Takdir cinta Arumi

Takdir cinta Arumi
Episode 4


__ADS_3

Perlahan-lahan Arumi membalikkan tubuh laki lali itu


“Seorang pemuda….!! kasihan amat…apa dia masih hidup?” tanya Wati.


Arum mendekatkan telinganya ke dada orang yang terkapar itu


setelah dia membuka resluiting jaketnya.


“Jantungnya masih bunyi tapi lemah….” katanya seraya


menempelkan telapak tangannya ke hidung orang tersebut.


“Nafasnya juga masih ada…berarti ia masih hidup”.


“Kasihan ya…kenapa ia sampai hanyut, orangnya cakep ….ya !” celetuk gadis lainnya.


“Sekarang kalian kembali kedesa dan bilang sama Pak Bapak ada orang hanyut disini,


Arum dan aku disini menungguinya….cepat….!!” perintah Wati.


Mendapat perintah Wati semuanya segera pulang mencari bantuan.


“Wat…lihat kasihan sekali kepalanya terluka” kata Arum


ketika melihat kepala yang diikat slayer dan


membukanya untuk melihat luka di kepala orang itu


“Melihat wajah dan pakaiannya sepertinya bukan orang desa…ya ?” ujar Wati.


“Iya…sepertinya orang kota yang sedang datang kedesa,


tapi kenapa hanyut kesungai, mungkin dia sedang menyeberang


tetapi terpeleset dan hanyut?” Arum yang menerka keberadaan Arga dengan


bertanya tetapi dijawab sendiri. Tiba tiba tubuh Arga bergerak.


“Aaah…..” rintih orang itu yang mulai sadar, perlahan ia membuka matanya.


“Syukurlah kamu sudah sadar…!” sapa Arumi gembira,


dengan sigap ia meraih kepala Arga dan membantunya duduk.


“Aduuuh….kepalaku !”orang mengaduh seraya memegangi kepalanya


yang terasa pusing hingga ia tidak kuat menegakkan kepalanya


yang kembali terkulai dibahu Arumi.


“Arum sebaiknya ditidurkan saja dia, sepertinya tidak kuat duduk !”.


cetus Wati yang sejak tadi memandangi keduanya.


“Kamu…sebaiknya berbaring saja, agar tidak terasa pusing !”


Arum segera membaringkan kembali tubuh Arum.


“Dimana saya…. ?” desah orang itu pelan dengan mata yang terpejam.


“Kamu ada didesa kami hutan jati barat,


siapa namamu dan mengapa sampai hanyut ?” tanya Arumi.


“Aku….aku…aaah…aku tidak tahu…aku tak ingat …. aduuh….kepalaku !”


kembali orang itu mengaduh seraya memegang kepalanya yang terasa pening.


“Sudahlah, jangan memasak diri, tidak usah mengingat ingat dulu,


kepala mu akan terasa sakit lagi ” sela Wati


yang merasa kasihan melihat keadaan pemuda yang ditemuinya. Tak lama


kemudian datang orang-orang desa yang telah diberi tahu bahwa ada orang hanyut.


“Bapak….tolonglah dia,kepalanya terluka” pinta Arumi kepada Bapaknya


yang juga kepala desa.


Pak Haji Rakhim yang sudah berumur itu memegang pergelangan tangan orang itu.


Kemudian memerintahkan pemuda-pemuda desa yang menyertainya


untuk mengangkat Arga dan membawa kerumahnya.


Setelah membaringkan tubuh orang itu dikamar tidur


dan menggantikan pakaiannya yang basah dengan pakaian Pak Rakhim,


pemuda-pemuda yang menolongnya kemudian pamit pulang.

__ADS_1


Arum segera kebelakang rumahnya untuk membuatkan bubur dan minuman,


kemudian kehalaman memetik daun sirih dan menumbuknya sampai halus.


“Bapak….aku sudah menyiapkan obat dan makanan untuknya”.


“Baiklah …ayo kita kekamar siapa tahu dia sudah bisa di ajak bicara ”.


Dengan perlahan Pak Rakhim duduk di pinggir tempat tidur yang terbuat dari bambu


yang sudah agak usang sehingga saat diduduki menimbulkan bunyi.


otang yang mereka tolong dan saat ini terbaring di sebuah dipan kayu adalah Arga


dengan wajah tampak gelisah, matanya terpejam tetapi bibirnya merintih menahan sakit.


Pak Rakhim merasakan telapak tangannya panas ketika menempelkan ke dahi Arga.


“Kasihan dia demam, mungkin karena luka dikepalanya,


putriku balutlah luka di kepalanya dengan ramuan daun sirih,


mudah-mudahan panasnya turun!”. Bapak memerintahkan putrinya merawat


laki laki itu.


Dengan cekatan Arumi mengerjakan perintah Bapaknya, selesai membalut lukanya


lalu ia merapikan selimutnya, dipandangnya sejenak wajah laki laki tampan dihadapannya


tiba tiba ia merasa gugup dan tanpa disadari pipinya memerah dan bibirnya tersenyum


kemudian segera meninggalkan kamar berusahan meredakan kegugupannya


kemudian masuk ke kamarnya sendiri.


Arum merebahkan badannya ditempat tidur,


ia berusaha menenangkan perasaannya yang aneh


saat berada dekat pemuda yang baru saja dirawatnya.


Debar jantungnya berdetak dengan cepat.


