
Mobil Anita memasuki pekarangan rumah pak Purnomo beriringan dengan mobil yang di naiki Arga.
Arga yang bergegas keluar mobil langsung menghampiri mobil Anita,
tapi alih alih menghampiri Anita, Arga justru membukakan pintu untuk Arumi dan
menggandeng tangan wanita itu berjalan memasuki rumah. Arumi yang masih tidak
menyadati apa yang terjadi seperti anak kucing mengikuti langkah Arga.
Anita membelalakkan matanya menyaksikan apa yang dilakukan Arga pada Sandya.
Kekesalannya semakin menumpuk dan mengepalkan tangannya melayangkan kearah Arga.
“Sandya…kita sudah sampai di rumahku !” Arga menggandeng Sandya ke dalam rumah dan
mengabaikan Anita yang mengikuti mereka dengan wajah bersungut sungut menahan
kesal. Bu Rahman tersenyum sambil mengelus dada melihat kelakuan Arga sementara
pak Purnomo menatap keheranan.
“Mari silahkan masuk nak Sandya!, kamu kelihatan lelah sekali ” ucap Bu Rahma
kepada Sandya ramah.
“Ibu…,saya boleh permisi ke kamar mandi?, saya ingin membersihkan diri dulu ”
Sandya berusaha melepaskan cekalan tangan Arga.
“Oh…silahkan,Arga antar temanmu kekamar tamu !”.ucap bu Rahma tersenyum
melihat tamu yang terlihat tidak nyaman dengan kelakuan anaknya.
Bu Rahma merasa prihatin dengan wanita yang menemati anaknya ini.
Sewaktu di perjalanan Arga sudah menceritakan kepada orang tuanya
kalau ia tidak mengingat kejadian di hutan dan juga siapa Sandya,
Arga hanya tau kayak wanita ini ingin mencari suaminya yang pergi ke Jakarta.
Arga juga menceritakan kekhawatirannya pada wanita yang menemani kepulangannya itu
dan merasa kalau wanita itu sangat dekat dengannya serta memerlukan perlindungan Arga.
Melihat perhatian Arga pada Sandya, Bu Rahma merasa ada sesuatu
yang terjadi antara Arga dan wanita ayu ini.
“Ayo kita keatas…! Kamar tamu ada di lantai atas disebelah kamar ku, aku juga ingin
mandi dan istirahat” ujar Arga menggandeng tangan Sandya sambil membawa tas
mereka.
Anita yang sudah memasuki rumah duduk di sofa mengeryitkan dahi memandangi keduanya.
Ia merasa geram dengan perhatian Arga pada Sandya yang membuat Arga mengabaikannya.
Anita mencurigai adanya sesuatu yang terjadi dengan Arga dan Sandya yang tidak
diceritakan Sandya padanya. Kejadian itu tidak luput dari penglihatan pak
Purnomo yang sejak sampai rumah terus memperhatikan kelakuan anaknya.
Sandya melepaskan tangan Arga yang sejak tadi menggandengnya, wanitu itu
melirik ke belakang Arga dan merasa jengah melihat tatapan kesal
Anita dan pandangan datar pak Purnomo.
“Mas Arga…. Saya mau istirahat …kepalaku agak pusing…,” ucap Sandya
“ya sudah kamu bisa tiduran dulu, nanti aku suruh si mbok buatkan teh hangat” Arga
mengantarkan Sandya ke kamar tamu.
“Mas Arga tadi mbak Anita menanyakan apa yang terjadi dengan mas Arga di desa,
kenapa mas tidak cepat pulang atau menelponnya dan mbak Anita juga menanyakan
apa kamu ada main dengan gadis desa” ucap Sandya ketika mereka ada di depan
kamar tamu.
“Lalu kamu jawab apa ?” tanya Arga tersenyum.
