
Dikediaman keluarga Rahardiansyah
beberapa jam sebelum keberangkatan mereka ke rumah keluarga Purnomo.
“Anita……”
teriakkan bu Halimah dari luar kamar membuat Anita tersentak kaget.
“iya…ma” sahut Anita dengan suara serak sehabis bangun tidur
“Ayo bangun nak, Hari ini kamu kan bertunangan,
cepat kamu bersiap siap” teriak bu Halimah kembali.
“iya mama ini Anita lagi siap siap” ujar Anita, bangun dari tempat tidurnya
dengan perasaan malas.
Anita menyentuh dada terasa jantungnya berdebar tidak karuan
Ada apa ini mengapa perasaanku tidak tenang dan tidak semangat” gumam Anita.
Anita duduk di pinggir tempat tidur,
diingatnya kejadian saat ia dan Arga hangout di pantai Ancol.
Ia sempat melihat Arga berlari memeluk Sandya dengan erat
meskipun Roni dan Hilman seperti berusaha menghalangi pandangannya.
Anita syok melihat Arga yang bermesraan dengan Sandya,
Anita berpura pura tidak mengetahui kejadian itu
didepan Arga dan teman temannya, namun hatinya merasa teriris
mengingat sikap Arga yang mengabai dirinya sejak kembali ke rumah.
Perasaan Anita campur aduk tidak menentu, ia mengharapkan pertunangannya
segera terlaksana tapi sikap Arga padanya membuat hati Anita gelisah
dan meragukan pertunangannya. Menghembuskan napas Anita mengusap wajahnya
dengan telapak tangan lalu bangkit beranjak ke kamar mandi.
Bu Halimah mengetuk pintu kamar putrinya dan langsung masuk
saat tidak mendengar jawaban.
Di lihatnya Anita yang masih duduk didepan meja rias di kamarnya termenung
memandangi pantulan wajahnya di cermin.
“Aiiiih….Cantiknya putri mama” puji bu Halimah pada putrinya.
Anita mendongakkan kepala menatap mamanya tersenyum tipis
tapi wajah cantic itu terlihat lesu.
“
Kenapa sayang…… kok murung” Tanya bu Halimah menatap lekat putrinya
“Mama…..beneran ya hari ini aku tunangan” ucap Anita sendu.
Bu Haliimat terkejut mendengar ucapan putri mengelus lembut kepala Anita
kemudian memeluknya. “Ada apa sayang?” ucapnya lembut
Ma…. Apa Anita bisa bahagia dengan pertunangan ini, gmana kalau di batalkan
saja Arga sepertinya tidak mencintai Anita” ucap Anita pelan sebutir airmata
membasahi pipinya.
Bu Halimah tertegun melihat keadaan putri, ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya
telah terjadi antara Anita dan Arga. Tapi ia juga sudah merasa sikap Arga
yang tidak respek terhadap putri cantiknya sejak Arga kembali ke rumahnya
dengan membawa seorang wanita.
“Sayang….Kalau kamu keberatan dengan pertunangan ini
mama dan papa akan membicarakan lagi rencana ini
dengan Arga dan keluarganya.” Ucap bu Haimah
Kamu jangan sedih jodoh itu sudah ada takdirnya,
kalau memang kamu dan Arga berjodoh pasti akan ada jalannya tetapi
kalau memang Arga bukan jodoh kamu, yakinlah putri mama yang cantik ini
akan bertemu dengan seseorang yang lebih baik dari Arga,
yang menyayangi dan mencintai putri mama sepenuh hidupnya”
Anita melepaskan pelukan mamanya dan tersenyum.
“ya sudah ayo kita turun, papa sudah menunggu kita dibawah,
kita penuhi undangan keluarga Arga” bu Halimah
__ADS_1
menggandeng Anita ke luar kamar.
Aduh putri papa hari ini cantik sekali, sudah siap berangkat khan?” pak
Rahardiansyah menyambut istri dan putrinya
Bu halimah dan Anita hanya tersenyum dan keduanya menganggukkan kepala.
Hari ini ia akan bertunangan
****
Sandya masih duduk di teras depan rumah Arga di temani oleh Roni dan Hilman,
tak ada yang mereka bicarakan. Roni dan Hilman hanya memandang Sandya
yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Mereka membiarkan lamunan wanita itu karena tidak tau lagi apa
yang harus dikatakan untuk menghibur Sandya.
Sebuah motor berhenti di depan rumah Arga dan
seorang lelaki paruh baya turun dari motor dan berjalan memasuki rumah.
Tiba-tiba Sandya berteriak girang: “Bapak…!!!” Sandya berlari
menyambut kedatangan Pak Rakhim yang baru memasuki halaman rumah Arga .
Sandya langsung menubruknya menangis tersedu sedu dipelukan Pak Rakhim
“Putriku…bagaimana kabarmu?” Tanya pak Rakhim lembut
sambil mengelus rambut putrinya.
Diperhatikannya penampilan putrinya yang memelas
dengan wajah pucat dan kusut dengan mata yang bengkak.
“Bapak….ayo kita pulang ke desa!” pintanya sambil menangis.
“Putriku....ada apa…? apa yang terjadi denganmu dan di mana Arga…?
kenapa minta pulang ?” tanya Pak Rakhim heran.
“Bapak…mas Arga sudah pulih ingatannya tapi sekarang dia tidak mengenal Arumi lagi..….
Bapak… aku ingin pulang saja ”.ucap Arumi dalam pelukan bapak
“Tunggu dulu…! Bapak harus menemui keluarga Pak Purnomo
Bapak akan menceritakan semuanya pada mereka”. ucap pak Rakhim tenang
mereka, Bapak hari ini Arga akan melangsungkan pertunangannya dengan Anita,
aku mohon Bapak jangan membuka rahasia kita…, percuma Pak … tidak ada saksi
karena mas Arga tidak mengenal kita lagi ” kata Sandya menahan isak tangisnya.
