
“Parman…...apa yang kamu lakukan, Kenapa kamu mengorbankan diri
untuk menyelamatkanku” ratap Arga.
“Arga…..bawalah aku pulang…!!” pinta Parman dengan napas yang terengah engah.
Dengan tubuh yang masih gemetar Arga mengangkat dan
memanggul tubuh Parman, betepatan dengan datangnya polisi yang mendapat laporan
dari sopir mobil. Arga dibantu polisi membawa pulang Parman kerumahnya.
“Bapak….!!!.Arum…!!!!” teriak Arga pilu sambil meletakkan tubuh Parman
di bangku panjang yang ada di teras rumah.
Pak Rakhim dan Arumi yang terkejut mendengar teriakan Arga segera keluar rumah
warga desa yang melihat Arga memanggul tubuh Parman bergegas
mendatangi rumah kepala desanya.
“Arga…..! apa yang terjadi…? ya Allah kenapa Parman?” tanya Pak Rakhim.
“Bapak….Parman tertembak, pamanku ternyata ingin membunuhku
tapi…Parman melindungi aku sehingga tembakannya mengenai tubuh Parman!”
ujar Arga terbata bata, tubuhnya gemetar dan terasa lemas napasnya tersengal sengal.
Arumi segera memeluk suaminya, keduanya duduk
disisi tubuh Parman. Parman membuka matanya tersenyum menatap Arumi.
“Parman….terima kasih kamu sudah menyelamatkan suamiku,
maafkan aku yang…”. belum selesai ucapan Arumi Parman menghentikannya
seraya menutup bibir Arumi dengan jari tangannya dan berkata lirih:
“Arum….! jangan teruskan ucapanmu, Arum..… kamu harus bahagia. Arum…
.nama lain dari cinta adalah pengorbanan, takdir dengan kejam telah memisahkan
aku darimu tapi lihatlah sekarang…! takdir tidak bisa menghalangi aku berkorban
untuk kebahagiaanmu, Arga… cintailah Arumi melebihi cintaku padanya!”
Parman menghentikan ucapannya karena dadanya terasa sesak.
Arga segera memegang tangan Parman dan berkata:
“Sahabatku! percayalah…aku akan menjaga cintamu , kamu akan tetap hidup dihati kami,
kita bersama-sama mencintainya ” Parman tersenyum puas mendengar ucapan Arga dan
membalas erat genggaman tangan sahabat nya.
“Wati…!” Parman memanggil lirih gadis yang sedari tadi berdiri dibelakang Arumi sambil
menangis. Arumi segera membimbing sahabatnya agar duduk disisi Parman.
“Parman….!” Wati tak dapat menahan kepedihan hatinya melihat wajah pemuda
yang dicintainya sangat pucat ia segera menubruknya dan menangis didadanya.
Parman mengangkat tangannya membelai rambut gadis yang selalu menunggu cintanya.
“Wati….maafkan aku yang tak dapat membagi cintaku padamu,” Parman pun menutup mata.
“
Parman….!!!!” jerit Arumi, Wati dan Arga bersamaan melihat tangan Parman jatuh
terkulai setelah mengakhiri ucapannya. Seluruh warga yang menyaksikan
meneteskan air mata haru.
“Innalillahi wa inailaihi rojiun” ucap pak Rakhim melihat kepergian
Parman. Arga membimbing istrinya yang lemas dan Pak Rakhim
segera memerintahkan tetangganya untuk mengangkat Wati yang pingsan
agar dibawa masuk kekamar. Kepada mertuanya dan polisi Arga
menceritakan keadaan pamannya yang telah tewas di cabik cabik ****
hutan, kemudian Pak Rakhim segera memerintahkan warganya untuk membantu polisi
mengambil dan memakamkan jenazah Sunardi dan Beno dari hutan jati.