“Aneh…ada apa dengan aku


kenapa aku merasa sesak napas saat memandang pemuda itu,


aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini,


gemetar saat menyentuh wajahnya” gumannya dalam hati.


Tak berapa lama merenung Arumi tersentak kaget


ketika mendengar panggilan Bapaknya dari arah kamar tempat Arga berbaring.


“Arum…kemari Nak !”.pak Rakhimmemanggilnya


“Ada apa….Pak ?” tanyanya


seraya menghampiri Pak Rakhim yang duduk di samping Arga yang nampaknya mulai


tenang.


“Anak muda siapa namamu ?” tanya Pak Rakhim.


“Saya….? aah…maaf Pak, saya tidak ingat nama saya”


sahut Arga kebingungan karena ia tidak dapat mengingat siapa dirinya.


“Tunggu sebentar….! aku menyimpan dompetnya yang kuambil dari saku celananya !”


sela Arumi sembari berlari keluar menuju kamarnya


dan membuka lemarinya mengambil dompet yang diambil dari celana Arga.


“Bapak…lihatlah…! ini tanda pengenalnya,


ini miliknya karena wajahnya mirip foto ini, namanya Arga Wiguna umurnya 25 th,


Pekerjaan : Mahasiswa, alamatnya di : Komplek Perumahan Permata


Hijau Blok B/1 Jakarta”.


“Bapak..siapa namaku ?”. Arga bertanya pelan


“Ehm….namamu Arga Wiguna”sahut Pak Rakhim.


“Arga….namaku Arga…benarkah?”.Cicit Arga lagi


“Iya…namamu Arga…., oh ya..kenalkan Bapak adalah kepala desa dosini,

__ADS_1


nama Bapak  Rakhim dan ini putri Bapak namanya Arumi Sandyakala,


Nak Arga kami temukan di tepi sungai, apa Nak Arga tidak ingat


kenapa sampai hanyut ?”.tanya pak Rakhim


“Tidak…saya tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi pada diri saya,


Bapak tolonglah saya !, apa yang harus saya lakukan?”.


Permohonan Arga seperti sebuah rintihan.


“Nak Arga…tidak usah bingung, tinggallah dulu bersama kami


sampai keadaan tubuhmu pulih, siapa tahu nanti ingatan nak Arga bisa pulih


dan ada yang mencari Nak Arga sampai desa ini, kalau tidak ada,


Nak Arga bisa mencari alamat yang tercantum di KTP ini, sekarang istirahat lah,


pulihkan dulu kesehatanmu,” pak Rakhim menenangkan Arga


“oh ya…. Arumi beri tamu kita makanan agar badannya kuat !


Nah Bapak mau istirahat dulu ya?”. Setelah Bapaknya keluar,


Arun mengambil mangkuk bubur yang sudah disediakan di meja.


“Ehm….aku suapin ya?”. Arga mengangguk seraya memandang dara cantik didepannya,


ketika pandangan mata keduanya beradu


sejenak mereka terpaku lalu masing-masing menjadi salah tingkah mencoba mengalihkan


pandang kelain arah.


“Mari kubantu duduk! lebih enak makan sambil duduk dari pada tiduran”


kata Arum seraya mengangkat kepala Arga agar bisa bangun,


reflek Arga  menggantungkan kedua tangannya keleher Arum.


Dengan sekuat tenaga Arum menarik tubuh Arga hatinya berdebar-debar karena baru kali


ini tubuhnya sangat dekat dan memeluk tubuh seorang pria. Setelah mengganjal


punggung Arga dengan bantal agar bisa duduk maka ia mulai menyuapi bubur


sesendok demi sesendok tanpa berbicara satu sama lain, setelah masuk beberapa


sendok Arga menyetopnya karena merasa sudah kenyang, gadis itu lalu memberi


minum dan menyekakan mulutnya.


“Terimakasih….kamu baik sekali…siapa namamu tadi ? Arum…ya…!


ehm nama yang indah seindah pemiliknya” Arga membuka percakapan


yang membuat pipi Arum menjadi merah dan tersipu malu.


“Kepalamu masih sakit?” tanya Arum mengalihkan perhatian.


“Kadang-kadang terasa pusing sekali….terimakasih atas perawatanmu”.


Arumi kaget ketika Arga mengucapkan terimakasih sembari menyentuh tangannya lembut.


“Ehm…sebaiknya kamu istirahat dan tidur…


semoga besok kamu lebih sehat dan bisa mencoba jalan, aku permisi dulu ya!”


pamitnya seraya menarik tangannya yang dipegang Arga.


“Arum….! Terimakasih !”.


Mendengar ucapan Arga, gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk lalu


cepat-cepat keluar kamar.


Ditinggal dikamar sendirian Arga termenung, perasaan bingung berkecamuk dibenaknya,


berkali-kali ia mencoba memikirkan mengapa ia ada dirumah itu dalam keadaan


sakit namun tak juga mendapat jawabannya. Kemudian ia membayangkan wajah ayu


gadis yang telah menolongnya dan juga telah menggetarkan hatinya.


“Cantik sekali gadis itu, rasanya seperti bukan gadis desa, kulitnya putih bersih,


mata, bibir, hidung dan rambutnya sangat indah menawan apalagi tubuhnya….ah


semua yang ada padanya sungguh telah memikat hatiku” gumam

__ADS_1


Arga hingga akhirnya tertidur dengan lelap setelah membayangkan gadis cantik


yang telah merawatnya.


__ADS_2