
Menjelang malam ketika tamu-tamu sudah mulai pamit pulang, Pak Rakhim mendekati pasangan
pengantin, memanggil Arga dan berbisik:
“Nak Arga…ajaklah istrimu naik keatas panggung diluar, suruhlah ia memandang kearah hutan jati
dan perlihatkan cintamu kepadanya, disana sudah ada yang menunggu kalian serta ingin memastikan
apakah Arum bahagia disisimu, kamu mengerti maksud Bapak?. Istrimu tak usah tahu hal ini!”.
kemudian bapak meninggalkan kedua pengantin
Arga mengangguk kini ia baru mengerti mengapa mertuanya mendirikan panggung diluar rumah.
“Lakukanlah sekarang Nak….,karena dia sudah menunggu kalian, dia sangat menyayangi Arum
bagaikan seorang Ibu kepada anaknya” ujar Pak Rakhim.
Arga kemudian mengajak istrinya keluar rumah dan mengajaknya naik panggung.
“Mas Arga…..untuk apa naik keatas ?” tanya Arumi heran.
“Sayangku….Ayo ikut aku, aku ingin menikmati indahnya suasana desa dimalam hari, berdua
denganmu”. Bisik Arga, Sejenak Arumi memandangi suaminya kemudian tersenyum manis.
“Baiklah….ayo kita keatas !” ajaknya seraya menarik tangan suaminya untuk segera naik tangga
panggung.
“lihatlah….mas indah sekali pemandangan hutan jati dibawah sinar bulan purnama” ujar Arumi
seraya menunjuk kearah hutan jati sebelah barat sambil menyandarkan kepalanya di
bahu suaminya yang memeluk erat dirinya.
Arga tersenyum mendengar ucapan istrinya, lalu ia mengeratkan pelukannya dan mencium
rambut kepala istrinya dengan mesra.
“Desa ini memang sungguh indah, makanya aku betah tinggal disini”.bisiknya lembut
“Ehm…hanya karena desa ini saja ?” sela istrinya manja seraya membalikkan badannya
menghadap suaminya yang memeluk erat pinggangnya yang ramping.
“Ya…tentu saja karena ada bunga yang sangat cantik didesa ini dimana aku berhasil memilikinya
dan aku bisa menciumnya setiap saat” jawab Arga mesra kemudian meraih wajah cantik
yang ada dihadapannya lalu mengecup keningnya lama ada sensasi aneh yang dirasakan Arumi,
ciuman Arga berlanjut dari kening turun ke mata, kedua pipi lalu hidung dan…..
Arga menghentikan aksinya memandangi wajah istrinya yang masih memejamkan mata
sambil tersenyum, Arumi yang masih terhanyut di nirwana cinta mengerjapkan matanya
menatap suaminya. Bola matanya memutar keheranan dengan sikap suaminya. Arga hanya tersenyum
membelai wajah Arumi dan menyingkirkan anak anak rambut yang menutupi wajah manis istrinya.
Kemudian menggoda istrinya dengan kecupan kecil yang dilakukannya beberapa kali,
hingga membuat istrinya merasa gemas, karena ia mengharap suaminya menciumnya lebih lama.
“Mas Arga….kamu……..ih” bisiknya cemberut lalu dengan gemas ia melingkarkan kedua
tangannya keleher suaminya sambil mencium bibirnya dengan menggebu dan penuh cinta.
Arga yang merasakan istrinya penasaran pun tergelak, ia tersenyum bahagia
karena pancingannya berhasil, ia sengaja membuat agar istrinya memeluknya
lalu ia baru membalasnya dengan pelukan erat penuh gairah.
Beberapa tamu yang masih belum pulang tersenyum melihat adegan mesra kedua pengantin itu.
Dari jauh di kegelapan malam diatas bukit pinggiran hutan jati sorot sepasang mata
memandang tajam kemesraan pengantin baru yang memadu kasih diatas panggung,
seekor **** hutan yang sedari tadi memperhatikan Arum memeluk suaminya,
menggerak-gerakan kepalanya kekanan dan kekiri sembari mendengus
bagaikan seorang Ibu yang memaklumi perbuatan anaknya,
tak lama kemudian **** hutan itu berlari menghilang masuk kedalam hutan.
Setelah cukup lama dalam pelukan suaminya Arumi merasa gelisah.
“Mas….sudah malam aku kedinginan disini, kita turun saja ya!” rajuknya manja.