Berkat kerja sama warga penguburan jenazah Parman, Sunardi dan Beno bisa
dilaksanakan hari itu juga sesudah magrib meskipun baru selesai setelah jam
sembilan malam. Malamnya langsung diadakan pengajian mendoakan arwah yang
meninggal. Suasana kesedihan masih terasa mencekam di keluarga Pak Rakhim,
terutama Arga yang masih termenung tak dapat memejamkan matanya karena masih
terbayang dalam ingatannya bagaimana Parman mengorbankan nyawa untuk melindungi
dirinya, juga masih tergambar dipelupuk matanya bagaimana ia menyaksikan paman
dan temannya diinjak-injak **** hutan yang mengamuk dengan ganas.
“Mas Arga….” bisik Arumi seraya merebahkan kepalanya di dada suaminya
yang kemudian mendekapnya dengan erat keduanya masih merasakan kecemasan
“Istriku…..selain Parman yang telah berkorban untukku,
ada **** hutan yang telah melindungi aku, jika dia tidak ada mungkin setelah menembak Parman,
pamanku akan menembakku juga, sepertinya **** hutan itu adalah **** hutan
yang pernah kita temui sewaktu kita di hutan jati yang menolongmu dari ular berbisa
sebelum menikah.” Ucap Arga pilu
__ADS_1
“ohTuhan…hanya karena takut tidak dapat warisan dan perusahaan dari papaku paman
tega melakukan hal sekejam ini” ujar Arga seraya mendekap erat istrinya dan
mencium kepalanya hatinya sangat sedih membayangkan kejadian yang baru dialaminya.
Arumi hanya bisa memeluk suami nya dengan mata basah, perasaannya masih dicekam rasa
sedih, karena kematian pemuda yang sangat mencintai dirinya dan hampir saja ia
kehilangan suami yang sangat dicintainya. Tidak sanggup dibayangkan bila Arga
yang tertembak dan pergi meninggalkannya.
Malam ini desa kembali sepi dari teras rumahnya pak Rakhim memandang kearah hutan
jati dilihatnya sepasang mata tajam menatapnya, pak Rakhim menganggukan
kepalanya pelan seraya bergumam “Terima
kasih telah melindungi menantu kita dan menjaga kebahagian putri kita”
Keesokan harinya Pak Rakhim mengajak anak dan menantunya duduk-duduk diteras,
bapak ingin membicarakan rencana kepulangan Arga yang tertunda karena peristiwa
mengerikan yang mereka alami kemarin.
“Arga…..sebaiknya nanti sore kalian berdua berangkat ke Jakarta
sesuai dengan rencana yang sudah dibuat, Bapak akan menyusul kemudian
setelah selesai mengurus semuanya yang menyangkut kejadian kemarin di kantor desa”.
ujar bapak tenang
“Nanti sore Pak… ?” Arga menatap bapak heran.
“Iya…supaya sampai ke kota magrib, lalu kalian langsung saja berangkat
dengan bus ke Jakarta biar sampai disana pagi, jadi lebih mudah mencari alamat rumahmu,
kalau setelah sampai di Jakarta kalian bingung telponlah kerumah
minta orang tuamu menjemputmu, sebaiknya kalian tidak usah cerita dulu tentang pamanmu
nanti Bapak yang akan menceritakan semuanya” pesan Pak Rakhim.
“Baiklah …kalau begitu ayo kami akan kemas-kemas!” ajak Arga kepada istrinya.
Jam tiga sore mobil dari kota sudah masuk ke desa, Arga dan Arumi sudah bersiap
berangkat ke Jakarta, sebelum naik ke mobil Pak Rakhim memeluk erat putrinya.
“Arum….temani suamimu menemui keluarganya, jadilah istri yang baik,
hormati mertuamu!, Insya Allah beberapa hari lagi Bapak datang ke Jakarta menengokmu ”
dikecupnya kening putri kesayangannya. Arumi menangis sambi memeluk erat sang Ayah
yang sangat dicintainya, baru kali ini ia berpisah dengan orang tuanya.
