
Di belahan lain hutan jati Roni dan Hilman masih tampak cemas, mereka sudah mengabarkan kejadian yang menimpa Arga pada keluarganya dan bersama tim pencarian yang di kirim keluarga Arga
dan penduduk berusaha menyusuri hutan jati untuk mencari keberadaan pemuda itu.
Sudah seminggu pencarian tidak membawa titik terang. Arga seperti lenyap di telan berantara hutan jati
tersebut. Penduduk desa menduga duga kalau pemuda itu telah melanggar dan mengusik penguasa hutan jati barat sehingga keberadaannya tidak bisa di temukan karena di halangi oleh **** hutan yang menjaga hutan jati.
Di kediaman keluarga Purnomo, nyonya Rahma ibunda Arga tak henti hentinya menangisi kepergian anaknya,
ia meyakini kalau Arga masih hidup dan meminta suaminya untuk terus mengirim tim
untuk menyusuri hutan mencari keberadaan putranya.
Ia tidak mempercayai cerita yang didengarnya dari Roni dan Hilman tentang mitos hutan jati
yang dipercaya oleh penduduk didesa tempat Arga menghilang.
Ia menyesali dirinya yang tidak dapat melarang kepergian Arga waktu itu,
padahal sebelumnya sudah merasakan firasat yang tidak enak terhadap rencana petualangan Arga kali ini. Kesedihannya membuat tubuhnya lemah dan jatuh sakit.
Anita tunangan Arga menghubungi teman temannya dan teman teman Arga yang aktip dalam kelompok
pencinta alam untuk membantunya mencari keberadaan Arga. Anita juga mencari informasi
tentang hutan jati yang dikunjungi Arga, namun usahanya belum mendapatkan hasil.
Meskipun ia meyakinin tunangannya masih hidup
tak urung berita yang didapat dari teman teman dan tim pencari menyiutkan hatinya.
“Arga…kamu dimana?. Apa yang terjadi denganmu….?.jangan tinggalkan aku cepatlah kembali,
aku merindukanmu”Gumam Anita dalam hatinya
*******
Sore itu Pak Rakhim tampak puas memandang panggung kecil yang secara khusus
diminta bapak mertuanya untuk didirikan disamping rumah dan kini sudah berdiri kokoh.
Arga yang merasa heran menanyakan pada Pak Rakhim untuk apa bapak mertuanya
meminta dibuatkan panggung kecil setinggi tiga meter dengan tangga menuju kepuncaknya.
“Bapak…buat apa panggung ini, apa ada hubungannya dengan pernikahan besok ?”
tanya Argakeheranan.
“Iya….panggung ini untuk acara pernikahan kalian, besok kamu akan tahu kegunaannya” sahut nya
kalem.
Hari bahagia yang sangat dinantikan kedua pasangan yang saling mencinta itu akhirnya tiba.
__ADS_1
Ijab Kabul dilakukan dengan penuh hikmat disaksikan warga desa.
Arumi terlihat menawan dengan kebaya putih meskipun dengan rias wajah sederhana.
Setelah ijab Kabul selesai Arumi meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim
kemudian Arga mendaratkan bibirnya di kening Arumi mengecupnya singkat.
Kemudian keduanya menemui pak Rakhim untuk sungkeman, airmata Arumi menetes haru
terbayang kasih sayang yang pernah diberikan orang tua yang selama ini merawatnya
dengan penuh kasih. Pak Rakhim memeluk putrinya dengan erat
lalu menatap Arga yang kini sudah menjadimenantunya.
“Bapak titip Arum, sayangi dia sepenuh jiwa ragamu” Arga menganggukkan kepala dengan mantap.
“Saya akan menyayangi dan melindungi Arumi segenap jiwa saya, pak”
Setela saat saat haru penuh airmata akhirnya Arga dan Arum di persandingkan dipelaminan.
Sepanjang hari berduyun-duyun penduduk desa mendatangi rumah kepala desanya
mengucapkan selamat mantu sambil menyaksikan kedua mempelai yang kecantikan dan
ketampanannya menjadi buah bibir penduduk terutama para remajanya.
Diantara pengunjung yang berdesak desakkan mengantri menyalami kedua mempelai, tampak
seorang pemuda berdiri dari jauh memandang mempelai wanita tanpa berkedip,
“Parman….kamu tidak masuk, menyalami Arum dan suaminya ?”
teguran lembut Wati menyadarkan Parman yang segera tersenyum.