“Saya cerita ke mbak Anita kalau mas Arga terluka dan ditolong warga desa
lalu di rawat dirumah kepala desa, dan masalah dengan gadis desa
sebaiknya mas Arga sendiri yang cerita ke mbak Anita” sahut Sandya
__ADS_1
sambil masuk kekamar.
Arga membuka pintu kamar sejenak Sandya tertegun melihat kamar
yang cukup besar dan sangat rapi lengkap dengan perabotan yang mewah
jauh berbeda dengan kamarnya didesa yang hanya berisi dipan,
lemari kayu dan meja kecil.
“Ehm…Sandya, kamar mandinya ada disana sudah dilengkapi segala keperluan mandi
dan handuk ada di lemari, aku keluar dulu ya? kalau kamu perlu sesuatu
datang saja kekamarku di sebelah kamar ini!”. Sandya mengangguk kemudian menutup pintu.
Arga turun bawah untuk menyiapkan teh hangat untuk Sandya,
ia melupakan Anita yang masih duduk bersama kedua orang tuanya.
Arga baru menoleh saat seseorang memanggilnya dengan keras. “Arga….”
Anita memanggilnya dengan ketus
“Loh…Anita, kamu masih disini?” jawab Arga kaget
“Arga….Aku nunggu kamu, siapa sebenarnya perempuan itu? Tanya Anita ketus
“Dia Sandya” jawab Arga
“Arga kenapa kamu perhatian banget sama dia, kamu harus cerita apa yang sudah
terjadi” cecar Anita kesal.
“Sorry…Anita, aku masih capek dan perlu istirahat, kamu pulanglah ceritanya besok
saja” Arga menjawab datar lalu berjalan ke arah dapur.
Sementara kedua orang tuanya hanya terdiam menatap Arga dengan sorot mata penuh tanya.
Keduanya menyadari perubahan pada diri Arga dan meyakini kalau perubahan Arga
ada hubungan dengan wanita yang datang bersama anaknya itu, terlebih melihat
perhatian Arga pada wanita itu.
“Arga…..kamu kenapa sih?” Anita berteriak tidak terima dengan sikap acuh Arga.
Arga istirahat dulu ya, kamu pulanglah nanti bisa kembali ke sini dan kita sama
sama dengarkan cerita dari Arga” ucap bu Rahma menenangkan Anita
Dengan wajah bersungut sungut karena kesal Anita bangkit dari duduknya menyalami
bu Rahma dan pak Purnomo ” Anita pulang om..tante” Anita keluar rumah Arga dengan
menyentakan kakinya keras.
Sandya baru saja ingin memejamkan matanya setelah selesai membersihkan diri,
ketika terdengar suara pintu diketuk. “Silahkan masuk…pintunya tidak dikunci ”.
“Sorry…aku mengganggu, ini kubawakan teh hangat dan
kue” Arga masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan sepiring kue.
“Mas Arga…jangan repot melayani saya bagaimana kalau dilihat orangtuamu ?”
tegur Sandya seraya menyambut nampan dari tangan Arga
dan meletakannya diatas meja dekat pembaringan.
“Memangnya kenapa? Kamu tamuku jadi aku harus melayanimu…,
ayo minumlah selagi hangat!” katanya
seraya menyerahkan secangkir teh hangat ke Sandya.
“Terimakasih mas Arga,” Sandya menerima cangkir yang disodorkan Arga
“mas Arga sudah ingat apa yang terjadi ketika kita didesa? Orang tua mas dan mbak
Anita nanti akan bertanya apa yang terjadi” tanya Sandya seraya meletakkan
cangkirnya lalu memandang Arga yang duduk dihadapannya.
“Entahlah…kenapa aku tidak bisa mengingatnya, yang kuingat hanya
ketika aku meninggalkan Roni dan Hilman di hutan jati
karena mereka tidak mau ikut naik kebukit, selanjutnya aku tidak ingat lagi,” jawab Arga
“tapi Sandya, kenapa aku merasakan kita begitu dekat
__ADS_1
dan aku ingin selalu di dekatmu?”.Arga bergumam pelan t
api masih terdengar oleh Sandya.