“Bapak….! benar ya segera menyusul Arum ke Jakarta ?” isak Arumi pelan
seraya menuntun putrinya naik ke mobil. Kemudian Pak Rakhim
memeluk menantunya sambil berbisik lirih:
“Arga….bapak percayakan Arum padamu, jagalah istrimu.” Ucap bapak tenang
“Saya akan selalu menjaga dan mencintai Arum, pak” ucap Arga mantap
“Nanti jika mobil kalian berjalan melewati hutan jati ajaklah istrimu melambaikan
tangannya ke arah bukit hutan jati disana, kamu mengerti maksud Bapak, Nak ?” bisik
bapak pada Arga
“Iya….Pak saya mengerti ” Arga menganggukkan kepalanya seraya memandang ke arah bukit
dimana ia melihat seekor **** hutan yang sedang berdiri memandang ke arahnya.
Saat mobil mulai berjalan Arga berbisik kepada istrinya:
“Arum… sebelum kita meninggalkan desa hutan jati yang kita cintai ini, ayo kita pamit.
lambaikan tanganmu ke arah hutan jati, mudah mudahan kita bisa secapatnya kembali
lagi kesini” bisik Arga sambil tersenyum lembut. Arumi menuruti perintah
suaminya, keduanya melambaikan tangan ke arah bukit hutan jati. Pak Rakhim yang
tak lepas memandangi mobil yang membawa putri dan menantunya akhirnya tersenyum
karena Arga menuruti permintaannya, kemudian ia memandang kearah bukit,
sepasang mata yang sangat menyayangi anaknya memandang tajam menyaksikan
kepergian Arumi. Setelah menggeram dengan suara yang kedengaran seperti
kesakitan sambil menggoyang goyangkan kepalanya ia lalu berjalan gontai masuk
hutan. Pak Rakhim menghela nafas panjang, setelah bibir nya menyebut keagungan
Tuhan ia kembali pulang kerumah.
Dari kota Purwokerto Arga dan Arumi menaiki bus ke Jakarta.
Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak terdiam tenggelam
dengan pikirannya masing masing, Arumi merebahkan kepalanya dibahu
suaminya perasaanya gelisah membayangkan apa yang akan terjadi sesampainya
dirumah suaminya. Arga menggenggan tangan istrinya, Dia juga merasakan
kegelisahan Arumi dan berusaha menenangkannya
“Tudurlah…..kita baru akan sampai Jakarta besok pagi” Arga mengusap kepala istrinya.
Tidak ada jawaban dari Arumi matanya terpejam tapi pikirannya berlari entah jauh kemana
__ADS_1
. Ada rasa yang tidak di mengerti membuatnya merasa takut.
Pukul delapan pagi bus yang ditumpangi Arga dan istrinya sampai di salah satu terminal
bus di Jakarta. Setelah meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal dan kaku
setelah semalaman duduk dalam bus, Arga dan Arumi bangun dari kursi mereka
dan melangkah keluar dari bus.
Suasana terminal pagi itu sangat ramai hingga untuk lewat pun harus sabar mengantri
karena banyaknya penumpang yang masih duduk-duduk diteras terminal. Arumi
berjalan sambil memegang lengan suaminya yang menjinjing tas pakaian. Ketika
keduanya sedang berjalan di antara bus-bus yang parkir menuju pintu keluar terminal dari arah
belakang mereka terdengar keributan dan teriakan:
“Tangkap….copet!….kejar !”. Arumi yang lebih dulu menoleh kebelakang
dan melihat seorang laki-laki dikejar banyak orang menuju kearahnya,
ia segera merapatkan badannya ke badan bus yang ada disampingnya.
Tapi lain halnya dengan Arga yang memandang fokus kedepan
dan tidak menyadari keadaan dibelakangnya, sekilas ia mendengar teriakan istrinya:
“Mas Arga…awas !!” Namun belum sempat menoleh kearah istrinya, ia merasa badannya
terdorong dengan keras kesamping membentur bus. Arga mengaduh sambil memegang
kepalanya yang terbentur tiang besi, tasnya terlepas dari tangannya, ia mengerjap
ngerjapkan matanya kemudian pandangan menjadi gelap dan tubuhnya jatuh terkulai.
