
Pak Rakhim menyambut keduanya dengan senyum, hatinya merasa lega melihat kedekatan
keduanya.
“Putriku Arum…! janganlah bersedih setelah mendengar cerita Bapak,
Bapak dan Ibu dulu juga pernah merasa hidup ini hampa karena tidak memiliki keturunan,
tetapi kemudian doa kami terkabul, akhirnya kami punya seorang putri meski bukan anak sendiri,
Tuhan Maha Adil mengambil dari yang lebih dan memberikan kepada hambanya yang meminta kepadaNYA, engkau diberikan kepada kami agar menjadi pelita rumah tangga kami,
demikian pula Nak Arga jauh dari kota Jakarta dan terdampar kemari semua ini adalah suatu takdir
bahwa jodohmu telah datang, maka yang Bapak harapkan setelah kalian menikah nanti
hiduplah dengan rukun dan sayangilah anak-anak kalian kelak” ujar Pak Rakhim memberikan wejangan.
Baik Arum maupun Arga keduanya hanya mengangguk saling berpandangan
dan tersenyum penuh arti.
“Nah sekarang Bapak mau istirahat dulu, besok pagi-pagi Bapak akan pergi ke kota
mengurus keperluan pernikahan kalian sekaligus menghubungi alamat keluarga nak Arga
untuk mengabarkan keadaan nak Arga”.
“Bapak …saya mohon sebaiknya jangan dulu menghubungi keluarga saya,
ingatan saya belum pulih, saya tidak tahu bagaimana menghadapi mereka,
tunggulah sampai pernikahan kami berlangsung,
saya takut mereka akan menghalangi rencana pernikahan ini” pinta Arga cemas.
“Baiklah kalau itu kehendakmu..Bapak menurut saja”. Lanjut pak Rakhim tenang
“Arum….tolong ambil dompetku aku ingin melihat isinya!”.
Arumi mengangguk dan mengambil dompet Arga yang disimpannya.
“Bapak…ini ada uang mungkin bisa digunakan untuk keperluan mengurus pernikahan
dan ini ada kartu kredit dan kartu ATM seharusnya bisa digunakan tapi saya tidak nomor pinnya”.
Arga menyerahkan dompetnya kepada pak Rakhim.
“Nak Arga….simpan saja dompetmu, kamu bisa menggunakannya lain waktu, u
ntuk urusan pernikahan kalian Bapak masih punya simpanan dari hasil sawah dan tabungan Ibu
yang disimpan pada Bank Kantor desa yang ada di kota, dulu Ibu pernah berpesan agar Bapak
mengambil tabungannya bila tiba saatnya Arumi menikah”. Jawab pak Rakhim.
“Bapak baik sekali saya sangat berterimakasih dan rasanya entah kapan saya bisa membalas kebaikan
Bapak kepada saya” ujar Arga lirih seraya menunduk. Pak Rakhim tersenyum
sembari bangun dan setelah menepuk punggung calon menantunya ia masuk kekamarnya.
*******
Pagi hari setelah mengantar Pak Rakhim yang akan ke kantor desa dikota,
Aku mengajak Arum menikmati suasana desa yang indah dan sejuk ini.
kami berjalan menyusuri persawahan dengan bergandengan tangan dan senyum bahagia, kami
bercanda dan berlari-lari serta berkejar-kejaran hingga memasuki daerah pinggiran hutan jati.
“Arum...tutup matamu dan cari aku…!kalau ketemu akan ku beri hadiah ”.
aku melirik Arum yang tersenyum disampingku
“Apa hadiahnya ?” tanya Arum dengan binar indah dimatanya yang mempesonaku.
“Ehm….aku akan menggendongmu sampai kerumah …bagaimana mau ?”.
goda ku kemudian aku meminta Arumi menghadap ke sebuah pohon dan menutup matanya.
“Baiklah….aku akan tutup mata, tapi jangan jauh-jauh ya?”. Jawabnya, Setelah Arumi menutup mata
aku menaikki sebuah pohon tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian Arumi membuka
matanya memandang sekelilingnya yang sunyi senyap, akumelihatnya berlari ke arah pohon-pohon jati
mencariku, Aku tak bergeming memandangnya dengan senyum,
ku lihat ia merasa kelelahan berkeliling sekitar hutan.
“Mas Arga…..kamu dimana? Mas Arga…. keluarlah…aku takut sendirian ?”
teriaknya, namun suaranya menggema kembali.
Di edarkannya pandangan pada rimbunnya pepohonan.