Mendengar permintaan istrinya Arga melepaskan pelukannya dan membimbingnya turun panggung
. Ia tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya ketika berpapasan
__ADS_1
dengan mertuanya yang juga tersenyum memandangnya.
“Anakku beristirahatlah… kalian pasti lelah !” perintah Pak Rakhim kepada anak dan
menantunya dan kembali menemui tamu yang masih berada di rumahnya.
Tamu tamu sudah meninggalkan rumah pak Rakhim dan keramaian dirumahnya sudah berakhir.
Dikamar pengantin Arum sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju,
ia duduk menghadap meja rias merapikan diri sambil menunggu suaminya yang sedang mandi,
saat memasuki kamar pengantinnya Arga terpaku melihat pantulan wajah Arumi dicermin.
Keduanya terdiam dan malah terlihat gugup. Padahal sebelumnya mereka sudah sempat
berciuman di atas panggung yang di buat bapak. Namun saat ini mereka merasa ada yang berbeda.
Arga mendekati istrinya lalu merengkuh bahu istrinya dan membalikkan badannya hingga
mereka berhadap hadapan, dielusnya pucuk rambut istrinya.
Kemudian menuntun pengantinnya ketempat tidur. Arga mencium Arumi dengan lembut,
“Sayang….akhirnya kita bisa selalu bersama-sama selama nya ”
suara serak Arga terdengar sangat indah di telinga Arumi.
Gadis itu memandangi suaminya sambil memainkan rambut laki laki itu.
“Mas Arga….” desah Arumi gelisah, tangan kirinya menggapai pelita kecil yang menyala
di atas meja disamping tempat tidur, ia menggigit bibirnya menahan sakit pada
telapak tangannya yang tersengat panasnya api pelita ketika mencoba memadamkannya.
Arga yang kaget melihat perbuatan istrinya, cepat diraihnya tangan yang tersengat api
dan mencoba mendinginkan telapak tangan yang gosong menghitam dengan
meniup-niup dan mengecupnya.
“Arum….apa yang kamu lakukan sayang, lihat tanganmu sampai luka begini !” ujarnya cemas.
“Mas Arga….ini kenang-kenangan dimalam pengantin kita” bisiknya lirih seraya
memandang mesra wajah suaminya dalam suasana remang-remang cahaya yang datang
dari luar kamar.
“Sayangku….”Arga mencium bibir istrinya dengan sangat lembut, dipandanginya wajah ayu istrinya
membuat Arga tak dapat lagi menahan hasrat untuk mengecupnya dengan penuh gairah yang
menggelora. Arga kembali ******* bibir Arumi. Keduanya tersenyum dibalik ciuman mereka
kemudian saling menempelkan hidung ketika Arga melepaskan tautan bibir mereka, l
alu Arga beralih ketelinga gadis itu menghembuskan sedikit
napasnya yang membuat Arumi meremang. “Kamu siap ..sayang? bisik Arga.
Mata gadis itu terbuka menatap Arga dengan mata sayu sementara Arga menutupi
tubuhnya dan beralih ke leher istrinya, Dengan penuh gairah keduanya mengukir
rasa cinta mengusir dinginnya malam dengan kehangatan cinta.
Keduanya menghabiskan malam memadu cinta dengan penuh kasih sayang dan menikmati
indahnya malam pertama yang memabukkan dan melelahkan.
Hampir sebulan pernikahan Arumi dan Arga,
Pak Rakhim merasa bahagia melihat kehidupan keluarga anak dan menantunya yang
sehari-harinya dipenuhi kemesraan dan kebahagian. Namun masih ada yang
mengganjal hati pak Rakhim yang membuat senyum tertahan. Saat memandangi
menantunya yang penuh semangat menggarap kebun dan sawahnya dengan peluh
membasahi tubuhnya hatinya mencelos. Terbesit dalam hatinya untuk menghubungi keluarga Arga.
Pak Rakhim merasa tidak benar membiarkan menantunya tetap tinggal bersamanya
tanpa mengetahui keadaan keluarganya dan susah payah bekerja disawah
walaupun menantunya menjalani hal itu dengan giat dan perasaan bahagia, tetapi
ia merasa pekerjaan disawah bukanlah tempat yang tepat bagi Arga.
Sore ini setelah menantunya selesai membersihkan diri sepulangnya dari sawah,
pak Rakhim memanggil Arga dan mengajaknya duduk untuk mengobrol sambil minum kopi
diteras rumah.
__ADS_1
“Arga….sudah sebulan kamu tinggal didesa ini bersama kami. Bagaimana keadaanmu?