Sandya memejam kan matanya hatinya terasa perih,
ingin rasanya ia memeluk suaminya dan mengatakan kalau dia adalah istri Arga
tapi Sandya terlalu takut hingga dicobanya untuk menahan diri.
“Sandya…apa yang sudah terjadi padaku, tolong ceritakan kejadian yang tidak kuingat….?”
pinta Arga seraya memegang kedua bahu Sandya. Mereka Saling bertatapan,
menghembuskan napas menahan debar jantung yang semakin kencang Sandya
menceritakan kejadian seperti yang sudah ia ceritakan pada Anita.
“mas Arga….ditemukan hanyut disungai saya dan bapak hanya membantu merawatmu,
cuma itu yang bisa saya ceritakan kalau kamu tidak bisa mengingat kejadian itu,
biarkan saja yang penting mas Arga sudah kembali ke rumah dan bertemu orang tua
mas Arga”.ucap Sandya membuat Arga terpaku.
“Kamu…tidak marah khan kalau aku mengatakan yang hatiku rasakan ?”
tanya Arga dengan nada suara tergetar.
“Katakan saja saya tidak akan marah!” ucap Sandya menatap Arga.
“Sandya….!aku merasakan ada sesuatu diantara kita,
sepertinya kamu begitu dekat dan aku ingin selalu di sampingmu,
Sandya apa…perasaanku ini salah?” bisik Arga seraya mendekatkan wajahnya.
“Mas Arga …. kita tidak dekat saya cuma merawat sewaktu mas Arga luka, kamu akan
bertunangan dengan Anita jangan menuruti perasaanmu nanti kamu akan menghadapi
masalah dan saya tidak mau menjadi penyebab masalah” kata Sandya wajahnya
bersemu merah saat sadar wajahnya dan
Arga sangat dekat.
“Sandya aku tidak mencintai Anita, aku hanya terpaksa menuruti kehendak orang tuaku,
dulu aku mengiyakan saja ketika orang tuaku meminangnya karena tidak ada alasan
untuk menolak tapi sekarang aku jatuh cinta kepadamu, aku akan mencoba
menerangkan kepada Mama dan Papa ”.ucap Arga membuat jantung Arumi berdetak
lebih kencang.
“Mas Arga nggak bisa kayak gini, Papa dan Mamamu akan malu kepada keluarga
Anita dan mereka juga akan marah sama saya, saya ini wanita desa yang sudah bersuami”
ucap Arumi pura pura kesal sambil mengedarkan pandangannya
takut ada yang mendengar obrolan mereka.
“Sandya…aku tidak ingin kehilangan kamu, apa yang harus kulakukan ?”
ucap Arga memegang kepalanya yang merasa sakit.
Arumi menyingkirkan tangan Arga yang memegang kepalanya diusapnya
dengan lembut kepala suaminya. “Aku pijit kepalamu ya ?”. ucap Arumi,
tiba tiba kepala Arga bersandar dibahunya.
“Kalau kamu pusing tidurlah!” bisiknya seraya menyuruh Arga berbaring disisinya.
“Enak ya…Sandya kalau kita bisa terus seperti ini.” Ucap Arga membuat Sandya
menghembuskan napasnya menahan debar yang makin kencang.
Sandya melihat Arga yang tertidur di tempat tidurnya menghentikan pijatan di kepala
Arga, mengelus kepala Arga dengan lembut.
Kenapa jadi seperti ini mas,kamu suamiku tapi aku tidak dapat memelukmu .
Tak bisa ku ucapkan dengan kata kata betapa aku ingin selalu di sampingmu mas Arga.
Sandya yang sudah merasa lelah akhirnya membaringkan tubuhnya disisi Arga dan
memejamkan mata.
__ADS_1