“Aku akan memanggilnya sambil bernyanyi siapa tahu dia mau keluar ”. gumam Arumi
__ADS_1
sambil berjalan sepanjang pinggiran hutan jati menuju persawahan ia bernyanyi
dengan suaranya yang merdu dan menggema di kesunyian hutan memanggil kekasihnya:
Diwajahmu……..ku lihat bulan…..….
Bersembunyi ……… di sudut kerlingan……
Sadarkah tuan……kau ditatap insan…..
Yang .....haus akan belaian……..
Walau ….tiada….. dapat……
yang mudah dicapai tangan.
Hati ingin…..menggapai…...
Kiranya….tinggi di awan…..
Diwajahmu……..ku lihat bulan…..….
Bersembunyi……… di sudut kerlingan……
Jangan….. biarlan ku tiada berkawan..…..
Hamba….....menantikan tuan……..
Aku masih terpaku memandangi Arum yang menyanyikan lagunya dengan penuh perasaan sendu
sehingga tanpa terasa air mata mengalir dipipinya. Ia tersedu saat memandang sekelilingnya tidak juga menemukan bayanganku, hingga gadis itu terlihat kelelahan lalu melangkah kembali ke arah desa
berniat untuk pulang dengan wajah lesu.
Aku yang masih bersembunyi diatas pohon pada mulanya tersenyum geli melihat tingkah Arumi
yang berkeliling mencariku, namun ketika mendengar syair yang dinyanyikan dengan penuh cinta hatiku
tertegun.
Melihat Arumi panik mencariku membuatku merasa menyesal telah membuat gadisku bersedih.
Aku segera turun dan berlari mengejarnya, namun tiba-tiba aku terkejut mendengar suara jeritannya.
Secepatnya aku berlari
“Arumi …!” teriak Arga yang segera memburu kearah suara teriakan kekasihnya.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat gadis itu tergeletak di tanah.
“Arumi….kenapa kamu..??” napasku secara tercekat menyaksikan keadaan Arumi kupeluk
tubuhnya yang pingsan di pinggaran hutan dengan penuh penyesalan
ketengah sawah dan melihat seekor **** hutan yang kelihatan sedang marah sambil
menginjak injak sesuatu. Tubuhku bergetar selintas mengingat sesuatu yang tidak asing
namun tak tahu apa. Ku tatap **** hutan dengan marah dan geram. Perasaan bersalah menggayut dihati
karena membiarkan gadisku sendiri, dengan cepat ku angkat tubuh
Gadis itu dan membawanya pulang.
Setelah sampai dirumah segera ku baringkan gadis itu dipembaringan kemudian dan
berusaha menyadarkannya dengan memgoleskan minyak angin di hidung gadis itu.
Hatiku merasa lega ketika usahaku berhasil dan gadis itu membuka matanya. Arumi mengerjapkan
matanya menatap sekelilingnya mencari keberadaan, wajahnya tampak pucat dan panik.
“Mas Arga ….jangan tinggalkan aku….!aku takut sekali” Arumi yang merasa ketakutan
langsung memeluk erat kekasihnya.
“Sayang…aku ada disini, tidak ada yang bisa menyakitimu.” bisik Arga seraya mendekap erat
tubuh mungil Arumi. Setelah gadis itu tenang ia melepaskan pelukannya dan
menggenggam tangan Arumi.
“MasArga sembunyi dimana? aku lelah mencarimu….!, aku mau pulang karena tidak menemukanmu,
tiba tiba aku melihat seekor ular menghadang di tengah jalan, aku kaget
dan berdiri terpaku saking takutnya melihat ular itu yang berjalan mendekat ke arahku.
Namun sebelum ular itu mendekati aku dikejutkan oleh suara geraman dan gemuruh
dari arah tengah sawah rupanya seekor **** hutan yang berlari menerjang ular itu, menginjak-injak
dan menyeretnya ketengah sawah, aku semakin panik hingga tanpa sadar aku menjerit,
setelah itu tubuhku terrasa lemas kemudian terjatuh dan tak ingat apa-apa,
aku takut sekali…!”. Cerita Arumi dengan napas terengah engah
“Arum….maafkan aku…karena aku kamu hampir celaka ….untung **** hutan itu menolongmu”
__ADS_1
bisik Arga seraya mengecup kening kekasihnya, hatinya merasa menyesal tadi dia sempat
geram sekali melihat **** itu, ternyata **** hutan itu menyelamatkan gadisnya dari ular berbisa.
