
Tiba tiba seorang wanita muda mengenakan jas dokter yang baru masuk ke ruang UGD
menatap ke arah Arga berbaring, mata terbelalak melihat seseorang yang di kenalnya.
“Ya Tuhan…...!!! apa aku nggak salah lihat, Arga itu kamu kan?” jeritnya seraya
berlari menghampiri Arga
“Anita….!”.teriakan Arga membuat Arumi menengadahkan wajahnya
“Arga…! bagaimana kamu bisa sampai disini, apa yang terjadi, kamu tidak apa apa kan”
wanita itu menyentuh tubuh Arga memindai adanya luka di tubuh Arga
“Anita aku tidak apa apa” Arga mendorong pelan tubuh Anita
“Arga.… aku rindu sekali padamu…oh!” Anita memeluk calon tunangannya
yang hilang dengan erat tanpa memperdulikan sepasang mata sendu
yang memperhatikannya dengan perasaan hancur luluh.
“Anitaa…aku juga tak mengerti apa yang terjadi, kamu tahu dimana Roni dan Hilman
mengapa mereka meninggalkan aku dihutan jati ?” tanya Arga penasaran setelah Anita
melepaskan pelukan nya.
“Arga.…,Roni dan Hilman mengatakan kamu hilang di hutan dan sudah dicari tapi tidak
ketemu, kemudian mereka kembali ke Jakarta, Arga…..,Tante dan Oom Purnomo
sangat merindukanmu, aku akan menelpon mereka sekarang” kata Anita
sambil minta operator menyambungkan telpon yang ada di ruang UGD kerumah Arga.
Anita memandang heran kepada seorang wanita yang menatapnya dengan berurai airmata.
ia baru menyadari ada seorang wanita disisi Arga tunangannya
“Arga….siapa dia ?” Tanya Anita
“Oh….iya, dia temanku dari desa hutan jati, datang ke Jakarta bersamaku ”.jelas Arga
mengalihkan pandangan pada Arumi
“Sandya….kenalkan ini Anita calon tunanganku ” kata Arga mengenalkan Anita
yang kemudian mengulurkan tangannya pada Arumi.
“Saya Sandya….., mbak cantik sekali senang bisa bertemu, mas Arga pernah cerita
tentang mbak Anita” Arumi tersenyum tipis menerima uluran tangan Anita. Anita
tersenyum ceria mendengar pujian Arumi.
“O..ya, Arga cerita apa saja ke kamu?” Anita mencecar Arumi.
“Anita.…,Sandya ini ke Jakarta mencari suaminya yang meninggalkannya
padahal baru menikah dua bulan, karena Pak kepala desa menitipkan dia padaku
maka sementara Sandya akan tinggal di rumahku” Arga mengalihkan pertanyaan Anita.
“Ehm…saya menunggu bapak yang akan datang menyusul Jakarta beberapa hari
lagi untuk menemui suami saya, setelah itu kami akan kembali ke desa ” bisik Arumi lirih
menahan sesak dihatinya melihat kehadiran Anita.
“Sandya…,apa kamu tahu dimana suamimu tinggal ?” tanya Anita penasaran.
“Bapak yang tahu dimana suami saya tinggal ”.ucap Arumi pelan
__ADS_1
“Lalu siapa nama suamimu ?” tanya Arga. Arumi kaget mendengar pertanyaan Arga
napasnya terasa sesak, ia terdiam sejenak dan hanya tersenyum miris pada kedua
orang yang memandangnya serius.
seorang perawat yang datang memberitahukan sambungan telpon yang Anita tunggu
sudah tersambung menyelamatkan Arumi dari pertanyaan yang tidak mungkin dikatakannya.
Arumi menghembuskan napas lega terlepas dari pertanyaan yang membuatnya panik. Dan
bersyukur karena Anita melupakan pertanyaannya.
Anita segera mengangkatnya. “Hallo Tante…. ini Anita…selamat pagi, Anita ada kabar
baik untuk tante, sebentar ada yang mau ngomong sama tante katanya kangen sama Tante,”
Anita menyerahkan telponnya ke Arga. “Arga ini mama kamu,”
“Hallo….Ma…,mama apa khabar?” tanya Arga tersenyum.
“Ya…Allah! Arga! anakku, kamu kemana saja nak?, apa yang terjadi?,
sekarang kamu dimana saja? kenapa kamu sampai ada di rumah sakit.?”
Bu Rahma terkejut tapi juga bercampur gembira mendengar suara anaknya
yang disangka hilang sehingga mengajukan pertanyaan bertubi tubi.
“Mama….Arga kangen!!!. pertanyaannya jangan banyak banyak Arga bingung jawabnya,
nanti saja ceritanya ya…..! sekarang Mama tolong jemput Arga kesini kerumah sakit,
Arga mau pulang dan ketemu Mama” pinta Arga tertawa manja mendengar suara mamanya.
“Iya…sayang! Mama akan langsung kesana menjemputmu…tunggu ya!”.