Maksud bapak apa kamu sudah bisa mengingat dirimu dan keluargamu”
pak Rakhim memulai obrolan dengan menantunya
Arga terdiam sejenak mendengar pertanyaan mertuanya menghembusnya napas dengan
berat. “ maafkan saya pak sampai sekarang saya masih belum bisa mengingat masa
lalu dan keluarga saya sebelumnya”.jawab Arga gugup
“Bapak sebenarnya sangat senang nak Arga tinggal disini apalagi nak Arga sangat
menyayangi putri bapak dan rumah tangga kalian terlihat begitu bahagia.
Tetapinak Arga masih punya keluarga di tempat lain yang mungkin saat ini menunggu
dengan cemas kedatangan nak Arga” ucap bapak dengan tenang.
“Besok Bapak akan pergi ke kota, Bapak akan menghubungi keluargamu
dengan nomor telpon yang kamu punya, kamu tidak keberatan kan?,
bagaimanapun keluargamu harus tahu bahwa kamu masih hidup sehat dan tinggal didesa ini”.
Arga hanya terdiam mendengar perkataan mertuanya pikirannya menerawang jauh.
“Saya bahagia tinggal didesa ini bersama bapak dan Arumi, saya ingin tetap tinggal disini
menjalani masa depan saya bersama istri dan anak anak saya nantinya,
tanpa harus mengingat masa lalu yang mungkin akan membuat saya kehilangan Arumi
dan kebahagian ini.” Sendu Arga mengungkapkan isi hatinya.
“Anakku…. kamu mungkin saja masih punya orang tua, mereka pasti sangat sedih
anaknya pergi tapi tidak kunjung kembali” lanjut Pak Rakhim .
“kalau memang hal ini yang menurut Bapak baik, saya menurut saja,
tetapi saya bingung bagaimana nanti saya berhadapan dengan mereka
kalau saya masih tidak mengingat mereka ” sahut Arga seraya mengangkat gelas minumannya.
“Yah....hal itu kita lihat nanti saja, mudah mudahan setelah bertemu dengan kedua orangtuamu nanti,
kamu bisa kembali mengingat dirimu dan apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu”.
Arga mengangguk membenarkan ucapan mertuanya.
Sementara Arumi yang mendengarkan pembicaraan bapak dan suaminya dari dalam rumah hanya
terdiam, ada sedikit kekhawatiran dihatinya kalau suaminya akan meninggalkannya saat ingatan Arga pulih. Kekhawatiran itu membuatnya kadang berharap kalau ingatan Arga tentang masa lalunya tidak pernah terjadi. Arumi masuk ke kamarnya dengan gelisah, dadanya serasa sesak
dan air matanya tak mampu membasahipipinya.
Menjelang magrib Arga memasuki kamar mencari istrinya
yang sejak sore tidak ikut mengobrol dengan bapak.
Arga duduk di sisi ranjang dipandanginya wajah ayu yang terpejam dan terkejut melihat wajah istrinya
yang terlihat sembab.
“Sayang….Kamu sakit” di elusnya wajah tirus Arumi yang berbaring di ranjang dengan
lembut, Arumi mengerjapkan mata memandangi suaminya dan tersenyum.
“Sudah mau magrib ayo bangun,” Arga meraih tubuh istrinya
“Mas Arga….” Cicit Arumi pelan
“hummm…ada apa” sahut Arga lembut
“Mas Arga akan pulang ke kota untuk menemui keluarga mas? Ragu Arumi menatap Arga.
Arga tertegun seketika memeluk istrinya.
“Sayang….Aku akan tetap disini bersamamu,” di usapnya pipi istrinya
“Tapi bapak mau mas menemui keluarga mas Arga?” sahut Arumi dengan mata berkaca kaca
“Memang bapak meminta ku untuk menghubungi keluargaku agar mereka tidak cemas karena
kehilangan diriku,” dengan pelan Arga menenangkan Arumi.
“Bagaimana kalau setelah ingatan mas pulih malah mas tidak mengingat aku” desak Arumi.
Arga mencium kening Arumi dengan penuh cinta “aku tidak akan meninggalkanmu sayang,
kamu adalah belahan jiwaku dan sudah memenuhi seluruh hatiku ”
Arumi hanya diam terpaku, hatinya terlalu khawatir dan kacau.
Malam ini keduanya tertidur saling berpelukan erat namun dengan keresahan yang masih
__ADS_1
menggayut dihati keduanya.