Arumi yang menyaksikan suaminya terjatuh menjadi histeris
membuat perhatian orang orang di terminal mengarah pada Arumi dan Arga.
“Mas Arga…. !!” Arumi berteriak memanggil manggil suami nya yang terkulai pingsan
dipelukannya. Seorang petugas terminal berseragam DLLAJR yang melihat kerumunan
orang yang mengelilingi Arumi segera mendatanginya untuk menolong dan membubarkan
kerumunan orang di sekitar Arumi. Petugas itu segera minta Arumi membawa tasnya
lalu memanggil petugas lainnya untuk membantu mengangkat Arga kedalam kantor
terminal. Atas anjuran kepala Terminal Arga segera dibawa ke rumah sakit maka
dengan menggunakan mobil DLLAJR.
Arga di bawa ke Rumah Sakit yang terletak tidak jauh dari terminal bus tersebut.
Sepanjang jalan Arumi menangis dan memeluk suaminya yang diam tak bergerak. Arumi
merasa panik wajah nya terlihat pucat pasi, ia baru pertama kali berada di kota
ini dan harus mengalami kejadian buruk tanpa ada seseorang yang ia kenal selain
suaminya sedangkan sekarang suaminya mengalami kecelakaan yang entah bagaimana
keadaanya. Tubuhnya gemetar dan ia sangat ketakutan.
“
mas Arga….bangun mas, kita sudah di Jakarta ayo temui mama dan papa, jangan
tinggalkan Arum” rintihan pelan Arumi bisikan di telinga Arga.
Sampai di Rumah sakit Arga langsung diterima di ruang rawat sementara unit gawat
darurat. Arumi menunggu diluar selama Arga ditangani Dokter
sambil memeluk tas pakaiannya dengan perasaan cemas tubuhnya gemetar,
wajah wanita itu sudah tidak karuan, ada guratan yang terpancar di sana
hatinya diliputi kebingungan dan ketakutan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Ketika dokter yang memeriksa Arga keluar ia segera menanyakan keadaan suaminya.
“Nyonya….suami anda belum sadar tapi keadaan umumnya bagus
jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan sudah diberi obat mungkin
sebentar lagi akan siuman, silahkan anda menunggunya didalam.”
Dokter itu menjelaskan pada Arumi.
Arumi segera masuk menemui Arga dan duduk disisi brankar tempat Arga terbaring
dengan selang infus ditangan isaknya masih meramaikan ruangan.
Dipandangnya wajah suami nya sekuat tenaga menahan tangis.
Tangannya gemetar membuka tas pakaiannya dan mengambil handuk kecil lalu
membasahi nya dengan air dan mengelap muka, leher dan dada suaminya dengan
penuh kasih sayang, selesai mengelap ia mengusap rambut suaminya. Wajah Arga masih
terlihat pucat.
Tak berapa lama Arga membuka matanya, Arga tampak kebingunan memandang sekitarnya,
Arga tertegun dan merasa heran melihat seorang wanita cantik yang duduk disisi
tempat tidurnya sedang memandangnya dengan pandangan mata berbinar binar
gembira meskipun pipinya basah oleh air mata.
“Alhamdulillah Mas Arga…..kamu sudah sadar…oh syukurlah ”.
ucap Arumi merasa lega melihat Arga yang sudah membuka matanya lalu memeluk suaminya
“Si...siapa…kamu..? kamu…kenal aku ?” tanya Arga keheranan dirinya dipeluk mesra
__ADS_1
melepaskan pelukannya. Bagai kejatuhan berkarung karung beban berat
Arumi terhenyak saat Arga melepaskan pelukkannya, tubuhnya seketika kaku.