Hilman dan Roni yang menyaksikan adegan penuh haru
memandang keduanya dengan mata berkaca kaca.
“Selamat datang bapak, kami teman Arga
yang juga teman putri bapak Sandya.
Sandya sudah menceritakan kepada kami tentang Arga” tutur Roni
“Sandya…biarkan Ayahmu masuk dulu,
silahkan.. Pak masuk dulu ke dalam!” sambut Roni.
Sedang Hilman yang langsung berlari masuk ke dalam rumah
memberitahu kepada Pak Purnomo kedatangan Bapaknya Sandya dari desa.
Pak Purnomo, bu Rahma dan Arga langsung keluar menuju halaman
menyambut tamu mereka dan mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
Pak Rakhim masuk ke ruang tamu sambil memeluk Sandya yang masih menangis.
“Sandya…kamu kenapa nangis nak? Apa yang membuat kamu sedih seperti ini?”
tanya Bu Rahma yang heran melihat Sandya tidak mau lepas dari Bapaknya.
Pak Rakhim melepaskan pelukan putrinya dan menuntun duduk di sampingnya.
Mereka berkumpul di ruang tamu yang sudah ditata dengan indah
dan disana juga ada Anita dan kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu hadir,
Bapak memandangi sekeliling ruang tamu lalu menatap putrinya
merasa heran mendengar semua orang dirumah ini memanggil putrinya
dengan sebutan Sandya, hatinya menerka sesuatu
yang tidak tidak bisa diatasi oleh putrinya dan saat ini putrinya sedang
bersandiwara di depan keluarga Arga.
Kemudian ia memandang kearah Arga yang juga sedang memandang kearahnya
__ADS_1
tetapi dengan pandangan seperti tidak mengenalnya.
Setelah menghela nafas sambil mengusap rambut putrinya
bapak kembali menatap Sandya. “Putriku biarkan Bapak bicara!”.
“Bapak…..jangan!” cegah Sandya.
“Sandya..! biarkan bapakmu bicara, jangan mencegahnya
biar mereka mengetahui semuanya !” seru Roni
yang merasa senang karena ia mengharap rahasia Arga terungkap dengan
kedatangan ayah Sandya.
“Sandya biarkan Ayahmu berbicara ,mungkin tentang suamimu !” tegur Pak Purnomo.
Memandang Sandya yang tidak lepas dari rengkuhan pak Rakhim
“Pak Purnomo dan keluarga sebelum saya mohon maaf
karena terlambat datang ke rumah pak Purnomo,
perkenalkan saya Rakhim bapak dari Sandya.
Seharusnya
saya datang bersama putri saya untuk mengantar nak Arga bertemu kaluarganya,
tapi karena ada urusan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu sehingga saya
meminta putri saya yang mengantar nak Arga” tutur pak Rakhim tenang
“Pak Rakhim Saya dan istri saya merasa senang bisa bertemu dengan bapak,
tidak ada kesalahan yang pak Rakhim lakukan pada kami
jadi tidak perlu bapak minta maaf, malah seharusnya
kami berterima kasih karena Sandya sudah mengantar Arga pulang
ke rumah kami” ucap pak Purnomo
“nak Arga… bisa bapak bicara” Tanya pak Rakhim,
Arga menganggukan kepala.
Semua yang hadir memandang penuh tanya pada pak Rakhim.
“Bisa nak Arga… duduk dekat bapak” panggil Pak Rakhim,
dengan heran Arga menghampiri Pak Rakhim dan duduk disebelahnya.
“Nak Arga… kamu tahu siapa Bapak ?”. Arga menggelengkan kepalanya.
“Bapak adalah orang yang merawatmu selama kamu di hutan jati
dan Bapak telah menganggapmu seperti anak sendiri”. jelas pak Rakhim.
“Maafkan saya Pak, saya tidak bisa mengingat kejadian yang saya alami
sewaktu berada di desa, saya sudah berusaha mengingatnya
tapi pikiran saya terasa kosong” ucap Arga lirih.
“Apa kamu ada keinginan untuk mengingat masa lalu kamu yang hilang atau tidak ?”
tanya Pak Rakhim.
“Tentu Pak, saya ingin tahu apa yang terjadi di hutan jati”. jawab Arga
“Baiklah…sebelum kami berdua pulang kembali ke desa,
Bapak akan berusaha membuatmu ingat kembali
apa yang kamu alami selama berada di desa kami dan mengembalikan
ingatan masa lalu kamu, mudah-mudahan berhasil.” Ucap pak Rakhim
“Anakku… jika usaha Bapak ini tidak berhasil mengembalikan ingatan kamu
janganlah bersedih karena semua kejadian ini adalah takdirNYA, t
etap jalani hidup kamu dengan baik.” Ucap pak Rakhim
dan Arga hanya menganggukkan kepalanya.
“Bapak dan Ibu Purnomo ijinkanlah saya membantu memulihkan ingatan nak Arga,
jika gagal atau hasilnya tidak seperti yang kita harapkan saya minta maaf yang
sebesar-besarnya.” Ucap pak Rakhim memandang kearah orang tua Arga.
Pak Purnomo dan bu Rahma saling bertatapan dan menganggukan kepala secara
bersamaan. Sementara Anita dan kedua orang tuanyajuga Roni dan Hilman hanya
terdiam menyaksikan apa yang terjadi.
“Nak Arga mari menghadap Bapak !” pinta Pak Rakhim agar Arga duduk berhadapan
dengannya. Semua mata memandang kearah Pak Rakhim
menunggu apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1