Setelah telpon ditutup Arga menyerahkan pada Anita.
di rumah sakit ini. Hari ini kebetulan ia bertugas di UGD hingga bisa bertemu Arga
“Mama..akan kesini, Anita aku sudah boleh pulang khan,
aku sehat kok ngapain tiduran disini?”.protes Arga.
Arumi memandangi interaksi keduanya dengan diam.
“Boleh tapi…aku mau periksa dulu, ayo buka bajumu!” Perintah Anita sambil memasang
stetoscopenya dan memasangnya didada Arga. Anita menanyakan banyak hal kepada
Arga sambil melakukan pemeriksaan pada tubuh Arga. Keduanya saling bercerita
tanpa menghiraukan seseorang yang juga ada diruangan itu yang sejak tadi menatap
mereka dengan wajah sendu menahan kepedihan hatinya.
Arumi merasa jengah dengan kedekatan suaminya pada Anita.
Merasa kehadirannya tidak diperlukan dengan diam diam ia berjalan keluar kamar,
namun langkahnya terhenti saat Arga menoleh ke arahnya dan memanggilnya.
“Sandya…kamu mau kemana ?”. Arga memandangi Arumi yang mulai melangkah
“Aku ingin keluar ” sahutnya tanpa menoleh.
“Sandya…kamu jangan keluar sendiri, kamu nanti tersesat
bukankah ini baru pertama kali kamu ke Jakarta, kemarilah!” tegur Arga tegas
“Aku mau cari minuman hangat, kepalaku pusing” Arumi mencoba mencari alasan
__ADS_1
agar bisa keluar, tapi Arga tetap melarang, ia malah menyuruh Anita
mencarikan teh hangat yang diminta Arumi.
“Anita….kamu bisa tolong pesankan teh hangat untuk Sandya!,
sepertinya Sandya kurang sehat.” pinta Arga kepada Anita.
Anita menaikkan kedua alis matanya menatap Arga lalu memanggil OB yang bertugas
di ruang UGD untuk menyiapkan teh hangat. Anita memandangi Arga dan Arumi
bergantian merasa ada sesuatu yang aneh di antara keduanya.
Arumi yang merasa tidak enak pada Anita segera membatalkan permintaannya.
“Aah…tidak usah saja…nanti saja minum dirumah” ucap Arumi seraya kembali duduk.
“Tidak apa apa sebentar lagi OB akan mengantarkan teh hangat untuk kamu” ucap Anita
“Ehm…Arga ! sebentar aku lapor atasan dulu untuk ijin saja hari ini, aku akan ikut
mengantarmu pulang, aku ingin bersamamu hari ini…aku rindu sekali padamu” bisik
Anita seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher Arga dan mendekatkan
wajahnya. Arga yang terkejut memundurkan tubuhnya menghindari Anita
“Ehm.. Anita… maaf aku belum mandi, sabarlah… lagian ada Sandya…”
bisik Arga melarang Anita yang akan menciumnya, Anita berjalan keluar
dari ruangan UGD dengan mengerucutkan bibirnya kesal dengan sikap Arga.
Melihat kemanjaan Anita kepada Arga suaminya Arumi hanya terdiam
dengan tatapan sendu, hatinya merasa miris dan merana
hingga tanpa disadari air matanya berlinang.
“Mas Arga….. mbak Anita cantik ya dan dia sangat mencintaimu, kamu sungguh
beruntung” gumam Arumi pelan seraya menundukkan wajahnya.
Arga menatap lekat wajah Arumi dan memegang tangan Arumi, hatinya kembali berdesir
ada sesuatu yang membuatnya bergetar terasa sakit mendengar ungkapan Arumi,
Arga tidak ingin melukai wanita itu dan ingin selalu melindunginya.
“Aku menganggap Anita seperti adik sendiri, kami sudah biasa bersama sejak kecil,
ehm….Sandya…kamu juga sangat cantik…., suamimu bodoh sekali mengapa
meninggalkan kamu begitu saja, apa dia tidak takut kehilangan kamu?” . Arumi
tersenyum mendengar ucapan Arga.
“Yah…dia pergi karena tidak mencintaiku, dia lebih mencintai wanita lain,” ucap Arumi.
“Sebenarnya perjalanan ke Jakarta bersama mas Arga sangat menyenangkan,
saya merasa bahagia sekali ini pertama kali saya bisa melihat kota yang ramai,
tapi melihat kebahagiaan mas Arga bersama Anita saya jadi ingat bapak didesa,
saya merasa hidup sebatang kara…. Saya ingin pulang kembali ke desa” ujar Arumi
mencoba memancing perasaan Arga yang saat itu terdiam mendengar ucapannya.
“Sandya….!Kamu jangan bersedih, kamu akan tinggal dirumahku dan tidak sendirian, kita
bisa ngobrol bersama” sahut Arga yang tanpa ia sadari tangannya meremas jari jari
__ADS_1
Arumi dengan penuh perasaan dan sesaat keduanya saling memandang.