“Iya…sebentar lagi, masih penuh tamunya, kamu juga kenapa ada disini Wat?” tanyanya.
“Aku sudah dari pagi menemani Arum dan kulihat kamu berdiri disini sejak tadi,
Parman….aku tahu kamu masih mencintainya…tapi bukankah kamu tahu akibatnya kalau kamu berniat memilikinya ”.Wati mengingatkan Parman tentang hal yang menimpa dirinya
beberapa waktu lalu ketika ia melamar gadis yang dicintainya yang kini sedang berbahagia di atas pelaminan.
“Wati….aku tahu, tapi hidup pun aku menderita, hatiku sangat sakit menyaksikan kebahagiaannya,
kau tahu sedari kecil aku sangat menyayanginya, selalu bersama-sama tapi takdir sangat kejam
memisahkan aku darinya dan dia yang baru beberapa hari didesa ini
begitu gampang memilikinya” desis Parman kesal.
“Parman….kita tak bisa melawan takdir, Arumi bukan jodohmu, jadi meskipun kamu sudah lama menunggunya tetap saja tak dapat merebut hatinya, cobalah bersabar! Parman banyak gadis lain yang menunggu cintamu, apakah kamu tidak mau mencoba mencintainya ?”.Wati masih menyemangati Parman.
“Entahlah …aku sudah berusaha tapi tak berhasil, ah.. sudahlah, ayo…. antar aku kesana Wat ! ” ajak Parman. Keduanya kemudian masuk diantara antrian tamu.
__ADS_1
“Selamat Arum….semoga kamu selalu bahagia!” bisik Parman sambil menggenggam erat tangan
wanita yang sangat dicintainya.
“Terimakasih Parman, aku juga mengharap kebahagiaan kalian” sahut Arum seraya menggenggam
erat tangan pemuda yang menyalaminya, lama keduanya bersalaman
dan berpandangan membuat Arga sengaja batuk-batuk kecil mengingatkan istrinya karena rasa
cemburu menyelinap dihatinya. Parman segera melepas kan genggaman tangannya dan langsung pulang.
“Sayang….siapa pemuda tadi?” bisik Arga menegur istrinya dengan tatapan tidak suka melihat
sikap Arumi.
“Ehm…..dia Parman…pemuda desa sini temanku sejak kecil, yang pernah aku ceritakan sama mas Arga.
dia sangat sayang padaku dan pemuda yang pernah melamarku, tetapi kemudian sakit sampai sebulan,
baru sembuh ketika orang tuanya membatalkan lamarannya, aku kasihan padanya,
dia sering membelaku bila ada anak yang nakal atau iseng menggangguku” sahut Arum sembari menunduk.
“Kamu mencintainya?” Arga berbisik dengan suara sinis sambil melotot menatap wajah
istrinya yang sedang menunduk.
Arum yang merasakan nada suara marah dari Arga lalu memandang tajam
“Mas Arga..,kalau aku jatuh cinta padanya, sekarang bukan kamu yang duduk disampingku dipelaminan ini,
aku hanya sayang padanya sebagai adik terhadap kakak yang selalu melindungiku sejak kecil”
.cicit Arum pelan dengan mata berkaca.
Ach…shit! Arga merutuki dirinya melihat istrinya menyeka matanya dengan sapu tangan.
Dengan perasaan menyesal ia memegang tangan istrinya dan meremasnya dengan lembut.
Seharusnya ia tidak berkata keras pada istrinya.
“Ekhm…oke Sayang….maafkan aku, tidak seharusnya aku cemburu, aku sayang kamu, aku ingin
cintamu seutuhnya untukku” bisiknya lembut.
Arum memandang wajah suaminya kemudian tersenyum manis dan berkata manja:
“Mas Arga…percayalah…diriku ini hanya untukmu”.
Hati Arga berbunga-bunga mendengar ucapan istrinya,
ia tersenyum memandang kecantikan wajah istrinya lalu di remasnya tangan halus yang digenggamnya.
Keduanya saling berpandangan sesaat mereka merasakan debar kencang dan sensari panas
__ADS_1
yang belum pernah mereka rasanya bahwa sejuknya udara tidak mampu meredakan gemuruh
yang memanaskan keduanya, mereka terlihat sedikit gugup dan salah tingkah.