengambil handuk kecil lalu


membasahi nya dengan air dan mengelap muka, leher dan dada suaminya dengan


penuh kasih sayang, selesai mengelap ia mengusap rambut suaminya. Wajah Arga masih


terlihat pucat.


Tak berapa lama Arga membuka matanya, Arga tampak kebingunan memandang sekitarnya,


Arga tertegun dan merasa heran melihat seorang wanita cantik yang duduk disisi


tempat tidurnya sedang memandangnya dengan pandangan mata berbinar binar


gembira meskipun pipinya basah oleh air mata.


“Alhamdulillah Mas Arga…..kamu sudah sadar…oh syukurlah ”.


ucap Arumi merasa lega melihat Arga yang sudah membuka matanya lalu memeluk suaminya


“Si...siapa…kamu..? kamu…kenal aku ?” tanya Arga keheranan dirinya dipeluk mesra

__ADS_1


melepaskan pelukannya. Bagai kejatuhan berkarung karung beban berat


Arumi terhenyak saat Arga melepaskan pelukkannya, tubuhnya seketika kaku.


__ADS_2