“Sayangku….kamu masih kaget, istirahat saja ya !” Arga membelai lembut tangan gadisnya
untuk menenangkannya.
“Arga….jangan tinggalkan aku….temani aku!” pintanya tanpa mau melepaskan pelukannya masih
shok dengan kejadian yang di alaminya.
“Arumi…..” bisik lirih Arga seraya duduk disisi ranjang kemudian melepaskan pelukannya.
Dipandanginya gadis cantik yang masih terlihat pucat. Pandangan mereka bertemu
dan saling memandang, walau sesaat detak jantung Arga menggedor kencang
menghadirkan rasa gugup serta bahagia yang meledak liar dan denyut nyeri dihatinya
yang bergejolak saat merasakan hangat tubuh Arumi.
Butuh tenaga ekstra buat untuk menahan emosinya sekaligus
meredakan rona merah di wajah Arumi.
“Arumi ….kita harus bersabar….tidurlah sayang!” bisiknya mesra diantara desah
nafasnya yang memburu, Arga berusaha menutupi kegugupannya
dengan senyum kemudian segera berdiri dari sisi ranjang, setelah menyelimuti kekasihnya
ia lalu keluar kamar menenangkan perasaannya yang tegang. Diluar halaman ia menghirup udara
segar dan menarik nafas panjang hingga dadanya terasa lega.
Menjelang malam hari Pak Rahim baru pulang,
baik Arga maupun Arum menyambutnya kedatangan bapak dengan harap harap cemas.
“Bapak…bagaimana urusannya ? beres ?” tanya Arga
“Alhamdulillah….semuanya beres, bersiap-siaplah ! lusa kalian menikah !” ujar Pak Rakhim tersenyum.
“Lusa?…ah..Bapak…terimakasih..! saya bahagia sekali” katanya seraya mencium tangan
calon mertuanya.
Sementara itu Arumi yang datang dari dapur membawa minuman dan kue,
merasa heran melihat Arga tersenyum senyum memandangnya.
“Sayangku…kita lusa menikah !” bisik Arga tidak sabar ketika gadis itu meletakkan gelas
minuman untuk bapak.
“Hah….Lusa..?”sahut Arumi kaget.
“Iya….Nak,kalian lusa akan diresmikan sebagai suami istri, Bapak sudah mengurus semua
keperluan pengantin, besok mereka akan datang untuk mengukur baju kalian,yah…
yang penting adalah akad nikahnya…masalah yang lain kita buat sederhana saja” ujar Pak Rakhim.
Arum memandang Bapaknya dengan mata berkaca-kaca, perasaan sedih
dan bahagia memenuhi relung hatinya, akhirnya ia memeluk Bapaknya dengan terisak-isak.
Pak Rakhim mengusap rambut putrinya dengan lembut sembari memberi nasihat:
“Putriku..…jangan bersedih, Bapak bahagia sekali akhirnya doa Bapak dan Ibu terkabul.
Kebahagiaan kalian adalah harapan kami. Putriku dampingi suamimu dalam suka dan duka,
tetaplah saling mengasihi sampai tua nanti”. Arumi hanya bisa menangis
dipelukan Bapak angkatnya yang sangat dicintainya.
Setelah melepaskan pelukan putrinya, Pak Rakhim berkata kepada calon menantunya:
“Nak Arga…..tadi dikota Bapak mencoba menelpon ke Jakarta rupanya benar nomer telepon itu rumah Pak Purnomo, yang menerima Ibumu ketika Bapak menanyakan tentang dirimu
dan ingin bicara denganmu, Ibumu mengatakan kamu sedang pergi ke Jawa tengah,
tetapi suaranya kelihatan sedih sekali.”.
Arga termenung mendengar cerita calon mertuanya. Dicobanya mengingat-ingat masa lalu
tapi buntu, ia tidak dapat mengingat apapun tentang dirinya.
“Bapak….aku tak bisa mengingat bagaimana wajah orang tuaku, pikiranku kosong ah… rasanya
ingin kubenturkan saja kepala ini!” ujarnya kesal seraya menjambak rambutnya.
“Mas Arga….jangan putus asa, biarkan saja semua berjalan apa adanya, jangan dipaksakan
percayalah suatu saat ingatanmu akan kembali seperti sediakala tidak perlu memaksa diri”
hibur Arumi seraya menggenggam tangan kekasihnya.
__ADS_1
“Benar…Nak…bersabarlah !” pinta Pak Rakhim. Mendengar nasihat orang yang menyayanginya,
Arga akhirnya mengangguk, hatinya merasa tenang.